Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 104 Menyelamatkan Bella



Akhirnya Austin berhasil membawa Bella ke sebuah hotel. Disaat yang bersamaan, Alvin dan Austin masuk ke dalam lift yang sama. Alvin sendiri hendak menemui klien di hotel namun sepasang matanya menangkap Austin yang sedang menggendong Bella dalam keadaan tidak sadarkan diri. Akhirnya Alvin memutuskan untuk mengikuti Austin.


"Tenang ya sayang, sebentar lagi kita sampai." Ucap Austin dengan akting sedih, supaya pingsannya Bella tidak dicurigai oleh Alvin yang dianggap orang asing.


"Kenapa Tuan?" tanya Alvin pura-pura.


"Ini Tuan, istriku sepertinya terlalu banyak minum. Kami pengantin baru dan baru saja selesai bersenang-senang dengan teman kami." Jawab Austin dengan sedikit gugup.


"Oh begitu. Selamat untuk pernikahannya, Tuan."


"Terima kasih, Tuan."


"Dasar baj*ngan! Kamu pikir aku bodoh! Aku sama sekali tidak mencium bau alkohol. Apa yang kamu lakukan pada Bella, brengsek!" umpat Alvin dalam hati.


TING! Pintu lift terbuka. Austin bergegas membawa Bella ke kamar. Namun langkah Austin terhenti karena ia merasa sedang di ikuti. Ia lalu menoleh ke belakang dan melihat Alvin mengikutinya.


"Kenapa anda mengikutiku?"


"Turunkan Bella!" ucap Alvin penuh dengan penekanan. Austin terkejut bagaimana mungkin ada seseorang yang mengenali Bella.


"Siapa kamu?"


"Lepaskan! Dan jangan banyak tanya atau aku akan menellpon polisi," ancam Alvin.


"Lakukan saja, tidak ada bukti kuat juga" ucap Austin tanpa rasa takut.


"Hhhh, kamu pikir aku tidak tahu bisnis ilegalmu, Austin. Bahkan rencana busukmu pada Bella dan Tuan Edward." Austin semakin terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Alvin. Austin tampak cemas. Austin lantas mendudukkan Bella di lantai,  menyandarkan Bella pada dinding.


"Siapa kamu? Hah?"  Austin mulai ketakutan. Apalagi saat ini ia seorang diri tanpa para bodyguardnya.


"Menurutmu?" Alvin berbalik bertanya.


"Kurang ajar!" Austin lalu menyerang Alvin. Untung saja Alvin sigap dan berhasil menghalau pukulan Alvin. Kini giliran Alvin yang melayangkan pukulan ke wajah Austin. Bibir Austin dibuat berdarah oleh Alvin. Ditengah perkelahian, ponsel Austin berdering. Satu panggilan dari Tuan Rodrigo. Setelah menerima panggilan, Austin memilih mundur.


"Ingat! Urusan kita belum selesai." Ucap Austin memperingatkan Alvin sebelum berlalu. Alvin tidak peduli omong kosong Austin. Melihat Bella yang masih belum sadarkan diri, Alvin bergegas membawa Bella pergi dan mengantar Bella pulang.


Tuan Edward yang mendapat telpon dari anak buahnya, bergegas pulang setelah mendapat kabar tentang Bella. Sesampainya di rumah, Tuan Edward terkejut melihat sosok Alvin yang sedang menunggu di ruang tengah.


"Siapa kamu? Apa benar kamu yang menyelamatkan Bella?"


"Saya, Alvin, Tuan. Saya kebetulan melihat Bella dalam kondisi tidak dasar dibawa oleh seorang pria. Kebetulan sekali saya hendak menemui klien di hotel tersebut."


"Apa kamu mengenal Bella? Atau kalian sudah lama kenal?"


Tuan Edward lantas menyodorkan tangannya, menjabat tangan Alvin. "Terima kasih sudah menyelamatkan Bella."


"Sama-sama, Tuan. Maaf Tuan, untuk sementara jangan biarkan Bella pergi seorang diri. Permisi." Alvin kemudian pergi. Tuan Edward hanya mengangguk karena ia bingung mendengar ucapan Alvin yang seolah mengerti keadaan Bella. Tuan Edward kemudian segera menuju kamar Bella.


Setelah menunggu satu jam, akhirnya Bella bangun juga. Kepalanya terasa sangat berat. Perlahan matanya terbuka, ia melihat Tuan Edward sudah berada di hadapannya. Bella lalu memeluk Tuan Edward.


"Pah, aku takut!"


"Tenang, Bella, ada Papa disini dan kamu aman."


"Pah, Austin tadi mau membawaku. Syukurlah Papa datang."


"Temanmu yang menyelamatkanmu."


"Teman siapa, Pah?"


"Namanya Alvin. Dia bilang bukan teman dekat tapi kalian pernah bertemu sekali. Setidaknya dia baik mau menolongmu, Bel." Bella terdiam sejenak untuk mengingat sesuatu.


"Pah, aku sepertinya ingat. Pah, aku boleh menemuinya? Dua kali ini dia menolongku."


"Boleh saja tapi besok dan harus ditemani bodyguard."


"Iya, Pah. Pah, aku membutuhkan Al."


"Tapi dia sudah tidak bisa dihubungi, sayang. Mungkin dia tidak mau diganggu."


"Besok aku meminta ijin untuk mencari alamat Al boleh, Pah?"


"Boleh saja. Maafkan Papa ya. Austin benar-benar keterlaluan. Untung saja ada temanmu itu. Maafkan Papa. Papa sudah memilihkan pria yang salah."


"Pah, Bella sudah memaafkan Papa."


Sementara itu, Tuan Rodrigo memarahi Austin habis-habisan karena gagal mendapatkan hati Bella dan juga hartanya. Kemarahannya semakin membuncah, kala Tuan Edward memutuskan untuk mengakhiri kerja sama sekaligus membatalkan perjodohan antara Bella dan Austin.  Austin juga menceritakan kepada Tuan Rodrigo tentang Alvin yang mengetahui siapa dirinya. Di sisi lain Tuan Edward juga bersedia membayar penalti kontrak. Ia lebih baik rugi jika harus kehilangan putri semata wayangnya. Ia juga menarik semua produknya dari pasaran. Bahkan ia juga siap jika harus masuk bui atas perbuatan ilegalnya itu.


"Papa penasaran siapa pria brengsek yang ikut sampur urusan kita," ucap Tuan Rodrigo dengan penuh amarah sambil mengeraskan rahangnya.


"Aku besok akan mencari tahu, Pah."


"Dia pasti tahu banyak tentang kita. Bawa dia kemari entah itu dalam keadaan hidup atau mati."


"Baik, Pah."