
Berita Zidni pingsan pun menjadi tranding topic di kantor. Chika dengan ditemani oleh Frans membawa Zidni ke rumah sakit. Sesampainya disana, Zidni pun segera ditangani dan di bawa ke ruang IGD. Chika begitu khawatir, tangannya gemetar bahkan sedari dari air matanya terus mengalir begitu saja.
''Nona, apa yang terjadi?'' tanya Frans.
''Dia memintaku untuk menyetujui terapi itu tapi aku tidak mau. Dan akhirnya dia mulai bertanya, apakah sebelumnya aku mengenal dia? Akhirnya aku mengatakannya pada Zidni tentang yang sebenarnya. Karena dia bilang ingin menyerah dan membuka hati untuk wanita lain. Aku tidak sanggup melihat suamiku bersama wanita lain sekretaris, Frans. Akhirnya aku mengirim semua foto kenangan kami ke ponsel Zidni. Dia terkejut dan dia berusaha keras untuk mengingatnya sampai sakit kepalanya kambuh lalu pingsan. Padahal aku sudah memeluknya, mengatakan jangan paksa ingatanmu karena aku akan sabar menunggu.'' Jelas Chika dengan terbata-bata.
''Ya Tuhan, Tuan selalu begitu. Keinginannya untuk sembuh besar sekali Nona. Dia bahkan sampai mengabaikan nasihat dokter.''
''Ini semua salahku. Aku yang salah sampai membuat dia seperti ini.''
''Anda tidak bersalah Nona. Mengatakan yang sebenarnya mungkin lebih baik tapi resikonya seperti ini.''
''Aku takut saat dia bangun, dia lupa padaku sekretaris, Frans. Aku takut dia akan pingsan dalam waktu yang cukup lama seperti kemarin.''
''Nona tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku yakin, Tuan akan bertahan dan berjuang melawan sakitnya. Sebaiknya anda pulang, biar aku yang mengantar anda.''
''Tidak! Aku akan disini menemaninya sampai dia sadar.''
''Baiklah kalau begitu Nona. Tapi pastikan hubungi dulu keluarga anda? Jangan membuat mereka khawatir.''
''Aku akan mengirim pesan pada adikku.''
Chika : Alvin, pastikan Ayah dan Ibu kembali ke kampung ya. Saat ini aku sedang di rumah sakit menemani Kak Zidni. Aku tidak ingin Ayah dan Ibu tahu tentang semua ini. Jadi aku ingin kamu yang menjaga Kenzie.
Alvin yang memang sedang dalam perjalanan menuju rumah Chika, merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Alvin kemudian membuka pesan dari Kakaknya.
"Apa? Kak Zidni di rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?" gumam Alvin. Alvin pun segera membalas pesan Kakaknya.
Alvin : Iya Kak. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu. Baiklah, aku yang akan menjaga Kenzie. Kakak tenang saja dan jangan khawatir, uruslah dulu Kak Zidni.
Chika merasa lega sekali mendapat balasan dari Alvin.
Chika : Sepertinya aku malam ini tidak pulang. Setidaknya bantulah aku mencari alasan pada Ayah dan Ibu.
Alvin : Iya, Kakak tenang saja. Aku akan mengurusnya.
Sesampainya di rumah, Alvin langsung disambut oleh kedua orang tuanya.
"Aku akan menginap disini, Ayah, Ibu. Ayah dan Ibu besok bisa kembali. Lagi pula sudah ada Mbak Susi kan kalau pagi sampai jam 7 malam.
"Kamu ini, pulang-pulang langsung mengusir Ayah dan Ibu." Protes Nyonya Linda.
"Hehehehe bukan mengusir, Bu. Alvin hanya ingin meringkankan pekerjaan Ayah dan Ibu saja. Ayah dan Ibu juga masih ada pekerjaan disana. Kasihan rumahnya juga kan beberapa hari tidak terurus."
"Iya juga apa katamu. Ya, besok Ibu akan kembali. Nanti Ibu biar bilang dulu sama Chika."
"Astaga, baru juga kemarin ke Jepang mendadak, eh sekarang keluar kota mendadak." Sahut Tuan Arman.
"Ayah sendiri kan yang meminta Kakak untuk kerja kantoran lagi. Katanya sayang dengan ijazahnya. Jadi ya beginilah kerja kantoran Ayah, apalagi Kakak juga seorang karyawan yang cerdas dan miliki dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan. Jadi ya sudah resiko. Setidaknya Ayah dan Ibu harus bangga pada Kakak karena selalu menjadi yang berprestasi." Ucap Alvin yang berusaha keras menghibur hati kedua orang tuanya.
"Iya juga sih. Ini semua Ayah yang memintanya."
"Ya sudah kalau begitu Alvin mau mandi dan ingin makan. Ibu sudah memasak kan?"
"Iya, Ibu sudah menyiapkan makan malam. Ya sudah kamu mandi sana dan ajak Kenzie makan setelah ini. Dia dari tadi tidak mau keluar kamar dan selalu memeluk kotak coklat Ibu. Bukannya memakan isinya malah di peluk saja." Kata Nyonya Linda.
"Namanya juga anak-anak, Bu." Kata Alvin seraya berlalu. Padahal Alvin sendiru tahu kalau coklat itu adalah pemberian dari Zidni. Jadi sudah pasti Kenzie akan menjaga coklatnya.
Zidni akhirnya di pindah keruang rawat inap VVIP untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun sudah tiga jam berlalu, Zidni masih belum sadar juga. Chika dengan setia menemani suaminya.
"Sayang, aku disini. Aku akan menemanimu sampai kamu pulih." Ucap Chika sambil menggenggam tangan suaminya.
"Nona, aku akan kembali ke kantor. Aku harus mengambil sesuatu."
"Iya sekretaris Frans, hati-hati."
"Iya Nona." Frans dengan langkah terburu meninggalkan rumah sakit. Frans ingin kembali ke kantor, untuk mengambil jurnal milik Zidni. Sejak kejadian Zidni pingsan di Jepang, Zidni menuliskan segala sesuatu yang ia ingat dalam jurnal itu. Tentu saja sebelumnya Zidni sudah berpesan pada Frans, jika terjadi sesuatu padanya berikan jurnal itu padanya.
Keesokan harinya, Zidni pun masih sama. Ia belum sadar sama sekali. Chika pun tertidur dengan kepala yang tertelungkup di bibir ranjang.
"Nona Chika!" Frans menepuk pundak Chika untuk membangunkannya. Frans merasa khawatir juga dengan kesehatan Chika yang hampir semalaman terjaga untuk Zidni. Chika perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya, bahwa ia masih di rumah sakit dan melihat Zidni masih dalam keadaan yang sama.
"Nona, aku sudah membawakan sarapan untuk anda. Anda harus makan supaya mempunyai energi untuk menjaga Tuan."
"Bagaimana aku bisa makan kalau keadaan suamiku masih seperti ini sekretaris Frans?"
"Tolong Nona, makanlah demi Tuan. Tuan pasti tidak ingin anda sakit. Tuan juga pasti marah kalau anda tidak mau makan."
Chika tersenyum tipis. "Iya, nanti aku akan makan."
"Sebaiknya Nona cuci muka atau mandi. Aku sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan mandi untuk Nona. Aku membelikan anda beberapa potong pakaian, tentunya dengan uang milik Tuan."
"Terima kasih ya sekretaris Frans karena selama ini anda begitu setia mendampingi dan menjaga Zidni. Meskipun sikapnya begitu menyebalkan."
"Sudah menjadi tugas dan kewajiban ku Nona." Kata Frans. Chika akhirnya beranjak dari tempatnya dan segera mandi. Sementara Frans, bergantian menjaga Zidni.
"Tuan, sadarlah. Aku sudah menambahkan isi dalam jurnal itu. Aku sudah menambahkan semua foto anda dan Nona Chika juga putra anda. Semoga dengan cara ini, anda bisa mengingatnya dan mengetahui kenyataan ini. Meskipun mustahil bagi anda untuk mengingat dengan cepat. Namun setidaknya dengan tulisan itu, anda bisa tahu yang sebenarnya."
Jadi Frans berusaha menulis menyerupai tulisan tangan Zidni untuk memasukkan tentang siapa Chika dan juga Kenzie. Frans berharap Zidni segera sadar dan membaca jurnalnya.