Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 64 Memandikan Kenzie



''Mah, aku tidak suka Papa. Papa jahat!" tangis Kenzie sesenggukan.


''Sayang, Papa bukanlah orang seperti itu. Papa sedang sakit dan belum mengingat kita. Makanya dia begitu. Kita harus sabar ya. Kalau Papa marah, abaikan saja.''


''Padahal aku hanya ingin memanggilnya Papa. Apakah tidak boleh Mah?''


''Boleh sayang, siapa yang melarang?''


''Papa. Papa selalu saja begitu setiap kali aku memanggilnya Papa.''


''Kamu jangan menyerah. Tetaplah panggil Papa seperti Mama ini, cuek mendengar Papa marah. Karena dari dulu Papa memang pemarah, angkuh dan sangat menyebalkan. Kita harus lebih menyebalkan daripada dia. Tapi sebenarnya Papa adalah sosok yang hangat, penyanyang dan lembut jadi kita harus sabar. Kamu perbanyak doa supaya ingatan Papa segera pulih kembali. Sekarang kamu istirahat, tidur siang. Mama mau bersih-bersih.''


''Iya Mah.'' Kenzie mulai tenang. Chika kemudian mengecup kening Kenzie sebelum berlalu meninggalkan kamar.


Chika kembali ke meja makan, mendapati makanan masih utuh. Piring Zidni kosong kembali, sepertinya makanan itu di buang. Itulah yang Chika pikirkan.


''Baiklah, nanti malam aku tidak akan memasak. Ini juga masih banyak. Biarkan saja dia marah.'' Gumamnya sambil membereskan meja tanpa melihat kalau porsu lauk berkurang lumayan banyak karena Chika sudah terlanjur kesal. Chika mulai bersih-bersih rumah sembari bersenandung. Chika membersihkan rumah dengan semangat karena ini adalah rumah suaminya.


''Kemana Zidni? Ah bodoh amat. Paling dia juga di kamar. Sebaiknya aku buatkan dia moccacino saja.'' Ucap Chika kembali menuju dapur. Beberapa menit kemudian, moccacino itu selesai ia buat dengan penuh cinta. Chika berjalan menuju kamar Zidni. Namun beberapa kali mengetuk, tidak ada jawaban. Chika yang khawatir membuka pintu kamar Zidni tetapi kamarnya kosong.


''Dimana dia? Mmmm pasti di ruang kerja.'' Chika mencoba menebak kemana Zidni berada. Ia kemudian menuju ruang kerja dan perlahan membuka pintu itu. Chika tersenyum mendapati pria yang di cintainya tengah fokus di hadapan layar laptopnya, memantau perkembangan bisnisnya yang sudah lima hari ia tinggalkan.


''Sayang, aku membawakan moccacino untukmu.'' Suara khas Chika begitu merasuk ke dalam telinga Zidni. Zidni melirik sekilas saat Chika masuk ke ruangannya.


''Kamu jangan capek-capek ya. Kamu baru saja sembuh dan minumlah selagi hangat.'' Kata Chika dengan lembut.


''Hmmmm,'' singkatnya tanpa mau menatap Chika. Chika tiba-tiba dibuat mendelik, melihat bulir nasi tertinggal di bibir Zidni. Sepertinya Zidni tidak pandai meninggalkan jejak.


''Mmmm maaf,'' Chika mengambil begitu saja bulir nasi di bawah bibir Zidni. Zidni terkejut dengan apa yang di lakukan Chika dan itu membuatnya marah.


''Apa-apaan sih?'' dengus Zidni.


''Ini, aku menemukan bulir nasi di bawah bibirmu. Kamu sudah makan kan?'' tanya Chika tanpa menaruh rasa curiga dalam benaknya. Zidni bingung, mau mencari alasan karena bukti sudah di depan mata.


''Aku sudah bilang, kalau aku tidak suka makanan kampungan. Sudahlah, pergi sana.'' Ketusnya seperti biasa. Tanpa banyak menjawab, Chika berlalu begitu saja. Chika yang penasaran kembali ke dapur mengecek makanan diatas meja. Ia menghitung ayam goreng dan dadar jagung juga nasi. Chika merasa semua porsu itu berkurang, bahkan ayam dan dadar jagungnya berkurang tiga biji. Chika melihat ke tempat sampah namun di tempat sampah tidak ada makanan yang terbuang. Chika kemudian tersenyum sendiri.


''Pasti makanan itu dibuang ke perutnya. Bulir nasi di bibirnya tidak bisa bohong. Dia tidak pandai meninggalkan jejak.'' Gumamnya cekikikan.


''Untuk makan malam, apa yang harus aku buat? Aku tidak panda memasak masakan chinese food. Tapi sepertinya aku harus mencobanya. Aku harus membuat perutnya terbiasa makan masakanku. Semangat Chika!" Chika mengangkat kedua tangannya keatas. Selesai bersih-bersih Chika membuka ponselnya, mencoba mencari resep makanan chinese food.


''Hmmm tidak terlalu sulit sepertinya. Semua bahan lengkap di dapur. Untuk makan malam nasi hainan, fuyung hai dan sup wonton sepertinya lezat. Toh bahannya dari ayam jadi Zidni pasti suka juga. Untuk makanan penutupnya sebaiknya aku membuat puding coklat saja. Buah harus selalu ada di meja karena Zidni tidak pernah melewatkan buah setelah makan.'' Gumam Chika. Chika mulai bergelut di dapur menyiapkan semua bahan dari resep makanan yang sudah ia cari di internet itu. Diikatnya ketas rambut panjangnya berwarna hitam legam itu. Apron pun sudah tersemat menutup bagian depan tubuhnya. Tangannya mulai bergerak mengolah berasa menjadi nasi, ayam dan bahan lainnya.


Chika melirik kearah jam dinding dan sudah menunjukkan pukul empat sore.


''Kenzie belum bangun juga ya?'' gumam Chika.


''Sayang! Zidni! Tolong bangunkan Kenzie dan mandikan dia ya. Aku sedang memasaj menyiapkan makan malam.'' Teriak Chika dari bawah dan suara itu sampai terdengar di ruang kerja Zidni. Zidni mendengus mendengar suara cempreng melengking itu.


''Huft, ada apalagi itu?'' gumamnya kesal. Zidni tidak peduli dan masih tetap fokus dengan setumpuk pekerjaan yang telah Frans kirimkan lewat email. Cangkir moccacino pun sudah kosong sedari tadi.


Chika menoleh keatas dan tidak melihat pergerakan Zidni dari ruang kerja.


''Zidni! Sayang! Tolong bangunkan Kenzie dan ajak dia mandi.'' Teriak Chika lagi lebih keras. Zidni mulai kesal karena merasa terganggu. Zidni berjalan keluar beranjak dari duduknya.


''Tolong bangunkan Kenzie ya. Sudah waktunya dia mandi. Aku sedang memasak.'' Ucap Chika sambil menoleh kearah Zidni.


''Nanti juga bangun sendiri,'' jawabnya santai.


''Zidni, dia anak-anak. Tolong kamu mandikan dia. Kamu sudah membentaknya tadi dan dia sangat sedih. Meskipun kamu belum menerimanya, setidaknya bersikap baiklah padanya. Dia hanya anak kecil yang tidak berdosa.'' Chika mencoba mengingatkan Zidni supaya tidak kasar pada darah dagingnya sendiri. Apa yang Chika katakan memang benar tapi tetap saja Zidni belum siap menerima itu.


''Iya-iya, bawel.'' Gerutunya seraya berlalu menuju kamar. Chika tersenyum sambil menahan dongkolnya.


''Sabar Chika. Sepertinya ujianmu sangat berat. Meruntuhkan batu karang itu kembali bukanlah yang mudah.'' Gumam Chika pada dirinya sendiri.


Begitu sampai di kamar, Zidni melihat tubuh kecil itu meringkuk diatas tempat tidur. Zidni duduk di bibir ranjang, mengamati paras tampan bocah lelaki yang mirip dengan dirinya.


''Maaf, aku sudah membentakmu.'' Gumamnya dengan rasa sesal. Nalurinya bergerak seirama dengan gerakan tangannya membelai wajah tampan darah dagingnya. Mulai dari alis, hidung dan bibir bahkan struktur wajahnya, sangat mirip dengan dirinya. Zidni seperti berkaca.


''Apakah aku benar menanam benih dakam rahim wanita itu? Apakah benar aku meninggalkannya saat dia sedang mengandung anakku? Kasihan juga anak ini. Ya Tuhan, kenapa kehidupanku seolah kacau begini dan tidak beraturan? Kemana alur hidup yang harus aku jalani? Aku bangun tidur dan banyak melupakan banyak hal. Apa benar hanya ciuman itu yang mampu membangkitkan memoriku? Kenapa selalu berulang begini? Aku seolah melupakan semuanya kecuali rasa cintaku pada Amora. Dan itu membuatku seperti sulit menerima keadaan ini. Tapi di sudut hatiku, aku merasakan sebuah hal yang berbeda.'' Ucapnya dalam hati yang larut dalam tatapan lembut pada bocah kecil itu. Kenzie tiba-tiba membuka matanya melihat wajah yang mirip dengan dirinya ada di hadapannya. Bocah kecil itu tersenyum lebar.


''Papa,'' lirih Kenzie. Zidni membalasnya dengan senyum tipis.


''Cepatlah mandi. Mama mu nanti marah.'' Ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur. Namun Kenzie menahan tangan Zidni.


''Pah, mandikan aku ya.'' Pinta Zidni. Zidni menghela nafas kasar, nalurinya tidak bisa menolak permintaan Kenzie. Zidni hanya mengangguk. Kenzie tersenyum lebar merasa begitu bahagia. Ia bergegas bangun dari tempat tidur dan melepas bajunnya. Zidni mencoba menahan tawanya melihat baju Kenzie yang berusaha ia lepas masih tersangkut di kepala. Zidni lalu membantunya melepaskannya.


''Sepertinya bajumu sudah kekecilan.'' Singkat Zidni.


''Hehehe sepertinya begitu, Pah. Sudah lama sekali Mama tidak membelikan aku baju. Tapi dia janji setelah gajian akan membelikanku baju.'' Ucap Kenzie dengan wajah cerianya, mewakili sifat Chika yang memang ceria dan bersahaja. Zidi kemudian membantu Kenzie melepas celana Kenzie. Namun ia melihat resleting celana pendek itu rusak.


''Kenapa celana rusak masih kamu pakai?'' tanya Zidni.


''Mmmm kata Mama masih bisa di pakai dan di pakai cuma di rumah saja. Mama mungkin lupa belum membenahinya.''


''Celana rusak begini masih dibenahi?''


''Iya.'' Jawabnya dengan polos. Melihat keadaan di hadapannya, sudut hati Zidni merasakan perih luar biasa seperti tersayat sesuatu. Tanpa banyak bicara, Zidni menggendong Kenzie dan membawanya ke kamar mandi.


''Cepatlah mandi!" kata Zidni.


''Pah, bak mandinya mana? Dan mana airnya?'' tanyanya polos. Zidni melihat kearah shower yang cukup tinggi dan melihat bathup yang kosong. Zidni kemudian mengisi bathup dengan air, memastikan bathup itu tidak menenggelamkan tubuh Kenzie.


''Gayungnya mana Pah?'' tanya Kenzie polos.


''Gayung?'' Zidni tidak mengerti.


''Iya kalau di kamar mandi rumah pakai gayung. Ada bak mandi berbentuk kotak.''


''Tidak usah pakai gayung. Kamu masuk saja di dalam bathup.'' Zidni lalu memasukkan Kenzie ke dalam bathup.


''Nah, kamu bisa mandi dan berendam disini.''


''Tapi aku belum bisa menggosok tubuhku, Pah. Dan aku juga belum bisa keramas, biasanya Mama yang melakukan ini.'' Tatapan mata Kenzie, sungguh melemahkan hati Zidni namun Zidni tidak menyadari itu.


''Baiklah, aku akan membantumu.'' Mendengar ucapan Zidni, Kenzie senang sekali. Ditambah Zidni tidak marah lagi saat Kenzie memanggilnya Papa. Dan inilah untuk pertama kalinya Zidni memandikan darah dagingnya sendiri. Ada tawa geli di bibir Kenzie saat Zidni melewati bagian ketiak Kenzie dan itu membuat Zidni menarik sudut bibirnya melihat gelak tawa bocah laki-laki itu.