Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 105 Menemui Alvin



Setelah mengantar Bella pulang, Alvin kembali ke kantor. Alvin beruntung karena klien tiba-tiba menunda meeting hari itu. Setidaknya ia tidak membuat marah kakak iparnya.


Sesampainya di kantor, Alvin lantas menuju ruangan Zidni.


"Permisi, apa Kakak sibuk?"


"Duduklah, Alvin." Ucap Zidni. Alvin pun lantas duduk.


"Kak, maaf tadi Tuan Emran menunda meeting. Sekretarisnya menelepon katanya asma beliau kambuh."


"Ditunda sampai kapan?"


"Mereka menjanjikan besok jam 09.00 pagi."


"Oke, aku masih bisa mentolelir."


"Oh ya ada satu hal lagi yang harus Kakak tahu kalau Austin tadi menculik Bella."


"Apa? Dia menculik Bella? Darimana kamu tahu, Alvin?"


"Sepertinya Tuan Edward sudah mengakhiri hubungan kerja sama dengan Rodrigo. Dan Bella mengakhiri hubungannya dengan Austin. Sudah bisa ditebak bagaimana sikap Rodrigo dan Austin. Sebenarnya saat mau meeting, aku bertemu dengan mereka di hotel. Aku melihat Rodrigo menggendong Bella yang tidak sadarkan diri. Dan akhirnya terjadi baku hantam kecil antara aku dan Austin. Setelah itu aku mengantar Bella pulang."


"Kasihan juga Bella sampai kena imbasnya tapi bagus juga ternyata Edward bergerak cepat dan menuruti ucapanku."


Saat keduanya bicara serius, datanglah Frans yang tampak terburu.


"Maaf Tuan, saya langsung masuk."


"Ada apa Frans?"


"Tuan Edward mengganti rugi semua kerugian kita dan supplier kopi juga dikembalikan lagi pada kita. Dia rela membayar ganti rugi kontrak kerja sama, Tuan. Semua produknya juga perlahan ditarik dari pasaran." Jelas Frans sambil menunjukkan layar ipadnya.


Zidni tersenyum. "Bagus! Syukurlah dia sadar. Ternyata dia takut masuk penjara juga."


"Lalu, apakah anda membuat laporan pada polisi Tuan?"


"Tahan dulu saja, Frans. Yang penting bukti sudah ada ditangan kita."


"Baiklah Tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, Frans. Terima kasih untuk kerja kerasmu juga."


"Sudah menjadi tugas saya, Tuan." Frans pun undur diri meninggalkan ruangan Zidni.


"Perkembangan yang bagus, Kak. Aku senang Tuan Edward bertanggung jawab atas semua perbuatannya."


"Begitupun juga denganku. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Bella? Apakah dia sudah tahu kalau kamu sempat menyamar?"


"Belum tahu, Kak. Sebaiknya tidak usah tahu, Kak. Aku ingin memulainya sebagai Alvin."


"Baguslah! Semoga sukses ya."


"Kakak tidak marah aku berhubungan dengan putri dari musuh Kakak?"


"Tidak ada hubungannya, Alvin. Jangan pikirkan itu. Kakakmu juga juga memberi restu. Jadi, kami memberikan restu pada kalian."


"Terima kasih, Kak. Dan terima kasih Kakak tidak buru-buru membawa masalah Tuan Edward ke kantor polisi. Karena aku tidak tega membuat Bella sedih dan Bella juga baru saja akur dengan Papanya."


Zidni tersenyum mendengar ucapan Alvin. "Hal itu juga yang menjadi pertimbanganku, Alvin. Aku juga tidak mau membuatmu sedih karena melihat wanitamu sedih."


"Kakak memang terbaik. Aku kembali kerja dulu ya, Kak."


"Oke."


...****************...


Malam itu, Alvin dikejutkan dengan kedatangan Bella di rumahnya.


"K-kamu!" ucapnya kaget.


"Tidak usah pura-pura kaget." Ucap Bella yang menyelonong masuk begitu saja ke rumah Alvin.


"Apa kamu memata-mataiku selama ini?" celetuk Bella asal.


"Siapa yang memata-mataimu? Aku tidak sengaja melihatmu dibawa seorang pria."


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba membawaku dan kenapa kamu bisa berpikir kalau pria yang membawaku adalah pria yang jahat? Bisa saja kan, dia kekasihku dan kita mau senang-senang."


DEG! Alvin tidak berpikir sejauh itu saat menolong Bella. Dengan tergagap ia mencari alasan untuk membalas ucapan Bella.


"Oh, itu. Feeling saja. Ya, kalaupun kamu pingsan karena mabuk, pasti tercium bau alkohol tapi tidak tercium sama sekali. Terserah bagaimana caramu menereka-nerka semuanya."


"Oh ya dan satu lagi, bagaimana kamu bisa tahu rumahku? Kita saja belum sedekat itu. Bagaimana mungkin kamu bisa tahu alamat rumahku?" Bella terus memberikan pertanyaan yang membuat Alvin kesulitan menjawab. Sementara Bella sangat penasaran dengan sosok Alvin. Sorot mata Alvin, bagi Bella sangat mirip dengan cara Al menatapnya. Alvin mulai panik dan mati kutu. Ia memutar otak untuk mencari jawaban.


"Sebaiknya kamu pulang saja! Ini sudah malam." Ucap Alvin seraya berbalik, menolak untuk menatap Bella. Bella lantas menarik tangan Alvin dan mendorong tubuh Alvin, sampai tersudut pada dinding. Bella meletakkan kedua tangannya pada dinding, sejajar dengan kepala Alvin. Jarak mereka sangat dekat. Bella sengaja mengunci Alvin, supaya Alvin tidak bisa bergerak dan mau menjawab semua pertanyaannya.


"Jadi, darimana kamu tahu alamat rumahku?"


"Dari KTPmu!" jawab Alvin setelah cukup lama terdiam.


"Masuk akal juga jawabannya," gumam Bella dalam hati. Bella kemudian menatap sepasang netra Alvin. Namun baru beberapa detik menatapnya, Alvin mengalihkan pandangannya.


"Sorot matamu membuatku teringat dengan seseorang. Terima kasih sudah menolongku. Kalau tidak ada kamu, mungkin masa depanku sudah direnggut oleh pria brengsek itu." Ucap Bella seraya berdiri menjauh dari Alvin. Alvin menghela nafas lega, Bella melepaskannya. Jantungnya sedari tadi berdegup sangat cepat.


"Sama-sama."


"Ini kedua kalinya kamu menolongku. Waktu itu aku janji ingin membalas kebaikanmu. Tapi maaf kalau aku baru kembali menemuimu. Sebagai awal, besok aku ingin mengajakmu makan siang."


"Sudah seharusnya seperti itu. Kalau aku tidak sibuk, aku akan datang."


"Memangnya kamu bekerja dimana? Aku akan menjemputmu."


"Tidak usah! Kamu beri saja aku kabar kalau sudah sampai."


"Oke. Berikan nomor ponselmu." Bella kemudian memberikan ponselnya pada Alvin. Alvin lalu menuliskan dan menyimpan nomor ponselnya di kontak Bella.


"Ini sudah." Ucap Alvin. Bella kemudian menelpon Alvin, memastikan itu benar nomor Alvin. Setelah ponsel Alvin berdering, Bella mengakhiri panggilannya.


"Simpan nomorku. Besok aku akan memberimu kabar. Aku pamit dulu."


"Baiklah. Hati-hati Non... Mmmm Bella."


"Oke. Selamat malam." Bella pun meninggalkan rumah Alvin.


"Maaf Bel, aku belum bisa jujur." Gumamnya dalam hati.