
Saat jam makan siang, Chika pergi menemui Joan di lab.
''Hai Jo!" Chika menyapa Joan di ruangannya sembari membawakan oleh-oleh untuk Joan.
''Chika!" seru Joan. Joan sangat senang melihat Chika kembali. Ia pun bergegas melepas jas putihnya kemudian menemui Chika.
''Kamu sudah kembali? Aku senang sekali.''
''Iya Jo. Oh ya ada sedikit oleh-oleh untukmu.''
''Apa ini Chika?''
''Ini Edo furin. Ini merupakan lonceng angin tradisional khas Jepang. Dulunya lonceng ini digunakan untuk alat ramal di Cina. Sedangkan di Jepang, lonceng tersebut digunakan untuk mengusir roh jahat. Begitu sih filosofinya tapi sekarang di jadikan oleh-oleh. Maaf ya hanya bisa memberikan ini.''
''Tidak apa-apa. Justru kamu tidak usah repot-repot. Tapi aku terima ya. Aku akan menggantungnya di depan kamarku. Terima kasih ya Chik.''
''Iya sama-sama.''
''Bagaimana kalau kita makan siang bersama?''
''Boleh tapi aku dan tim ku sudah janji makan siang di kantin. Katanya mereka merindukan makan siang denganku.'' Ucap Chika dengan senyum kecilnya.
''Baiklah kalau begitu aku ikut bergabung bersama mereka.''
''Ya sudah ayo kita kesana.'' Ajak Chika.
''Oke.''
Sesampainya di kantin, Mita, Pak Haris dan Juno sudah berkumpul disana. Mereka juga sudah memesankan makanan untuk Chika.
''Eh ada Joan. Mau aku pesankan makanan?'' tanya Mita dengan gaya genitnya.
''Boleh saja.'' Ucap Joan seraya duduk.
''Kamu mau apa?'' tanya Mita.
''Apa saja, Mita.''
''Idih, ganjen amat.'' Sindir Juno.
''Biarin, sirik aja.'' Balas Mita sambil melengos.
''Kenapa sih Jun? Kamu cemburu?'' goda Chika.
''Cemburu? Ihhhh ogah deh. Genitnya itu lho kebangetan.'' Kata Juno.
''Suka-suka gue dong.'' Kata Mita sembari beranjak dari duduknya untuk memesankan Joan makanan.
''Sudah-sudah, kalian ini ribut saja.'' Kata Pak Haris.
Suasana makan siang itupun tampak hangat. Mereka saling bercengkrama dan bersenda gurau. Chika memperhatikan sikap Mita yang tampak perhatian dan mencari perhatian dengan Joan.
''Sepertinya Mita suka pada Joan.'' Gumam Chika dalam hati.
''Chika, selesai makan, apa kita bisa bicara sebentar?'' tanya Joan.
''Iya bisa. Oh ya apa sudah di acc oleh Tuan Zidni?''
''Semuanya sudah beres, tinggal produksi saja.''
''Syukurlah kalau begitu.'' Ucap Chika lega.
Selesai makan siang, Joan mengajak Chika bicara di taman kantor.
''Kamu ingin bicara apa Jo?''
''Sebelumnya aku ingin bertanya padamu tapi aku harap, kamu jangan tersinggung.''
''Iya, tanyakan saja. Aku tidak akan tersinggung ataupun marah padamu.''
''Maaf ya sebelumnya, aku tidak sengaja mendengar sekretaris Frans bergumam tentang dirimu. Kalau sebenarnya kamu seorang single parents, apakah itu benar?''
''Wah, sekretaris Frans, cepat juga menyebarkan berita itu.'' Gumam Chika dalam hati.
''Iya. Memang begitu keadaannya, Joan.''
''Kalau boleh tahu kemana suamimu?''
''Aku tidak tahu. Dia pergi tanpa kabar sampai detik ini.''
''Sejak kapan Chika?''
''Sejak Kenzie masih dalam kandungan. Maaf ya kalau aku berbohong. Aku hanya masih berharap dia kembali.''
''Kamu yang sabar ya. Kamu ternyata wanita yang sangat hebat.''
''Ya, begitulah. Sekarang kamu sudah tahu statusku seperti apa, masih mau dekat denganku?''
''Tidak ada alasan untuk menjauh darimu Chika. Tidak ada yang salah juga dengan dirimu.''
''Terima kasih ya. Kalau begitu sebaiknya kita kembali bekerja.'' Kata Chika.
''Iya. Oh ya, apa boleh kapan-kapan aku main ke rumahmu atau sekedar mengajak Kenzie jalan-jalan?''
''Iya boleh.''
''Terima kasih ya.''
''Eh tapi ada yang marah tidak?''
''Oke, baiklah. Jangan sampai nanti ada yang cemburu.''
''Tidak akan Chika. Baiklah, ayo kita masuk.''
''Iya.''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melepaskan ciumannya dengan Chika, Zidni menjadi tidak konsentrasi bekerja. Ia selalu terbayang adegan itu. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Zidni sedang dalam perjalanan menuju kantor.
''Tuan, anda baik-baik saja? Sepertinya anda tidak fokus hari ini.'' Tanya Frans yang duduk di bangku kemudi.
''Tidak, aku baik-baik saja.''
''Katakan saja jika ada sesuatu, Tuan.''
''Tidak ada Frans. Sebaiknya fokus saja menyetir.'' Ketus Zidni.
''Baik Tuan.''
''Pasti Tuan sedang memikirkan Nona Chika. Apa Nona Chika belum mengambil keputusan?'' batin Frans.
Sesampainya di kantor, Zidni kembali keruangannya. Ia tampak gusar dan tidak tenang. Ia kemudian menelepon ke ruangan Chika.
''Pak Haris, suruh Chika ke ruanganku.''
''Baik Tuan.'' Ucap Pak Haris.
''Chika, Tuan Zidni memanggilmu.'' Kata Pak Haris.
''Baik Pak.'' Jawab Chika. Ketiga temannya hanya bisa menghela melihat Chika yang selalu menjadi bulan-bulanan Zidni.
''Tuan!" ucap Chika sambil mengetuk pintu.
''Masuk.'' Sahut Zidni.
''Ada apa Tuan?'' tanya Chika.
''Bagaimana dengan tawaranku?''
''Tawaran apa Tuan?''
''Terapi itu.''
''Maaf Tuan, saya tidak bisa. Saya masih punya harga diri.''
''Tapi hanya kamu yang saat ini bisa membantuku. Setelah aku ingat semuanya, aku akan pergi meninggalkan negara ini dan aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku akan melanjutkan hidupku dengan seseorang yang selama ini aku cari. Jadi urusan kita selesai.''
''Kamu mau pergi kemana lagi?'' gumam Chika dalam hati.
''Apa Tuan sama sekali tidak punya ingatan apapun tentang orang itu?''
''Tidak ada Chika. Hanya cincin ini yang aku punya. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini. Sampai kapan aku akan seperti ini. Apa aku harus menyerah dan melanjutkan hidupku dengan membuka hatiku untuk wanita lain?''
''Tidak boleh! Aku tidak akan rela jika kamu menyerah.'' Gumam Chika dalam hati.
''Menurut Tuan sendiri bagaiamana?''
''Aku ingin berjuang tapi terkadang aku lelah juga. Karena serasa takdir mempermainkan aku. Sejak bertemu denganmu aku merasakan menemukan sesuatu. Apa kamu sebelumnya mengenalku?''
DEG!
''Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengaku tapi apa mungkin dia percaya padaku?'' gumam Chika dalam hati. Zidni kemudian beranjak dari duduknya, ia menghampiri Chika dan berdiri di hadapan Chika.
''Aku bahkan merasa tidak asing dengan kalung yang kamu kenakan.'' Ucap Zidni.
''Kalau kamu memang tahu sesuatu, katakanlah Chika. Aku siap mendengar semuanya. Aku berharap bisa menemukan petunjuk darimu. Karena sejak Amora pergi, aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita apalagi sampai berciuman tanpa status.''
''Kalaupun saya tahu sesuatu, apa anda akan percaya?''
''Setidaknya aku akan mencari tahu dan mendapatkan petunjuk.'' Kata Zidni.
''Kalung ini, darimu Zidni.'' Ucap Chika. Zidni terkejut dengan ucapan Chika. Chika harus mengatakannya karena ia tidak mau Zidni menyerah dan meninggalkannya lagi.
''Maksudmu apa Chika?'' Zidni serasa tidak percaya. Chika mengeluarkan ponselnya. Ia kemudian mengirim semua foto kenangan mereka berdua ke nomor Zidni.
''Silahkan cek ponsel anda.'' Kata Chika. Zidni menurut dan membuka pesan dari Chika. Zidni terkejut melihat foto dirinya bersama Chika. Dari mulai pacaran sampai akhirnya menikah. Bahkan foto hasil tespek milik Chika.
''Ini aku? Ini sungguh aku?'
''Iya, itu kamu. Aku berjuang sendiri merawat anak kita. Kamu berjanji ingin kembali tapi kamu tidak pernah kembali.''
''Hah? Apa? Kita punya hubungan di masa lalu?''
''Iya. Kita suami istri.''
Dan telinga Zidni terasa seperti ada yang berdenging. Zidni mencoba mengingat semua foto itu tapi tidak bisa. Kepala Zidni mulai terasa sakit lagi. Saat memaksa ingatannya. Melihat Zidni kesakitan, Chika tidak tega dan langsung memeluk Zidni.
''Jangan paksa ingatanmu! Aku akan sabar menunggu sampai kamu ingat.'' Chika pun menangis sambil memeluk Zidni. Kali ini Chika yang mencium bibir Zidni. Sambil menangis khawatir, Chika mencium bibir suaminya. Menciumnya dengan sangat lembut sampai Zidni merasa tenang. Zidni merasa terkejut dengan sikap Chika namun ia tidak bisa menolaknya. Zidni membalas ciuman itu dan keduanya saling berpagut. Namun akhirnya Zidni pingsan karena terus berusaha mengingat semua yang ada dalam foto itu.
''ZIDNI!" Chika histeris melihat pria yang di cintainya itu pingsan. Disaat yang bersamaan, Frans pun datang.
''Tuan!" seru Frans.
''Sekretaris Frans, cepat bawa suamiku ke rumah sakit.''
''I-iya Nona.''