Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 87 Ngidam



''Sayang, aku sudah dapat pesanan kamu.'' Teriak Zidni begitu sampai di rumah. Ia sangat antusias membawakan makanan pesanan Chika. Zidni lalu menuju dapur dan malah melihat Chika sudah duduk ruang makan sembari menikmati makanan di hadapannya.


''Lho sayang, kamu kok sudah makan?''


''Eh Mas, kamu sudah pulang. Hehehe iya nih, tadi aku nyium aroma wangi nasi goreng buatannya Bibi. Enak deh, Mas.''


''Kamu katanya mau nasi pecel. Ini sudah aku bawain, sayang. Sesuai dengan keinginan kamu sama es buahnya juga.''


''Aduh Mas, maaf ya. Aku tadi tergoda sama nasi goreng buatan Bibi. Ini nasi goreng jawa Mas, kata Bibi. Dan ini aku lihat Bibi bikin es teh sekalian aku minta buatin. Enak banget lho, Mas.'' Ucap Chika dengan entengnya.


''Terus nasi pecel dan es buahnya bagaimana sayang?''


''Sini, kamu duduk, Mas. Kamu makan saja. Aku mau kamu yang makan.''


''Aku tidak mau, sayang. Kalau pagi-pagi makan nasi pecel, perut aku mules.''


''Kamu ini ah alasan saja. Kamu masih sama ya, tetap sombong seperti dulu.'' Kesal Chika.


''Lho-lho kok malah bahas yang dulu-dulu.''


''Habisnya kamu alasan saja. Pokoknya kamu harus makan. Kalau kamu tidak mau makan, aku marah nih.''


Zidni menghela nafas panjang, demi istri yang sedang hamil akhirnya Zidni hanya bisa mengalah.


''Baiklah akan aku makan. Tapi ini porsinya banyak banget, sayang.''


''Pokoknya harus habis, Mas. Aku ingin lihat kamu makan nasi pecel.'' Paksa Chika. Dengan menahan kesal Zidni mengambil piring, sendok dan garpu. Sekaligus mangkok untuk tempat es buah. Chika tersenyum melihat wajah cemberut suaminya. Chika sebenarnya tahu kalau pagi-pagi Zidni tidak bisa makan-makanan pedas apalagi nasi pecel. Karena setiap sarapan pagi dengan nasi pecel, Zidni terus bolak-balik ke kamar mandi. Tapi hari ini Chika ingin sekali melihat suaminya lahap makan nasi pecel.


''Yang ikhlas dong Mas, makannya. Masa cemberut. Bersyukur lho kita bisa makan enak begini.''


''Bersyukur sih bersyukur sayang tapi aku sudah capek-capek antre eh tapi kamu malah makan nasi goreng. Ya, aku kecewa.''


''Maaf deh, Mas. Habis gimana lagi, wangi nasi gorengnya Bibi membuat aku tergoda. Padahal ini bumbunya sederhana banget, meskipun berbeda dengan nasi goreng di restoran tapi ini enak banget.'' Ucap Chika yang makan dengan lahapnya.


''Namanya juga ibu hamil, Mas. Hormon dan moodnya suka berubah-ubah. Kamu coba baca-baca deh tentang ibu hamil itu bagaimana. Apalagi ini pengalaman pertama kamu mendampingi kehamilanku.''


Kalimat terakhir Chika, membuat rasa kesal Zidni hilang. Seharusnya ia bisa lebih sabar menghadapi mood istrinya.


''Iya sayang, maafkan aku ya. Ya sudah, aku akan habiskan ini untuk kamu.''


''Gitu dong suamiku. Makin cinta deh.'' Ucap Chika seraya memberikan kecupan di pipi Zidni. Zidni tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.


''Kamu di rumah saja ya. Aku hari ini mau jemput Kenzie ke sekolah.''


''Iya Mas.''


''Kamu mau menitip sesuatu atau ingin sesuatu?''


''Mmmm itu Mas tiba-tiba aku ingat Romi.'' Celetuk Chika.


''Maksud kamu apa sayang? Kamu ingin Romi?'' ucap Zidni dengan nada kesal.


''Bukan itu. Kamu bisa kan belikan susu sapir segar di peternakan milik Romi. Kualitas susunya disana bagus banget. Aku sudah lama sekali tidak beli susu disana. Biasanya aku beli untuk aku jual lagi. Mmmm kamu bisa lho Mas buat produk baru dari bahan susu murni. Aku dulu kan juga jualan keliling. Kamu bisa minta Romi untuk jadi supplier susu segarnya.'' Cerocos Chika seperti biasanya.


''Kamu ini cerewetnya nggak hilang-hilang ya.'' Ucap Zidni sambil mencubit pipi Chika dengan gemas.


''Kenapa tidak beli di peternakan lain saja? Aku tidak mau kamu menyebut nama Romi ya.''


''Mas, tapi aku pinginnya di peternakan Romi. Ayolah Mas! Ini kan anak kamu yang minta.''


''Ini beneran anak aku kan? Bukan anak Romi?''


''Astaga Mas, kamu ini keterlaluan sekali.'' Chika marah dan beranjak dari duduknya. Kemudian ia berlalu menuju kamar.


''Sayang, kok malah ngambek sih.'' Zidni kemudian menyusul Chika ke kamar. Chika berdiri di teras balkon dengan wajah cemberut. Zidni lalu memeluknya dari belakang.


''Rayuan kamu tidak mempan.'' Ketus Chika.


''Maaf ya sayang. Aku hanya tidak suka saja kalau kita berhubungan dengan Romi. Kamu kan tahu kalau aku cemburu.''


''Ya tapi kamu tidak perlu bicara seperti itu, Mas. Seakan-akan aku ini wanita murahan saja. Hubungan kita tidak lebih dari teman meskipun dia punya perasaan lebih. Tapi sekarang semuanya kan sudah berbeda, Mas. Masa iya aku macam-macam. Aku saja bisa setia sama kamu sampai detik ini, apa belum cukup membuktikan semuanya?''


''Iya-iya maaf. Itu semua karena aku terlalu cinta sama kamu. Ya sudah nanti aku belikan ya. Mau berapa liter?''


''Tidak jadi, Mas. Mood ku sudah hilang. Aku maunya kita liburan.''


''Liburan? Kemana sayang?''


''Aku mau ke Shanghai lagi.''


''Baiklah kalau kamu maunya liburan lagi. Nanti aku atur jadwalnya ya?''


''Tapi aku maunya besok, Mas. Sekalian Kenzie ikut ya.''


''Oke baiklah my noisy girl. Sekarang jangan ngambek lagi dan maafkan aku.''


''Baikkah di maafkan.'' Ucap Chika. Zidni melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Chika menghadapnya.


''Kiss me?'' pinta Zidni sambil mengetuk bibirnya. CUP! Chika memberikan kecupan di bibir Zidni.


''Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu ya.''


''Jangan mandi sayang, nanti kamu ganteng.'' Cegah Chika.


''Sayang, badan aku udah lengket. Belum lagi nanti jemput Kenzie ke sekolah. Masa iya bau gini.''


''Pokoknya nggak boleh mandi. Cukup cuci muka sama gosok gigi. Mandinya nanti sore saja.''


''Aduh, kamu ini aneh-aneh saja. Aku juga tidak akan lirik sana sini.''


''Kamu mungkin nggak tapi wanita di luaran sana, bagaimana?''


''Ihhh kamu makin gemes kalau cemburu begini. Rasanya pingin gigit aja.'' Zidni kemudian menggendong Chika lalu membawanya kembali keatas ranjang. Zidni mengambil posisi diatas tubuh Chika. Dengan mengunci dan mengangkat kedua tangan Chika yang sejajar dengan kepalanya.


''Aku akan di kamar tapi kamu harus temani aku, sampai tiba jam pulan sekolah Kenzie tiba. Kamu hamil begini jadi gemesin banget.'' Zidni dengan gemas menghujani wajah Chika dengan kecupan, sampai membuat Chika tertawa geli.


''Mas ampun! Wajahku bau semua. Aku sudah mandi.''


''Kamu sendiri kan yang melarang aku mandi. Aku akan ciumi wajah kamu sampai aku puas. Kamu gemesin banget. Rasanya pingin aku gigit semuanya.''


''Mas, aku capek ketawa.'' Chika terus saja tertawa karena merasa geli. Akhirnya Zidni menghentikan aksi ciumannya. Nafas keduanya terengah, keduanya saling menatap.


''Tawa renyah kamu membuat aku bahagia sekali. Dan kamu semakin cantik saat tertawa.''


''Masa sih? Gombal banget.''


''Iya sayang. Masa iya aku bohong. Di puji bukannya bilang terima kasih malah begitu.''


''Tanpa kamu puji, aku juga memang sudah cantik, Mas.''


''Iya untung saja aku segera ingat semua kalau tidak aku saingan sama Romi dan Joan. Dan untung juga aku adalah bosnya jadi Joan cukup sadar diri lah.''


''Masih saja sombong.''


''Bukannya sombong tapi memang kenyataan. Kamu juga mencintai pria sombong ini kan?''


''Iya dan entah kenapa ya aku bisa cinta sama pria sombong seperti kamu.'' Gurau Chika. Mereka berdua lalu tertawa bersama. Kembali keduanya saling melu...mat bibir satu sama lain dan kembali menyalurkan hasrat bercinta bak pasangan pengantin baru.