Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 37 Mengungkap Fakta



''Ayah-Ibu, aku mendapat tawaran untuk ikut bersama atasanku pergi ke Jepang.'' Ucap Chika pada Ayah dan Ibunya.


''Ke Jepang? Kenapa mendadak begini nak?'' kata Tuan Arman.


''Iya Ayah, aku sendiri juga terkejut tapi ini kesempatan emas Yah.''


''Memangnya berapa hari kamu disana?'' tanya Nyoya Linda.


''Lima hari, Bu.''


''Mama mau pergi?'' sahut Kenzie dengan tatapan sedih.


''Mama pergi untuk bekerja, sayang. Kamu sama Kakek dan Nenek dulu ya.''


''Kamu tidak kasihan pada Kenzie, Chika? Dia saja baru pulang dari rumah sakit. Dia pasti membutuhkan kamu.'' Kata Nyonya Linda.


''Habis bagaimana lagi Bu, aku tidak ada pilihan dan tidak bisa menolak. Siapa tahu ini bisa sebagai batu loncatan untuk karirku ke depannya. Karena tidak semua orang mendapat tawaran ini. Ini semua juga untuk masa depan Kenzie, Bu.''


''Ayah selalu mendukung apapun keputusanmu Chika. Ayah akan menjaga Kenzie sampai kamu pulang.''


''Ibu sebenarnya tidak masalah tapi ini mendadak sekali. Ibu juga tidak apa-apalah bolos kerja.''


''Ayah-Ibu, kalau karir ku di perusahaan bagus, Ayah dan Ibu tidak usah bekerja lagi. Aku punya cita-cita ingin membelikan Ayah dan Ibu sawah juga empang. Kita bisa membuka lapangan pekerjaan, Ayah dan Ibu tinggal memantau para karyawan saja. Aku ingin Ayah dan Ibu benar-benar menikmati hari tua penuh ketenangan tanpa bersusah payah lagi.''


''Kamu tidak usah memikirkan itu, nak. Pikirkan saja masa depan Kenzie.'' Ucap Tuan Arman dengan bijak.


''Masa depan Kenzie sudah pasti aku pikirkan kok Ayah.''


''Aku tidak mau Mama pergi! Nanti Mama pergi meninggalkan aku seperti Papa.'' Marah Kenzie seraya berlalu menuju kamar.


''Ayah-Ibu, aku tenangkan Kenzie dulu ya. Semoga dia mengerti.''


''Iya, kamu tenangkan dia.'' Kata Tuan Arman. Chika mengangguk lalu menyusul Kenzie ke kamar. Chika mengunci pintu kamar. Chika melihat Kenzie duduk di tepian tempat tidur dengan wajah cemberut.


''Sayang, kamu marah?''


''Iya, aku marah. Aku tidak akan mengijinkan Mama pergi. Aku akan mogok makan!" Kenzie mengancam Mamanya.


''Sepertinya ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Kenzie.'' Gumam Chika dalam hati.


''Nanti Mama juga akan pergi meninggalkan aku seperti Papa.''


''Tidak akan sayang. Mama tidak akan meninggalkan kamu. Justru Mama akan membawa Papa kembali untuk kamu.''


''Mama bohong! Aku mendengar semua pembicaraan Mama dan Om Romi malam itu.'' Ucap Kenzie dengan suara mulai meninggi.


''Apa? Jadi Kenzie mendengarnya malam itu? Apa itu yang menyebabkan sakit?'' gumam Chika dalam hati. Chika kemudian berlutut di hadapan putranya. Ia kemudian menggenggam tangan mungil Kenzie.


''Maafkan Mama sayang. Mungkin ini saatnya Mama jujur. Mama juga sudah janji akan jujur. Tapi apakah kamu bisa menjaga rahasia ini?''


''Rahasia apalagi Mah? Mama sudah bohong padaku.''


Mata Chika mulai berkaca-kaca. ''Mama tidak akan berbohong lagi sayang. Mama bersumpah demi Tuhan, kalau Mama kali ini akan bicara jujur.''


Melihat mata Mama berkaca-kaca, Kenzie lalu memeluk Mamanya. ''Maafkan aku Mah. Aku percaya sama Mama dan akan menjaga rahasia itu.''


''Baiklah, sekarang dengarkan Mama.'' Chika melepaskan pelukan Kenzie. Ditatapnya lekat-lekat kedua bola mata Kenzie yang begitu mirip dengan Zidni.


''Sayang, sebenarnya Papa kamu masih hidup nak. Dia ada di dekat kita.''


''Papa? Mama tidak bohong kan?''


''Om Zidni, Papa ku Mah? Mama tidak bohong kan?''


''Tidak sayang. Maafkan Mama harus merahasiakan ini karena sekarang Papa sedang sakit.''


''Jadi wajah di foto itu benar Om Zidni? Bukan hanya sekedar mirip?''


''Iya sayang.''


''Tapi Papa sakit apa Mah? Kenapa Papa tidak ingat dengan ku dan juga Mama?''


''Papa pernah mengalami kecelakaan dan membuat sebagian ingatannya hilang. Papa tidak bisa mengingat kenangan barunya karena Papa hanya bisa mengingat kenangan lamanya. Tolong jaga rahasia ini ya jangan sampai Kakek dan nenek tahu.''


''Kenapa kakek dan nenek tidak boleh tahu Mah?''


''Karena Kakek dan Nenek sangat marah pada Papa. Karena saat Mama mengandung kamu, Papa sepertinya saat itu mengalami kecelakaan. Jadi saat itu Mama memberi kabar pada Papa kalau Mama sedang hamil dan saat itu juga Papa ingin menyusul Mama ke Indonesia tapi saat itu juga Papa tidak pernah kembali. Sampai pada akhirnya Mama bertemu Papa dengan cara seperti ini. Mama sengaja bekerja disana supaya bisa dekat dengan Papa dan bisa membuat Papa mengingat kita lagi.''


''Mah, kenapa Mama tidak bilang pada Papa saja yang sebenarnya?''


''Tidak bisa sayang. Sangat bahaya untuk kesehatan Papa jika Mama memaksa ingatannya. Saat ini Mama sedang berusaha membuat Papa jatuh cinta lagi. Membuatnya mengingat kembali pertemuan kami dulu. Mama terpaksa menyimpan semuanya sendiri, sayang. Mama berjanji membawanya kembali setelah Papa ingat semuanya tapi sepertinya perjuangan Mama tidak mudah. Mama juga tidak ingin Papa sakit lagi.''


''Mah, maafkan aku ya. Aku sudah marah pada Mama.''


''Tidak apa-apa sayang. Kamu berhak marah pada Mama.''


''Lalu apa Mama akan pergi ke Jepang bersama Papa?''


''Iya sayang. Papa sendiri yang mengajak Mama.''


''Tapi aku tidak tega kalau Papa marah-marah sama Mama.''


Chika lalu tersenyum seraya mengusap air matanya. ''Kamu tenang saja sayang. Dulu saat kami bertemu, Papa kamu itu memang sudah galak dan sombong sekali sejak dulu. Tapi lama-lama Papa juga takluk sama Mama dan dia sangat mencintai Mama. Jadi sekarang bantu Mama berjuang untuk mengingatkan Papa kembali ya.''


''Iya Mama. Tapi apa yang harus aku lakukan Mah?''


''Kita bersikap biasa saja. Pura-pura tidak mengenal Papa.''


''Mah tapi aku sangat ingin memeluk dan bermain dengan Papa. Kapan aku bisa memanggilnya Papa?''


''Kamu harus bersabar ya sayang. Tugas kamu sekarang, rahasiakan ini dari Kakek dan Nenek ya. Dan kamu harus bersabar juga ya. Kasihan Papa, sayang.''


''Baiklah Mah. Aku akan sabar dan akan menjaga rahasia ini. Aku janji!" Kenzie lalu mengacungkan jari kelingkingnya pada Chika. Chika dengan senyum lebarnya mengaitkan jari kelingkingnya pada Kenzie.


''Terima kasih sayang. Berarti kamu mengijinkan Mama pergi kan?''


''Iya Mah, aku mengijinkan Mama pergi. Semoga ingatan Papa segera kembali. Aku akan membantu Mama berkemas.''


''Kamu memang anak yang baik, sayang. Maafkan Mama ya karena Mama merahasiakan semuanya dari kamu. Dan maaf untuk semua kebohongan Mama. Mama merasa kamu masih kecil dan belum mengerti semua ini.''


''Mah, aku memang masih kecil tapi aku mengerti kesedihan Mama selama ini.'' Ibu dan anak itu kemudian saling berpelukan.


''Aku senang sekali Mah. Ternyata aku masih punya Papa dan itu adalah Papa Zidni. Papa yang sangat hebat.''


''Papa Zidni juga pasti bahagia sekali kalau tahu kamu adalah putranya. Kita harus selalu rajin berdoa semoga Papa segera sembuh dan sehat selalu ya.''


''Iya Mah. Aku akan lebih semangat untuk berdoa.''