Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 80 Obrolan Malam



Setelah drama mengharu biru, kini mereka sedang menikmati makan malam bersama. Zidni meminta Frans untuk pulang karena mereka akan bermalam di rumah Chika. Tampak Zidni dengan telaten menyuapi Kenzie. Sejak mengetahui hasil tes DNA rasa cinta Zidni kepada putranya semakin bertambah begitu pula dengan Chika.


''Mas, kamu makan juga, keburu dingin. Kenzie bisa makan sendiri.'' Ucap Chika.


''Tidak apa-apa sayang. Biarkan aku menyuapi anakku. Aku melewatkan banyak waktu untuk memberinya perhatian dan kasih sayang. Lagi pula Kenzie makannya pintar banget sama sekali tidak rewel.''


''Iya Mas, dia pemakan segala seperti aku,'' kekeh Chika.


''Ayah senang sekali akhirnya melihat kalian bersatu.'' Sahut Tuan Arman.


''Aku juga senang bisa bersama berkumpul dengan kalian semua. Meskipun aku belum mengingat semuanya. Tapi saat ini hati ku merasa sangat bahagia dan nyaman bersama kalian semua.'' Ucap Zidni.


''Kak, dulu kita pernah pergi ke empang mancing bersama. Kakak juga ikut kami ke sawah. Saat itu aku masih SMA.'' Alvin berusaha mengingatkan.


''Benarkah? Mmmmm bagaimana kalau besok kita ke sawah dan ke empang? Aku penasaran bagaimana rasanya bermain disana.'' Zidni begitu antusias.


''Tapi Ayah sudah tidak bekerja di sawah lagi nak Zidni. Sementara Ayah libur karena tidak ada tawaran.'' Tuan Arman menimpali.


''Saat ini aku sedang berusaha menabung untuk membelikan Ayah dan Ibu sawah, supaya tidak bekerja pada orang terus, Kak. Sekalian beli kerbaunya juga. Kalau begitu kan bisa di buat penghasilan dan bisa di buat makan sendiri.'' Imbuh Alvin.


''Oh begitu. Ya sudah, aku akan membeli kan sawah untuk Ayah sekaligus kerbaunya. Ayah mau berapa petak? Kita cari yang dekat sini saja.'' Ucapan Zidni tentu saja membuat mereka semua terkejut. Ya, tentu bagi Zidni membeli sawah dan kerbau bukanlah hal yang sulit.


''Ah, tidak usah, Nak. Uangnya kamu simpan untuk masa depan Kenzie saja. Ayah sudah cukup, ada Alvin juga yang bantuin.''


''Tidak apa-apa Ayah. Tentu saja bagi Ayah dan Ibu memiliki kesibukan lebih menyenangkan daripada berdiam diri saja. Besok kita cari sawah dan beli kerbau sekalian.''


''Zidni, Ibu tahu kamu banyak uang. Tapi kami tidak mau di anggap memanfaatkanmu.''


''Jangan mendengarkan apa kata orang. Memang apa yang aku lakukan tidak bisa menebus semua keadaan beberapa tahun silam. Tapi ijinkan aku untuk membahagiakan kalian juga. Yang jelas saat ini yang aku tahu, aku mencintai Chika dan itu artinya aku juga harus mencintai keluarganya.''


Kedua orang tua Chika saling pandang, mereka bingung untuk menjawabnya.


''Mas, tidak usah berlebihan. Hidup kamu sudah cukup.'' Sela Chika.


''Ini bukan masalah cukup atau tidak. Pasti di masa lalu aku juga mempunyai keinginan seperti itu, iya kan? Aku juga mau merenovasi rumah ini tanpa ada maksud menyinggung Ayah dan Ibu. Aku hanya ingin kalian tinggal di tempat yang nyaman. Aku mohon, jangan tolak.''


''Kak tapi masih ada aku.''


''Alvin, kamu baru merintis karir. Menabunglah untuk masa depanmu dan gapai semua mimpimu. Biar aku yang mengurus semuanya.''


''Kakak masih tetap sama ya. Masih sangat baik. Aku bisa sekolah dan kuliah sampai lulus berkat Kakak.''


''Sungguh?'' Zidni hampir tidak percaya dengan ucapan Alvin.


''Iya. Sebelum Kakak menghilang, Kakak meninggalkan tabungan pendidikan untukku. Kakak juga bilang kalau aku harus rajin belajar dan sekolah yang benar.''


''Syukurlah kalau di masa itu aku melakukan hal yang tepat, Alvin. Oh ya mengenai tawaranku bagaimana?''


''Iya Kak. Aku mau bergabung dan membantu Kakak tapi menunggu sampai akhir bulan ini.''


Tuan Arman, Nyonya Linda dan Alvin melihat ke arah Chika. Chika memberi kode anggukan pada mereka bertiga.


''Baiklah Nak. Ayah terima. Ayah akan menjaga sawah dan kerbau milikmu.''


''No Ayah! Bukan untukku tapi benar untuk Ayah.'' Zidni menekankan kembali. Tuan Arman hanya bisa mengangguk dengan senyumnya.


Selesai makan malam, Zidni langsung menuju kamar bersama Kenzie. Seperti biasa membacakan dongen untuk Kenzie. Sementara itu Chika dan kedua orang tuanya sedang mengobrol di teras depan rumah.


''Terima kasih ya Ayah-Ibu sudah menerima Zidni kembali. Aku sama halnya dengan kalian sangat terkejut saat dia lupa dengan semua kenangannya. Aku menyamar dan tidak mengaku demi menggugah memori lamanya. Karena jika ingatannya di paksa, fungsi otaknya akan menurun dan itu bisa menyebabkan alzheimer dan bisa juga ke demensia. Dia bisa menjadi linglung dan pikun di usianya yang masih muda. Aku berusaha membuatnya jatuh cinta lagi dengan cara yang berbeda. Aku tidak mau dia melupakan aku lagi dan meninggalkan aku lagi terutama Kenzie. Dokter pun melarang ku untuk memaksa. Saat ini cukup cinta yang harus kita berikan kepadanya. Karena perasaan cinta itu sendiri yang akan menuntun ingatannya kembali. Saat melihat dia merintih kesakitan bahkan sampai pingsan, itu sungguh membuatku sakit dan takut. Sekali maaf ya Ayah-Ibu kalau aku membohongi kalian.''


Nyonya Linda meraih kedua tangan putrinya dan menggenggamnya.


''Maafkan Ibu juga karena Ibu sempat marah dan begitu keras pada Zidni. Melihat dia begitu perhatian dan sayang pada Kenzie, dia memang Ayah dan suami yang sangat baik. Ibu tidak menyangka saja kalau dia juga menderita selama ini.'' Mereka berdua kemudian saling berpelukan. Tuan Arman merasa lega melihat Ibu dan anak itu kembali akur.


''Oh ya Chika, apa kamu sudah bertemu dengan orang tua Zidni?'' tanya Tuan Arman.


''Belum Ayah. Bahkan sejak pacaran aku belum bertemu. Ada rencana seperti itu tapi musibah itu terjadi begitu saja.''


''Apa dia sama sekali tidak pernah cerita apapun tentang orang tuanya?''


''Zidni tidak pernah terbuka kepada orang tuanya tentang kehidupan cintanya, Ayah. Dulu Chika pernah cerita pada Ayah dan Ibu tentang Zidni dan Nona Amora. Sekretaris Frans pun juga mengatakan hal yang sama. Zidni sangat tertutup dan lebih memilih menyimpan semuanya sendiri. Sekretaris Frans itu adalah anak dari sekretaris sekaligus orang kepercayaan almarhum Papanya Zidni, Ayah-Ibu.''


''Iya, Ibu ingat cerita kamu yang dulu kalau Zidni memiliki kisah cinta tanpa restu yang berakhir trasgis.''


''Itulah Bu kenapa, saat Zidni terbangun dari komanya yang di ingat adalah Nona Amora. Kejadian itu membuatnya trauma dan menjadi titik berat guncangan mentalnya. Melihat orang yang dicintai meregang nyawa di hadapan sendiri, apalagi itu untuk menyelamatkan nyawa Zidni. Chika tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Zidni saat itu. Makanya saat pertama kali bertemu dia sangat murung dan amat sangat pemarah.''


''Dan Tuhan mengirimkan kamu untuk menyembuhkan lukanya. Sayangi dia ya, Nak. Dia sepertinya sangat mencintaimu.'' Kata Nyonya Linda sambil mengelus kepala putrinya.


''Pasti Bu. Itulah kenapa aku bertahan sampai detik ini. Karena dia pernah bilang kalau dia bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Dia hanya jatuh cinta padaku saja bahkan untuk kedua kalinya. Padahal dengan wajah yang tampan dan banyak uang dia bisa melakukan apapun.'' Ucap Chika penuh dengan bangga memiliki pria seperti Zidni.


''Ayah dan Ibu doakan supaya kalian selalu bahagia, langgeng sampai kakek-nenek dan dimanapun berada selalu dalam lindungan, Tuhan.'' Kata Nyonya Linda.


''Amin.''


''Ya sudah, kamu ke kamar sana temani suami mu. Malah ngobrol disini lama-lama,'' tegur Ayah.


''Iya Ayah. Tadi kan Zidni sedang membacakan Kenzie dongeng.''


''Ya sudah kamu masuk sana. Dia pasti mencarimu.'' Sambung Ibu.


''Ya sudah, Chika masuk ya Bu-Yah. Kalian juga istirahat.''


''Iya-iya,'' jawab Ayah.


Bersambung.....