
OLDESVERN CASTEL.
"Will you marry me?"
"Yes. I want to marry you."
Permintaan yang masih terngiang di telinga Alpha saat ia kembali melamar sang kekasih Emery satu minggu lalu. Kata itu masih terasa sangat membahagiakan hingga saat ini. Saat di mana ia kembali mengucapkan janji suci kepada Emery yang disaksikan masing-masing keluarga besar Berta juga keluarga besar Cullen, para kerabat dan sahabat. Meski keduanya sepakat untuk menggelar acara pernikahan secara tertutup dengan mengatur keamanan yang super ketat agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Mengingat kehidupan mereka sebelumnya yang cukup kacau karena banyaknya masalah.
Dan Oldesvern Castel adalah lokasi yang Alpha pilih sebagai tempat pernikahan mereka. Castel keluarga Berta yang di lengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan para tamunya, resort eksklusif yang hanya memiliki 12 kamar saja, selain kamar yang mewah dan eksklusif, resort ini memiliki dua ballroom, serta taman yang tertata dengan rapi di bagian luar. Dan ballroom inilah yang menjadi lokasi pernikahan Alpha dan Aranka. Pesta pernikahan dengan bertabur 100 ribu bunga segar, serta pesta kembang api meriah.
Emery nampak anggun saat menggunakan busana pengantin berbahan sultra berwarna putih gading dengan mahkota berhias berlian di atasnya sehingga membuat tampilannya semakin memesona. Begitu juga dengan Alpha yang menggunakan setelan British style yang memiliki potongan jas fit body, hingga membuat penampilan Alpha semakin nampak elegan dan gagah.
Hingga sampai saatnya Alpha dan Emery di nyatakan sah sebagai sepasang suami-istri. Meski tidak mudah untuk melewati semuanya. Namun, dengan keteguhan dan kesabaran seorang Alpha, akhirnya ia berhasil meyakinkan keluarga Cullen, jika Emery adalah wanita yang ia pilih, wanita yang ia inginkan, dan wanita yang ia cintai.
"Berbahagialah, Nak. Berbahagialah selamanya," ucap Aleen menggenggam telapak tangan puteranya, bersamaan dengan air mata yang kembali menitik saat berakhir di dalam pelukan Alpha.
Begitu juga dengan Carolyn yang sejak tadi terus terisak. Pernikahan sang puteri kembali mengingatkan dirinya dengan sosok Chris Cullen, sang suami yang sudah meninggal tiga tahun lalu, begitu juga dengan sang putera Elard yang pasti akan sangat bahagia jika menyaksikan kebahagiaan kakaknya saat ini.
Kau memperkenalkan dan memberikan puteri kita seorang pria yang tepat, aku rasa. Meskipun pada awalnya kehidupan mereka sangat buruk, dan puteri kita amat menderita. Namun, pada akhirnya aku bisa melihat kebahagiaan di wajah puteri kita sekarang. Kebahagiaan yang tidak pernah aku lihat selama ini. Apa kalian bisa melihatnya? Emery kita sangatlah cantik saat ini.
Carolyn terus mengeluarkan air mata. Di hari bahagia ini ia justru banyak menangis sebab kembali merindukan mendiang suami dan puteranya.
"Nyonya, saya mohon. Berhenti menagis. Nona Emery pasti akan sangat khawatir jika melihat Anda bersedih," bujuk Areta saat mendapati Carolyn yang terus menitikan air mata.
"Aku benar-benar merindukan mereka, Areta. Sangat merindukan puteraku Elard, dan ... Chris. Aku merindukannya," balas Carolyn mengambil beberapa tisu untuk mengusap air matanya. Dan tentu saja pemandangan itu cukup membuat Emery cemas, lekas menghampiri sang ibu
"Ibu. Please don't cry," ucap Emery mengusap air mata sang Ibu dengan lembut sebelum memeluk berakhir memeluknya.
"I'am so sorry, ibu hanya merindukan Ayah dan adikmu," balas Carolyn di bahu Emery yang tengah mengusap punggungnya lembut untuk menenangkan.
Carolyn melepaskan pelukan sambil mengusap sisa air mata di wajahnya sebelum menangkup wajah cantik sang puteri.
"Ahh, aku terlalu sensitif," ucapnya. "Lihatlah dirimu, Nak. Kau sangat cantik. Ibu berdo'a akan kebahagiaan kalian selalu, selamanya. Berjanjilah untuk terus bersama. Meski kalian harus kembali melewati hari-hari buruk. Ibu tak pernah menginginkan hal itu terjadi. Ibu hanya ingin kalian selalu bersama di saat sedih ataupun bahagia, dalam suka dan duka. Tetaplah bersama."
"Tentu saja, Ibu. Tentu," balas Emery berkaca. "Terima kasih karena terus mendo'akan kami, aku menyayangimu, sangat menyayangimu."
Sedang di tempat yang berbeda, tak jauh dari mereka berdiri, terlihat Alpha yang juga tengah menemani beberapa tamunya. Ia yang di dampingi Leon, Darren, Akirra dan Augusto nampak gelisah, bahkan sesekali pandangannya tertuju ke arah sang istri yang saat ini juga tengah berbincang dengan para tamu.
"Sebaiknya temani dulu para tamu sebentar. Emery tak akan menghilang," bisik Leon saat mendapati Alpha yang terus gelisah.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menemani tamuku malam ini?"
"Aku sudah melakukannya, tapi lihatlah. Kau memiliki banyak tamu malam ini. Sepertinya kau masih harus di sini beberapa jam lagi."
"Yang benar saja, aku tidak bisa selama itu. Ayolah, Leon. Aku merindukan Emery, setidaknya biarkan aku menghabiskan banyak waktu dengannya malam ini. Bukan dengan para tamu," keluh Alpha masih berbisik. Namun, sangat terdengar jelas di pendengaran Darren yang hanya tersenyum tipis. Berharap tidak ada perdebatan lagi di antara keduanya seperti hari-hari sebelumnya.
"Selamat atas pernikahanmu, Alpha," sapa seorang pria yang baru terlihat. Menghampiri Alpha yang langsung menyambutnya.
"Thanks, Axel. Senang melihatmu di sini, dan maaf atas insiden di Bar milikmu malam itu. Aku menyesal," ucap Alpha, saat kembali mengingat insiden di mana ia sempat membuat keributan dengan seorang pria lainnya hingga sampai menghancurkan sebagian isi Bar milik Axel yang tak lain adalah seorang kerabat dekat yang juga berasal dari keluarga Berta.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, Alpha. Semua sudah kembali normal," balas Axel.
Bahkan belum lama Axel meninggalkan dirinya dan menghampiri Allen setelah berbincang sebentar dengan Leon dan Darren, kini dokter Wil menyapa, dan beberapa tamu penting lainnya lagi. Hingga membuat Alpha benar-benar gelisah meski senyum di wajahnya tak pudar. Namun, pandangan matanya tak luput dari kekasihnya Emery.
Sedang pandangan Darren tiba-tiba tertuju pada satu sosok asing di sebuah kursi tamu, duduk menyilangkan kaki dengan segelas red wine di tangannya. Menatap tajam ke arah Emery dan juga Carolyn, dengan senyum smirk terlihat menghiasi wajahnya yang masih terlihat muda, bahkan masih seumuran dengan Akirra.
***