
"Senang sekali rasanya bisa berangkat dan pulang bersama Papa dan Mama. Tapi kenapa Papa dan Mama tadi lama sekali?" ucap Kenzie yang kini tengah berada di tengah kedua orang tuanya.
"Maaf ya Ken, tadi Papa dan Mama kebetulan sekali ada rapat. Jadi kami terlambat." Chika terpaksa berbohong. Karena rapat itu menjadi semakin panjang untuk menuntaskan hasrat suaminya.
"Baiklah, untuk menebusnya hari ini jalan-jalan ke mall. Kamu mau apa?" tanya Zidni.
"Aku tidak mau apa-apa, Pah. Hanya ingin Papa selalu bersama kami." Ucapan Kenzie begitu menyentuh relung hati Zidni. Ia kemudian memeluk bocah kecil itu.
"Papa janji akan selalu bersama kamu dan Mama. Tapi hari ini Papa akan tetap mengajakmu ke mall. Sejak kamu lahir, Papa belum pernah sekalipun membelikanmu baju, sepatu, tas sekolah bahkan mainan. Jadi ijinkan Papa untuk melakukannya ya."
"Sebenarnya aku tidak butuh itu semua, Pah. Aku hanya ingin Papa."
"Iya, Papa mengerti. Tapi Papa juga ingin memberikan segala sesuatu yang kamu butuhkan. Karena Papa terlambat melakukan semua ini. Dan Papa juga akan membelanjakan semua keperluan untuk Mama." Mendengar ucapan Papanya, Kenzie hanya mengangguk.
"Mas, semuanya masih cukup dan bagus kok," sahut Chika.
"Tidak sayang, kamu sekarang adalah Nyonya Zidni. Sudah menjadi kewajibanku untuk menafkahi kamu jadi kamu jangan menolak ya. Aku sudah terlalu lama membiarkanmu sendiri tanpa memberimu nafkah." Ucapan Zidni pun mendapat anggukan dan senyuman kecil dari bibir Chika.
"Aku akan menelepon Frans dulu. Karena belanjaan kita akan banyak sekali. Biar Frans mengirim dua pengawal sekaliagus membawa satu mobil lagi." Lanjut Zidni.
"Iya sayang." Ucap Chika.
"Frans, suruh dua pengawal ke mall ya. Belanjaanku sepertinya akan banyak."
"Baik Tuan. Kebetulan saya juga dirumah bersama dokter mengurus kucing."
"Oke, aku tunggu dan pastika si Grey baik-baik saja."
"Pasti Tuan." Jawab Frans diseberang sana. Zidni mengakhiri panggilannya.
"Ada apa dengan Grey, Pah?"
"Tidak ada apa-apa, Ken, Aku meminta Paman Frans untuk memanggil dokter ke rumah. Supaya Grey segera di periksa. Sekaligus rumah baru dan juga makanan sehat untuk Grey."
"Terima kasih ya Pah, sudah mengijinkan Grey tinggal di rumah."
"Sama-sama sayang, apapun yang membuatmu bahagia akan Papa lakukan."
"Aku sayang Papa. I love you." Peluk Kenzie.
"I love you too jagoan."
Chika bahagia sekali melihat pemandangan indah itu. Batinnya tak henti-hentinya bersyukur. Akhirnya perjuangannya terbayarkan sudah.
Akhirnya mereka sampai juga di mall, Zidni dengan begitu antusias, membawa Kenzie ke toko mainan. Semua mainan yang di sentuh oleh Kenzie, langsung di beli oleh Zidni. Nalurinya sebagai seorang Ayah mengalir begitu saja tanpa ia sadari. Setelah puas memilih mainan, Zidni membawa Kenzie ke toko pakaian. Begitu juga dengan semua pakaian yang disentuh, langsung Zidni beli. Setelah puas memenuhi kebutuhan putra semata wayangnya, giliran Zidni memenuhi semua kebutuhan istrinya. Mulai dari pakaian, sepatu, tas, sandal, make up, parfum, skin care, semuanya Zidni berikan untuk istrinya.
"Sayang, beli lingerie yang banyak. Aku ingin setiap hari di rumah kamu memakai itu," bisik nakal Zidni.
"Tapi aku malu."
"Kenapa malu sayang? Menyenangkan suami dapat pahala."
"Satu saja ya."
"Yang banyak sayang. Sama baju tidur seksi ya seperti punyamu kemarin. Beli juga cd dan bra yang baru dan seksi."
"Tap-tapi kan?"
"Malu?"
"Iya." Chika mengangguk. Wajah Zidni berubah kesal.
"Iya, aku akan beli," lanjut Chika yang tidak ingin melihat wajah kesal itu.
"Gitu dong, sayang."
"Kamu makin mesum saja ya."
"Tidak apalah, sama istri sendiri. Nanti malam kamu pakai dan kita tidur bersama. Aku sudah menyiapkan kamar baru untuk Kenzie."
"Iya sayang."
"Akhirnya bisa duduk juga," gumam Chika.
"Mah, kaki Kenzie pegel."
"Sini Mama pijit." Chika menaikkan kedua kaki Kenzie ke pangkuannya.
"Maaf ya, Papa membuat kalian lelah. Papa begitu bersemangat sekali."
"Ternyata belanja capek juga ya sayang, padahal gratis," kekeh Chika.
"Seharusnya aku senang karena Papa membelikan banyak mainan tapi aku lelah juga, hehehehe."
"Karena tadi kita belanjanya langsung banyak. Rasanya hari ini belum bisa menebus waktu lima tahun untuk membahagiakan kalian."
"Sayang, kamu jangan boros-boros. Seharusnya tadi kita belanja sedikit saja." Kata Chika.
"Apalah arti semua itu jika dibandingkan waktu yang aku lewatkan bersama kalian."
"Sayang, jangan salahkan dirimu terus menerus. Ini takdir sekaligus ujian untuk kita. Yang penting saat ini kita harus selalu saling menjaga." Ucap Chika sambil menggenggam tangan suaminya.
"Iya terima kasih, sayang. Kamu memang luar biasa dalam segala hal."
Selesai makan di restoran, mereka segera pulang ke rumah. Kenzie yang lelah, terlelap dalam gendongan sang Ayah. Begitu sampai di kamar, Zidni membaringkan tubuh mungil bocah menggemaskan itu.
"Chika, hari ini kamu pindah ke kamar ku ya. Aku akan merenovasi kamar yang lain untuk Kenzie, yang lebih luas dari ini. Nanti kita bisa mendesain ulang interior kamar sesuai keinginannya. Sekaligus kita buat tempat bermain kecil di kamarnya. Di samping ruang kerjaku, ada dua kamar kosong tidak terpakai. Aku akan menjebolnya dan menjadikan satu. Dan kamar ini juga akan aku jebol, supaya kamar terhubung dengan kamarku. Aku akan membuatkan walk in closet sekaligus ruang make up untukmu. Jadi kamu dan Kenzie nyaman di kamar."
"Iya sayang, baiknya kamu saja. Tapi apa tidak berlebihan dengan meperluas kamar kamu?"
"Tentu saja tidak. Kamu juga utuh almari untuk semua pakaianmu, sepatu dan tas. Aku akan memesan almari baru untukmu dan juga meja rias yang bagus."
"Terima kasih ya sayang. Kamu benar-benar memikirkan semuanya."
"Sudah menjadi tugas dan kewajibanku, sayang. Oh ya Kenzie sudah terbiasa tidur sendiri kan?"
."Iya, dia sudah terbiasa tidur sendiri. Hanya saja sebelum tidur, dia selalu minta dibacakan dongeng."
"Aku nanti akan membelikan dia banyak buku cerita. Aku akan mendongeng untuknya semalam. Sekarang ayo kita ke kamar."
"Iya sayang."
"Ya sudah, aku angkat kopermu ke kamar ya." Zidni mengangkat koper Chika dan membawanya ke kamar. Semua barang belanjaan juga sudah sampai di rumah.
"Sayang, kamu mau makan malam apa?"
"Terserah kamu saja." Ucap Zidni seraya meletakan koper Chika diatas ranjangnya.
"Jangan terserah, nanti aku bingung."
"Baiklah, aku mau ikan bakar, capjay kering dan puding coklat sebagai penutup. Kenzie menyukainya bukan?"
"Dia seperti aku, pemakan segala," Chika terkekeh.
"Mmmm nanti sebelum tidur, pakai ini ya." Ucap Zidni sambil menunjukkan lingerie berwarna hitam yang baru saja ia beli untuk Chika.
"Iya sayang."
"Oh ya, kamu masih lama menstruasinya?"
"Kurang lima hari lagi karena kemarin sudah berjalan beberapa hari, hehehe."
"Kamu bohong ya ternyata, aku pikir benar-benar baru mulai dan harus menunggu selama dua minggu."
"Ya, tapi kan harus bersihdulu sayang. Besok kamu tidak usah kerja ya, kamu pergi kesalon saja untuk perawatan. Besok setelah menjemput Kenzie, aku akan menjemputmu. Kamu nikmati harimu sebagai Nyonya Zidni. Aku ingin memebus nafkah lahir dan batin yang sempat aku tinggalkan selama bertahun-tahun. Kamu berhak mendapatkan itu semua sayang."
Chika kemudian memeluk Zidni. Ia kembali merasakan sosok hangat seorang Zidni yang selama ini ia kenal. Sosok yang teramat sangat ia rindukan.
"I love you." Ucap Chika dengan air mata yang mengggenang di pelupuk matanya.
"I love you too." Zidni bisa merasakan betapa beratnya beban hidup Chika selama ini. Oleh karena itu batinnya ingin selalu memberikan kebahagiaan untuk Chika dan juga Kenzie. Menebus waktu yang terlewatkan begitu saja.