Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 59 Setelah Lima Hari



''Eh Chika kenapa ya nggak masuk kerja?'' tanya Mita pada Juno dan Pak Haris.


''Aku juga tidak tahu, Mit. Sejak kejadian Tuan Zidni pingsan, Chika tidak pernah terlihat lagi. Apa Chika di pecat ya?'' tebak Juno sambil memainkan bolpoinnya.


''Tapi bagaimana kondisi Tuan Zidni? Dan apa yang terjadi?'' tanya Pak Haris.


''Aku juga tidak tahu jelas, Pak. Yang jelas kata sekretaris Frans, Tuan Zidni akan bedrest selama beberapa hari. Dan Tuan Zidni tidak menerima kunjungan dalam bentuk apapun.'' Ucap Mita.


''Kalian sudah menguhubungi Chika?'' tanya Pak Haris.


''Sudah Pak. Tapi ponselnya tidak aktif sejak kemarin. Apa kita coba kerumahnya ya? Aku khawatir.'' Kata Mita.


Tiba-tiba Joan datang dengan segala kekhawatirannya di ruangan tim Chika.


''Maaf semuanya, apa Chika sudah masuk kerja?''


''Tidak Jo. Sejak Tuan Zidni jatuh pingsan, Chika sejak saat itu tidak terlihat dan terdengar kabarnya.'' Jawab Mita.


Juno tidak bisa menutupi kekhawatirannya.


''Nomornya juga tidak bisa aku hubungi.''


''Kamu tahu rumahnya tidak? Bagaimana kalau nanti pulang kerja kita kerumahnya?'' sahut Juno.


''Kita bisa cari tahu alamatnya lewat HRD. Aku akan mencari tahu alamatnya.'' Ucap Joan tergesa seraya berlalu begitu saja.


''Aduh, aku benar-benar ikut tidak tenang. Apa Chika dianggap melukai Tuan Zidni ya? Apa terjadi sesuatu di dalam? Apa Chika di jebloskan ke penjara ya?'' Mita mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikirannya.


''Husss! Jangan bicara aneh-aneh kamu. Kita cari tahu dulu,'' sanggah Pak Haris.


''Iya nih. Overthinking mu menjadi negatif thinking,'' kata Juno.


''Iya-iya maaf. Aku juga khawatir. Aku kasihan sama Chika.'' Ucap Mita menunduk sedih.


Sepulang kerja Joan, Mita, Juno dan Pak Haris pergi kerumah Chika. Namun sesampainya disana, rumah Chika tampak sepi. Joan sampai bertanya pada seseorang yang melintas di rumah Chika.


''Permisi Pak, kemana ya Chika, pemilik rumah ini?''


''Oh Mbak Chika pergi keluar kota sejak dua hari lalu, Mas.''


''Kemana ya Pak?''


''Maaf Mas, kalau itu saya tidak tahu.''


''Oh begitu, ya sudah Pak terima kasih.''


''Iya Mas, sama-sama.'' Bapak-bapak itupun berlalu.


Joan mendengus dengan rasa kecewa dan sedih. Baru saja kemarin ia merasa bahagia karena merasa memiliki kesempatan untuk dekat dengan Chika tapi nyatanya keadaan berbanding terbalik. Chika mendadak menghilang. Mereka semua tampak kecewa dan sedih.


''Apa Chika di usir ya dari kota ini oleh Tuan Zidni. Apalagi selama ini Chika lah yang paling berani memancing amarah Tuan Zidni.'' Sahut Mita dengan segala prasangkanya.


''Mita, sebaiknya kamu berhenti menduga-menduga hal negatif seperti itu. Sebaiknya kita doakan saja semoga Chika baik-baik saja.'' Kata Juno.


Sejak Zidni masuk rumah sakit dan Chika memutuskan untuk merawat Zidni, Frans memberi nomor baru pada Chika. Meminta Chika untuk menonaktifkan nomor lamanya sementara. Sedangkan untuk nomor barunya hanya adik dan orang tuanya saja yang tahu termasuk Frans. Semua itu demi menghindari segala pertanyaan tentang keberadaan Chika. Chika juga mengaku kepada tetangganya kalau ia hendak pergi keluar kota. Chika bahkan terpaksa meliburkan Mbak Susi demi untuk fokus menjaga suaminya. Untuk sementara Chika benar-benar menghabiskan waktunya di rumah sakit menjaga Zidni.


Siang pun beganti malam dan begitu terus yang terjadi. Lima hari sudah Zidni terbaring di rumah sakit. Dokter pun memberikan keputusan bahwa Zidni koma. Sungguh hancur hati Chika mendengar pernyataan dokter. Deraian air mata membasahi wajah Chika sambil memeluk telapak tangan suami dan menghujani tangan Zidni dengan kecupan. Mata Chika benar-benar bengkak, kantung matanya mulai menghitam. Chika hanya seorang diri di ruangan itu. Kenzie pun akhirnya mau pergi ke sekolah dan Frans yang mengantar juga menjemputnya. Chika kemudian membuka laci yang berisi jurnal ingatan Zidni. Baru kali ini Chika terpikir untuk membuka dan membaca jurnal itu.


Aku tidak tahu, kenapa saat aku terbangun, aku seperti berada di masa lalu. Aku teringat kejadian menyedihkan itu. Aku bahkan melupakan seseorang baru saja aku kenal, yaitu bawahanku. Namanya Chika, wanita yang super berisik dan sungguh menyebalkan. Baru kali ini aku mempunyai karyawan seberani dirinya. Entah kenapa aku menuliskan namanya disini. Aku seperti takut jika aku melupakannya lagi.


Membaca lembar demi lembar halaman, membuat Chika menangis sesenggukan. Pria dihadapannya selalu berjuang sendiri dan tidak pernah mau membagi kesedihannya kepada orang terdekat. Hampir semua isi jurnal itu, berisi tentang Chika termasuk permintaan terakhir Zidni tentang ciuman itu.


"Bangunlah sayang. Aku tidak peduli kamu ingat atau tidak, yang jelas saat kamu terbangun, aku mau menerima itu. Menerima terapi ciuman yang kamu inginkan." Kata Chika sambil memeluk jurnal itu. Chika pun juga tahu jika halaman terakhir itu, Frans yang menulisnya bahkan menempelkan foto-foto kebersamaan Chika dan Zidni. Chika kemudian menyimpan kembali jurnal itu ke dalam laci.


Chika kemudian memeluk tubuh tak berdaya itu.


"Bangunlah suamiku. Aku tidak akan memintamu untuk mengingatku lagi. Tapi aku akan membuat ingatan baru tentang cinta baru kita." Gumamnya yang masih sesenggukan dengan memeluk Zidni.


"Sudah lima hari kamu tidur. Apa kamu tidak lelah? Apa kamu tidak ingin bangun dan marah-marah lagi kepadaku?"


"Mama!" seru Kenzie berlari mendekat kearah Mamanya.


"Sayang, kamu sudah pulang?"


"Mama menangis lagi?" tanya Kenzie dengan tatapan polosnya. Chika menggeleng sambil mengusap air matanya.


"Sekretaris Frans, terima kasih sudah membantu mengurus Kenzie."


"Sama-sama Nona. Bagaimana keadaan Tuan?"


"Masih sama." Ucap Chika dengan suara yang terasa tertinggal di tenggorokan. Frans menghela nafas dengan tatapan sedih. Kenzie kemudian naik keatas kursi tepat disamping ranjang pasien. Keznie mengecup pipi Zidni.


"Papa, bagaimana kabar Papa? Aku baru saja pulang sekolah, Pah. Oh ya Pah, kata Ibu guru disekolah, minggu depan ada wisata alam keluarga di kebun binatang. Aku ingin kita bertiga pergi bersama. Jadi Papa cepat bangun ya, aku sayang Papa. Bangun ya Pah." Kenzie kemudian memeluk kembali tubuh yang tak berdaya itu. Chika kemudian juga ikut memeluk suaminya. Melihat pemandangan itu, mata Frans ikut berkaca-kaca. Sebisa mungkin Frans menahan bulir air matanya.


Tiba-tiba jemari Zidni bergerak dan Frans melihat itu.


"Nona, tangan Tuan bergerak!" seru Frans. Chika dan Kenzie pun mengangkat tubuh mereka dari tubuh Zidni. Chika memeluk telapak tangan Zidni dan menggenggamnya dan perlahan Zidni membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya dan melihat samar-samar ada Chika, Kenzie dan Frans. Namun yang dikenali Zidni hanya Frans.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga." Kata Chika. Zidni bingung dengan keadaan disekililingnya.


"Frans, mereka siapa? Bukankah kita harus ke Shanghai untuk memperingati kepergian Amora?" ucap Zidni lirih. DEG! Apa yang Chika takutkan pun terjadi. Sepertinya sakit kepala itu bisa merestart ingatan Zidni.


"Tuan, anda baru saja sadar setelah lima hari pingsan. Bahkan Dokter menyatakan anda koma."


"Koma? Memang apa yang terjadi padaku? Lalu siapa wanita dan anak kecil ini?" tanya Zidni. Seketika Chika melepaskan tangan Zidni. Kenzie pun sangat sedih dan kecewa mendengar ucapan Zidni. Kenzie menangis dan memeluk Mamanya. Zidni benar-benar masih merasa bingung dan ling lung dengan situasi itu.


"Sebentar Tuan." Frans mencoba membuka laci untuk mengambil jurna itu namun baru beberapa langkah, Chika menghentikannya.


"Sekretaris Frans, ada yang ingin aku bicarakan sebentar." Ucap Chika.


"Baik Nona."


"Sayang, kamu temani Papa dulu ya. Mama bicara dulu dengan Paman Frans." Bisik Chika, Kenzie hanya mengangguk. Frans dan Chika kemudian keluar.