
Seperti hari-hari sebelumnya dan di rutinitas yang sama, Alpha memarkirkan motornya tepat di sisi bangunan Cafenya seperti biasa. Pagi ini Salju turun tidak begitu lebat, dan seperti bisa juga Alpha akan selalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh butiran salju yang turun untuk merasakan dingin di telapak tangannya yang hangat, sekaligus untuk mengingat kebiasaan yang sering ia lakukan di masa kecilnya bersama sang Ayah.
Dan lagi-lagi di pagi hari ini netranya kembali menangkap sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya dengan mantel kuning dan senyum yang selalu terlihat manis.
"Selamat pagi,"
Sapa gadis itu seraya melambai, sedang Alpha hanya bisa terdiam sambil menatap gadis yang masih setia berdiri di sampingnya, meski jarak mereka hanya beberapa meter saja. Namun Alpha bisa melihat dengan sangat jelas jika gadis di sampingnya itu terlihat gugup sebab sejak tadi ia terlihat tengah meremat jemarinya yang di tutupi kaus tangan dengan warna senada.
Dia lagi?
Batin Alpha yang sedikit-sedikit mulai mengingat gadis yang selalu berdiri di samping Cafenya tiap pagi dan malam hari. Gadis manis yang tidak lain adalah Starla.
"Pagi,"
Jawab Alpha setelah beberapa menit, dengan sapaan singkat sambil mengangguk pelan yang sontak membuat Starla memegangi dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang di rasakan akan melompat keluar saat mendapatkan balasan sapaannya dari pria yang selama dua tahun ini di kaguminya secara diam-diam.
Dengan sedikit malu-malu Starla mengulurkan tangannya ke arah Alpha, dengan harapan agar hari ini ia bisa berkenalan langsung dengan sang pujaan hati. Meski ia sendiri tidak yakin jika akan mendapatkan respon dari Alpha, namun setidaknya dengan Alpha mengetahui namanya, hal itu sudah sangat cukup membuat Starla bahagia.
"Aku Star... "
"Yaakkk... Kuda liar,"
Seru Leon yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka yang sontak membuat Starla mengurungkan niatnya, kalimatnya menggantung dengan wajah yang seketika berubah gelap saat melihat senyum Leon yang sungguh membuat Starla prustasi dan langsung menarik dan menjabat tangannya sendiri.
"Siapa yang kau panggil dengan kuda liar?"
Protes Starla dengan sedikit berbisik sambil melotot ke arah Leon, namun seketika tatapan horor Starla berubah manis saat pandangannya kembali tertuju kepada Alpha yang entah ada angin apa hingga membuat pria kaku itu bisa sangat betah berlama-lama di luar untuk mendengarkan setiap kata yang tidak masuk akal dari sepupunya Leon.
"Siapa lagi kalau bukan kau, gadis yang mempunyai tendangan subbbbmmm..."
Dengan cepat Starla membekap mulut Leon dengan tangannya, imagenya bisa-bisa turun di mata Alpha jika membiarkan Leon terus berceloteh seenaknya.
"Tidak bisakah kau diam dan menjauh? Kau tidak di perlukan di sini."
Bisik Starla semakin kuat membekap mulut Leon yang membuat mata rusa itu melotot karena mulai kehabisan nafas.
Melihat hal itu membuat Alpha mengernyit bingung, sungguh pertunjukan yang aneh di pagi ini, pikirnya.
"Kekasihmu?" Tanya Alpha perlahan.
"BUKAN."
Teriak Starla yang membuat Leon dan Alpha terjingkat kaget. Leon yang masih menganga, Leon yang hendak menjawab pertanyaan Alpha hanya bisa menutup kembali mulutnya. Sedang Alpha yang langsung mengusap dadanya karena terkejut hanya bisa menatap Leon dan Starla secara bergantian. Dan Starla hanya bisa memejam menahan malu sambil menundukkan kepalanya dengan mulut komat-kamit terus mengutuk dirinya sendiri.
"Baiklah.. Lanjutkan urusan kalian."
Balas Alpha yang langsung melangkah masuk ke dalam Cafenya, menyisahkan Starla dengan wajah kesalnya saat kembali menatap wajah Leon yang sedang tersenyum sambil mengedikkan bahunya.
"Yaakk.. Yoon.. "
"Apa lagi?"
"Kau... "
"Kau sudah melukai betisku kemarin, seharusnya kau tanggung jawab, kau bahkan belum meminta maaf padaku."
"Itu salahmu sendiri, kenapa kau... "
Kalimat Starla lagi-lagi terhenti dengan tubuh yang seketika membeku saat dengan tiba-tiba Alpha kembali muncul dari dalam cafe dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Kenapa kau tidak mengajak kekasihmu untuk masuk kedalam?" Ucap Alpha sambil menatap Leon dan Starla secara bergantian, yang hanya di balas anggukkan oleh Leon yang langsung menarik tangan Starla.
Astaga, yang benar saja. Pria kurus ini bukan kekasihku, jadi berhentilah menyebut Yoon kekasihku, aku mohon.. jangan membuatku hilang semangat Tuan Khandra.
Starla antara kesal dan bahagia hanya bisa menurut dan mengikuti langkah kaki Leon, tampa berniat sedikitpun untuk menolak, saat ini ia merasa berbunga sebab dengan secara langsung Alpha mengundangnya masuk ke Cafe.
Kendati Starla yang sudah dua tahun terus memperhatikan gerak gerika Alpha, bahkan jarak Toko bunganya dan Cafe milik Alpha hanya beberapa meter saja, namun sekalipun ia tidak pernah masuk kedalam Cafe tersebut. Selama ini ia hanya terus memperhatikan aktifitas pria itu dari Tokonya.
Dan saat berada di dalam Cafe Alpha yang jauh lebih hangat dengan suasana yang begitu nyaman, Starla langsung menyamankan duduknya di sebuah kursi yang terletak di samping jendela pilihan Alpha. Dan yang membuatnya semakin nyaman sebab, selain Leon yang tengah duduk di sampingnya, di sana ada Alpha juga yang ikut duduk tepat di hadapannya yang masih berkonsentrasi dengan tablet di tangannya. Dengan senyum yang tidak di sadarinya Starla terus memperhatikan wajah tampan yang penuh kharismatik di hadapannya itu dengan penuh kekaguman, jantungnya masih berdetak dengan sangat kencang, hingga membuat wajahnya kembali merona, di tambah lagi saat Alpha yang secara tiba-tiba langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk dan langsung menatap wajahnya Starla hingga mereka saling beradu pandang.
Kenapa wajahnya sangat merah, apakah dia baik-baik saja? apa dia sakit? tapi dia terlihat sangat manis.
Batin Alpha saat pertama kali melihat wajah dan senyum Starla yang semakin terlihat gugup dan malu. Bahkan kebahagiaan Starla menjadi tumbuh berkali-kali lipat, jika mengingat ini untuk yang pertama kalinya Alpha membalas senyumannya meski tidak berlangsung lama, sebab netra Alpha kembali tertuju kepada Leon yang masih menikmati kopi di tangannya.
"Apa ada masalah?"
Tanya Leon saat menyadari ekspresi yang tidak biasa dari Alpha yang nampak sedang menarik nafas dalam usai melihat beberapa emaiyang masuk dari tabletnya, satu reaksi yang sudah sangat di pahami oleh Leon sebagai adik sepupunya yang sudah lama tinggal bersamanya.
"Apa semua berjalan baik?"
"Hmm,"
"Apa dari Dareen?" Tanya Leon yang kembali dan lagi-lagi Alpha hanya membalas pertanyaannya dengan anggukkan pelan untuk mengiyakan pertanyaan Leon.
"Ada apa, apa ini masalah serius?"
"Untuk saat ini belum bisa di katakan serius," Balas Alpha yang langsung membuat Leon mengerti. Mungkin bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah Perusahaan di sini sebab saat ini mereka tidak hanya berdua.
Sedang Starla yang sejak tadi menyimak dengan seksama obrolan singkat kedua pria tersebut membuatnya hanya terdiam, apalagi saat melihat ekspresi kedua pria tampan itu yang nampak terlihat sangat serius, hingga semakin membuat Starla merasa tidak nyaman untuk berada di tengah-tengah mereka.
"Maaf.. Sebaiknya saya permisi," Ucap Starla perlahan dengan nada selembut mungkin.
"Kenapa terburu-buru?"
Sambar Leon saat melihat Starla yang sudah bersiap untuk berdiri, hingga membuat pantat gadis itu menggantung antara duduk kembali atau lanjut berdiri. Dan akhirnya Starla lebih memilih untuk duduk kembali saat Alpha mengalihkan pandangannya dan langsung menatapnya.
"Sepertinya kalian berdua butuh ruang untuk berbicara, saya.."
"Tsk, tidak perlu sungkan, lagi pula sejak kapan kau menjadi sangat sensitif dan formal begitu? Apa? Saya?"
Ucap Leon yang lagi-lagi hanya bisa membuat Starla mendongkol dan sedikit melototi Leon dengan mulut yang terlihat komat kamit, sedang Alpha hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah lucu Starla, dan entah sudah beberapa kali Alpha tersenyum di pagi ini karena Starla.
Aku bersumpah akan mencekikmu Yoon, awas saja kau nanti.
Batin Starla sambil menekuk wajahnya kesal.
"Berhenti menggoda kekasihmu." Ucap Alpha perlahan.
"SIKURUS INI BUKAN KEKASIHKU."
Seru Starla reflek dengan nada yang sedikit meninggi, dan lagi-lagi membuat Alpha dan Leon terkejut, sampai-sampai Leon harus mengusap-usap dadanya yang terasa panas sebab tersedak kopi.
"Yaakk.. Pagi ini kau memakan mercon berapa banyak?" Protes Leon seraya mengusap dagunya yang terkena kopi.
"Ma.. Maaf,"
Jawab Starla perlahan sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah, dengan sesekali melirik ke arah Alpha, hingga ia bisa dengan jelas melihat wajah syok dari Alpha yang lagi-lagi di buat terkejut olehnya.
Astaga, sudah berapa kali aku membuatnya terkejut pagi ini, aaissh dasar bodoh.. Bodoh.. Bahkan tidak ada yang berjalan dengan lancar, apa dia akan menganggap ku sebagai seorang gadis yang aneh setelah ini? ah tidaak..
Benak Starla yang kembali mengutuk dirinya sendiri.
"Tapi dia bukan kekasihku." Ucap Starla lagi dengan suara pelan bahkan terdengar seperti berbisik, sambil menatap Alpha, seolah kata-kata yang di keluarkan olehnya barusan di tujukan untuk Alpha.
"Maaf, kalau aku salah." Balas Alpha dengan senyum tipisnya.
"Dia Starla Galenka, sahabatku, Starla juga pemilik toko bunga di depan sana, tepat di depan Cafe ini." Sambung Leon sambil menyesap kopi miliknya.
"Oh.. "
Balas Alpha mengangguk, tidak heran jika gadis itu selalu berada di depan cafenya tiap pagi, pandangan Alpha tertuju kesebrang jalan, tepat di sebuah Toko bunga bercat merah muda.
"Aku Alpha," Balas Alpha kembali menampakkan senyumnya.
"Tidak perlu memperkenalkan diri, Starla sudah mengetahui nama bahkan semua hal tentang kammmmbbb..."
Lagi-lagi dengan gerakan cepat Starla membekap mulut Leon sambil tertawa renyah menatap Alpha.
"Ah.. Iya.. Tuan Alpha,"
"Tidak perlu memanggilku dengan sebutan seperti itu, panggil saja Alpha."
"Maaf.. Tu.. Alpha.. "
Balas Starla tersenyum hingga melupakan jika telapak tangannya masih menempel dengan rapat di mulut Leon yang sudah sejak tadi menatapnya horor.
"Ah.. Maaf.. "
Ucap Starla perlahan sambil menjauhkan tangannya dari mulut Leon yang langsung menghirup udara untuk menggantikan oksigen dari mulutnya yang hampir habis.
"Baiklah.. Kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih atas kopinya."
Sambung Starla yang langsung beranjak dengan sedikit membungkuk dan melangkah keluar sebelum Leon menyemprotnya dengan segala macam omelan. Sebab Starla sudah sangat mengenal Leon, bahkan sedikit banyak ia sudah mengetahui sifat sahabatnya itu, teman sekolahnya yang dianggap sangat menyebalkan itu, meski demikian Starla tetap bahagia memiliki sahabat seperti Leon yang selalu melindunginya selama ini.
"Dia gadis yang cukup lucu."
Pujian yang terlontar begitu saja dari mulut Alpha yang tentu saja membuat Leon terkejut, sebab ini kali pertamanya mendengar seorang Alpha memuji seorang gadis, apalagi di sertai dengan senyuman kecil.
"Tentu saja, Starla memang gadis yang lucu."
"Yoon.. "
"Hmm.. "
"Sepertinya kita harus kembali ke Korea." Ucap Alpha yang nampak terlihat serius.
"Sekarang?" Tanya Leon.
"Tidak, tapi dalam waktu dekat ini."
"Apa terjadi sesuatu dengan BRT GRUP atau.. "
"Tidak. Ini masalah dari seorang investor asing yang memaksakan ingin bekerja sama dengan BRT GRUP, tapi yang jadi masalahnya, Presdir dari Perusahaan tersebut adalah anak dari seorang Mafia yang cukup terkenal, dan.. "
"Dan?"
"Orang itu sangat dekat dengan Chris Cullen."
"Chris Cullen?"
"Hmm.. Kau sendiri tahu, aku sudah tidak ingin berhubungan dengan keluarga Cullen lagi."
"Yah, kau tinggal menolaknya saja kan?"
"Sudah berulang kali Dareen menolaknya, bahkan Dareen sudah menggunakan berbagai macam cara untuk menolaknya, tapi pihak Perusahaan itu tetap memaksa dan ingin bekerja sama dengan BRT GRUP entah kenapa mereka sangat tertarik dengan Perusahaanku." Balas Alpha yang terus berfikir sambil menopang dagunya di atas meja.
"Sebaiknya kau terus waspada All, aku hanya khawatir, meskipun Chris Cullen sudah meninggal, tapi dia masih mempunyai banyak kolega di luar sana."
"Sungguh merepotkan, kita tinggal menunggu saja kabar selanjutnya dari Dareen, dan yang aku dengar pemilik Perusahaan itu adalah seorang yang sangat keras kepala, arogan, dan sangat kaku." Balas Alpha, dan yang anehnya Leon langsung menatapnya lekat hingga membuat Alpha mengernyit bingung dengan ekspresi dari Leon.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Alpha mengernyit.
"Bukankah sifat orang itu juga sama sepertimu? Dingin, arogan, keras ke...."
"Yaaakk... Hentikan." Protes Alpha.
"Tsk, kau seolah sedang membicarakan dirimu sendiri Tuan Alpha Khandra."
"Aaauuwww.. YAAAKK... BERHENTI MEMUKULI KEPALAKU."
Teriak Leon sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang baru saja terkena telapak tangan dari Alpha yang sedang menyesap kopinya dengan wajah tidak bersalah.
"Kenapa aku jadi tiba-tiba merasa jika kau sangat cocok dengan si kuda liar itu." Ucap Leon kesal.
"Ku.. Kuda? Maksudmu?" Tanya Alpha mengernyit.
"Yah.. Sikap kalian bahkan sama."
"Siapa yang kau maksud dengan kuda liar? Dan kenapa aku mesti sama dengan hewan itu?" Tanya Alpha yang sepertinya belum mengerti dengan apa yang di maksud oleh Leon.
"Siapa lagi kalau bukan gadis penjual bunga itu."
"Dia? Jadi, yang kemarin membuat betismu terluka itu dia? Sungguh? Hahaha.. Kau pantas mendapatkannya." Balas Alpha yang tiba-tiba terbahak.
"Apa kau gila? Ternyata kalian memang sama saja." Protes Leon kesal.
"Menurutku dia gadis yang lucu."
"Tentu saja dia lucu, selain lucu dia juga gadis yang sangat ceroboh." Ucap Leon.
"Sepertinya kau sudah sangat lama mengenalnya."
"Yah begitulah.. "
"Kenapa kau tidak menjadikan dia sebagai kekasihmu saja? aku rasa kalian cukup serasi,"
"What? Yaakk... Begini-begini aku juga mempunyai kriteria sendiri, aku lebih menyukai wanita yang memiliki tubuh yang ramping, berdada besar dan berpinggul indah." Ucap Leon dengan senyumnya.
"Dasar mesum." Balas Alpha menggeleng.
"Hei... Ini soal selera, dari pada menyuruhku untuk memacari Starla, kenapa tidak kau saja? Bukankah kau tipe pria yang tidak mempunyai kriteria khusus untuk seorang gadis?" Balas Leon yang tiba-tiba saja membuat telinga Alpha kelihatan memerah.
"Ada apa dengan telingamu? Yaakkk jangan bilang kalau kau juga menyukai gadis ceroboh itu."
"Aku? Kau yakin?" Tanya Alpha dengan wajahnya yang terlihat polos.
"Apa? Bukankah seharusnya aku yang mesti bertanya seperti itu? Astaga.. Ternyata benar apa yang di katakan Dareen, kau benar-benar sangat payah dalam urusan perasaan dan Wanita." Balas Leon menggeleng prihatin, sedang Alpha hanya bisa mengendikkan bahunya, dengan pandangan mata yang kembali tertuju ke sebuah bangunan bercat merah muda yang berada tepat di depan Cafenya.
Bahkan ia semakin memperjelas pandangannya, saat di sana ia bisa melihat sosok Starla yang sedang menata bunga-bunganya sambil bersenandung, lanjut dengan alat pel yang di pegangnya dan mulai mengepel lantai Tokonya dengan penuh semangat.
Edrea.. Dia sangat mirip dengan tingkah Edrea, gadis yang lucu.
Batin Alpha yang masih asik memandang keluar jendela, bahkan terlihat jelas jika saat ini ia sedang tersenyum yang membuat Leon bergidik ngeri sambil memegangi Tengkuk lehernya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.