I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Sesuatu yang mengganggu



"Selamat datang Axel, senang bertemu denganmu," sapa Alpha yang langsung di balas senyum oleh Axel yang juga ikut melongo, bahkan tak mampu berucap apa pun. Reaksi yang tak jauh berbeda seperti ke empat pria yang sudah duduk di sana.


"Alpha, turunkan aku sekarang juga," bisik Emery yang mulai bergerak gelisah saat melihat tatapan mata para tamu yang tertuju pada mereka. Dan Leon, satu-satunya orang yang hanya tertunduk dengan senyum di bibirnya, bahkan Emery bisa melihat sangat jelas senyum dari sudut bibir kedua wanita yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


"Berhenti bergerak, dan diamlah," balas Alpha yang tak menghiraukan permintaan Emery sama sekali, bahkan ia terus menggendong istrinya menuju meja makan dan mendudukkannya di sebuah kursi dengan perlahan. "Selamat pagi Ibu," sambungnya menyapa sang Ibu, sebelum menciumi pipi Allen lembut, lalu berganti menyapa Carolyn sang ibu mertua.


"Oh, kalian terlihat begitu manis hari ini? Ibu sangat menyukainya," ucap Allen semakin melebarkan senyum.


"Apa kalian akan melakukan hal itu sepanjang hari? Bukankah sebaiknya kita tidak harus berlama-lama di sini?" sambung Carolyn, meneguk air mineral sambil menatap wajah Emery yang merona, juga sang menantu yang nampak biasa saja, bahkan tersenyum puas saat mendapati Emery yang nampak tersipu. Ia selalu menyukai ekspresi istrinya jika sedang merasa malu.


"Bagaimana kabar kalian? Apa semua berjalan baik?" tanya Alpha kepada sang asisten, Darren dan kedua pengawalnya yang sengaja ia undang untuk makan siang bersama.


Bahkan dari gelagat Darren juga kedua pengawalnya, Alpha sudah bisa menebak jika saat ini sedang terjadi masalah. Namun, ia enggan untuk menanyakan hal tersebut secara langsung, mengingat di antara mereka terdapat tiga wanita yang sudah pasti tak ingin di buat khawatir.


"Ya, semua berjalan dengan baik, Tuan," angguk Darren seperti biasa.


"Baiklah, sebaiknya kita mulai makan siang, kita bisa berbincang setelah ini," balas Alpha kembali mengusap rambut panjang Emery yang duduk di sampingnya sebelum mengalihkan atensinya kearah Leon yang masih melongo saat baru saja melihat bagaimana seorang Alpha memperlakukan istrinya.


"Apa kau akan terus diam sambil menatap makananmu, Leon?


"Kau yang membuatnya?" tanya Leon sambil mengamati semua masakan yang sudah tersaji di atas meja.


"Hmm,"


"Kau yakin ini bisa di makan?" 


Alpha menghela napas pelan.


"Kau bisa pulang jika tak ingin memakan ...."


"Aku hanya khawatir, jika mereka tidak bisa menikmati makanannya, sebab mereka tak akan bisa protes jika cita rasa masakan ini merusak indera perasa mereka," potong Leon secara terang-terangan hingga membuat Darren, Akirra, Axel, dan Augusto nyaris menyemburkan makanan mereka jika saja tak lekas meminum air putih secara bersamaan hingga menarik perhatian Alpha dengan alisnya yang mengernyit. Cukup aneh saat melihat mereka terlihat begitu kompak ketika berada di meja makan.


"Hentikan kekhawatiranmu yang tidak jelas itu dan makanlah," balas Alpha berusaha bersikap lebih sabar.


"Oh ayolah, kenapa tidak menyuruh Varela saja yang menyiapkan semuanya untuk ...."


"Yoon," panggil Allen perlahan, tak ingin ada perbedaan atau perang garfu di meja makan seperti apa yang biasa mereka lakukan dulu.


"Ya, Zia. Aku hanya kurang yakin, ia bisa memasak dengan benar atau tidak," bisik Leon sedikit tersenyum menyantap makannya saat melihat wajah datar Alpha. 


Bahkan ia terlihat mengangguk kecil sambil mengunyah. Pertanda jika lidahnya cocok dengan masakan Alpha. Sedang empat pria lainnya hanya bisa tertunduk menahan rasa yang menggelitik perut mereka saat mendengar perdebatan kecil tersebut.


"All, makanlah," sambung Emery usai menaruh beberapa menu di piring Alpha, tersenyum manis sebelum mulai dengan satu suapan ke mulutnya.


"Terima kasih," balas Alpha dengan satu usapan lembut di pucuk kepala.


Acara makan siang pun berlangsung, tidak ada obrolan serius yang terdengar. Hanya obrolan biasa di temani suara dentingan piring dan garpu yang saling beradu, hingga makan siang berakhir. Dan perbincangan mereka berlanjut di ruang tengah dengan camilan sebagai menu penutup.


"Selama satu minggu ke depan, aku belum bisa ke kantor, kau tahu. Aku masih memiliki waktu liburan. Dan aku ingin kau mengurus semuanya untuk sementara waktu," ucap Alpha membuka pembicaraan sambil merangkul bahu istrinya, ia bahkan benar-benar tidak ingin berjauhan dengan sang istri meskipun hanya sejengkal.


"Ya, Tuan."


"Terima kasih, dan jika memungkinkan kita mungkin akan berangkat ke Seoul untuk bulan madu, dan satu hal terpenting," ucap Alpha mengalihkan pandangannya ke arah Augusto. "Jaga Ibu dan Leon untukku, karena Akirra akan ikut denganku," sambungnya yang membuat Leon melongo.


"Menjagaku?" tanya Leon menunjuk wajahnya sendiri.


"All, sebaiknya kau tak perlu sekhawatir itu, Nak. Ibu akan baik-baik saja," timpal Allen yang sangat memahami kekhawatiran puteranya selama ini. Meski ia merasa jika Alpha semakin overprotective kepada mereka.


"Aku tahu. Tapi tetap saja, Ibu membutuhkan seorang pengawal," balas Alpha yang terlihat tak ingin di bantah. "Dan Leon, awasi dia. Jangan biarkan dia sering berkeliaran di klub malam untuk mabuk-mabukan. Jika kau tidak ingin tidur malammu terusik oleh tingkah tak masuk akalnya," sambungnya menatap Leon yang hanya diam dengan satu sudut bibir sedikit terangkat ke atas.


"Tsk."


"Kau keberatan?"


"Sebaiknya ikuti perintahku." 


"All ...."


"Augusto akan menjaga kalian sementara Akirra ikut bersamaku. Dan aku akan akan mencari pengawal baru untukmu," potong Alpha.


"Apa kau serius? Aku tidak ...."


"Bukankah sudah aku katakan, jangan ada bantahan?" sambar Alpha menatap tajam hingga membuat Leon tak berkutik dan hanya bisa mengangguk.


Tak percaya jika Alpha memiliki ide yang tidak masuk akal menurutnya. Namun, tak bisa mengatakan 'tidak' untuk menolak. Ia sangat tahu karakter Alpha. Dan tidak akan berakhir baik, jika sampai ia mengatakan 'tidak'.


Sejak Leon pernah terluka ketika insiden satu bulan yang lalu, Alpha tiba-tiba berubah menjadi sangat overprotective kepadanya, begitupun juga dengan Ibunya, bahkan sejak saat itu, semua yang mereka lakukan harus dengan seijin Alpha. Dan Emery yang sudah mengenal dan hidup bersama Alpha cukup lama, bisa sangat memahami sikap suaminya saat ini, dan sepertinya ia juga harus bersiap dan membiasakan dirinya untuk menghadapi sikap overprotective suaminya yang sedikit berlebihan,


Di mana saat Alpha selalu ingin berada di sampingnya, bahkan ia yang tidak boleh jauh dari jangkauan pandangan pria itu jika sedang berada di rumah. Alpha yang selalu membatasinya untuk melakukan hal-hal apa pun yang menurut pria itu tidak penting, dan Alpha yang tidak mengizinkannya keluar rumah tanpa dirinya.


Sungguh Emery hanya akan menurut, selama ia merasa bahagia dengan cinta, kasih sayang, dan seluruh perhatian Alpha untuknya, bahkan ia sudah tidak menginginkan apa pun lagi di dunia ini. Sebab Alpha yang bisa menjadi sosok seorang suami, Ayah dan juga seorang teman untuknya sudah sangat melengkapi hidupnya.


"Baiklah, Ibu dan Yoon akan mengikuti peraturanmu," ucap Allen tersenyum, dan kembali menatap Leon dengan anggukan kecil, mengisyaratkan jika sebaiknya pria itu tak perlu menentang apa pun. "Bukan begitu, Yoon?"


"Zia ...."


"Sshhh."


"Ahh, baiklah. Aku menyerah," balas Leon memijat tengkuk lehernya yang seketika menegang.


 "Axel, bagaimna usahamu? Apa berjalan dengan lancar? Kita bahkan tidak banyak mengobrol malam itu," tanya Allen. Seandainya saja ia tahu jika beberapa waktu lalu, putera kesayangannya baru saja menghancurkan lantai dasar klub milik Axel.


"Semua berjalan dengan lancar Zia," balas Axel. Sedang Alpha terlihat mengalihkan pandangan ke tempat lain dan lebih memainkan rambut Emery. Berharap Axel tak mengungkit perihal perkelahian dirinya malam itu.


"Oh baguslah," angguk Allen.


"Kita akan membahas soal pekerjaan di ruang kerjaku," sambung Alpha, menatap mereka semua terkecuali ketiga wanita yang sedang menikmati dessert, hidangan penutup sambil menonton acara TV. "Sayang, aku akan ke ruang kerja sebentar. Ada hal yang harus aku bahas bersama mereka," sambungnya, dan hanya di balas anggukan oleh Emery yang masih menggigit ujung sendok saat usai mencicipi satu suapan dessert coklat strawberry favoritnya.


Hingga ke lima pria itu berdiri dan mengikuti langkah lebar Alpha menuju ruang kerjanya yang terletak paling ujung, melewati taman berumput hijau, dan kolam ikan kecil dengan air mancur buatan, letaknya juga tidak begitu jauh dari ruang keluarga.


Alpha sengaja membangun rumah di wilayah Castel guelfo di bologna saat kembali dari Munchen, bangunan yang terletak di Pearson avenue, rumah yang tidak bisa di lihat dari jalan lingkungan Castel guelfo lantaran di kelilingi oleh bukit dan sederet pohon besar juga perkebunan anggur dan zaitun. Bangunan dengan luas 1.100 M2, yang terdiri dari dua lantai dengan 4 kamar tidur, ruang kerja, ruang teater, dengan teras berkonsep lounge. Lengkap dengan kolam renang, indoor serta GYM ini menjadi hunian yang sempurna baginya juga sang istri. Sebuah rumah mewah yang pada akhirnya menjadi pilihan utama untuk ia tinggali bersama sang istri. Dan akan menjadi istana buat keluarga kecilnya.


"Apa kau sengaja membangun rumah ini untuk Emery?" tanya Leon yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru tersebut.


"Ya, mungkin kau benar, aku membangun rumah ini karena dirinya," jawab Alpha sekenanya, sebab hanya itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Masih melangkah hingga mereka memasuki sebuah ruangan dengan corak yang terkesan klasik, memberikan penilaian estetika, perpaduan sofa, dinding kayu dan meja hitamnya memberikan kesan elegant. Sungguh menggambarkan sang pemilik ruangan yang maskulin. Dengan dinding ekspos batu bata, rak buku berwarnah gelap, dan juga perpaduan material stainless pada meja dan jendela. Sungguh saling melengkapi dengan pencahayaan yang tepat.


"Apa kau menyimpan semua koleksi senjatamu di sini juga?" tanya Leon saat berdiri di tengah ruangan sambil mengamati ruang kerja milik Alpha.


"Kau bisa menemukannya di ruang bawah tanah. Namun, kali ini percayalah. Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan senjata lagi," balas Alpha yang langsung duduk di kursi kerjanya. Sedang ke limanya sudah duduk di sofa dan menunggu. "Ada apa? Sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan, Darren," sambungnya mengalihkan atensinya ke arah Darren.


"Kita kedatangan tamu yang tak di undang di hari pernikahan Anda malam itu," jawab Darren.


Alpha menyenderkan tubuh di sandaran kursi dengan alis mengernyit.


"Siapa?"


"Jackob Sean Almero, putera dari Albern Axton Almero, sindikat mafia yang berasal dari Amerika Serikat yang berlokasi tepat di Philadelphia dan Detroit," sambung Augusto yang benar-benar mengetahui asal usul keluarga Almero.


"Kenapa keluarga Almero bisa berada di acara pernikahanku?" tanya Alpha yang belum menyadari, jika pria bertopi yang berkelahi dengannya juga memporak-porandakan klub malam Axel beberapa hari yang lalu masih mengikutinya.


"Apa kau belum menyadarinya? Jika kalian baru saja menghancurkan klub Axel beberapa hari lalu?" balas Leon menyipit tak percaya dengan daya ingat Alpha ketika mabuk. Mustahil ia tak mengingat apa pun malam itu.


***