Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 50 Terjebak Macet



Zidni tanpa sadar menggenggam tangan Chika. Tanpa sadar keduanya terus berjalan hingga menuju parkiran. Ponsel Zidni berdering tanda notifikasi pesan masuk.


Tuan, maaf ya mobilnya saya pinjam sebentar. Tuan dan Nona naik taksi saja ya.


Mendapati pesan Frans, Zidni menghela nafas kasar.


"Ada apa Tuan?" tanya Chika yang melihat raut wajah Zidni yang tampak kesal.


"Kamu tidak lihat, kalau mobilku tidak ada?" kesal Zidni. Mata Chika berkeliling dan benar saja mobilnya tidak ada.


"Lho, kemana Tuan? Apa di curi?" Chika panik.


"Tidak, Frans yang membawanya. Memang kurang ajar sekali dia.''


"Ya sudah, kita jalan kaki saja menikmati malam di Jepang. Sepertinya sangat seru."


"Yakin, mau jalan kaki?"


"Yakinlah Tuan. Lihatlah, disini pejalan kakinya banyak sekali." Kata Chika sambil menunjuk kearah jalanan.


"Aku tidak mau!" ketus Zidni. Chika kemudian menarik tangan Zidni dan mengajaknya berlalu menembus keramaian malam di Tokyo. Anehnya Zidni menurut saja dan ia merasa senang. Hingga akhirnya langkah kaki Chika terhenti di depan toko coklat. Nafas keduanya terengah namun Chika masih tetap bisa tertawa.


"Astaga, seru sekali Tuan." ucapnya.


"Seru apanya? Kamu membuat tenagaku terkuras."


"Hehehe sekali-sekali tidak apa-apa Tuan. Habisnya tuan terlalu lama berpikir."


"Kamu tahu ini dimana?"


"Hehehe tidak tahu Tuan. Tapi seru kan?"


"Seru apanya," kesal Zidni.


"Tuan, saya mau beli coklat dulu untuk Kenzie. Dia pasti sangat senang." Kata Chika sambil menoleh toko dibelakangnya.


"Memangnya ada uang? Coklat di toko itu mahal sekali." Ucap Zidni.


"Iya deh, mentang-mentang anda kaya dan punya segalanya jadi suka memandang rendah orang seperti saya."


"Hei, siapa yang memandang rendah dirimu. Memang disana mahal. Tapi sesuai dengan kualitasnya."


"Ya sudahlah, saya coba masuk saja dulu. Tidak apa-apa mahal ini demi Kenzie." Ucap Chika dengan percaya diri yang tinggi. Sementara Zidni memilih menunggu di luar saja. Belum sampai lima menit di dalam, Chika sudah keluar toko. Zidni tersenyum kecut melihat Chika yang keluar tanpa membawa apa-apa.


''Mana coklatnya?''


''Tidak jadi Tuan. Disini mahal sekali. Lebih baik beli di Indonesia saja. Harganya seratus ribu keatas semua. Tahu sendiri, Tuan mengajak saya pergi mendadak. Otomatis saya sama sekali tidak membawa uang saku yang banyak dan memang tidak punya banyak juga sih, hehehe.''


''Makanya jangan sok-sokan. Lebih baik kita kembali hotel, aku akan menelepon Frans.'' Ketus Zidni.


''Iya, maaf.'' Ucap Chika memelas. Zidni kemudian menelepon Frans namun lagi-lagi wajah Zidni tampak asam setelah mendapat telepon dari Frans.


''Ada apa lagi Tuan?'' tanya Chika.


''Ban mobil bocor jadi kita naik taksi saja. Lagian ya, dia kemana sih? Baru kali ini Frans bersikap aneh.'' Gerutu Zidni.


''Siapa tahu sekretaris Frans diam-diam berkencan dengan gadis disini Tuan.'' Ucap Chika.


''Kencan? Bukannya kalian dekat ya? Sepertinya Frans juga menyukaimu. Apalagi dengan makan malam yang dia buat untukmu.''


''Kalau masalah makan malam tidak tahu juga ya Tuan. Kenapa sekretaris Frans menyiapkan kejutan itu karena saya juga belum sempat bertanya.''


''Ya tapi terserah sih. Bukan urusanku juga. Tapi memang aturan diperusahaan di larang cinta lokasi. Kalaupun ingin bersama, salah satunya harus keluar.'' Tegas Zidni.


''Iya, saya mengerti. Kalau begitu kita kembali ke hotel saja.''


''Itu ide bagus.''


Tak lama kemudian, akhirnya taksi pun datang. Mereka berdua duduk berdua dibangku belakang. Keduanya saling diam dan tak saling bicara. Namun tiba-tiba hujan turun begitu derasnya disertai dengan angin dan badai, membuat jalanan lumpuh total karena ada pohon besar yang tumbang.


''Ramalan cuaca kan hanya perkiraan manusia Tuan, tetap saja kalah dengan kekuasaan Tuhan.'' Sahut Chika.


''Iya tapi sampai kapan kita terjebak seperti ini.'' Zidni mulai kesal.


''Sabar Tuan, kita disini tidak sendiri. Supirnya juga pasti berharap kita segera sampai ke tempat tujuan.'' Kata Chika berusaha menenangkan Zidni.


Satu jam kemudian....


''Huft sudah satu jam, tapi tidak ada pergerakan sama sekali.'' Kesal Zidni.


''Sabar Tuan. Oh ya Tuan, ponsel saya mana?''


''Mmmm ada di hotel. Aku menyimpannya. Ponsel murahan saja jadi kamu tidak usah khawatir kalau aku akan mengambilnya.''


''Bukan masalah murahannya tapi komunikasinya. Saya juga ingin menelepon anak saya.''


''Iya-iya nanti aku berikan. Lagi pula aku juga tidak menyentuhnya sama sekali.'' Ucapnya kesal.


''Tuan, bagaimana kalau kita terobos hujan saja.''


''Tidak mau! Hujan lebat begini malah mau menerobos.''


''Makanya Tuan jangan cerewet.''


''Cerewet? Siapa yang cerewet?'' nada suara Zidni mulai naik.


''Tuan kan? Tuan sendiri yang sedari tadi mengeluh terus.''


''Mengeluh itu wajar, namanya juga manusia.''


''Iya tapi mengeluh disituasi seperti ini juga sama saja, Tuan. Lihatlah di luar sana, mereka semua juga pasti ingin segera pulang dan berkumpul dengan keluarganya. Tuan kan single, memangnya mau buru-buru balik ke hotel, mau ngapain?''


''Melakukan hal bermanfaat itu lebih baik.''


''Huft, bicara dengan Tuan seperti tidak ada habisnya. Oh ya, bagaimana kalau Nona Jasmine menyebarkan berita kita di kantor? Apa yang harus saya lakukan Tuan?''


''Cuek saja lah. Mereka semua juga tidak akan ada yang berani melawanku.''


''Tapi yang mereka tahu, saya ini bersuami. Nanti nama Tuan juga yang jelek. Belum lagi kalau orang tua anda tahu. Pasti mereka juga akan marah dan tidak terima.'' Kata Chika.


''Sudahlah, jangan pikirkan itu. Jasmine tidak akan berani melakukan itu karena aku sudah mengancamnya.''


''Kenapa Tuan menolak Nona Jasmine? Padahal dia sangat cantik, seksi, anggun, pokoknya sempurna. Masa Tuan tidak tergoda sama sekali.''


''Karena seleraku jauh lebih tinggi. Sudahlah, jangan bicarakan wanita aku. Mendengar namanya saja, aku merasa kesal.''


''Tenang Tuan, jangan marah-marah terus nanti cepat tua.'' Ucap Chika sambil menepuk lengan Zidni. Zidni hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Chika. Chika sendiri sudah mulai bosan dan ia mulai mengantuk. Beberapa kali Chika menguap dan menahan kantuknya. Namun pada akhirnya Chika benar-benar terlelap dengan kepala yang bersandar di bahu Zidni begitu saja. Tentu saja itu membuat Zidni terkejut karena Zidni pikir, Chika sengaja melakukan itu.


''Bisa-bisanya tidur disituasi seperti ini.'' Gumam Zidni. Meskipun kesal, naluri Zidni membiarkan Chika tertidur di bahunya. Tiba-tiba ponsel Zidni berdering, satu panggilan masuk dari Frans.


''Halo, Tuan dan Nona dimana?''


''Sudah puas Frans membuat ku terjebak macet?'' kesal Zidni.


''Ma-maaf Tuan. Sekarang anda dan Nona Chika dimana?''


''Menurutmu aku dimana? Pasti macet dan hujan badai ini sudah masuk diberita televisi. Dan aku menjadi salah satu yang berada disana. Lagi pula dirimu kemana hah? Membawa mobilku seenak jidatmu. Gajimu aku potong bulan depan.'' Cerocos Zidni dengan marahnya.


''Ma-maaf Tuan. Sekali lagi maaf. Padahal tafi cuacanya cerah. Saya sudah di hotel, Tuan. Lalu apa yang harus saya lakukan?''


''Memangnya apa yang bisa kamu lakukan disaat seperti ini? Hah? Mau membawa helikopter untuk membantuku terjebak macet? Iya?'' Zidni kali ini benar-benar marah.


''Baiklah Tuan, saya akan membantu doa saja. Semoga hujannya cepat reda dan pohon tumbang itu segera teratasi. Maafkan saya tuan.'' Frans lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


''Kurang ajar sekali dia! Mengakhiri panggilan begitu saja. Awas saja nanti!" ucapnya dengan geram.


''Maafkan saya Tuan. Saya berniat ingin membuat anda dan Nona Chika menghabiskan waktu bersama. Tidak apa-apalah potong gaji, asalkan kalian secepatnya bersatu.'' Gumam Frans antara perasaan khawatir dan juga bahagia.