
"Selamat siang menantu kesayangan Ayah, bukankah kau kurang sopan menyambut mertuamu dengan cara seperti itu?"
Sapa Tuan Chris seraya menghampiri Alpha yang masih duduk sambil memegangi ponselnya, sedang bodyguardnya maju selangkah untuk melindungi majikan mereka.
"Sambutan seperti apa yang Anda inginkan?" Tanya Alpha terdengar dingin.
"Hei ayolah Alpha, bukankah kau terlalu kaku? Lama tidak bertemu, setidaknya kita bisa minum kopi bersama." Balas Tuan Chris dengan senyumnya, namun sorot matanya yang tajam terlihat seolah sedang meberikan Alpha sebuah peringatan.
"Ide yang bagus, kali ini biar saya yang menentukan tempatnya, sekaligus untuk merayakan keberhasilan perusaan BRT GRUP yang baru saja memenangkan tender besar." Balas Alpha tersenyum puas, bahkan tidak memperdulikan tanda peringatan yang Tuan Chris tunjukkan padanya, apalagi saat melihat ekspresi Tuan Chris yang langsung berubah geram, nafas pria di hadapannya nampak naik turun menahan emosi, sampai akhirnya Alpha kembali melihat senyum tipis di wajah mertuanya itu.
"Haruskah Ayah memberikanmu selamat? kau sungguh hebat, bisa membuat BRT GRUP berkembang makin pesat, sungguh pencapaian yang sangat bagus, dan itu adalah tanggung jawab yang cukup besar. Ayah harap kau bisa menjaga tanggung jawab besar itu dengan baik." Balas Tuan Chris sambil mengarahkan pandangannya kearah kamar inap yang saat ini tengah di jaga ketat oleh beberapa bodyguard Alpha.
Untuk sesaat Alpha menarik nafas dalam sambil mengepalkan kedua tangannya erat. ia tahu, jika saat ini Tuan Chris kembali mengancamnya. Meskipun Tuan Chris tidak mengucapkannya secara langsung, namun Alpha sangat paham dengan maksud ucapan dan tatapan Tuan Chris yang seolah sudah mengetahui siapa sosok yang tengah terbaring di dalam sana.
"Anda tidak perlu khawatir, saya bahkan bisa menjaga tanggung jawab itu dengan sangat baik, dan sebaliknya, bukankah seharusnya anda juga harus ekstra hati-hati untuk menjaga perusahaan Anda? sebab menurut rumor yang beredar CALL KORP sekarang sedang mengalami penurunan saham yang cukup signifikan, apa benar begitu Ayah mertua?" Tanya Alpha seraya tersenyum sambil sedikit memiringkan kepalanya, yang kembali membuat Tuan Chris semakin geram.
Keparat kau Alpha, tunggu saja sampai aku membunuh semua orang yang dekat denganmu, tampa sisa sedikitpun. Dan terakhir, akan aku pastikan, jika tidak lama lagi, kau akan menyusul Ayahmu ke neraka.
"Itu tidak akan berlangsung lama, sebab dengan cepat Ayah akan memulihkan semuanya. Sebelum Ayah menyingkirkan orang-orang yang sudah berani bermain main dengan Ayah," Balas Tuan Chris yang seolah tidak pernah kehabisan senyum di wajahnya.
"Yah, saya juga sudah tidak sabar ingin melihatnya Ayah mertua." Balas Alpha membalas tatapan Tuan Chris dengan tatapan tajamnya.
Suasana nampak semakin tegang di antara mereka, tatapan tajam yang masing-masing mengeluarkan aura mematikan cukup membuat tempat itu nampak menakutkan. Kang Daniel yang sudah menempatkan tangan kanannya di balik punggungnya yang di sana terselip sepucuk senjata nampak terlihat bersiap, begitupun dengan Dareen yang juga sudah memasukkan tangannya di balik jaket yang di kenakannya yang juga di sana tersimpan sebuah pistol yang selalu di bawahnya ke mana-mana. Hingga selang beberapa detik mereka masih saling beradu tatap, sampai akhirnya tatapan keduanya teralihkan saat Dokter Wilfreed menghampiri Alpha.
"Selamat Siang Tuan Chris, Tuan Alpha," Sapa Dokter Wilfreed seraya membungkuk untuk memberi hormat kepada mereka berdua.
Aku harap kau bisa mengendalikan dirimu Alpha, Wilfreed.
"Wil,"
"Saya akan memeriksa Nona Rea." Ucap Dokter Wilfreed seraya menatap Alpha dengan tatapan yang tidak biasa.
"Baiklah, aku mengerti, silahkan." Balas Alpha yang seolah mengerti dengan arti tatapan Dokter Wilfreed. Perlahan Alpha menatap ke dua bodyguardnya yang masih menjaga di depan pintu kamar untuk memberi jalan kepada Dokter Wilfreed.
"Bukankah saharusnya kau berada di kamar istrimu sekarang?" Tanya Tuan Chris saat melihat Alpha yang tengah melangkahkan kakinya menuju kamar VVIP yang di tempati Edrea. Hingga pertanyaan itu seketika membuat Alpha menghentikan langkahnya dan langsung membalikkan tubuhnya, menatap mata Tuan Chris tajam.
"Saya rasa dia lebih membutuhkan Anda sebagai Ayahnya." Jawab Alpha.
"Apa menurutmu begitu? Jika Ayah boleh tau, siapa pasien yang berada di dalam sana, sepertinya dia orang yang sangat kau kenal, bahkan kau sampai menempatkan Bodyguardmu untuk menjaga kamar tersebut, apakah dia seorang yang sangat penting?" Tanya Tuan Chris menyeringai yang membuat Alpha tiba-tiba merasa sangat geram. Ia mulai melangkah kan kakinya mendekati Tuan Chris yang masih menampakkan senyum smirknya dengan tangan yang sudah kuat terkepal, hingga akhirnya Dareen yang menyadari situasi tersebut langsung bergerak cepat, mengikuti langkah lebar Alpha dan menyentuh bahunya untuk menghentikan langkah Alpha yang sepertinya sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Yah, dia orang yang paling penting bagiku, dan orang yang akan aku jaga dengan nyawaku sendiri." Jawab Alpha.
"HAHAHAHA.. kau cukup bertanggung jawab juga Alpha, apa kau bisa menyampaikan salam dariku untuk orang yang kau anggap penting itu?" Tanya Tuan Chris tampa memperdulikan ekspresi wajah Alpha yang tiba-tiba terlihat sangat memerah, hingga terdengar jelas suara gerahamnya yang saling beradu di dalam sana, hingga akhirnya suara lembut Emery terdengar saat memanggil Tuan Chris.
Alpha mengalihkan pandangannya ke arah Emery yang tengah memegangi lengan ayahnya dan kembali menatap Tuan Chris secara bergantian. Sungguh pemandangan yang membuat Alpha merasa jijik, hingga timbul perasaan yang membuatnya ingin mengacungkan pistol ke kepala mereka berdua secara bergantian dan meledakkannya.
Dengan senyum smirknya Alpha berpaling meninggalkan mereka berdua dan terus melangkah memasuki ruang VVIP lalu di susul oleh Dareen juga bodyguardnya yang kembali berbaris di depan pintu kamar inap Edrea layaknya sebuah piramida berbentuk manusia.
"Bagaimana keadaannya Wil?" Tanya Alpha seraya mendekati Dokter Wilfreed yang baru saja selesai memeriksa kondisi Edrea.
"Kita masih harus terus menunggu, luka di kepalanya sangat parah, hantaman benda keras di kepalanya tidak akan membuat gadis ini bisa sembuh dengan cepat, sangat sedikit kemungkinan." Jelas Dokter Wilfreed.
"Lalu?"
"Sebaiknya kau mulai bersiap untuk menerima gadis ini tampa ingatannya lagi."
"Maksudnya, dia akan.."
"Yah.. Apa yang kau pikirkan memang benar. Adapun suatu saat dia bisa terbangun dari komanya, kemungkinan besar dia akan mengalami amnesia."
Jelas Dokter Wilfreed yang sontak membuat Alpha melebarkan matanya, dan kembali menatap sosok Edrea yang masih terbaring lemah di ranjang pasien.
Hingga tampa Alpha sadari, matanya mulai berkaca, hingga butiran bening lolos membasahi wajahnya.
"Apa nanti dia kan amnesia selamanya?" Tanya Alpha perlahan.
"Aku belum bisa memastikannya, kita harus menunggu sampai dia sadar dulu."
"Baiklah Wil.. Aku angin kau selalu memantaunya, aku percaya padamu Wil,"
"All, kau tidak perlu khawatir, aku akan menyembuhkannya." Balas Dokter Wilfreed meyakinkan Alpha.
"Terimakasih Wil," Balas Alpha seraya menepuk pundak Dokter Wilfreed.
Alpha menatap lekat wajah tenang Edrea yang masih membiru dengan kepala yang masih terbalut perban, Diraihnya tangan gadis itu untuk di genggamnya.
Kau akan baik baik saja, kau hanya akan kehilangan ingatan yang buruk. Jika kau terbangun nanti, kau tidak perlu mengingat hal hal yang buruk, hal hal yang menyakitkan, yang akan membuatmu terluka.
Batin Alpha yang terus menatap wajah Edrea dengan tatapan nanarnya.
Apa kau tahu? Dulu aku juga sangat berharap agar aku bisa menghilangkan semua ingatanku, ingatan buruk yang menghantuiku selama ini, yang selalu membuatku ketakutan sepanjang malam. Kau sangat beruntung, Tuhan hanya akan menghilangkan semua ingatan burukmu. Tapi bisakah aku meminta dari Tuhan agar ia tidak menghilangkan ingatanmu tentangku? Maaf jika aku bersikap egois, tapi aku ingin kau selalu mengingatku.
Alpha mengusap wajahnya yang mulai di basahi air mata. Sungguh respon yang tidak ia harapkan, entah kenapa hatinya merasakan sakit saat ini. Menatap wajah Edrea tidak membuat jantungnya berdebar, namun membuat hatinya sakit, perasaannya yang tidak ingin meninggalkan gadis itu sedikitpun membuatnya bingung sebab rasa ingin melindungi gadis itu sangatlah besar, bahkan Alpha sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.
"All.. Siapa gadis ini sebenarnya?" Tanya Dokter Wilfreed saat menghampiri Alpha yang masih terdiam menatap Edrea.
"Dia gadis yang pernah menyelamatkan ku, dan dia berakhir seperti ini juga karena aku." Jawab Alpha tampa memalingkan pandangan matanya.
"Maksudmu, dia..?"
"Hmm.. Apa yang kau pikirkan benar Wil,"
"Jadi dia gadis yang menyelamatkan mu waktu itu?"
"Hmm.. Dan lihat dia sekarang Wil," Balas Alpha terlihat lemas.
"All.. "
Dokter Wilfreed menepuk-nepuk pundak Alpha, berusaha menenangkan pria itu, untuk pertama kalinya ia melihat Alpha benar-benar merasa khawatir dengan seseorang sampai sebesar ini, dan hal itu cukup membuat Dokter Wilfreed bahagia.
* * * * *
Suara tamparan keras terdengar memenuhi seluruh ruangan VVIP tersebut, semua yang berada di dalam ruangan tersebut lebih memilih menutup rapat mulut mereka saat melihat kemarin Tuan Chris saat ini yang sepertinya sedang menumpahkan kekesalan dan kemarahan pada Emery putrinya yang kondisinya saat ini belum stabil.
Sedang Emery hanya bisa menundukkan kepalanya, bahkan terlihat pasrah dan merima amarah Tuan Chris saat ini. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya yang sudah mengeluarkan darah akibat tamparan keras sang ayah.
"Apa kau akan terus disini dan membiarkan suamimu bersama jalang itu?" Tanya Tuan Chris geram.
Mata Emery membulat sempurna saat mendengar kalimat ayahnya, namun ia berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya itu dari sang Ayah yang saat ini sedang sangat marah.
"Maafkan dia Ayah.. "
"Kau minta maaf untuknya? APA KAU BODOH?" Bentak Tuan Chris dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Ayah.. Saya mohon.. "
"Ingat Emery, Ayah tidak akan berhenti sampai kau berhasil mendapatkan apa yang ayah inginkan. Meski kau harus menukarkannya dengan nyawamu."
"AYAH.. " Teriak Emery yang sudah terlihat putus asa.
"JANGAN BERANI MENERIAKI AYAHMU."
Balas Tuan Chris yang kembali mengayunkan tangannya ke udara.
PLAAKK..
Suara tamparan keras kembali terdengar namun kali ini tamparan itu tepat mengenai wajah Kang Daniel yang sudah berdiri tepat di hadapan Tuan Chris dan menyembunyikan tubuh Emery di balik punggung lebarnya. Dan hal itu semakin membuat Tuan Chris geram.
"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK." Teriak Tuan Chris.
"Maaf Tuan besar, Nona Emery sedang dalam keadaan sakit sekarang, jadi... "
"Jadi kau akan menggantikan dia? Baiklah.. " Sela Tuan Chris, yang langsung melepaskan pukulannya ke arah Kang Daniel tampa menunggu Kang Daniel menyelesaikan kalimatnya.
BUUGHH..
Pukulan keras kembali mendarat diwajah Kang Daniel, bukan hanya sekali pukulan, tapi beberapa kali pukulan hingga membuat tubuh asistennya itu tersungkur ke lantai rumah sakit dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"CUKUP AYAH.. Aku mohon hentikan."
Teriak Emery yang langsung berlari menghampiri Kang Daniel yang sedikit kesulitan untuk berdiri, meski akhirnya ia bisa kembali berdiri dengan luka di wajahnya yang cukup parah.
"Daniel kau tidak apa apa?" Tanya Emery terlihat panik saat melihat begitu banyak darah di wajah Kang Daniel.
"Tidak apa apa Nona, ini hanya luka kecil." Jawab Kang Daniel sambil berusaha untuk membentuk senyum di bibirnya yang sudah di penuhi darah kental.
"Tsk.. Sebaiknya kau pikirkan lagi kata kata ayah Emery. Lakukan apa saja agar BRT GRUP jatuh di tanganmu." Ucap Tuan Chris penuh penekanan dan juga ancaman.
"Obati lukamu sekarang juga." Lanjut Tuan Chris kepada Kang Daniel yang masih meringis menahan sakit pada wajahnya dan langsung berjalan mengikuti langkah Tuan Chris yang sejak tadi berjalan keluar ruangan dan meninggalkan Emery yang kini sedang terdiam di pinggir tempat tidurnya.
Jadi pasien yang selama ini kau temani adalah seorang wanita, yang kau jaga dengan sangat baik, apakah wanita itu sangat penting di hatimu? Kenapa hatiku sangat sakit saat mengetahui ini.
Air mata lolos dari sudut mata Emery yang sudah sangat sembab, bukan tamparan keras Ayahnya yang buat ia menangis ataupun perkataan kasar sang Ayah, namun saat mengetahui kenyataan bahwa Alpha menghabiskan hari harinya bersama wanita lain adalah fakta yang paling menyakitkan baginya.
Sebab selama 5 tahun mereka menikah, yang Emery tahu, Alpha bukanlah tipe pria yang suka bermain-main dengan seorang wanita meskipun rumah tangga mereka tidak berjalan dengan baik. Dan sebagai istrinya, Emery sangat mengetahui sikap dingin Alpha kepada Wanita ataupun seseorang yang ia anggap asing.Tapi sekarang, wanita itu bahkan membuat Alpha rela menghabiskan waktunya untuk menemaninya.
Separah apa penyakit wanita itu sekarang sehingga membuatmu terlihat panik.
Perlahan Emery meninggalkan kamarnya dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar VVIP yang masih di jaga ketat oleh bodyguard suaminya. Kakinya terhenti di depan pintu saat semua bodyguard itu dengan kompak membungkuk untuk memberi hormat dan langsung di balas senyum oleh Emery.
"Silahkan masuk Nyonya." Kata seorang dari mereka yang dengan ramah mempersilahkan istri majikan mereka untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
"Tidak, saya hanya sebentar." Tolak Emery perlahan.
"Tapi Nyonya."
"Tidak apa apa, saya tidak akan lama."
"Baik Nyonya." Balas pria kekar tersebut sambil menatap kedua rekannya untuk sedikit bergeser, memberikan Emery ruang.
Hati Emery seakan meledak saat melihat pemandangan di dalam sana lewat kaca kecil yang berada di tengah pintu kamar tersebut. Di mana ia bisa dengan jelas melihat Alpha yang tengah duduk dan menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang Edrea sambil menggenggam tangan gadis itu dengan posisi yang sedang tertidur pulas.
Emery terdiam dengan air matanya yang terus mengalir, namun dengan cepat di usapnya saat menyadari sosok Dareen yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Nyonya.. "
"Ah.. Maaf.. Tadi saya.. " Ucap Emery terbata dan langsung melangkah menjauhi pintu kamar tersebut.
"Apa Nyonya tidak akan masuk kedalam?"
Tanya Dareen yang langsung menghentikan langkah Emery.
"Tidak, biarkan dia tidur, dia nampak kelelahan." Jawab Emery seraya menggeleng pelan, di tatapnya wajah Dareen, sambil menarik nafas dalam.
"Dareen, apa akhir akhir ini Tuan Alpha makan dengan teratur?" Tanya Emery perlahan.
"Iya Nyonya, dia selalu makan dengan teratur."
"Oh syukurlah.. " Balas Emery kembali terdiam. Sebelum akhirnya ia kembali berbicara dengan nada pelan.
"Gadis itu.. "
"Ah dia.. " Balas Dareen seolah ragu dengan jawaban yang akan ia keluarkan. Dan hal itu membuat Emery mengerti, jika Alpha tidak ingin identitas gadis yang sedang bersamanya itu di ketahui orang lain, termasuk dirinya.
"Lupakan." Balas Emery tersenyum dan meneruskan langkahnya memasuki kamarnya sendiri.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.