I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Keraguan Alpha.



Kehilangan sosok yang sangat di cintai adalah hal yang sangat menyakitkan, khususnya bagi Starla yang pernah mengalaminya hal tersebut.


"Semua akan baik-baik saja Starla, percayalah." Ucap Leon yang masih berusaha menenangkan hati Starla.


"Apa kau yakin?" Tanya Starla sambil mengusap air matanya. Bahkan saat ini ia mulai merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri.


"Hmm.. Dan berhentilah menangis, sudah lama aku tidak melihatmu menangis, dan di saat kau menangis seperti ini, kau sungguh terlihat sangat jelek." Goda Leon.


"Kenapa kau sangat menyebalkan Yoon.."


Balas Starla yang semakin terisak dan langsung membuat Leon beranjak dan meraih tubuh Starla untuk di dekapnya. Mengusap punggung yang sedikit bergetar itu untuk menenangkannya.


"Maafkan aku, aku hanya tidak bisa melihatmu menagis seperti ini, sudah cukup untukmu mengeluarkan air mata lagi."


"Terimakasih Yoon,"


"Hm," Angguk Leon.


Mengenal dan menjadi sahabat Starla selama 7 tahun cukup membuat Leon mengetahui banyak tentang masa lalu yang menyakitkan dari Starla. Bagaimana luka dan pengkhianatan yang ia dapatkan dari seorang pria yang pernah sangat di cintainya, bagaimana ia di buang dengan cara yang sangat menyakitkan hingga ia harus hidup sendiri tampa keluarga satupun di negara asing tersebut.


"Sepertinya aku harus kembali," Ucap Starla yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah dengan kaki yang terasa lemas.


"Heejin.. " Panggil Leon perlahan saat Starla sudah berdiri di balik pintu keluar.


"Jangan bersedih, semua akan baik-baik saja." Ucap Leon tersenyum.


"Hmm.."


Jawab Starla singkat dengan senyum manis yang terulas di bibirnya sebelum akhirnya ia melangkah keluar meninggalkan Cafe Alpha dan menyebrangi jalan menuju Toko bunganya.


Dalam diam, Starla memandangi jejeran bunga yang tertata rapi di hadapannya. Baru satu jam yang lalu ia merasakan kebahagiaan, namun detik ini entah kenapa ia sangat ingin menangis dengan sangat kencang. Starla merasa semua selalu meninggalkannya, semua akhirnya pergi dari sisinya, bahkan tidak menginginkannya.


"Apa yang salah denganku, kenapa aku selalu gagal untuk bersama seseorang yang aku cintai."


Gumam lirih Starla sambil melemparkan pandangannya ke sebrang jalan, ke sebuah Cafe yang sudah mulai nampak ramai oleh pengunjung.


* * * * *


Malam yang sangat dingin di Kota Munchen, meskipun musim salju telah berakhir, namun masih menyisahkan udara dingin yang cukup membuat tubuh menggigil. Begitu pula dengan Starla yang saat ini tengah berdiri sambil termenung memandangi kedua ujung sepatunya.


"Hei.. Kau belum pulang? Apa yang kau lakukan di sana?"


Tanya Alpha saat keluar dari Cafenya dan mendapati Starla yang tengah berdiri di samping Cafenya dengan sebuket bunga yang ada di dalam pelukannya.


"Aku menunggumu," Jawab Starla dengan senyumnya.


"Menungguku? Kenapa tidak masuk ke dalam, di luar sangat dingin, kau bisa terkena flu," Balas Alpha yang langsung melilitkan sebuah syal yang ia kenakannya di leher Starla yang masih melongo dengan jantung yang berdebar cukup kencang saat aroma khas Alpha kembali menyapa indra penciumannya, tidak hanya sampai di situ, bahkan tampa menunggu lama, Alpha langsung meraih tangan Starla yang sudah terasa dingin untuk masuk ke dalam Cafenya yang sudah sepi di jam yang sudah menunjukkan pukul 23:00 malam. Sungguh hal-hal kecil yang membuat Starla sangat bahagia.


"Ada apa?"


Tanya Alpha yang kembali menyalakan lampu di ruangan tersebut yang tadinya sudah ia matikan, dan langsung duduk di hadapan Starla dengan segelas coklat panas untuk menghangatkan tubuh Starla yang saat ini terlihat sangat kedinginan, dan itu terlihat nampak jelas dengan bibirnya yang sedikit bergetar.


"Aku hanya ingin memberimu ini, dan... "


"Dan?" Tanya Alpha.


"Ada yang ingin aku katakan juga."


"Terimakasih Starla," Balas Alpha yang langsung menerima sebuket bunga yang Starla berikan padanya, meskipun ia merasa sangat aneh dengan sikap Starla saat ini, namun ia cukup senang saat Starla yang memberikan sebuket bunga, hadiah sederhana yang pernah ia dapatkan dari seorang gadis yang sudah menarik perhatiannya, sebab sejak dulu sampai sekarang pun ia selalu mendapatkan berbagai macam kado ataupun hadiah istimewa yang bernilai fantastis dari beberapa wanita yang mengaku sebagai pengangum rahasia dan menyukainya, bahkan ada juga yang terang-terangan mengungkapkan ketertarikan mereka pada Alpha dan mengajaknya untuk menikah. Namun entah semua itu tidak membuat Alpha bahagia, justru hadiah sederhana dari Starla bisa membuatnya bahagia.


"Apa kau perlu menunggu sampai selarut ini hanya untuk memberikanku sebuah bunga?" Tanya Alpha sambil menatap Starla.


"Maaf.. Aku.. "


"Sebaiknya kau jangan pernah melakukannya lagi, bagaimana jika aku tidak cepat keluar tadi, atau jika aku menginap di Cafe ini dan tidak melihatmu, apa kau akan terus menunggu?"


"Aku akan melakukannya," Jawab Starla.


"Apa kau bodoh?"


"Yah, kadang seseorang akan berubah menjadi sangat bodoh saat ia menyukai seseorang, bahkan ia tidak akan menyadarinya." Jawab Starla yang membuat Alpha mengernyit.


"Apa? Jangan bilang jika kau.."


"Maaf.. Tapi aku.. Menyukai anda Tuan Khandra." Ucap Starla yang membuat Alpha seketika bungkam dengan tatapan tajamnya yang menatap wajah Starla yang penuh dengan keseriusan, meski akhirnya gadis itu kembali tertunduk saat tidak mampu membalas tatapan Alpha lebih lama.


"Jangan pernah melakukan hal gila yang akan membahayakanmu." Ucap Alpha yang masih menatap Starla.


"Aku tau,"


"Sebaiknya kau jangan melakukannya lagi. Dan soal apa yang kau katakan barusan, aku.. "


"Maaf jika aku lancang, tapi aku sudah lama menyukai anda," Sela Starla.


"Kau gadis yang cukup berani Starla."


"Maaf.. "


"Kenapa kau selalu meminta maaf, menyukai seseorang bukanlah suatu kesalahan." Balas Alpha.


"Aku hanya merasa tidak pantas mengatakan hal ini pada anda."


"Dan sekarang kau berubah menjadi gadis yang tidak percaya diri?" Tanya Alpha.


"Aku memang seperti ini."


"Tsk, memangnya aku seistimewa apa, hingga kau merasa tidak pantas mengatakan hal itu? Bukankah semua orang berhak untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing."


"Aku tau, tapi bagiku, kau adalah sosok yang istimewa Tuan Khandra."


"Kau terlalu berlebihan Starla." Balas Alpha.


"Tidak, anda yang tidak pernah menyadari betapa istimewanya anda di mataku juga di mata para wanita yang tiap hari selalu datang di Cafe anda hanya untuk sekedar memberi hadiah dan menunjukkan rasa ketertarikan mereka pada anda Tuan Khandra," Ucap Starla panjang lebar.


"Tsk, kenapa kau jadi berbicara formal padaku sekarang? Lagi pula kau tahu dari mana jika banyak wanita yang..... Ah iya.. Aku hampir lupa jika kau sudah berada di sebrang sana sejak dulu." Balas Alpha yang membuat Starla seketika tersipu karena malu, sebenarnya apa yang tidak di ketahui oleh pria yang sekarang sedang duduk di hadapannya ini, sepertinya tidak ada hal yang tidak di ketahui Alpha.


"Bisakah aku bertanya sesuatu pada anda?" Tanya Starla sedikit ragu.


"Silahkan.. "


"Apa benar anda akan pergi?"


Tanya Starla, untuk sesaat Alpha terdiam sambil menatap wajah Starla yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang di penuhi dengan kesedihan, bahkan Alpha merasa gelisah saat melihat mata bulat itu mulai berkaca, entah sebesar apa rasa suka Starla padanya selama ini hingga rencana kepergiannya bisa membuat Starla bersedih seperti sekarang ini.


"Apa saja yang sudah Yoon katakan padamu?" Tanya Alpha


"Tidak banyak, dia hanya mengatakan jika sebentar lagi anda akan meninggalkan Negara ini, apa itu benar?"


"Hmm.. Benar."


"Apa itu akan lama? Apa anda akan kembali? Atau.. "


"Entahlah.. Mungkin aku akan kembali, dan mungkin juga tidak akan pernah kembali." Jawab Alpha nampak ragu.


"Tapi aku berharap anda bisa kembali." Gumam Starla lirih.


"Banyak hal yang tidak bisa terwujud sesuai dengan keinginan kita Starla."


"Bisakah anda berjanji padaku untuk kembali?" Tanya Starla dengan suaranya yang terdengar bergetar.


"Aku tidak bisa berjanji untuk hal yang tidak pasti." Jawab Alpha.


"Berhentilah mengucapkan kata maaf, kau malah membuatku merasa sebagai seorang yang telah banyak berbuat salah padamu." Ucap Alpha.


"......... "


"Dan sekarang kau terdiam, mungkin seharusnya akulah yang meminta maaf, sebab selama ini aku tidak menyadari kehadiranmu. Mungkin aku kurang peka dengan hal seperti itu, dan jika selama ini sikapku jadi menyulitkanmu, aku minta maaf, aku hanya tidak tau harus berbuat apa." Ucap Alpha.


"Tidak apa-apa, ini bukan salah anda."


"Yah, baiklah.. Mulai dari sekarang sebaiknya kau tidak perlu lagi melakukan hal-hal seperti kemarin."


"Iya, aku mengerti."


Balas Starla tertunduk lesu, ia sudah tahu jika akhirnya akan terjadi seperti ini. Alpha tidak menyukainya, dan tidak akan pernah menyukainya, itulah fakta yang harus ia terima. Meski rasa sakit dan kecewa kini mulai menggerogoti hatinya dan rasa ingin menangis sekencang-kencangnya, namun dengan sebisa mungkin ia menahan semuanya. Ia hanya tidak ingin terlihat lemah dan cengeng di hadapan Alpha yang kini sudah beranjak dan kembali mengenakan jaketnya, meraih helmnya untuk di pakainya, bahkan Starla sempat terkejut saat Alpha tiba-tiba memakaikan sebuah helm di kepalanya.


"Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap alpha.


"Helm ini?"


"Hmm.. Aku membelinya sebagai persiapan jika ada seseorang gadis ceroboh yang menghilangkan kunci mobilnya atau berdiri di depan Cafe dan membiarkan tubuhnya kedinginan sampai larut malam."


Sindir Alpha yang lagi-lagi membuat Starla tersipu hingga kembali mengingat kejadian minggu lalu, di mana ia tidak sengaja menghilangkan kunci mobilnya, dan suatu keberuntungan buatnya juga sebab ia bertemu dengan Alpha yang mau menolongnya dan mengantarkannya pulang, seperti malam ini. Ia kembali duduk di atas motor sport Alpha, memeluk tubuh yang beraroma maskulin itu di tengah dinginnya angin malam yang menyambut mereka saat melintasi jalan kota Munchen yang sudah mulai terlihat sepi.


"Alpha.."


"Hmm.. "


"Apa aku boleh menunggumu?"


Tanya Starla di tengah perjalanan mereka yang saat itu Alpha hanya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Starla kembali menarik nafas dalam saat ia tidak mendapatkan jawaban dari Alpha. Bahkan pria itu masih setia dengan diamnya saat motornya terparkir tepat di depan gedung Apartemen Starla.


"Sebaiknya kau tidak melakukan itu," Ucap Alpha.


"Tapi kenapa?"


"Aku hanya ingin kau tidak melakukannya."


"Tapi apa alasannya hingga aku tidak boleh melakukannya?" Tanya Starla.


"Karena aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu." Jawab Alpha yang seketika membuat Starla terdiam sesaat.


"Tapi.. "


"Sepertinya kali ini aku yang harus meminta maaf padamu, jangan melakukan hal yang bodoh lagi." Balas Alpha.


"Menunggumu bukanlah hal bodoh,"


"Starla.. "


"Aku melakukannya karena aku mencintaimu," Ucap Starla setengah berbisik namun sangat terdengar dengan jelas di telinga Alpha.


"Aku tahu, meskipun aku cukup terkejut dengan pengakuanmu yang tiba-tiba itu, tapi aku tidak ingin kau terluka." Balas Alpha.


"Aku bahkan sudah siap untuk itu, berani mencintaimu berarti aku harus berani menerima resiko apapun itu, termasuk terluka." Ucap Starla.


"Apa kau memang selalu seserius itu?" Tanya Alpha menatap lekat ke arah Starla.


"Maaf jika sikapku membuatmu merasa tidak nyaman Alpha, dan terimakasih sudah mengantarku pulang, selamat malam."


Ucap Starla tersenyum dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alpha yang masih menatapnya, bahkan bibir Alpha masih sedikit terbuka sebab ia tidak sempat mengucapkan kalimat pada Starla yang sudah beranjak pergi meninggalkannya.


"Aku hanya takut kau akan merasa kecewa."


Ucap Alpha yang tentunya hanya dia sendiri yang mendengarnya, sebab bayangan Starla sudah menghilang di balik gedung Apartemennya.


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


Alpha melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah dan langsung menyandarkan tubuh lelahnya di atas sofa. Biasanya ia selalu di sambut oleh senyum manis dan pelukkan hangat sang Ibu yang selalu menunggunya di ruangan tersebut saat pulang kerja. Namun saat Alpha kembali melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 00:16 malam, tidak mebuatnya heran jika Nyonya Aleen sudah tidur. Dan sebelum Alpha melangkah menuju perapian untuk menghangatkan tubuhnya dan menenangkan pikirannya, ia menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar Ibunya, mengucapkan selamat malam pada sosok yang sudah terlelap dengan pulas, dan merapikan selimut Ibunya seperti kebiasaannya. Hingga suara Leon sedikit membuatnya terkejut saat ia mulai menyamankan dirinya di depan perapian.


"Bagaimana dengan urusanmu, apa semuanya berjalan dengan lancar?" Tanya Leon yang langsung ikut duduk di samping Alpha yang langsung meletakkan buku yang sedang di bacanya.


"Hmm, dan tiga hari lagi kita akan berangkat." Jawab Alpha.


"Baiklah.. Biar aku yang mempersiapkan segala sesuatunya."


"Hmm.." Balas Alpha singkat dan kembali melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, sungguh sikap yang membuat Leon menjadi sedikit heran.


"Apa ada masalah lain?" Tanya Leon.


"Tidak."


"Apa kau yakin? Kau nampak terlihat aneh hari ini All."


"Entahlah.. Hanya saja aku sedang memikirkan seseorang." Jawab Alpha.


"Seseorang? Siapa?"


"Starla."


"Starla? Sejak kapan gadis itu masuk dalam daftar orang yang kau pikirkan?" Goda Leon.


"Sejak dia mengatakan jika dia menyukaiku." Jawab Alpha tampa basa-basi.


"Apa? Starla? Dia mengatakan itu?" Tanya Leon seolah tidak percaya dengan perkataan Alpha barusan.


"Hmm.."


"Lalu?"


"Apa?"


"Bagaimana dengan perasaanmu?" Tanya Leon nampak semangat.


"Entahlah.. Aku selalu melihat Edrea pada diri Starla." Jawab Alpha.


"Tapi Starla bukan Edrea."


"Aku tahu." Ucap Alpha perlahan.


"Nampaknya kau sedang bingung sekarang. Sebenarnya bagaimana perasaanmu?" Tanya Leon yang sudah paham dengan perasaan Alpha saat ini.


"Aku belum bisa memastikan tentang perasaanku padanya, yang aku tahu, aku senang jika berada di sampingnya, aku suka melihatnya tertawa, suka dengan dia yang selalu tersipu dengan wajah yang memerah, tapi aku tidak yakin jika aku menyukainya sebagai seorang wanita, sebab Starla dan Edrea memiliki banyak kesamaan." Jawab Alpha.


"Aku mengerti jika kau masih ragu dengan perasaanmu, tapi aku minta satu hal padamu All, jangan memberikan Starla sebuah harapan, dia akan terluka lagi pada akhirnya, dan aku tidak ingin itu sampai terjadi."


"Aku tidak pernah berniat untuk memberikan harapan padanya, dan yang aku lihat, sepertinya kau sangat peduli padanya, apa kau menyukainya?" Tanya Alpha.


"Tidak, sebagai sahabatnya, wajar jika aku perduli dan mengkhawatirkannya. Sebab aku tahu luka yang pernah ia alami di masa lalunya, dan aku tidak ingin ia merasakannya lagi."


"Luka? Masa lalu? Seburuk apa masa lalu gadis itu? Sepertinya kau tahu banyak tentang dia."


"Tentu saja, aku sudah sangat lama mengenalnya, dan aku sarankan, jika kau tidak memiliki perasaan apapun padanya, sebaiknya kau menjauhinya."


Ucap Leon yang hanya membuat Alpha terdiam dengan pikirannya sendiri, dengan rasa penasaran yang sebenarnya sangat ingin ia tanyakan kepada Leon yang sepertinya sangat mengenal Starla, namun mulutnya seolah enggan untuk terbuka, hingga membuat barisan pertanyaan yang sudah tersusun rapi di atas kepalanya tersimpan begitu saja.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.