I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
EXTRA CHAPTER.



...RUMAH TANGGA ALPHA DAN EMERY....


Emery terdiam di atas balkon kamarnya, sembari membiarkan angin malam menyapa wajah polosnya yang tampa makeup, bahkan rambutnya masih terbungkus handuk kecil. Rasa bahagia kembali memenuhi ruang hati Emery, kala ia kembali menginjakkan kakinya di kamar ini lagi, kamar yang dua stengah tahun lalu pernah ia huni seorang diri, namun sekarang, ia tidak sendiri lagi. Di sana nampak sosok Alpha yang hanya menggunakan sebuah handuk untuk menutupi stengah tubuhnya. Tengah berjalan menghampirinya dengan senyum yang sudah menjadi favoritnya sejak beberapa minggu terakhir ini. Senyum penuh kehangatan yang nyaris tiap saat di lihatnya bahkan sudah menjadi candunya.


"Sayang.. "


"Hm,"


"Apa kau tidak merasa kedinginan dengan terus berdiri di sana?" Tanya Alpha yang langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Bahkan kau belum mengeringkan rambutmu, kau bisa terkena flu." Sambung Alpha yang langsung membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya.


"Biar aku bantu mengeringkannya." Pinta Alpha yang langsung melepaskan handuk kecil yang membungkus rambut istrinya dan mulai mengusap pelan rambut istrinya.


"Sayang.. Bukankah kau mengusapnya terlalu pelan?" Tanya Emery.


"Benarkah? tapi.. Aku takut menyakitimu jika aku mengusapnya dengan keras,"


"Tidak, itu tidak akan sakit."


"Benarkah? Jadi... Jika aku menyelesaikan ini, apa aku boleh meminta bayaranku?" Tanya Alpha dengan sedikit berbisik sambil terus mengusap rambut istrinya.


"Ha? Maksudnya?"


"Bukankah aku masih harus menyelesaikan tugasku sebagai seorang suami?"


"Sayang.. Bahkan kita sudah melakukannya berulang kali." Ucap Emery gugup saat Alpha mulai mendekatkan wajahnya dan mulai menghirup aroma segar yang terasa manis dari rambut istrinya. Bahkan lengan kekarnya mulai merangkul pinggang istrinya dan menariknya hingga menempel sempurna di tubuhnya yang hanya bertelanjang dada.


"Maaf, tapi itu masih kurang." Bisik Alpha sambil mengecup daun telinga istrinya yang hanya pasrah, apalagi saat Alpha kembali menggendong tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur.


"Kita harus fokus, agar cepat memiliki Alpha junior," Bisik Alpha dengan senyum miringnya yang seolah tengah menikmati raut wajah merona istrinya.


"Aku mencintaimu Riry," Bisik Alpha setelah mengecup dahi istrinya, bahkan ia terus mengucapkan kalimat tersebut layaknya mantra saat ia usai mengecup semua bagin dari wajah istrinya.


"I also really love you my husband," Balas Emery dengan senyum bahagianya, bahkan air mata sempat menitik dari sudut matanya, jika mengingat sudah puluhan kali ia mendengarkan kata cinta dari suaminya.


Dan merekapun larut dalam suasana panas penuh cinta dan gairah, hingga waktu malam mulai beranjak menuju pagi, di pukul jam empat pagi, Alpha baru membiarkan Istrinya terlelap dalam pelukannya. Setelah ia membersihkan seluruh tubuh istrinya yang hanya pasrah karena kelelahan.


"Aku mencintaimu Emery Cullen, sungguh mencintaimu, Berjanjilah.. Kau tidak akan meninggalkan aku." Bisik Alpha seraya membelai rambut istrinya yang masih basah oleh keringat.


Setelah puas mengecup kepala istrinya, Alpha akhirnya tertidur pulas tampa melepaskan dekapannya, bahkan tubuh ramping Emery nyaris tidak terlihat saat tenggelam di dalam pelukan hangat suaminya.


* * * * *


"Good morning my queen,"


Sapa Alpha lembut yang semakin mempererat pelukannya saat merasakan pergerakan dari tubuh Emery bahkan senyum langsung terkembang dari bibirnya saat melihat kelopak mata Emery yang tengah bergerak dan perlahan terbuka, hingga mata kecoklatan yang indah milik Emery menyapa Alpha yang langsung menghujaninya sebuah ciuman.


"Apa aku kesiangan?" Tanya Emery dengan suara seraknya sambil mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dan menyapa retinanya dari sela tirai jendela kamar mereka.


"Tidak sayang, ada apa?" Alpha yang bertanya balik sambil mempererat pelukannya.


"Sayang... Ibu Aleen juga Ibu dan yang lainnya akan ke sini untuk makan siang bersama. Kita harus bergegas." Jawab Emery saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


"Hm, Aku tahu." Balas Alpha yang masih tetap pada posisinya dan tidak bergerak sedikitpun.


"Ayolah sayang.. Bukankah kita harus bergegas untuk menyiapkan semuanya?"


"Tentu saja, tapi sebelum itu... "


"Sayang... Aku benar-benar kesiangan sekarang, dan itu akibat ulah siapa?" Tanya Emery perlahan saat melihat Alpha yang mulai menghujaninya dengan kecupan.


"Kita bisa melanjutkannya nanti." Balas Alpha berbisik seraya mengusap pucuk kepala istrinya.


"Terimakasih kasih sayang,"


"Hm baiklah, dan sepertinya.. aku harus.. "


"Sayang... Aku bisa sendiri." Protes Emery saat Alpha yang sudah beranjak darimu tidurnya, beringsut turun dari tempat tidur dan langsung menggendong tubuh istrinya hingga terlihat seperti seekor Ibu koala yang tengah menggendong bayinya.


"Siang ini biar aku yang membuat sarapannya," Ucap Alpha yang langsung melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju konter pantry.


"Sayang, apa kau benar-benar bisa melakukannya?" Tanya Emery yang nampak ragu saat melihat Alpha yang mulai mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.


"Apa kau sedang meragukan suamimu sekarang?" Tanya Alpha yang kembali menghujani Emery dengan kecupan.


"Hm, Tuan muda sepertimu tidak mungkin bisa melakukannya,"


"Sebelum menikahimu, aku sengaja meminta Ibu untuk mengajariku masak, agar nanti bisa memasak untukmu."


"Benarkah? Tapi aku bisa melakukannya sayang, dan memasak sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri."


"Tidak, kali ini biarkan aku yang memasak untukmu, seperti saat dulu, kau yang sering melakukannya untukku."


"Terimakasih Sayang," Balas Emery berbinar dan semakin mempererat pegangan tangannya di leher Alpha yang bahkan tidak berencana untuk menurunkan dirinya dari gendongannya. Hingga satu jam berlalu, masakan Alpha sudah tersaji di atas meja, bersamaan dengan suara sapaan selamat siang dari Nyonya Aleen, Nyonnya Caroline juga Leon dan Dareen.


"Sayang turunkan aku," Bisik Emery yang mulai bergerak gelisah saat melihat tatapan mata ketiganya tertuju pada mereka, Dan hanya Dareen satu-satunya orang yang hanya tertunduk dengan senyum di bibirnya, bahkan Emery bisa melihat jelas senyum dari sudut bibir kedua wanita yang sudah duduk di kursi masing-masing.


"Diamlah sayang..." Balas Alpha yang tidak menghiraukan permintaan Emery sama sekali, bahkan ia terus menggendong Emery menuju meja makan dan mendudukkan istrinya di sebuah kursi dengan perlahan.


"Selamat pagi Ibu," Sapa Alpha yang langsung menciumi pipi Nyonya Aleen lembut, lalu berganti menyapa Nyonya Caroline juga Dareen dan Leon yang masih melongo saat baru saja melihat bagaimana seorang Alpha memperlakukan istrinya.


" Apa kau akan terus diam sambil menatap makananmu?" Tanya Alpha yang berhasil membuyarkan lamunan Leon yang sudah mencapai tingkat atas, hingga akhirnya pria bertubuh tinggi tersebut sedikit tersentak sambil mengedipkan matanya berulang kali.


"Kau yang membuatnya?" Tanya Leon perlahan sambil terus menatap masakan yang sudah tersaji di atas meja.


"Hm, ada apa?"


"Kau yakin ini bisa di makan?"


"Yaakk.. "


"Yoon... " Seru Nyonya Aleen.


"Iya Bi," Jawabnya sedikit tersenyum dan mulai menyantap makannya saat melihat wajah datar Alpha.


"Sayang, makanlah... " Sambung Emery usai menaruh beberapa menu di piring Alpha.


"Terimakasih sayang," Ucapnya seraya mengusap pucuk kepala istrinya perlahan.


Hingga acara makan siang keluarga pun berlangsung, tidak ada satu kalimat pun yang terdengar di antara mereka, hanya suara dentingan piring dan garpu yang saling beradu, hingga makan siang berakhir. Dan perbincangan mereka berlanjut di ruang tengah dengan camilan dan cake sebagai menu penutup.


"Dareen.. Pekan ini aku dan Emery akan berangkat ke Kanada, dan BRT Grup aku titipkan padamu untuk sementara waktu."


"Baik Tuan, aku akan mengurus semua keperluan anda."


"Terimakasih Dareen, dan satu lagi yang terpenting, jaga Ibu dan Yoon untukku,"


"Ha?" Leon kembali melongo.


"All sayang, sebaiknya kau tidak perlu sekhawatir itu nak, Ibu akan baik-baik saja."


"Iya aku tahu Ibu, tapi tetap saja, dan juga Yoon, awasi dia, jangan biarkan dia sering berkeliaran di club malam untuk mabuk-mabukan. Jika kau tidak ingin tidur malammu terusik oleh kebrisikannya."


"Yaakk.. Hentikan, aku bukan bocah yang butuh pengawal." Protes Leon tidak terima.


"Sebaiknya ikuti perintahku." Jawab Alpha tegas.


Sejak Leon pernah terluka saat insiden satu bulan yang lalu, membuat Alpha berubah menjadi sangat overprotective kepada Leon, begitupun juga dengan Ibunya, bahkan sejak Alpha menikah, semua yang mereka lakukan harus seizin Alpha. Dan Emery yang sudah mengenal dan hidup bersama Alpha cukup lama, bisa sangat memahami sikap Alpha saat ini, dan sepertinya ia juga harus bersiap dan membiasakan dirinya untuk menghadapi sikap Overprotective suaminya yang sedikit berlebihan, meskipun demikian namun hal tersebut sangat membuat Emery bahagia, saat Alpha selalu ingin berada di sampingnya, Emery yang tidak boleh jauh dari jangkauan pandangan Alpha jika sedang berada di rumah, Alpha yang selalu membatasinya untuk melakukan hal-hal apapun yang menurut Alpha tidak penting, dan Alpha yang tidak mengizinkannya keluar kemana-mana tampa dirinya. Sungguh Emery hanya akan menurut, selama ia merasa bahagia dengan cinta, kasih sayang, dan seluruh perhatian Alpha untuknya, bahkan ia sudah tidak menginginkan apapun lagi di dunia ini. Sebab Alpha yang bisa menjadi sosok seorang suami, Ayah dan juga seorang teman untuknya sudah sangat melengkapi hidupnya, dan menjadi seorang yang sempurna untuknya.


* * * * *


Hari-hari berlalu cukup singkat bagi Alpha, semua kenangan masa lalu kembali terlintas dalam pikirannya, namun kali ini, semua kenangan itu tidak menghadirkan rasa marah yang kadang menyulut emosinya, namun membuatnya kembali bersyukur, sebab semua yang sudah ia lewati sangat membantunya untuk tumbuh menjadi seorang sosok yang lebih dewasa dengan pemikiran yang jauh lebih matang. Kenangan-kenangan menyakitkan yang sudah ia kubur dalam-dalam kini tergantikan dengan kenangan indah bersama Emery istrinya.


"Sejak kapan kau di sana?" Ucap Alpha yang kembali memberi pertanyaan kepada istrinya Emery yang saat ini tengah merangkul leher suaminya.


"Biar aku memelukmu," Pinta Alpha yang langsung meraih tubuh istrinya yang masih berdiri di punggungnya dan langsung membawa tubuh istrinya di dalam pangkuannya. Memeluk tubuh istrinya erat seolah tidak ingin melepaskannya.


"Apakah dia baik-baik saja?" Bisik Alpha sambil mengusap lembut perut Emery yang sudah membuncit dengan usia kandungannya yang sudah menginjak sembilan bulan.


"Dia cukup aktif di dalam sana."


"Benarkah?"


"Hm, bahkan sekarang putri kita tengah bergerak, dia sangat tahu, jika saat ini Daddynya tengah memeluknya." Jawab Emery yang sedikit meringis saat merasakan kontraksi kecil di perutnya akibat gerakan aktif sang bayi yang mulai menendang. Dengan perlahan Alpha mendudukkan tubuh istrinya dan duduk tepat di hadapan istrinya sambil menempelkan telinganya di permukaan perut buncit Emery.


"Apa Eleanor bahagia? Daddy harap Eleanor sehat-sehat di dalam sana, jangan rewel, kasian Mommy." Ucap Alpha yang tengah berbincang dengan Eleanor, nama janin yang masih berada di dalam kandungan Emery. Nama yang mereka berikan kepada calon bayi perempuan mereka.


"Eleanor bayi yang penurut," Sambung Emery tersenyum seraya mengusap lembut rambut legam suaminya yang masih betah menempelkan telinganya di perut buncitnya.


Hal yang selalu Alpha lakukan saat lelah dari semua pekerjaannya di Perusahaan, atapun saat Alpha tengah bahagia. Eleanor akan menjadi teman Alpha untuk berbincang.


"Terimakasih sayang, karena sudah menjaganya dengan baik selama sembilan ini, dan terimakasih karena sudah bersabar menjalani semua prosesnya, sungguh aku bangga padamu, kau 2anita yang kuat. Aku menyayangimu Emery," Ucap Alpha seraya menengadah ke atas dengan senyuman termanisnya, meski senyumnya tiba-tiba berubah dengan kepanikan saat melihat wajah Emery memerah seperti menahan rasa sakit, bahkan belaian lembut Emery di rambutnya yang tadinya lembut tiba-tiba berubah menjadi jambakan keras yang membuat Alpha ikut meringis kesakitan.


"Aargghhh.. Sayaaang... Eleanor.. sepertinya Eleanor akan... Arrgghhh..."


Kepanikan seketika menyerang Alpha saat melihat Istrinya mengerang kesakitan bahkan semakin kuat menjambak rambutnya.


"Sa... Sayang... Apa.. Sudah waktunya?" Tanya Alpha gugup


"Aahhkkk.. Berhenti bertanya dan cepaaat.. AARRGGHHH.. PANGGIL DOKTEEERR..." Teriak Emery yang membuat Alpha semakin panik.


"Baiklah... Tapi.... Ini... "


"CEPATLAAAAAAAH..... "


"Iya... Tapi lepaskan dulu tanganmu dari rambutku, sungguh ini menyakitkan sayang," Balas Alpha yang masih memegangi rambutnya yang nyaris tercabut akibat cengkraman kuat Emery.


Dan saat cengkraman tangan Emery terlepas dari rambutnya, Alpha langsung beranjak dan meraih ponselnya untuk menghubungi Dokter yang sudah ia tugaskan sejak awal kehamilan Emery untuk menangani proses bersalin Emery, bahkan kepanikannya masih berlanjut saat melihat cairan yang begitu banyak keluar dari tubuh Emery yang masih mencengangkan kursi untuk menahan sakit, dengan kedua lutut Emery yang terlihat bergetar juga keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.


"Sayang... Bersabarlah.. Apa, apa ini sakit?" Tanya Alpha panik dan kembali mengusap perut Emery.


"Menjauhlah... Aku bisa menyakitimu.."


"Tidak masalah sayang, jambaklah sesukamu, kau bisa menariknya, asal itu bisa mengurangi rasa sakitmu."


"AAARRGGGHH... "


"All apa yang terjadi? Kakak ipar? apa sudah waktunya kakak ipar akan melahirkan?" Tanya Leon panik saat mendengar suara teriakan Emery.


"Sepertinya begitu, Yoon, hubungi Ibu, CEPAAAT."


"DAREEEENNN..... DI MANA AMBULANCE?" Teriak Alpha ketakutan saat melihat tubuh Emery semakin bergetar.


"Ambulance sudah sampai Tuan," Jawab Dareen berlari menghampiri Alpha yang langsung menggendong tubuh Emery menuju Ambulance dan memasukkan kedalam, di susul Alpha yang langsung menarik tangan Leon masuk ke dalam Ambulance untuk menemaninya saat Leon akan melangkahkan kakinya menuju mobil Dareen.


"Dareen, jemput Ibu."


"Baik Tuan," Jawab Dareen yang langsung bergegas, begitupun dengan mobil ambulance yang langsung melaju meninggalkan Mansion menuju rumah sakit.


"AAAARRGGG... SA.. SAKIT.. " Jerit Leon saat tangan Emery lolos dan langsung menjambak rambut Leon, hingga membuat kepala Leon terayun mengikuti gerakan tangan Emery.


"Sayang... Lepaskan rambut Yoon, lehernya bisa patah, kau bisa menjambak rambutku, tapi lepaskan... AARRGGHHH.... "


"ARRGGHHH.... "


Jerit Alpha dan Leon secara bersamaan dengan rambut yang masih di jambak oleh Emery yang semakin merasa kesakitan. Sedang salah seorang perawat yang melihat kejadian tersebut hanya bisa tertunduk menahan tawa dengan sekuat tenaga saat melihat kedua pria Berta yang hanya pasrah saat kepala mereka terayun secara bersamaan.


"All... Kapan ini berakhir... Sungguh ini menyakitkan.. aahhkkk.. " Tanya Leon pasrah.


"Bersabarlah.. ini demi kemenakan mu Eleanor,"


"Dan inilah alasannya kau menginginkanku ikut masuk ke dalam Ambulance? agar.. AAAARRGGG... sakiiit.. "


"SAAYAANG... AARRGHHH.. SAKIIT.." Erang Emery.


"BISAKAH LEBIH CEPAT LAGI?" Teriak Alpha semakin panik, hingga tidak berselang lama, ambulance sudah terparkir di depan rumah sakit yang di sana sudah menunggu seorang Dokter bersalin dan beberapa perawat wanita lainnya. Perawat yang sudah jadi pilihan, dan yang paling penting, tidak boleh ada perawat pria yang ikut menangani proses persalinan istrinya, itu adalah poin paling penting dan perintah langsung dari Alpha Khandra.


"Sayang... " Seru Emery seraya menggenggam erat telapak tangan Alpha yang sejak tadi ikut mendorong brankarnya menuju ruang bersalin.


"Sayang bertahanlah... Aku yakin kau pasti bisa melakukannya, kau adalah wanita yang kuat, aku mencintaimu Emery. Semangatlah, demi Putri kita." Balas Alpha kembali mengecup dahi Emery sebelum brankar itu masuk ke dalam ruang bersalin.


16 menit berlalu, Alpha masih belum bisa duduk dengan tenang, ia terus berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin menantikan lahirnya sangat buah hati.


"All.. Duduklah, kau membuat kepalaku semakin pening," Tegur Leon dengan rambut yang masih terlihat berantakan akibat jambakan Emery.


"Yoon... Kenapaa belum keluar juga? apakah Emery baik-baik saja? kenapa begitu lama? Aku ingin masuk ke dalam untuk melihat keadaannya...." Kepanikan Alpha yang langsung menarik pintu ruang bersalin.


"Yaaakk.. Tenanglah," Seru Leon yang langsung menghentikan pergerakan Alpha.


"Apa kau berniat mengganggu proses persalinan di dalam? Kakak ipar adalah wanita yang tangguh, dan sekarang kakak ipar sedang berusaha mengeluarkan Eleanor, seorang bayi, bukan puff, jadi wajar jika prosesnya lama. Jadi aku mohon diamlah, jangan membuatku menjadi ikutan panik sepertimu." Balas Leon.


"All.... Sayang, bagaimana keadaan Emery?" Tanya Nyonya Aleen dan Nyonya Caroline dengan langkah tergesa-gesa yang baru saja datang bersama Dareen, dan langsung menghampiri Alpha yang masih berdiri mematung di depan ruang bersalin.


"Emery masih di dalam Bu, aku benar-benar cemas sekarang. Kenapa begitu lama?" Kepanikan yang membuat Alpha terus mengusap wajahnya, mengacak rambutnya saat mendengar samar suara jeritan Emery di dalam sana.


"All sayang.. Semua akan baik-baik saja." Sambung Nyonya Caroline ikut menenangkan menantunya.


"Iya, tapi aku sungguh takut," Gelisah sambil menenggelamkan wajah kusutnya di leher sang Ibu yang langsung mengusap punggungnya lembut.


"Tenanglah sayang Ibu mengerti... Semua akan baik-baik saja, dan... Yoon.. Rambutmu, apa kau baik-baik saja?" Tanya Nyonya Aleen sedikit terkejut saat melihat kondisi Leon. Dengan perlahan Nyonya Aleen menghampiri Leon.


"Barusan saya di serang oleh negara api Bi, tapi saya baik-baik saja. Sebaiknya Bibi lebih mencemaskannya, sejak tadi dia terus mondar-mandir, membuat kepalaku semakin pening." Jawab Leon sambil menatap ke arah Alpha yang tengah menempelkan telinganya ke pintu ruang bersalin, yang di balas tawa oleh Nyonya Aleen.


"Ssttt.. Tidak ada yang bisa menenangkannya jika sudah dalam kondisi panik seperti itu, biarkan saja dia," Balas Nyonya Aleen seraya merapikan rambut Leon.


Hingga 10 menit kemudian, tiba-tiba Alpha terlihat melompat kegirangan saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin sambil berlari memeluk Nyonya Aleen yang masih duduk.


"Ibu.. Emery... Dia.. Dia berhasil..." Ucap Alpha dengan air matanya yang menitik dan semakin kuat memeluk Ibunya. Sedang Nyonya Caroline langsung beranjak dan menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin.


"Dokter, bagaimana keadaan keduanya?" Tanya Nyonya Caroline yang di susul Alpha dan Nyonya Aleen.


"Mereka berdua selamat, dan dalam keadaan baik, silahkan Tuan Alpha bisa melihat putri dan istri anda." Jawab Dokter tersebut yang langsung di balas anggukan oleh Alpha.


Hingga tidak menunggu waktu lama, Alpha langsung melangkah menuju ruang persalinan dan mendapati Emery yang masih bersandar di sandaran ranjang sambil menggendong bayi mereka.


"Sayang.... "


Seru Alpha yang langsung mendekati istrinya, mengecup dahi istrinya yang masih berkeringat, mengusap rambut istrinya lembut dan kembali menciumi istrinya dengan air mata yang kembali menitik dari sudut matanya.


"Lihatlah dia... Eleanor sangat cantik kan?" Ucap Emery dengan suara seraknya sambil tersenyum mengusap wajah suaminya, menyeka air mata yang menitik dari sudut mata suaminya.


"Dia benar-benar cantik," Balas Alpha seraya menyentuh pipi merah Eleanor yang masih memejam.


Kebahagiaan seketika mengalir di seluruh tubuh Alpha, hingga membuatnya tidak berhenti untuk menangis. Dengan perlahan ia kembali memeluk tubuh istrinya sambil mengusap lembut wajah Eleanor.


"Terimakasih sayang, kau sudah menjadi wanita yang kuat, terimakasih karena sudah mempertaruhkan nyawamu demi putri kita, terimakasih karena sudah memberiku hadiah paling berharga di dunia ini. Aku mencintaimu istriku, kalian berdua adalah harta yang paling berharga dalam hidupku, yang akan selalu aku jaga seperti nyawaku sendiri."


...* * * * *...


...END....


^^^_Audrey16_^^^