I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Lucas Elfredo.



"Kau akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu jika kau terus melihatnya seperti itu?" Ucap Leon perlahan yang juga ikut mengarahkan pandangannya ke arah Toko bunga di sebrang sana.


"Dia sangat mirip dengan Edrea." Balas Alpha tampa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sana.


"Edrea?" Tanya Leon mengernyit.


"Hm.. "


Jawab Alpha singkat yang kembali mengingat sosok Edrea dulu, seorang gadis ceria dengan tingkat lucu dan juga cerobohnya. Hingga membuat wajah Alpha yang tadinya di penuhi senyum tiba-tiba berubah murung dengan mata yang sedikit berkaca.


Meskipun dua tahun telah berlalu namun sedikitpun Alpha belum bisa melupakan kejadian tragis yang di alami oleh adiknya tersebut, ia masih saja terus mengingat bagaimana tubuh Edrea yang saat itu di penuhi dengan darah dan luka di sekujur tubuhnya. Bahkan terakhir, Edrea harus merenggang nyawa akibat luka tembak di kepalanya.


Bahkan sampai detik inipun ia masih belum sepenuhnya memaafkan perbuatan Chris Cullen pada keluarganya, meskipun pria itu telah meninggal dunia. Dan hal itu juga lah yang menjadi alasan Alpha menolak hubungan kerja sama antara Perusahaannya dengan Perusahan milik keluarga Elfredo yang terbilang sangat besar dan cukup terkenal, meskipun Perusahaan BRT GRUP masih di peringkat atas dan mengungguli Perusahaan-perusahaan lainnya termasuk Perusahaan Keluarga Elfredo.


Kakak yakin, kau sudah bahagia di sana, maafkan kakak, sebab belum bisa melupakan semuanya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Tanya Leon perlahan sambil menepuk-nepuk pelan pundak Alpha yang mulai larut dalam lamunan masa lalunya yang penuh dengan amarah dan rasa sakit.


"Hmm.. Aku hanya sedikit merindukan Edrea," Jawab Alpha seraya mengangguk pelan.


Meskipun Leon tidak berada di Korea pada waktu itu, akan tetapi ia mengetahui semua tentang masa lalu yang di alami keluarga mereka. Dan meski sampai detik ini juga, Leon sendiri belum mengetahui penyebab sebenarnya sang Ibu meninggal dunia. Alpha sengaja menyimpan semua rahasia ini dan akan tetap menutupinya rapat-rapat, cukup ia saja yang mengetahuinya, sebab ia tidak ingin membuat Leon merasakan sedih dan dendam seperti apa yang di rasakannya selama bertahun-tahun ini.


* * * * *


Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa Alpha meninggalkan Cafenya sebelum menguncinya dari luar. Jam sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, dan Alpha baru akan pulang setelah menunggu para pelanggan terakhirnya meninggalkan Cafenya. Malam ini pengunjung di Cafenya cukup ramai, sebab kedatangan para wisatawan yang berjumlah cukup banyak membuatnya turun tangan untuk membantu Leon dan ketiga karyawannya yang kewalahan melayani pelanggan Asing mereka. Sedang Leon sudah terlebih dahulu meninggalkan Cafe dan pulang dengan menggunakan mobil sendiri.


Sambil melirik jam tangan yang melingkar di lengannya, Alpha melangkah lebar menuju motornya yang terparkir di samping Cafenya dan langsung memasang helmnya, sampai akhirnya netranya menangkap bayangan seorang gadis yang nampak berdiri sendiri, dengan raut wajah kebingungan di depan Tokonya.


Apa dia tidak akan pulang? Bukankah ini sudah sangat larut?


Batin Alpha sambil memasang kaos tangan dan langsung menaiki motornya, menyalakan mesin, dengan sedikit menginjak gas sambil menarik kopling, hingga motornya mulai melaju dengan kecepatan sedang. Entah apa yang ada di dalam pikirkan Alpha saat kembali melihat sosok Starla lewat kaca spion motornya yang masih berdiri di depan Tokonya sambil menyatukan kedua tangannya dan meniupnya agar terasa hangat. Sementara malam sudah semakin larut.


Astaga.. Kenapa aku harus perduli.


"Apa kau tidak pulang?"


Tanya Alpha yang ternyata membelokkan motornya dan langsung berhenti tepat di hadapan Starla yang masih mematung seperti boneka manekin di sebuah toko baju.


"Sebentar lagi saya akan pulang, saya.."


"Ada apa?" Tanya Alpha mengernyit saat melihat Starla yang nampak terlihat kebingungan.


"Saya, kehilangan kunci mobil dan tidak bisa menemukannya, entah jatuh di mana," Jawab Starla yang sedikit terbata sambil menahan rasa gugup yang menderanya secara tiba-tiba.


Ternyata Yoon benar, dia gadis yang ceroboh.


"Lalu?"


"Saya sedang menunggu sebuah taksi, tapi.... " Jawab Starla tersenyum kaku dengan bibir yang sedikit bergetar karena udara dingin.


Alpha mengernyit sambil melirik jam tangan yang melingkar di lengannya, ini sudah cukup larut, bukankah seorang gadis sudah tidak seharusnya berada di luar rumah pada jam begini.


"Biar aku mengantarmu pulang."


"Ha?" Starla yang tiba-tiba melongo saat mendengar tawaran Alpha untuk mengantarnya pulang.


"Pulang, apa kau akan terus di situ?"


Tanya Alpha, sedang Starla masih terpaku, seolah masih belum percaya dengan pendengarannya saat ini, bagaimana tidak, di antar oleh seorang pria yang bahkan baru tadi pagi mengetahui namanya adalah suatu kebahagiaan yang teramat besar oleh Starla, bahkn membuatnya lupa untuk mengatakan 'iya' hingga membuat Alpha kembali menaikan alisnya untuk menunggu jawaban dari Starla.


"Apa kau sedang menunggu seseorang untuk menjemputmu?"


"Ah tidak... Tidak... Iyaa.. Saya setuju."


Balas Starla sedikit berlari menghampiri motor Alpha.


"Tapi aku hanya membawa satu helm, tidak apa-apa kan?"


"Ah itu tidak masalah."


Asal bisa berdekatan denganmu, tidak menggunakan helm pun tidak masalah buatku.


Batin Starla tersenyum sambil mengamati Alpha yang tengah bersiap seraya menyalakan mesin motornya sambil menunggu Starla untuk naik ke atas motornya. Hingga tidak berselang lama motor Alpha melaju meninggalkan Toko tersebut dan melintasi jalanan Kota Munchen yang mulai tertutupi oleh butiran salju.


"Maaf, Kau bisa memasukan tanganmu di saku jaketku jika kau merasa kedinginan."


Ucap Alpha saat merasakan tubuh Starla yang sedikit bergetar menahan hawa dingin.


"Ta.. Tapi.. Saya akan... " Memelukmu.


"Ada apa? Apa kamu merasa tidak nyaman?" Tanya Alpha perlahan.


"Ah tidak.. Bukan begitu, tapi jika saya memasukkan tangan saya di saku jaket anda, otomatis saya akan.. " Starla kembali menghentikan kalimatnya.


"Tidak masalah, itu hanya sebuah pelukan. Asal kau tidak membeku kedinginan. Aku baik-baik saja." Jawab Alpha yang sudah mengerti dengan maksud Starla yang merasa sungkan jika harus memeluk tubuhnya.


"Maaf jika saya sudah merepotkan anda." Ucap Starla perlahan.


"Tidak masalah, aku sendiri yang ingin mengantarmu pulang, jadi kau tidak perlu merasa sungkan." Balas Alpha yang membuat hati Starla kembali berbunga.


Bahkan aku tidak ingin ini cepat berlalu, sungguh nyaman berada di sampingmu.


Batin Starla, apalagi saat indra penciumannya menghirup aroma maskulin yang berasal dari tubuh Alpha, aroma yang begitu khas, hingga tampa sadar Starla mengeratkan pelukannya dan membuat Alpha sedikit terkejut.


"Apa kau merasa sangat kedinginan? Kau bisa menggunakan jaketku" Tanya Alpha yang siap-siap untuk menepikan motornya.


"Ah tidak perlu, anda juga akan membeku jika meminjamkan jaket itu untukku, tidak masalah, aku sudah cukup hangat."


"Kau yakin?" Tanya Alpha ragu, saat mendengar suara Starla yang terdengar bergetar.


"Iya, aku baik-baik saja, terimakasih."


Balas Starla mengangguk, meskipun anggukannya tidak di lihat oleh Alpha yang kembali melajukan motornya saat Starla menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Hingga 25 menit perjalanan mereka, motor Ducati Desmosedici D16RR milik Alpha sudah terparkir di depan sebuah apartemen.


"Terimakasih Tuan Alpha," Ucap Starla dengan sedikit membungkuk saat turun dari motor Starla dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Hei.. Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, panggil saja aku Alpha."


"Ah iya.. Terimakasih Alpha,"


"Hmm.. Masuklah, kau sudah nampak kedinginan." Ucap Alpha seraya menyalahkan mesin motornya.


"Dan lain kali, bisakah kau lebih berhati-hati?" Ucap Alpha yang hanya di balas anggukkan oleh Starla.


"Baiklah.. Sekali lagi terimakasih," Balas Starla yang hanya di balas anggukan oleh Alpha yang langsung meninggalkan Starla yang masih terpaku di depan sebuah gedung Apartemennya, dengan tangan yang memegangi dadanya, sambil merasakan irama jantungnya yang terus berdebar sejak tadi.


Anda pria yang sangat hangat Tuan Alpha, bahkan tidak butuh waktu untuk berada di dekatmu sudah membuatku sangat nyaman.


Batin Starla sambil menarik nafas dalam, menghirup aroma maskulin dari Alpha yang masi menempel di pakaian yang ia kenakan.


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


"All.."


"Ibu? Ibu belum tidur?" Tanya Alpha saat mendapati Nyonya Aleen yang masih duduk di sebuah Sofa ruang tengah.


"Ibu, ini sudah larut, kenapa Ibu belum tidur?" Tanya Alpha lagi seraya menghampiri Ibunya.


"Ibu menunggumu, kenapa kau sangat terlambat, ini sudah sangat larut." Jawab Nyonya Aleen sambil mengusap kepala Alpha lembut.


"Siapa yang kau antar pulang?"


Suara sumbang Leon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar dengan rambut yang terlihat berantakan lengkap dengan piyama biru bergaris putih.


"Gadis penjual bunga." Jawab Alpha singkat.


"Apa?/siapa?"


Tanya Leon dan Nyonya Aleen secara bersamaan, yang membuat Alpha menarik nafas dalam atas kekompakan Ibu dan sepupunya.


"Kau serius? mengantarkan Kuda liar itu, ke rumahnya?" Tanya Leon meyakinkan pendengarannya.


"Hm.. "


"Kuda liar? Siapa?" Tanya Nyonya Aleen dengan wajah polosnya sambil menatap Alpha dan Leon secara bergantian.


"Gadis penjual bunga Bi, pengagum rahasia All." Balas Leon yang membuat Nyonya Aleen berbinar bahagia dan kembali menatap wajah putranya yang masih terdiam dengan ekspresi datar seperti biasa.


"Jadi barusan kau mengantar seorang gadis? Gadis?" Tanya Nyonya Aleen sekali lagi.


"Hmm.. Aku hanya membantunya Bu, tidak lebih." Jawab Alpha.


"Yah.. Dan sadar atau tidak kau sudah membuat pengagum rahasiamu itu sangat bahagia, aku berani taruhan jika saat ini, mungkin dia sedang meloncat-loncat kegirangan di kamarnya." Balas Leon tersenyum.


"Pengagum rahasia?" Tanya Nyonya Aleen lagi kebingungan.


"Iya Bi, gadis yang di antar barusan adalah gadis yang sudah sangat lama menyukai putra Bibi ini." Jawab Leon tampa mempedulikan raut wajah Alpha yang sudah nampak memerah.


"Benarkah? Tapi kenapa... " Tanya Nyonya Aleen yang terus bertanya.


"Yoon, kau jangan bercanda, mana mungkin ada gadis seperti itu yang menyukai seorang pria sampai selama itu." Balas Alpha seraya menyamankan dirinya di sofa.


"Bukankah aku sudah bilang, hanya gadis abnormal yang akan menyukai Alpha, dan bukti yang paling nyata itu Starla, gadis penjual bunga itu bahkan sudah menyukai anak Bibi selama dua tahun."


"Apa? Dua tahun?"


"Hmm.. Berhubung anak Bibi yang tampan ini tidak begitu peka, jadi dia tidak mengetahuinya."


Jawab Leon seraya melirik Alpha yang sudah semakin memerah, meski saat ini Alpha sedang berusaha untuk berpura-pura tuli dan sengaja tidak merespon perkataan Leon yang ia anggap hanya omong kosong saja, namun ia juga sempat berfikir saat beberapa kali ia selalu mendapati gadis penjual bunga itu selalu stay di depan Cafe setiap pagi dengan senyuman manisnya, begitupun juga dengan malam hari sebelum ia pulang. Dan hal itu cukup meyakinkannya jika perkataan Leon bukan sekedar omong kosong saja, meskipun Alpha masih belum yakin.


"All.. Sebagai seorang pria seharusnya kau lebih peka lagi dengan sekelilingmu." Ucap Nyonya Aleen lembut.


"Hm.. sebaiknya Ibu tidak terlalu mempercayai ucapan Yoon."


"Jadi kau ingin bilang jika aku hanya berkata omong kosong saja? Bagaimana jika kita tanyakan... "


"Yaaakk... " seru Alpha terlihat gugup.


"Apaa? Yaaakkk... Lepaskan.. Kau membuatku sesak." Teriak Leon berontak saat Alpha mengapit lehernya dengan menggunakan lengan kekarnya.


"Berhentilah berbicara omong kosong."


"Yaakk.. lepaskan.."


"Hentikan kalian berdua, sebaiknya kalian istrahat." Ucap Nyonya Aleen melerai pergulatan mereka berdua.


"Iya Bu, tapi aku harus mengecek email dulu." Balas Alpha seraya melepaskan tubuh kurus Leon dari kungkungannya yang langsung melemparkan bantal sofa ke arah Alpha yang langsung beranjak dari duduknya setelah puas menyiksa Leon yang nyaris kehabisan nafas.


"Jangan lupa dengan vitaminnya, kau harus meminumnya." Ucap Nyonya Aleen yang masih memandang punggung Alpha yang sudah berlalu hingga bayangannya menghilang di balik pintu.


"Yoon, apa kau yakin gadis itu menyukai All?" Tanya Nyonya Aleen yang di penuhi rasa penasaran.


"Sangat yakin."


"Jadi.. Gadis yang kau maksud kuda liar.. gadis abnormal.. Itu benar?"


"Saya hanya bergurau Bi, kenapa Bibi jadi serius seperti itu, Starla gadis yang baik, dan ceria, dia juga tipe gadis pekerja keras dan tidak manja." Balas Leon yang membuat Nyonya Aleen semakin penasaran.


"Benarkah? Sepertinya dia gadis yang luar biasa, Bibi yakin, gadis itu sepertinya sangat cocok untuk menjadi pendamping All, benarkan?" Tanya Nyonya Aleen penuh harap.


"Yah, Starla memang sangat cocok untuk bersama All."


"Jadi nama gadis itu Starla? Nama yang indah." Puji Nyonya Aleen.


"Iyaa Bi," Balas Leon mengangguk penuh keyakinan sambil tersenyum. Begitu halnya dengan Nyonya Aleen yang ikut bahagia. Sebab sudah sangat lama Nyonya Aleen menginginkan Alpha agar bisa dekat dengan seorang gadis.


Bahkan sejak dulu ia tidak mengharuskan putranya untuk memilih gadis dengan kriteria yang sempurna, sebab hanya satu yang di inginkan oleh Nyonya Aleen, yaitu bisa melihat Alpha bahagia, dengan siapapun dan dari kalangan manapun gadis itu berada, ia hanya ingin gadis itu bisa mencintai Alpha dengan tulus tampa melihat satus dan kasta dari keluarga mereka.


* * * * *


* KOREA/SEOUL.


* KEDIAMAN LUCAS ELFREDO.


"Bagaimana hasil pertemuan dengan BRT GRUP tadi, apa ada kabar baik?"


Tanya seorang pria bertubuh tinggi yang tengah duduk di atas sofa dengan segelas sampanye di tangannya.


"Sepertinya pihak BRT GRUP masih belum bersedia untuk bekerja sama dengan Perusahaan kita." Balas Keano Vafian, Asisten Lucas Elfredo.


"Cih, Dasar sombong, aku jadi penasaran, siapa pemilik perusahaan BRT GRUP itu, kenapa dia terus bersembunyi di balik ketiak Asistennya." Balas Lucas terlihat geram.


"Seperti kabar yang saya dengar, jika Tuan Alpha Khandra sedang tidak berada di Korea saat ini Tuan, tapi sedang berada di Jerman."


"Alpha Khandra.. Alpha Khandra.. Lihat saja nanti, aku pasti akan berhasil membuat Perusahaannya bekerja sama dengan Perusahaanku." Balas Pria bertubuh tinggi kekar itu sambil kembali menyesap sampanye di tangannya. Senyum smirk terlihat jelas di wajah datarnya yang terlihat dingin dan kaku.


"Lalu bagaimana dengan Nona muda? Apa kalian sudah menemukan tempat persembunyiannya sekarang?" Tanya Lucas lagi yang kali di balas gelengan kepala oleh Keano.


"Belum Tuan, maaf. Orang kita masih terus mencari keberadaan Nona besar."


"Sudah seharusnya kalian bekerja keras. Kalian tahu kan, aku tidak mau jika terjadi apa-apa dengan wanitaku, apa kau mengerti Ken?" Ucap Lucas penuh penekanan.


"Iya Tuan Muda, saya mengerti."


"Kalian boleh keluar."


Balas lucas sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya mengamati langit-langit atas ruangannya. Bayangan seorang wanita yang selama ini mengisi pikiran dan hatinya kembali hadir dalam ingatannya.


"Apa yang sedang kau lakukan hari ini, apa kau tidak merindukanku, kau sudah lama menghilang Honey, kembalilah.. Aku sangat merindukanmu."


Gumam kecil lucas yang masih terus menatap langit-langit ruangan yang terasa sangat sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar berdetak di sudut ruangan.


"Aku membencimu, aku tidak ingin melihatmu lagi.. "


"Honey maafkan aku, bukankah selama kau selalu memaafkan segala kesalahanku? aku tidak pernah bermaksud melakukan hal itu, itu bukan keinginanku."


"Tapi aku sudah tidak bisa memaafkanmu lagi lucas, aku sangat kecewa padamu... "


"Aku tahu kau akan memaafkanku, kau sangat mencintaiku, kau tidak mungkin meninggalkan aku. Aku mohon.. jangan tinggalkan aku,"


"Kau salah.. Aku akan pergi.. Jangan pernah mencariku lagi."


"Tidak honey.. Aku tidak bisa jauh darimu, kau tidak bisa pergi begitu saja, bukankah kau mencintaiku? kau bilang akan selalu bersamaku, aku mohon jangan pergi.. "


"JANGAN PERGIIIIII.... "


* * * * *


* TO BE CONTINUED.