
"Ya sudah, kalau begitu aku ke dapur dulu ya. Aku mau memasak dulu."
"Sayang, panggil aku Mas, ya."
"Kayak Mas-Mas dong."
"Beda dong. Mas itu artinya, Mencintai Ayang Seorang." Ucapan Zidni seketika membuat Chika tertawa geli.
"Ihh, apaan sih kamu. Geli banget pakai ada kepanjangannya segala."
"Kamu panggil Kenzie sayang, panggil aku juga sayang, kan tidak ada bedanya. Kamu kalau panggil cowok lain jangan Mas tapi bisa abang, Kakak, Tuan atau Om, atau apalah. Jadi panggilan Mas hanya untuk aku seorang. Coba kamu panggil aku, Mas sama kepanjangannya sekalian."
Chika masih tidak bisa berhenti tertawa mendengar kekonyolan suaminya. "Mas, Mencintai Ayang Zidni Seorang."
"Nah, itu lebih bagus, sayang. Aku panggil kamu, sayang, Sayangnya aku,"
"Kamu ini kayak ABG lagi jatuh cinta saja."
"Memang aku sedang jatuh cinta sayang. Jika dimasa lalu aku jatuh cinta sama kamu jadi sekarang aku jatuh cinta
untuk kedua kalinya sama kamu."
"Iya terserah kamu saja Zidni, eh, Mas. Mas Zidni, cintaku seorang." Kekeh Chika.
"Ya sudah, sekarang siapkan makan malam ya. Biar aku yang merapikan semua belanjaannya."
"Iya Mas. Aku ke bawah dulu ya. Jangan lupa nanti Kenzie kamu bangunkan ya untuk mandi sore."
"Iya sayangnya aku."
"Aduh, kamu bikin geli," gumam Chika seraya meninggalkan kamar Zidni. Selepas Chika keluar, Zidni merapikan
semua belanjaan, termasuk menata mainan Kenzie.
"Sepertinya aku harus menelepon Frans lagi untuk mengurus renovasi rumah." Zidni mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menekan nomor Frans.
"Halo Frans, dimana?"
"Baru saja sampai kantor, Tuan. Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Frans aku ingin besok pindah ke apartemen. Dan carikan desain interior terbaik ya, aku ingin merenovasi kamarku dan membuat kamar untuk Kenzie. Aku yang akan memantau langsung pekerjaan mereka. Karena aku menginginkan yang sempurna untuk mereka.
"Siap Tuan. Perintah segera di laksanakan."
"Oh ya pastikan pengerjaannya cepat karena aku tidak mau menunggu lama."
"Iya Tuan."
"Baiklah Frans, terima kasih."
"Iya tuan, sama-sama." Panggilan berakhir.
"Akhirnya Tuan bahagia juga. Apapun yang anda inginkan akan saya kerjakan, Tuan." Gumam Frans dengan penuh semangat.
Suasana makan malam kali ini terasa semakin hangat dan akrab, dibanding pertama kali mereka duduk di meja makan.
"Oh ya sayang, besok kamar kita akan di renovasi. Jadi untuk sementara kita tinggal di apartemen ya."
"Secepat itu Mas?"
"Iya. Aku tidak mau menunggu lama."
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau itu baik untuk kita."
"Pah, kenapa rumahnya mau direnovasi? Nanti Grey bagaimana?"
"Papa ingin membuatkan kamar untuk kamu, Ken. Kamar yang besar, yang muat semua mainan kamu. Jadi kamu bisa dengan nyaman main di kamar. Dan untuk Grey, dia tetap disini. Kita masih bisa menjenguknya setiap hari. Dia aman kok. Sekalian kita buat kandang yang agak luas supaya dia bisa bergerak bebas."
"Beneran Pah?"
"Iya. Masa Papa bohong. Kamu mau desain kamarnya seperti apa?"
"Ummmmm," Kenzie berpikir. "Itu Pah, aku menyukai spiderman."
"Oke, Papa akan buatkan sesuai dengan keinginanmu."
"Terima kasih ya Pah, sudah membuatkan kamar untukku."
"Sama-sama, nak." Jawab Kenzie sambil mengelus kepala putranya.
"Oh ya sayang, besok kamu tolong bantu aku di kantor dulu ya. Karena untuk sementara aku akan sering mengontrol rumah selama di renovasi dan aku besok ada pertemuan di luar dengan beberapa klien."
"Iya Mas, kamu tenang saja."
"Oh ya adikmu, Alvin, suruh saja dia pindah ke perusahaanku. Dengan menempati posisi yang sama."
"Tidak fair bagaimana? Dia kan sudah lama bekerja di perusahaan itu. Kalau disini, dia bisa menempati rumah mu kan? Daripada dia harus bolak-balik dan itu memakan waktu lama. Dan kalau rumah ini jadi, ajak baby sitter mu pindah saja kemari. Supaya ada yang bisa menjaga Kenzie."
"Nanti aku bicara pada Alvin. Kalau baby sitterku, dia sudah tidak bisa kembali, Mas. Dia sudah bekerja di tempat lain. Salah aku juga sih, lebih sering meliburkannya."
"Oke tidak masalah, nanti kita cari yang baru ya. Kalau perlu kita cari pembantu juga. Supaya kamu tidak capek."
"Iya Mas, aku menurut saja."
"Benar-benar kamu ya, baru ingat setengahnya saja kamu bucinnya sudah seperti ini. Bagaimana kalau ingat semuanya?" batin Chika dalam hati, Tentu saja Chika sangat senang dengan perubahan sikap Zidni.
Selesai makan malam, Kenzie meminta Zidni untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Dengan senang hati Zidni menemani putra semata wayangnya. Sementara Chika sedang merapikan tempat tidur dan menyemprotkan wewangian ruangan. Tak lupa sebuah lingerie sudah Zidni siapkan diatas ranjang. Chika tersenyum melihat suaminya memilihkan busana tidurnya malam ini. Untuk menyenangkan suaminya, Chika segera memakai lingerie itu. Ia kemudian duduk dihadapan cermin, memulaskan sedikit make up natural. Tak lupa lipstik pink peach ia oleskan di bibirnya.
"Suamiku ini ada-ada saja. Masa iya main sedot itu lagi." Gumam Chika dengan senyum kecilnya. Selesai bersolek, Chika memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tiga puluh menit kemudian, Zidni kembali ke kamarnya.
"WOW!" Zidni langsung terpesona melihat tubuh seksi istrinya.
"Eh Mas, Kenzie sudah tidur?"
"Sudah, sayang. Jadi aman." Jawab Zidni seraya naik keatas ranjang.
"Mas, tolong pijitin ya. Aku capek banget." Pinta Chika dengan manja.
"Dengan senang hati, sayang. Sekarang kamu tengkurap. Mau di urut juga?"
"Boleh, Mas. Itu pakai lotion saja, Mas."
"Oke sayang." Zidni burur-buru turun dari tempat tidur untuk mengambil lotion diatas meja rias.
"Mau yang mana dulu sayang?" tanya Zidni.
"Telapak kaki ya, Mas. Habis itu kaki, paha, baru punggung."
"Pantat boleh, sayang?"
"Suka-suka kamu, Mas." Kekeh Chika, sudah tahu pikiran mesum suaminya. Padahal yang sebenarnya Chika sangatlah lelah. Mengurus rumah, anak, suami tapi masih bisa pergi ngantor. Belum lagi hampir seharian Zidni. mengajaknya keliling mall untuk belanja.
Zidni mulai mengoleskan lotion di telapak kaki Chika, kemudian ia mulai memijitnya dengan lembut.
"Enak sekali, Mas pijatan kamu."
"Mau ditambah atau segini saja sayang?"
"Segitu saja sudah cukup, Mas. Itu juga sudah kerasa kok."
"Oke." Zidni melanjutkan pijatan keatas kaki Chika.
"Oh ya sayang aku lupa."
"Lupa apa Mas?"
"Besok kan aku memintamu ke salon. Jadi besok libur saja ya."
"Ke salonnya lusa tidak apa-apa, Mas. Aku juga tidak tega meninggalkan tim ku."
"Sudah, kamu libur saja. Mereka masih bisa menghandle semuanya kok. Kamu pergi kesalon, manjain diri kamu dan rileks kan pikiran kamu."
"Iya Mas. Besok saat kamu jemput aku, kamu bakalan pangling."
"Bagi aku, kamu mau seperti apa tetap cantik sayang tapi aku ingin membuat kamu lebih terawat. Pasti selama bertahun-tahun kamu tidak pernah memanjakan diri ke salon. Kamu jangan tersinggung ya."
"Tidak kok, Mas. Memang sejak tidak ada kamu, aku dandan seadanya saja. Tidak ada suami jadi aku dandan untuk siapa? Sekarang sudah ada kamu, aku akan selalu menjadi cantik untuk kamu."
"Terima kasih ya sayang. I love you."
"I love you too, suamiku." Tangan Zidni kini sudah sampai di pantat Chika. Namun Zidni terkejut karena tidak ada sesuatu yang mengganjal disana. Biasanya saat wanita menstruasi, mereka memakai pembalut tapi ini sama sekali tidak ada.
"Katanya menstruasi? Tapi kenapa tidak ada yang mengganjal begini?" gumam Zidni dalam hati.
"Sayang, kamu sudah selesai menstruasinya?"
"Siapa yang menstruasi?" tanya Chika seolah ia tidak pernah mengatakan itu.
"Kamu lah, memang siapa lagi?"
"Aku sudah selesai menstruasi satu minggu yang lalu, Mas."
"Jadi, kamu bohong? Kemarin bilang menstruasi dan kataya dua minggu lagi, terus beberapa hari lalu bilang katanya tinggal lima hari eh kok sekarang berubah lagi. Aku jadi bingung. Aku yang lupa atau kamu yang bohong." Zidni merasa bingung sendiri.
"Apa aku lupa ingatan lagi ya?" ucapnya lagi sambil menggaruk kepalanya. Chika hanya bisa menahan tawanya melihat eskpresi bingung suaminya.
Bersambung... Tunggu besok ya yang bikin HOT, hehehehe... Maaf juga upnya dikit, semoga besok bisa crazy up. Maklum banyak tugas negara, hehehe