
Kenzie dengan tenang duduk di kursi tepat di samping ranjang Zidni. Zidni melirik kearah Kenzie karena merasa Zidni merasa di intimidasi oleh Kenzie.
''Kenapa melihatku seperti itu?'' tanya Zidni.
''Tidak!" singkat Kenzie.
''Siapa namamu? Dan apa keperluanmu disini?'' tanya Zidni dengan ketus.
''Namaku Kenzie Liam Putra Ganindra.''
''Eh kenapa nama belakangmu seperti namaku?''
''Kata Mama, itu nama belakang Papaku." Jawab Kenzie dengan tenang.
''Papamu? Dimana Papamu?''
''Dihadapanku.'' Celetuk Kenzie.
Zidni terkejut. ''Dihadapanmu? Maksudmu?''
Kenzie mengarahkan telunjuknya pada Zidni.
''AKU?'' tanya Zidni. Kenzie pun hanya mengangguk.
Zidni tersenyum sinis tidak percaya. ''Aku belum menikah jadi aku tidak mungkin punya anak."
Tanpa banyak bicara, Kenzie membuka tasnya dan memberikan sebuah foto pada Zidni.
"Itu foto Papa dan Mamaku.'' Kata Kenzie penuh dengan penekanan. Zidni tidak percaya dengan foto itu. Ia meraba wajahnya karena wajah pria dalam foto itu mirip dengan wajahnya.
Sementara itu, Chika tanpa basi-basi langsung mengajak Frans menemui dokter untuk membahas kondisi Zidni. Disana Frans dan Chika menceritakan semua apa yang terjadi sebelumnya. Dan lagi-lagi kesimpulannya pun sama.
''Sepertinya untuk saat ini, tidak usah membangkitkan ingatannya. Karena fungsi otaknya akan semakin menurun dan bisa mengarah ke gejala alzheimer ataupun demensia. Jika dalam hal pekerjaan Tuan Zidni tidak pernah lupa, itu berarti guncangan batin dan psikis yang beliau alami sangat hebat. Saat ini sepertinya cinta yang Tuan Zidni butuhkan dari anda Nyonya. Rawat beliau dengan cinta, saya yakin lambat laun beliau akan ingat sendirinya. Jangan sampai kejadian ini terjadi untuk ketiga kalinya. Karena beliau bisa tidur lebih lama lagi. Cukup anda ingatkan bahwa anda istrinya, jika beliau tidak percaya atau menyangkal tidak masalah, jangan paksa. Lakukan tugas anda sebagaimana mana mestinya karena saat ini yang beliau butuhkan adalah cinta.'' Itulah yang dokter katakan pada Frans dan Chika.
''Sekretaris Frans, tidak perlu menunjukkan jurnal itu. Aku tidak mau dia memaksa ingatannya lagi.''
''Tapi Nona....,''
''Aku tidak apa-apa. Biar aku yang membuat ingatan dan kenangan baru di otaknya. Aku takut jika fungsi otaknya mengalami penurunan dan mendekat kearah dua penyakit itu.''
''Tapi kata dokter tidak masalah jika anda mengaku istrinya.''
''Tapi disituasi seperti ini, mustahil aku mengaku sebagai istrinya. Mereka pasti menganggap aku gila dan menganggap aku memanfaatkan Zidni. Tidak ada yang bisa membelaku sekretaris Frans.''
''Maaf Nona, saat Tuan sudah lebih baik, aku akan memberikan jurnal itu karena Tuan sudah berpesan seperti itu kepadaku. Aku tidak bisa melihatnya menderita terus-menerus. Anda dan putra anda juga sudah cukup menderita. Maafkan aku Nona.'' Frans membungkuk dan berlalu begitu saja menuju ruangan Zidni. Chika tidak bisa berbuat apa-apa. Tentu saja Frans akan lebih menuruti ucapan Tuannya.
Di dalam kamarnya, Zidni masih memandangi foto itu.
''Ini pasti editan.'' Celetuk Zidni.
''Itu benar foto Papaku dan Om adalah Papaku.''
''Ini wanita tadi kan?''
''Iya, itu Mama.''
''Jangan bohong ya anak kecil.'' Kata Zidni dengan tatapan tajamnya. Bukannya takut dengan sorot mata Zidni, Kenzie membalas memelototi Zidni.
''Hei, kenapa kamu membentakku? Seharusnya aku yang marah. Enak saja mengaku sebagai anakku. Aku menikah saja belum.''
''Tuan, ada apa?'' terlihat kedua Ayah dan anak itu berseteru.
''Lihat ini Frans, apakah ini aku? Dia mengaku sebagai anakku. Aku akan belum menikah.'' Kesal Zidni sambil menunjukkan foto itu pada Frans.
''Tuan, ini benar anda. Anda sudah menikah dan memiliki seorang anak.'' Kata Frans bebarengan dengan Chika yang masuk ke dalam kamar Zidni.
''Aku menikah dan memiliki anak? Tidak mungkin Frans. Aku cinta pada Amora, aku tidak mungkin menghianatinya.'' Zidni tidak terima dengan penjelasan Frans.
''Tapi itu kenyataannya, Tuan. Anda menikah setelah beberapa tahun kepergian Nona Amora. Jadi anda sama sekali tidak menghianati Nona Amora.''
Zidni mulai kesal, ia berusaha bangun dari tidurnya dan memilih duduk sembari bersandar.
''Sebaiknya kita ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus aku urus daripada mengurus kebohongan ini. Mereka pasti sudah membayarmu kan?''
''Tidak Tuan! Saya mengatakan yang sebenarnya.'' Frans kemudian mengambil jurnal milik Zidni dalam laci.
''Silahkan anda baca Tuan. Ini semua tulisan anda. Beberapa waktu lalu anda pingsan saat kita pergi ke Jepang. Anda tidak perlu mengingatnya jika memang belum ingat, anda hanya cukup membacanya saja. Sejak saat itu anda menulis segala sesuatu yang menurut anda penting karena setelah bangun dari pingsan beberapa waktu lalu, anda juga melupakan banyak hal.'' Frans mencoba mengubah ingatan Zidni, berharap Zidni mengetahui bahwa dirinya sudah menikah, meskipun Zidni belum mengingat apapun. Ia tidak tega jika melihat Chika terus berpura-pura menjadi bawahannya. Setidaknya dengan langsung mengenal Chika sebagai istrinya, Zidni hanya tinggal menggali kenangan manis dengan Chika tanpa harus menemukan puzzle ingatannya itu.
''Kenzie, ayo kita pergi nak. Kita pulang ya, tugas kita sudah selesai.'' Kata Chika pada putranya.
''Iya Mah.''
''Nona, jangan pergi!" cegah Frans.
''Tugasku sudah selesai sekretaris Frans.'' Ucap Chika.
''Siapa yang menyuruhmu pergi?'' sahut Zidni tanpa berpaling dari jurnal ditangannya.
''Duduklah! Tunggu aku sampai selesai membaca.'' Kata Zidni. Frans memberi kode pada Chika untuk menuruti perintah Zidni. Chika dan Kenzie kemudian duduk di sofa. Kenzie memeluk Mamanya, berharap Papanya ingat semua kenangan tentang Mamanya.
Tak butuh waktu lama bagi Zidni untuk membaca jurnal itu. Terutama di beberapa lembar halaman terkahir terdapat foto kolase dari pacaran hingga menikah. Disana tertulis lengkap tanggal pernikahan keduanya.
''Kenapa fotoku dengan anak itu tidak ada? Ini bukan sebuah modus untuk mengelabui kan?'' Zidni menatap sinis Chika dari kejauhan.
''Zidni, kamu pergi saat aku tengah mengandung Kenzie. Untuk apa aku modus.'' Kesal Chika.
''Baiklah, kalau begitu lakukan tes DNA. Kalau memang anak itu anakku, aku akan bertanggung jawab. Mungkin saja aku dulu khilaf dengan menikahimu. Rasanya mustahil wanita sepertimu aku nikahi.'' Ucapnya dengan gaya sombongnya yang mulai kumat.
''Kumat lagi sombongnya. Tapi tidak apa-apa, aku siap menerima semua keangkuhanmu daripada aku melihatmu terbaring lemah seperti itu,'' gumam Chika dalam hati.
''Siapa takut?'' tantang Chika.
''Hhhh rasanya aneh aku menikahi wanita yang galak sepertimu. Bahkan suaramu itu sama sekali tidak enak di dengar telinga.'' Ucap Zidni. Sepertinya memang kenangan awal pertemuan mereka yang bermula dari rasa benci dan cinta, sudah terpatri dalam ingatan Zidni. Senyum Frans mengembang, melihat bosnya sudah bisa bicara dengan lantang seperti biasa.
''Asal Tuan tahu, Nona Chika sama sekali tidak beranjak dari ruangan ini untuk menjaga anda. Tentu saja wajah Nona Chika tampak sayu dan pucat karena melihat suaminya terbaring tidak berdaya.'' Sahut Frans membela Chika.
''Jangan banyak bicara Frans, panggil dokter dan segera lakukan tes DNA.'' Ucap Zidni dengan nada bicara dingin seperti biasanya.
''Baik Tuan.'' Jawab Frans dengan senang hati.
''Sepertinya memulai ingatan Tuan seperti ini lebih baik daripada memulai dari awal seperti cara Nona Chika. Karena itu hanya akan membuat mereka sama-sama menderita. Dengan seperti ini Tuan pasti akan mengajak Nona Chika dan Tuan kecil untuk tinggal satu atap. Dan itu akan memudahkan mereka untuk membangun cinta itu kembali.'' Ucap Frans dalam hati.