I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kebenaran yang menyakitkan. * THAILAND.



"Nyonya Aleen , saatnya masuk ke dalam, sore ini udaranya cukup dingin."


Ucap Emery sambil memapah tubuh  Nyonya Aleen menuju ke dalam rumah, mendudukkan tubuh wanita itu perlahan lalu memakaikannya sebuah cardigan berbulu untuk melindungi tubuh wanita itu dari udara dingin.


"Emery,"


Panggil seseorang dari balik pintu dengan senyuman yang terlihat manis meskipun wajahnya kelihatan lelah.


"Ibu sudah pulang?" Sambut Emery dengan sebuah pelukan hangat.


"Hmm.. "


"Istirahatlah dulu, ibu pasti lelah." Balas Emery yang masih memeluk tubuh ibunya yang hanya pasrah saat putrinya mendekap tubuh lelahnya.


"Iyaa sayang," Ucap wanita itu tersenyum sambil membelai rambut panjang Emery.


"Bagaimana Nyonya Aleen? dia baik baik saja kan?" Tanya Nyonya Carolyn saat pandangannya tertuju di sebuah kursi single depan jendela bertirai putih yang sore itu angin bertiup cukup kencang hingga membuat tirai tersebut sedikit tersibak dan menyapa wajah menawan namun terlihat pucat Nyonya Aleen yang sejak tadi hanya terdiam dengan mata yang terlihat berkaca.


"Apa Nyonya Aleen baik-baik saja?"


"Iya Bu, hanya sejak pagi tadi aku lihat Nyonya Aleen nampak bersedih, bahkan aku sempat melihat air mata menitik dari sudut matanya." Balas Emery sambil menatap punggung Nyonya Aleen yang di tutupi cardigan hangat. Sedang Nyonya Carolyn hanya menarik nafas dalam, sambil membelai rambut Emery Putrinya.


"Nyonya Aleen pasti sedang merindukan anaknya." Ucap Nyonya Carolyn perlahan.


"Apa? Jadi Nyonya Aleen memiliki seorang anak? Lalu suaminya?" Tanya Emery perlahan, untuk sesaat Nyonya Carolyn terdiam dan kembali menarik nafas dalam.


Sejak Emery menyusul ibunya di Thailand, memang banyak hal yang belum ia ketahui tentang Nyonya Aleen. Sejak Emery menginjakkan kakinya di rumah ibunya, ia sudah melihat Nyonya Aleen di sana, dan satu satunya hal yang ia ketahui adalah Nyonya Aleen sahabat ibunya yang sekarang sedang sakit. Selebihnya ia tidak tau apa apalagi. Meskipun Emery sangat penasaran tentang asal usul Nyonya Aleen yang sepertinya sengaja di sembunyikan oleh ibunya. Sebab, saat ibunya akan bekerja, ia akan melarang Emery untuk membawa Nyonya Aleen untuk keluar rumah. Dan Emery hanya bisa menurut meskipun ia tidak tau alasan ibunya sebenarnya.


"Ibu.. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nyonya Aleen? Apa Nyonya Aleen sudah lama menderita PTSD?" Tanya Emery lagi, yang semakin penasaran dengan Nyonya Aleen.


"Hmmm.. Sejak suaminya meninggal dunia 25 tahun yang lalu." Jawab Nyonya Carolyn perlahan.


"Lalu di mana anak Nyonya Aleen sekarang, bukankah Nyonya Aleen memiliki seorang anak?" Tanya Emery yang terus menyerang Ibunya dengan segala macam pertanyaan.


"Benar, Nyonya Aleen memiliki seorang putra, namun ia terpisah dari putranya sejak putranya berumur 6 tahun." Balas Nyonya Carolyn, sedang Emery hanya terdiam dengan raut wajah yang terlihat sedih.


Kasian Nyonya Aleen, ternyata ia memiliki kisah hidup yang menyedihkan. Emery.


"Emery, ibu rasa sudah saatnya kau mengetahui segalanya." Ucap Nyonya Carolyn perlahan yang membuat Emery mengernyit dengan perasaan gelisah, sebab ia bisa melihat ekspresi Ibunya yang nampak serius, Emery juga bisa melihat kesedihan di mata sang Ibu.


"Kebenaran seperti apa Bu?" Tanya Emery.


"Nyonya Aleen adalah wanita yang sangat di cintai oleh Ayahmu." Jawab Nyonya Carolyn dengan mata berkaca.


"Ap.. Apaa?? Jadi.. "


"Benar, dan satu hal lagi yang selama ini tidak kau ketahui." Lanjut Nyonya Carolyn yang semakin membuat Emery gelisah.


"Apa Bu?"


"Nyonya Aleen bisa kehilangan suami dan anaknya, itu semua di sebapkan oleh perbuatan Ayahmu." Balas Nyonya Carolyn dengan suara bergetar.


"Maksud ibu? Su.. Suami Nyonya Aleen.."


"Meninggal karena Ayahmu."


"Jadi Ayah yang membunuh... " Emery tidak sanggup lagi melanjutkan kata katanya. Air matanya tiba-tiba saja menetes dari sudut matanya, ia hanya bisa menggeleng pelan sambil  membekap mulutnya sendiri.


"Kenapa.. Kenapa Ayah melakukan hal keji seperti itu.. Kenapa bu?" Tanya Emery dalam isaknya.


"Sebab ayahmu masih sangat mencintai Nyonya Aleen, dan membenci Tuan Adley Berta sejak dulu, pria yang di cintai Nyonya Aleen."


"Tu.. Tuan Adley Berta? Jadi... Maksud Ibu, Nyonya Aleen istri Tuan Adley Berta?" Tanya Emery terlihat syok.


"Iya, Ivander Adley Berta, Ayah dari Alpha Khandra Berta, suami kamu."


Mendengar kalimat Ibunya barusan seolah mendapatkan beribu sayatan di tubuh Emery, sayatan dengan luka yang menganga lalu di taburi garam, begitulah perih dan sakitnya perasaan Emery saat ini. tubuhnya bergetar hebat menahan sesak dengan air mata yang terus mengalir di sudut matanya. Nafasnya seolah tercekik oleh kenyataan yang sungguh sangat menyakitkan. Dan akhirnya Emery baru memahami kebencian Alpha selama ini padanya, sikap dingin, kasar dan tempramen buruk Alpha. lepas dari Alpha yang mengetahui siapa pembunuh Ayahnya atau tidak, Emery sudah sangat paham dan bahkan sekarang ia merasa malu sebab sudah bertahan di samping Alpha yang sebenarnya sudah sangat muak dan benci dengannya.


Perlahan Nyonya Carolyn meraih tubuh Emery yang terisak untuk di peluknya, mengusap punggung anaknya untuk menenangkannya yang masih terus terisak.


"Aku malu Ibu.. Selama ini dengan tidak tau dirinya aku bertahan di sampingnya.. Berkali-kali mengatakan cinta padanya, aku sangat malu.. Ibu.. Apa yang harus aku lakukan sekarang... "


Emery menangis sejadi-jadinya, sambil membenamkan wajahnya di pangkuan sang Ibu yang juga sedang menitikan air matanya. Hingga beberapa menit kemudian, Emery kembali menatap Ibunya yang masih sesegukan dengan air mata yang masih mengenang di pipinya.


"Lalu kenapa Ibu bisa bersama Nyonya Aleen sekarang?" Tanya Emery dengan suara seraknya.


"Ibu menyelamatkan Nyonya Aleen dari sekapan Ayahmu." Jawab Nyonya Carolyn yang lagi-lagi membuat Emery terhenyak.


"Maksud Ibu? Ayah menculik.. "


"Iya, obsesi Ayah kamu membuatnya kehilangan akal sehat, karena tidak ingin kehilangan Nyonya Aleen, ia lantas menculik dan mengurung Nyonya Aleen di Mansion selama beberapa tahun, dan tidak ada yang mengetahuinya, bahkan Ibu sekalipun." Jelas Nyonya Carolyn.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"


"Ibu yang saat itu tidak sengaja mendengar percakapan Ayahmu di telfon jadi mengetahui semuanya."


"Jadi ini alasan Ibu pergi meninggalkan ayah?"


"Iya, Ibu sudah tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi, dan pada saat itu juga, Ibu membawa Nyonya Aleen pergi dan langsung bersembunyi di tempat ini. Sampai saat ini."


"Ibu mengganti semua identitas Nyonya Aleen, agar Ayahmu tidak menemukan kami di sini. Dan satu hal yang membuat Ibu syok, sebab pada saat membawa Nyonya Aleen dari Mansion Ayahmu, kondisi Nyonya Aleen sedang hamil, dan anak yang ada di dalam kandungan Nyonya Aleen adalah anak Ayahmu." Lanjut Nyonya Carolyn dengan suara bergetar.


"Lalu.. Di mana anak Nyonya Aleen sekarang?"


"Di Korea."


"Korea? Jadi selama ini, Nyonya Aleen dan anaknya tinggal di Korea, kenapa Ibu membiarkannya?"


"Sejak Edrea dewasa, dia ingin mandiri dan bisa mengurus Ibunya sendiri. Sebenarnya Ibu tidak mengizinkan mereka untuk pergi, Ibu takut, Ayahmu akan menemukan mereka, meskipun Ayahmu mungkin tidak mengetahui jika saat itu Nyonya Aleen sedang mengandung anaknya. tapi Edrea tetap memaksa, dan ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya ibu bisa tenang, sebab sudah mengganti identitas mereka. Sampai hari itu Ibu mendapat kabar, jika Edrea sedang terbaring koma di rumah sakit. Dan hari itu juga Ibu langsung menjemput Nyonya Aleen dan membawanya kembali ke sini."


"Koma? Edrea mengalami kecelakaan?" Tanya Emery mengernyit.


"Tidak. Yang Ibu dengar, tubuh Edrea di temukan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Jelas itu bukan kecelakaan, itu penganiayaan. Meskipun Ibu tidak tau motif si pelaku yang tega melakukan hal keji seperti itu pada gadis sebaik Edrea. Karena Ibu takut terjadi sesuatu pada Nyonya Aleen, Ibu saat itu juga langsung menjemput Nyonya Aleen."


"Gadis yang malang, tapi... Ini bukan ulah Ayah kan?" Tanya Emery merasa was-was.


"Tidak mungkin Ayahmu, sebab Ayahmu tidak punya alasan untuk melukai Edrea yang bahkan tidak ia kenal sama sekali."


"Edrea, Anak seperti apa dia Bu?" Tanya Emery perlahan.


"Dia gadis yang sangat cantik sama seperti ibunya, dia juga gadis yang ceria, tapi sayang sekali gadis itu tidak  pernah merasakan kasih sayang Ibunya sejak lahir di karenakan kondisi Ibunya saat ini."


Balas Nyonya Carolyn sambil meraih tangan Emery untuk di genggamnya, seraya mengusap sisa air mata yang membasahi wajah anaknya


"Semoga Edrea baik baik saja di sana, sebab sudah beberapa hari ini Ibu sudah tidak pernah mendengar kabar dari Edrea lagi. Dan Ibu berencana untuk mencarinya. Mungkin dalam beberapa hari ini kita harus kembali ke Korea, biar bagaimanapun, Edrea adalah anak Ayahmu, dan adik kamu juga."


"Tapi aku tidak mau bertemu dengan Ayah lagi Bu, aku membencinya, sangat membencinya, Ayah seorang pembunuh, aku.. "


"Sayang.. Ibu mengerti, kesalahan Ayahmu sudah sangat banyak. Tapi biar bagaimanapun dia... "


"Tidak Ibu, Ayah sudah sangat keterlaluan, Ayah bukan manusia, Ayah bahkan menjodohkanku dengan Alpha, anak dari sahabatnya yang sudah ia bunuh, bahkan Ayah tega menyandera Nyonya Aleen hingga.." Emery menghentikan kalimatnya dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Nyonya Aleen yang masih setia dengan keterdiamannya.


Luka di hati Emery semakin bertambah, di saat ia kembali mengingat Alpha yang selama ini menyangka kedua orang tuanya telah meninggal dunia.Bahkan ia tidak bisa memikirkan, akan sesakit apa Alpha kelak saat mengetahui kondisi Ibunya sekarang.


"Sayang.. "


"Aku memikirkan Alpha, apa yang akan terjadi jika dia mengetahui bahwa Ibunya masih hidup." Tanya Emery seraya mengusap air matanya.


"Yang jelas dia pasti akan bahagia."


"Tapi kondisi Nyonya Aleen saat ini."


"Ibu tau." Balas Nyonya Carolyn menarik nafas dalam, seraya mengusap rambut panjang Emery dengan sangat lembut.


"Ibu.. Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Emery perlahan.


"Iya sayang, ada apa?"


"Kenapa Ibu mau menolong Nyonya Aleen pada saat itu?"


"Nyonya Aleen juga sahabat Ibu, dan kita sudah sangat dekat sejak dulu."


"Tapi kenapa Ayah tega melakukan itu?"


"Ayahmu sudah sangat lama mencintai Nyonya Aleen."


"Apakah itu alasan satu-satunya hingga Ayah tega melakukan hal keji? dan yang lebih kejam dari itu, Ayah sengaja menjodohkan aku  hanya untuk merebut harta Alpha, Ayah bahkan tega menjadikanku umpan agar bisa mendapatkan BRT GRUP Bu."


"Iya sayang, Ibu mengerti. Ibu juga sudah mendengar semuanya, maafkan Ibu, karena tidak bisa membantumu pada saat itu, tidak bisa menemanimu dimasa masa sulit mu, maafkan Ibu yang membiarkan mu menderita dan menangis seorang diri." Ucap Nyonya Carolyn penuh penyesalan.


"Tidak Ibu, semua yang terjadi itu pilihanku sendiri, Ibu tidak salah apa apa, dan satu satunya orang yang harus di salahkan adalah Ayah." Balas Emery.


"Sayang.. Sudahlah, yang penting sekarang kau sudah lepas dari semuanya, dan hidup tenang bersama Ibu sekarang."


"Iya Bu, tapi aku merindukan Elard, bagaimana kabar dia sekarang?"


"Ibu juga sangat merindukannya, sangat merindukannya."


Balas Nyonya Carolyn kembali menitikan air mata, saat ingatannya kembali tertuju pada anak bungsunya yang sudah sangat lama tidak di lihatnya.


"Untuk saat ini, Ibu akan fokus mencari Edrea, kau bersedia kan membantu Ibu?"


"Tapi Bu, bagaimana dengan Nyonya Aleen, apa kita juga akan membawanya?"


"Tentu saja, Ibu tidak bisa meninggalkan Nyonya Aleen seorang diri."


"Semua akan baik baik saja." Balas Nyonya Carolyn kembali memeluk tubuh anaknya erat.


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


"Aku yakin ini Panthouse si Alpha manusia kaku itu." Gumam Elard sambil mengamati bangunan mewah yang berada di seberang jalan tempat mobilnya terparkir saat ini.


Dengan sangat hati hati Elard keluar dari mobilnya seraya memakai topi dan maskernya, sambil terus mengawasi Panthouse mewah tersebut yang hari ini hanya ada beberapa pengawal saja yang menjaga di sekitar Panthouse itu. Lama Elard menunggu, Hingga akhirnya ia bisa melihat satu sosok yang barusan saja keluar dan sedang berdiri tepat di balkon lantai dua.


"Dugaanku benar, kau tinggal di sini rupanya. Gumam Elard dengan senyum sumringah sambil meraih ponselnya dan mulai mengirim pesan untuk gadis yang sekarang sedang termenung di balkon kamarnya.


Dan bukan hal yang sulit buat Elard untuk melacak nomor ponsel seseorang, apalagi seseorang ini adalah sosok yang sudah sering di rindukannya dalam beberapa hari ini.


Elard


"Hai.. "


^^^Shareen^^^


^^^"Siapa?"^^^


Elard


"Pria tampan yang bersamamu di taman kemarin."


^^^Shareen^^^


^^^"Kau?"^^^


^^^"Dari mana kau mendapatkan nomer ponselku?"^^^


Elard


"Itu bukan hal yg sulit."


^^^Shareen^^^


^^^"Kau seorang penguntit?"^^^


Elard


"Hei.. Apa tampangku terlihat seperti seorang penguntit?"


^^^Shareen^^^


^^^"Hmmm."^^^


Elard


"Bukankah kau keterlaluan? Baiklah, bolehkah aku bertemu denganmu?"


^^^Shareen^^^


^^^"Bertemu? Kita tidak sedekat itu untuk saling bertemu."^^^


Elard


"Ayolah.. "


"Aku sangat merindukan."


^^^Shareen^^^


^^^"Apa? Tidak salah? Kau merindukanku?"^^^


Elard


"Apa yang salah dengan itu? Ini perasaanku, aku yang merasakannya, jadi aku berhak merindukan siapa saja."


^^^Shareen^^^


^^^"Aku sibuk."^^^


Elard


"Sibuk?"


"Memang apa yang sedang kau lakukan sekarang?"


^^^Shareen^^^


^^^"Memasak."^^^


Elard


"Memasak?"


"Sejak kapan dapurmu pindah ke balkon?"


Dengan senyum sumringah, Elard melambaikan tangannya ke arah Edrea yang sedang memandang ke arahnya. Hingga kembali terdengar nada notifikasi di ponsel Elard.


^^^Shareen^^^


^^^"Kau benar-benar penguntit? Apa yang kau lakukan di sana?"^^^


Elard


"Bukankah sudah aku katakan ingin bertemu."


^^^Shareen^^^


^^^"Tapi aku tidak bisa keluar begitu saja dari rumah."^^^


Elard


"Ada apa? Apa si beruang kutub itu melarangmu untuk keluar?"


^^^Shareen^^^


^^^"Siapa yang kau maksud dengan beruang kutub? Kakak ku pria yang baik."^^^


Elard


"Yah.. Yah.. Sekarang bisakah kita bertemu?"


Elard


"Sekali ini saja."


Elard


"Ayolah..


Elard menghela nafas panjang saat ia tidak mendapat pesan balasan notifikasi lagi dari Edrea, bahkan ia sudah tidak melihat sosok Edrea lagi di sana, ponsel gadis itupun sudah tidak aktif lagi. Hingga sampai 4 jam ia menunggu, akhirnya Elard menyerah dan langsung meninggalkan tempat tersebut.


Sedang di dalam Panthouse, tepatnya di sebuah kamar tidur bernuansa merah muda yang terlihat luas tersebut, nampak Edrea yang masih berdiri di balik jendela kamarnya sambil memandang mobil Elard yang perlahan bergerak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Edrea menarik nafas dalam, entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di sudut hatinya, Edrea bahkan tidak bisa memungkiri jika sejak pertemuan pertama mereka yang bisa di bilang tidak biasa itu membuat perasaan Edrea menjadi aneh, sebab ia selalu memikirkan pria bertubuh tinggi dan berambut panjang tersebut. Hingga suara ketukkan pintu kamarnya membuyarkan lamunan Edrea.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Alpha sembari menghampiri Edrea yang masih terdiam di depan jendela kamarnya.


"Tidak sedang memikirkan apa apa kak." Jawab Edrea dengan senyuman manisnya sambil bergelayut manja di lengan Alpha.


"Shareen.. Apa kau merasa bosan?" Tanya Kenzie mengusap pucuk kepala Edrea lembut.


"Ah, tidak.. Tidak.. " Jawab Edrea menggeleng.


"Kakak tahu, kau pasti merasa kesepian, maaf akhir akhir ini kakak tidak bisa menemanimu, keadaan Perusahaan sedang tidak stabil, jadi kakak selalu sibuk untuk mengurus semuanya." Balas Alpha.


"Iya kak, Aku mengerti."


"Dan Dokter Wil juga cukup di sibukkan dengan pasien pasiennya di rumah sakit, jadi kau tidak apakan? Untuk saat ini sendirian dulu?"


"Iya kak, aku tidak apa apa, kakak tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku."


"Bagaimana kakak tidak mengkhawatirkan mu, kau kan adik kakak." Balas Alpha tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Edrea lembut.


"Iya.. Aku janji akan menjadi adik yang patuh dan penurut."


"Benarkah?"


"Hmm.. " Balas Edrea mengangguk pasti dengan senyuman lebarnya yang langsung membuat Alpha terbahak.


"Kakak menyayangi mu." Ucap Alpha seraya meraih tubuh Edrea untuk di dekapnya.


Aku menyayangimu meskipun kau bukan adikku, aku ingin melindungimu dengan nyawaku meskipun kau gadis asing yang tidak aku kenal sama sekali, maafkan aku karena telah banyak membohongimu, aku harap kau tidak membenciku saat ingatan mu kembali dan mengetahui semuanya, tapi untuk saat ini, biarkan aku melindungimu.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.