I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Masakan spesial



"Tapi kenapa mesti Daniel? Dia ...." 


Kalimat Alpha terhenti saat Emery membalikkan tubuh dan membelakanginya.


"Oh Tuhan, my cherry. Apa yang harus aku lakukan untukmu?" tanya Alpha melenguh prustrasi saat tahu jika Emery sedang menangis, hingga membuatnya harus memutar otak, kebingungan.


"Sayang ...."


"Aku benar-benar menginginkan spaghetti itu," potong Emery dengan suara serak.


"Oh Tuhan, ada apa denganmu, Nak? Kenapa tiba-tiba menginginkan spaghetti dari orang itu, tidak bisakah kau menginginkan sandwich saja? Karena hanya itu yang bisa Daddy  buat," ucap Alpha perlahan, berlutut di samping tempat tidur, tepat di punggung istrinya. Merasa bersalah sebab sudah membuat istrinya menangis. "Apa kau benar-benar menginginkan spaghetti dari ... Daniel?" sambungnya yang tak tega melihat sang istri menangis.


"Hmm,"


"Haruskah aku memanggilnya ke sini?" tanya Alpha yang seolah lupa jika jarak antara Verona dan New Orleans sangat jauh, bahkan beda negara.


"All, Daniel sedang tidak berada di sini."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Entahlah," balas Emery yang semakin membuat Alpha prustrasi.


"Baiklah, bisakah kau menunggu sebentar? Aku tidak akan lama," balas Alpha lagi, beranjak keluar kamar usai mendapatkan anggukan dari sang istri.


Melangkah masuk ke dalam pantry, membuka lemari pendingin dan mengeluarkan semua bahan, sayuran, bawang, daging, dan saos instan untuk Spaghetti sebelum terlihat menghubungi seseorang.


📞 "Halo?"


Alpha menyenderkan tubuh di pinggiran counter saat mendengar suara seseorang di ujung sambungan.


📞 "Ini aku, Alpha." 


📞"Alpha?" 


Jelas terdengar jika sang penerima panggilan terkejut, canggung, sekaligus heran. Ini pertama kali mereka saling berbicara setelah apa yang sudah terjadi di antara mereka kemarin.


📞 "Maaf mengganggu waktumu, apa kau sibuk?" 


📞 "Tidak, aku sedang senggang,"


📞 "Daniel. Aku ... butuh bantuanmu." 


📞 "Ada apa?"


📞 "Aku ... ingin meminta ...." 


Kalimat Alpha tertahan di tenggorokan. Terlihat menarik nafas panjang sebelum melepaskannya dengan perlahan. Mereka pernah saling menodongkan senjata juga saling memukul satu sama lain. Dan sekarang apa masuk akal jika ia tiba-tiba meminta tolong agar di beri resep makanan?


📞 "Ada apa, tuan Alpha?"


📞 "Meminta resep spaghetti." 


Bahkan ia bisa mendengar dengan jelas jika Daniel tiba-tiba tersedak, entah pria itu sedang makan atau minum, yang jelas, Daniel masih terdengar terbatuk.


📞 "Apa?"


📞 "Kau tidak tuli, Daniel. Aku yakin kau bisa mendengarku dengan jelas." 


📞 "Bersikap baiklah tuan Alpha Khandra, kau sedang meminta bantuanku sekarang, entah ada apa dengan koki di keluarga Berta, mengapa kau tiba-tiba meminta resep spaghetti padaku."


📞 "Emery menginginkannya ...."


📞 "Eme?"


📞 "Wait. Eme?! Kau memiliki nama panggilan khusus kepada istriku?" 


📞 "Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu sekarang, alismu pasti sudah mengerut karena kesal. Tapi, haruskah kita membahas ini sekarang?" 


📞 "Dia sedang mengidam, dan tidak ingin makan apa pun kecuali spaghetti buatanmu. Jadi bisakah kau membantuku tanpa banyak bertanya tuan Daniel?" 


📞 "Tentu,"


📞 "Terima kasih, apa kita bisa mulai sekarang?"


Alpha bahkan sudah memegang pisaunya dan siap untuk memasak.


📞 "T-tunggu, apa kau yang akan melakukannya?" 


📞 "Ada apa?"


📞 "Kau akan mengacaukannya tuan Alpha."


📞 "Lalu menurutmu siapa lagi yang akan melakukannya?" 


📞 "Baiklah, terserah kau saja, aku harap kau bisa membedakan antara lada dan garam."


📞 "Lada? Apa itu?"


📞 "Lupakan. Sebaiknya kau menutup panggilan telfonmu dan lakukan panggilan video call."


📞 "Baiklah," 


Alpha memutuskan panggilan telfonnya dan mulai melakukan panggilan video call. Ia tidak percaya akan melakukan hal tersebut kepada Daniel, sang pengawal pribadi seseorang yang pernah membunuh ayahnya. Hubungan mereka sempat kacau, bahkan sangat kacau, hingga nyaris saling membunuh satu sama lain.


Alpha terlihat sangat penurut saat Daniel mulai menginstruksikan bahan-bahan apa saja yang harus Alpha gunakan, bahkan Alpha harus bisa menahan sabar saat Daniel menyuruhnya untuk mencoba semua jenis bumbu terlebih dahulu sebab tak percaya jika Alpha juga bisa memasak dan bisa membedakan semua jenis bumbu.


📱 "Lidahku tak karuan sekarang, apa aku harus mencoba semua bumbu dapur di sini?" 


Alpha kembali mengeluh dengan mata berkaca saat mencoba lada.


📱 "Maaf tuan Alpha, aku tidak akan menyuruhmu untuk mencoba semuanya jika saja kau tahu dan bisa membedakan mereka."


📱 "Sialan. Sudah aku katakan aku bisa membedakan mereka semua. Aku pernah masak sekali, tapi tidak menggunakan bumbu dapur sebanyak ini, aku hanya pernah bekerja di sebuah kedai coffee, dan selain coffee, hanya sandwich dan beberapa makanan sederhana yang aku tahu dan kau, dari mana kau tahu semua bumbu dapur ini, aku pikir kau hanya bisa membedakan antara Raging ball, U21 submachine gun, dan M4 carbine."


📱 "Aku pernah hidup seorang diri, mungkin itu alasannya, aku bisa melakukan apa pun untuk bertahan hidup." 


📱 "Baiklah, aku rasa Emery beruntung karena pernah memiliki pengawal pribadi sepertimu, haruskah aku berterima kasih karena sudah menjaganya selama ini?" tanya Alpha yang terlihat cukup terkejut saat cipratan minyak mengenai lengannya saat mulai menumis bumbu yang sudah ia haluskan.


📱 "Itu bukan ledakan amunisi tuan Alpha."


📱 "Diam kau."


Alpha mulai mengaduk tumisan bawang dan dagingnya dengan hati-hati. Tanpa menyadari jika sejak tadi Leon sudah duduk di kursi tengah mengamatinya dengan alis mengernyit.


Emery sengaja menghubungi Leon untuk datang, sebab ia tahu jika Alpha akan mulai memasak, dan ia yakin jika suaminya akan kerepotan di pantry.


Hingga 15 menit kemudian, Alpha sudah menyelesaikan masakannya, bersamaan dengan aroma lezat yang tercium di seluruh ruangan. Bahkan Leon sendiri yakin, jika masakan Alpha tidak akan buruk.


📱 "Terima kasih Daniel, semoga Emery menyukai ini."


📱 "Eme pasti menyukainya, aku akui kau melakukannya cukup baik,"


📱 "Baiklah,"


📱 "Salam untuk Eme,"


📱 "Hmm," angguk Alpha hendak memutuskan panggilan video. Namun, di urungkan. "Tunggu."


📱 "Ada apa?"


📱 "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, Daniel."


📱 "Silahkan."


📱 "Ada kesepakatan apa di antara kau dan Jackob Sean?" 


📱 "Hanya kesepakatan kecil, kau tidak perlu memikirkan itu."


📱 "Baiklah, Terima kasih, Daniel." 


Alpha mengakhiri panggilan videonya. Menatap kagum ke arah sepiring spaghetti yang di buatnya dengan susah payah.


"Akhirnya selesai juga, semoga Emery menyukainya," ucap Alpha mengamati hidangan spesial yang sudah ia buat dengan senyum di wajahnya, mengambil sebuah piring yang sudah terisi penuh spaghetti sebelum melangkah pergi.


"Sepertinya kau sangat sibuk," tegur Loen yang cukup membuat Alpha terkejut.


"Kau mengejutkanku, sialan. Sejak kapan kau di sana?"


"Kau saja yang terlalu serius, aku bahkan sudah sejak tadi di sini mengamatimu dengan seksama," balas Leon masih menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Apa kau tidak bisa bersuara? Kau bahkan terlihat seperti hantu di sana."


Alpha melanjutkan langkahnya dengan sepiring spaghetti yang masih di tangan untuk di taruhnya ke atas meja ruang tengah.


"Apa itu Daniel?" tanya Leon mengikuti langkahnya keluar dari pantry.


"Hmm,"


"Kenapa harus dia?" tanya Leon yang masih tak mengerti. Mengapa Alpha tiba-tiba menghubungi pria itu hanya untuk sepiring spaghetti saja.


"Emery sangat menginginkan spaghetti buatan Daniel," balas Alpha menaiki anak tangga. Sedang Leon masih melongo saat mendengar jawaban Alpha, tak meneruskan langkahnya dan memilih untuk duduk di sofa ruang tengah memandangi sepiring spaghetti buatan Alpha di sana.


***