Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 75 (Bukan) Malam Pertama



AREA 18+


"Sudah, kamu pijitin aku dulu ya. Aku capek banget." Sambung Chika.


"Tapi kamu ini menstruasi atau tidak sayang?" Zidni masih penasaran sembari terus memijat bongkahan kenyal itu.


"Sudah selesai, Mas." Kekeh Chika.


"Kamu benar-benar bohongi aku ya?"


"Hehehe maaf ya Mas, aku belum siap saja. Aku hanya ingin meyakinkan kalau kamu tidak lupa lagi."


"Jahat ya kamu." Zidni lalu menggeletik pinggang Chika gemas. Chika tergelak karena merasa geli.


"Mas, geli ah!"


"Biarin. Kamu menyebalkan sekali," Zidni terus menggelitik Chika, sembari membalik tubuh Chika yang tadi masih tengkurap.


"Ampun Mas, nanti aku pipis nih karena nahan geli." Keduanya pun lalu tertawa bersama. Zidni kemudian mengunci kedua tangan Chika, mengangkat kedua tangan Chika sejajar dengan kepala Chika. Nafas keduanya terengah.


"Ternyata tertawa membuat lelah juga ya?" ucap Zidni. Hembusan nafasnya terasa sekali menyapu wajah Chika.


"Iya Mas."


"Maaf ya Mas, aku tidak maksud berbohong. Lagi pula keenakan kamu, baru jadi pacar masa iya minta servis di ranjang."


"Memangnya kenapa? Kamu sendiri yang mengaku menjadi istriku. Jadi wajar dong kalau aku meminta pelayanan darimu. Memang seperkasa apa aku? Dan aku dulu bisa berapa ronde dalam semalam, sayang?"


"Paling banyak empat ronde sih. Entahlah stamina mu terbuat dari apa, aku sampai kuwalahan."


"Bagaimana kalau aku test drive ulang? Sejak kecelakaan, aku tidak pernah tahu apa itu bercinta."


"Masa sih, Mas? Kamu pasti bohong. Mana mungkin pria sepertimu bisa hidup tanpa wanita."


"Aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Sekalipun ada wanita telanjang di hadapanku, aku tidak akan peduli."


"Meskipun ingatanmu belum pulih total tapi kata-katamu masih tetap sama. Kamu dulu juga pernah bilang kalau kamu bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta."


"Jadi, kamu percayakan denganku?"


"Iya Mas, aku percaya. Aku selalu percaya denganmu." Ucap Chika tanpa melepaskan tatapan matanya pada Zidni. Zidni kemudian mulai memagut bibir Chika dengan masih mengunci dua tangan Chika. Chika membalas ciuman itu, mengimbangi ciuman Zidni yang semakin liar. Zidni melepaskan kedua tangan, satu tangannya meraih tengkuk Chika sementara satu tangannya mulai meraba dua bukit kenyal itu. Chika mende...sah, saat tangan Zidni


mere...mas salah satu dadanya.


"Mmmphhhh...." Ciuman Zidni semakin kasar, namun Chika menyukai itu. Lidah keduanya saling membelit dan menari didalam sana. Sesekali mereka saling menyesap dan menggigit penuh naf..su. Ciuman Zidni kemudian turun pada leher Chika. Kepala Chika mendongak, sesekali menggeleng kekanan dan kekiri, memberi ruang pada Zidni untuk menjelajahi lehernya dengan bebas. Ciuman semakin turun dan sampailah pada dua bukit kembar. Zidni yang sudah tidak sabar, melucuti lingerie Chika. Terkejut namun penuh naf...su saat melihat seoarng wanita telanjang di hadapannya. Chika reflek menutup bagian bawah dan dadanya. Rasanya malu, setelah lima tahun tidak pernah telanjang di hadapan pria.


"Kenapa sayang?"


"Malu, Mas." Wajah Chika memerah. Tubuhnya semakin terasa hangat dan jantungnya berdebar tidak karuan.


"Tidak usah malu, kita suami istri. Siapa tahu dengan ini, aku bisa mengingat semua." Ucap Zidni seraya melepas pakaiannya. Chika melihat junior Zidni tegak menantang, siap untuk menerebos benteng pertahanan yang telah lima tahun lebih tidak bertuan.


"Apa tubuhku masih tetap seksi seperti dulu?" tanya Zidni.


"Kamu sepertinya rajin membersihkannya." Ucap Zidni.


"Iya. Karena kamu dulu lebih menyukai yang bersih jadi aku selalu membersihkannya saat dia sudah lebat." Ungkap Chika malu-malu. Tangan Zidni dengan lembut menyentuh lembah yang telah lama tandus itu. Baru sentuhan pertama, Chika sudah menggeliat sambil meremas sprei. Zidni kemudian mengecupnya. Aroma musk yang harum dan semakin menaikkan gairah.


"Ahhhh.... Mmmmphhh..... Sssshhhh!" De..sah Chika tak tertahan. Lidah Zidni kemudian mulai menjulur. Menjilatnya dengan lembut tepat di titik kli..toris. Sesekali lidah Zidni serasa menusuk liang senggamanya, namun justru nikmat yang terasa.


"Mas,,,,sshhhh," erangan Chika membuat Zidni semakin bersemangat. Dengan kedua tangan Zidni yang mere...mas kedua bukit kenyal itu. Sambil sesekali memelintir puncaknya. Permainan Zidni semakin gila dan membuat teriakan nikmat menyeruak ke sesisi ruangan. Setelah lidah Zidni puas bermain di lembah itu, ciumannya naik keatas pertu kemudian melahap bukit kenyal itu dengan buas.


"Mmmmphhhh...." De..sah Zidni terdengar meskipun mulutnya penuh dengan bukit kenyal itu. Tak lupa Zidni meninggalkan jejak di dada Chika dengan sesuka hati. Gairah yang lama mati kini telah kembali. Kulit keduanya kini menyatu dalam naf..su dan gairah cinta yang membara.


"Bersiaplah sayang," ucap Zidni dengan nafas memburunya. Peluh bercinta membasahi tubuh keduanya. Zidi mengarahkan juniornya ke dalam rumahnya. Rumah yang telah lama dibiarkan kosong tak berpenghuni. Terasa agak sempit karena memang sudah lama tidak terjamah, bahkan tidak pernah merasakan rangsangan. Zidni dan Chika kompak melenguh saat si junior berhasil melesak ke dalam rumahnya.


"Ouughhh.....!" lenguh panjang Zidni. Kedua kaki Chika langsung otomatis menjepit pinggang Zidni. Zidni mulai melakukan pergerakan maju mundur. Mulai dengan perlahan sampai melakukan hentakan yang mampu membuat Chika men...desah tiada henti. Decapan khas bercinta terdengar jelas memenuhi setiap sudut ruangan. Sambil menghentak dan memaju mundurkan pinggulnya, bibir Chika dan bukit kenyal itu tak luput dari sapuan bibir Zidni yang mulai menggila. Zidni seperti orang kalap. Seperti orang kelaparan dan saat ini ia sedang menikmati hidangan ternikmat dengan begitu rakusnya.


"Enak sayang?" tanya Zidni disela-sela gerakan maju mundur.


"Heem, Mas. Lebih cepat Mas, aku... mau... samp..pai." Pekik Chika.


"Keluar sama-sama ya sayang." Pinta Zindi dengan nafas memburu dan dada yang kembang kempis terbakar oleh bi..rahi.


"Aaarrrrggghhhhhh....." lenguh panjang keduanya saat sampai di puncak kenikmatan. Chika merasakan denyutan junior di dalam menyemburkan cairannya. Zidni pun terjatuh diatas tubuh Chika dengan junior yang masih tenang menancap di dalam rumahnya.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Mas. Amat sangat mencintaimu." Ucap Chika yang masih merengkuh tubuh berotot itu. Dan malam itu, Zidni menyalurkan hasratnya Chika hingga pagi menjelang.


Pagi pun tiba, Chika dan Zidi terbangun dengan tubuh yang masih telanjang.


"Sayang, aku mau lagi." Bisik Zidni di telinga Chika.


"Kamu tidak lelah? Kamu semalaman menggempurku."


"Tidak. Aku justru semakin bergairah. Kita bermain di kamar mandi."


"Baiklah." Zidni kemudian menggendong Chika dan membawanya berendam dalam bathup. Zidni meminta Chika untuk duduk diatas pangkuan Zidni dan duduk menghadap suaminya. Melihat dada Chika penuh dengan bercak merah, sedikit membuat Zidni merasa kasihan. Namun bagaimana naf..su yang menggila menguasai pikirannya.


"Sayang, maaf ya, aku sudah membuatmu seperti ini."


"Kamu semalam rakus sekali. Membuatku keluar berkali-kali."


"Apa kamu suka?"


"Sangat suka."


"Apa kamu puas?"


"Kamu selalu pintar membuatku puas sejak dulu. Aku bahkan selalu menjaganya untukmu, Mas."


"Sungguh tidak ada yang singgah selain aku?"


"Aku bersumpah, tidak ada yang lain selain kamu." Ucap Chika sambil mengangkat telunjuk dan jari tengahnya. Keduanya mulai berciuman dengan sangat panas. Lidah saling membelit dan saling menghisap satu sama lain. Zidni langsung meraih bukit kenyal dihadapnnya dan menyantapnya dengan buas. Sungguh gairah, cinta dan naf...su yang melebur menjadi satu.