
Saat sampai rumah, Zidni melihat Chika sudah terlelap. Zidni mendekat lalu mengecup kening Chika. Namun kecupan itu justru membuat Chika terbangun.
"Mas…" lirih Chika.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Zidni sambil mengusap kepala Chika.
"Tidak, Mas. Aku justru yang ketiduran karena aku menunggumu. Sampai kapan kamu akan lembur?" tanya Chika sembari bangun dari posisi tidurnya.
"Kamu tidur saja sayang, tidak perlu menungguku. Aku sudah memberitahumu kalau aku akhir-akhir ini sangat sibuk."
"Iya tapi tetap saja aku tidak bisa tidur sebelum kamu pulang. Kamu butuh apa?"
"Aku butuh kamu, sayang. Sepertinya aku butuh mengisi energi karena baterai ku sudah lemah."
"Kamu pasti lupa bawa charger ya? Mana ponselmu sayang, biar aku charge dulu." Ucap Chika sambil menyodorkan telapak tangannya.
"Kamu ini kenapa tidak peka, sayang? Bukan ponsel yang mau di charge tapi ini," ucap Zidni sambil menunjuk sesuatu dibalik celananya.
"Ya ampun, kamu ini ada-ada saja sayang."
"Aku lelah, pikiranku sudah penuh sekali. Aku butuh healing, sayang. Dan tempatku healing itu kamu. Kita saja tidak bisa menikmati liburan jadi ya kita nikmati waktu kita di sela-sela kesempatan seperti ini."
"Ya sudah, kamu cuci muka dulu ya. Nanti aku kasih bonus."
"Beneran ya?" Mata Zidni berbinar bahagia.
"Iya suamiku."
"Oke baiklah, aku akan bersih dan ganti baju dulu. Aku juga tidak mungkin menyentuhmu dengan keadaan seperti ini, sayang."
"Iya karena aku maunya kamu harum sepanjang hari."
"Biasanya bau asem juga mau," ucap Zidni dengan tawa kecilnya.
"Baby kita cewe mungkin jadi maunya kalo Papanya harum terus."
"Baiklah, sayang. Aku bersih-bersih dulu ya." Ucap Zidni seraya mengecup kening pipi Chika. Sembari menunggu Zidni mandi, Chika menuju dapur untuk membuatkan Zidni moccacino. Tak lupa, Chika memotong beberapa buah segar untuk Zidni. Setelah semuanya siap, Chika kembali ke kamar. Disaat yang bersamaan, Zidni baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk yang melilit pinggang Zidni, serta rambut yang basah, membuat Zidni tampak menggoda dan juga segar.
"Hmmm wanginya suami aku."
"Iya dong sayang. Kamu buat apa?"
"Ini moccacino dan buah, sayang. Kamu makan dulu ya sedikit." Ucap Chika sambil meletakkan sepiring potongan buah dan cangkir diatas meja.
"Terima kasih, sayang. Tapi aku ingin memakanmu dulu." Ucap Zidni seraya berjalan mendekat ke arah Chika. Zidni kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Chika dari belakang.
"Kamu mau membuat alasan apalagi, sayang," ucap Zidni sambil mengendus tengkuk Chika.
"Alasan apa sayang? Namanya suami pulang, harus aku sambut." Ucap Chika sambil menahan rasa geli. Karena kini lidah Zidni sudah mulai menjalar pada leher Chika.
"Mas, geli ah…"
"Biarin! Kamu selalu menggemaskan." Zidni semakin mengeratkan pelukannya dan lidahnya kini mulai menyentuh bagian belakang telinga Chika.
"Mas… ahhh…" Chika mulai terperangkap gairahnya.
"Sayang, aku menginginkanmu." Bisik Zidni tepat ditelinga Chika.
"Lakukan saja, Mas." Ucap Chika dengan suara manja. Zidni kemudian kembali mengecupi tengkuk dan leher Chika bertubi-tubi. Membuat Chika menggeliat dalam dekapan suaminya. Chika sudah merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. Kedua tangan Zidni, kemudian menurunkan baju tidur kimono berbahan sutra milik Chika. Chika kini benar-benar dibuat telanjang tanpa busana oleh sang suami. Masih dengan posisi berdiri, Zidni mulai meremas kedua gunung kembar milik Chika dari belakang. Chika hanya bisa mendesah, menikmati sensasi pijatan tangan suaminya.
Nafas Zidni semakin memburu, tangan kirinya mulai turun kebawah. Ke area sensitif milik Chika yang telah basah.
"Mas…"
"Enak sayang?" bisik Zidni.
"Sangat nikmat, Mas." Ucap Chika di sela-sela desahannya. Zidni semakin dalam memasukkan jarinya, membuat Chika merasa ingin pipis.
"Mas… sepertinya, aku mau keluar." Ucap Chika.
"Keluarkan saja, sayang." Ucap Zidni sambil terus mengocok liang kenikmatan milik Chika. Dan akhirnya Chika berhasil mencapai pelepasan pertamanya. Miliknya berkedut dan mengeluarkan cairan kenikmatan.
"Aku akan membuatmu melayang lagi, sayang." Ucap Zidni saat berhasil membuat istrinya berhasil mencapai puncaknya. Zidni lalu mengajak Chika untuk duduk di sofa. Handuk Zidni pun sudah terlepas dari pinggangnya. Zidni kemudian berlutut di hadapan Chika. Ia menaikkan dan menekuk kedua kaki Chika, lalu ia membuka lebar-lebar kedua kaki Chika.
"Bersiaplah, sayang. Pelepasan kedua untuk kamu." Ucap Zidni yang seolah tidak mau kehilangan wajah sang istri yang sedang bergairah. Tanpa basa basi, lidah dan bibir Zidni bergantian untuk menjilat dan menghisap lembah kenikmatan milik Chika. Chika hanya bisa mendesah sambil meremas dan menekan kepala Zidni, seolah ingin terus dan ingin lebih.
Permainan hebat Zidni di bawah sana, berhasil membuat tubuh Chika mengejang, mencapai pelepasan untuk kedua kalinya. Lenguhan panjang Chika beradu dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Nafasnya terengah, merasakan sensasi nikmat yang membuatnya bergerak merasakan nikmat.
"Mas, kamu gila!" Ucap Chika dengan suara lirihnya.
"Apa kamu mau lagi sayang?"
"Giliranmu sekarang, Mas." Ucap Chika sambil melihat ke arah junior Zidni. Zidni bangkit, berdiri tepat di depan Chika. Tangan Chika perlahan mengelus pelan junior milik Zidni yang sudah tegak menantang sedari tadi. Tanpa basa-basi lagi, Chika langsung melahapnya. Menjilat dan mengulumnya bak menikmati lolipop rasa coklat yang nikmat.
Malam itu keduanya saling bersenggama dan saling memuaskan satu sama lain. Puncak kenikmatan berakhir saat Zidni menyemburkan lava putih ke dalam rahim Chika. Zidni bahkan bisa merasakan otot-otot rahim Chika menjepitnya dengan kuat. Zidni ambruk diatas tubuh Chika, dengan kepala yang sembunyi dibalik ceruk leher Chika. Chika bisa merasakan deru nafas Zidni yang masih memburu.
"Kamu selalu menggoda sayang."
"Dan kamu selalu perkasa, Mas." Ucap Chika yang juga dengan nafas yang masih terengah.
"Karena kamu masih hamil muda dan tidak boleh terlalu sering, dua hari lagi aku akan meminta jatah lagi."
"Itu sama saja, Mas. Ihh… kamu ini."
"Kita bermain seperti tadi, sayang. Slow tapi sama-sama puas, iya kan?"
"Kamu memang selalu ada saja kalau soal urusan ranjang."
"Ingat sayang, kita berpisah sudah bertahun-tahun. Bahkan saat kita bertemu, aku malah melupakanmu. Jadi ya, jangan salahkan aku kalau hasratku ini selalu menggebu."
"Dasar kamu ini."
"Kita mandi yuk, sayang. Habis itu kita tidur. Baterai ku sudah full."
"Iya, Mas."
"Mmmm sambil main-main dikit ya."
"Tuh, mulai mesumnya."
"Kita berendam di bathup. Aku nanti di bawah, kamu duduk di pahaku sambil nanti aku masukin dan kamu gerak naik-turun."
"Ihhh… suamiku ini ya memang."
"Sayang, mengertilah. Pelan-pelan saja, oke." Rengek manja Zidni.
"Iya-iya, Mas."
Zidni beranjak dari tempat tidur, lalu menggendong Chika ala bridal menuju kamar mandi. Keduanya mandi bersama berendam dalam bathup, sembari memainkan lagi, sebuah permainan yang Zidni inginkan.
#Bersambung... Hai-hai jangan lupa like, komen, vote dan giftnya ya biar makin semangat, makasih 🙏🥰