I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kepergian Alpha Khandra. * MANSION ELARD.



"Ibu.. Apa yang sedang ibu pikirkan?" Tanya Emery ambil meletakkan secangkir teh madu di atas meja dan langsung mendudukkan dirinya di samping Ibunya.


"Ibu hanya sedang merindukan Adikmu." Jawab Nyonya Carolyn perlahan dengan mata berkabutnya.


"Ibu.. Ini sudah dua bulan berlalu, aku yakin. Di sana Elard pasti akan bersedih saat melihat Ibu seperti ini."


"Ibu tau, tapi.. Ibu benar-benar sangat merindukannya, Ibu bahkan belum puas bersamanya." Balas Nyonya Carolyn seraya mengusap air mata yang menitik dari sudut matanya.


"Ibu.."


Emery langsung meraih tubuh Ibunya yang mulai terisak untuk di dekapnya.


"Ah.. Anak yang malang, dia bahkan tidak sempat merasakan kasih sayang Ibu, dia selalu melewati hari harinya sendirian, Ibu menyesal saat meninggalkan kalian dulu, oh.. Elard maafkan ibu.. "


Tangisan Nyonya Carolyn semakin keras, wanita itu menagis sejadi-jadinya, kala wajah putranya kembali menghiasi pikirannya. Bahkan ia kembali teringat saat dua bulan lalu untuk yang terakhir kalinya ia memeluk tubuh Elard yang berlumuran darah, tubuh Elard yang kaku dan dingin. Bahkan ingatan akan selalu membuatnya menangis.


"Berhentilah menyalahkan diri Ibu sendiri, semua takdir ini sudah ada yg mengaturnya, kita hanya bisa menerimanya, bahkan kita tidak bisa menghindarinya. " Ucap Emery yang terus mengusap punggung Ibunya, berusaha menenangkannya dengan pelukan hangatnya.


"Biarkan Elard bahagia di sana, aku yakin, dia pasti lebih bahagia di sana." Lanjut Emery yang hanya di balas anggukan pelan oleh sang Ibu yang masih terisak di pelukannya. Hingga suara ketukan pintu meredakan tangis Nyonya Carolyn.


Untuk sesaat mereka saling pandang, sebab yuk mereka ketahui Apartemen milik Elard yang mereka tempati sekarang tidak satupun orang yang mengetahuinya.


"Areta.. Bisakah kau membukakan pintu itu untukku?"


Panggil Nyonya Carolyn, hingga semenit kemudian nampak Areta yang sedikit tergesa-gesa keluar dari pantry dan langsung menuju ke ruang tamu.


"Reta.. Lihat siapa yang datang," Ucap Nyonya Carolyn perlahan seraya mengusap air matanya.


"Baik Nyonya."


Balas Areta. Perlahan wanita paru baya itu melihat layar monitor berukuran kecil yang menempel di tembok samping pintu.


"Siapa Bibi Reta?" Tanya Emery menghampiri dan ikut memandang layar monitor. Seketika ia mengernyit saat melihat tamu mereka dari layar monitor. Dengan perlahan Emery meraih gagang pintu dan langsung di bukanya.


"Daniel.. "


"Selamat siang Nona Emery,"


Sapa Kang Daniel seraya membungkuk memberi hormat. Untuk sesaat Emery terdiam di sana, saat melihat sosok Kang Daniel ia kembali mengingat sosok sang Ayah yang jauh dari lubuk hatinya masih selalu di rindukannya.


Hingga sentuhan tangan Nyonya Carolyn membuyarkan lamunan Emery yang baru menyadari jika sejak tadi Kang Daniel masih berdiri di hadapannya.


"Daniel.. Masuklah.. " Ucap Nyonya Carolyn seraya mempersilahkan Kang Daniel untuk masuk kedalam rumah.


"Saya pikir tidak ada yang mengetahui keberadaan tempat ini." Ucap Nyonya Carolyn.


"Maaf Nyonya besar, saya.. "


"iya..  Saya tahu, bukan hal yang sulit bagimu untuk mencari tempat ini." Balas Nyonya Carolyn tersenyum sambil mempersilahkan Kang Daniel untuk duduk.


"Maaf.. " Balas Kang Daniel yang kembali membungkuk, dan akhirnya duduk di atas sofa panjang ruang tamu.


"Ada apa Daniel?" Tanya Nyonya Carolyn perlahan.


"Maaf sebelumnya karena telah mengganggu waktu anda, saya hanya ingin menyampaikan pesan terakhir almarhum Tuan Chris."


Mendengar nama itu, Nyonya Carolyn tiba-tiba terdiam sambil tertunduk. Berbeda dengan Emery yang langsung menitikkan air matanya.


"Ayah.. " Gumam Emery yang akhirnya tertunduk untuk menyembunyikan air matanya.


"Beliau ingin saya menyampaikan permintaan maafnya buat Nyonya besar, dan juga Nona Emery," Ucap Kang Daniel perlahan.


"Maaf?" Tanya Emery yang langsung mengangkat kepalanya seraya menatap dalam Kang Daniel dengan mata berkacanya.


"Iya Nona, Tuan Chris sempat meminta maaf sebelum ia mengakhiri hidupnya, sebab selama ini sudah menyakiti hati anda dan Nona Emery."


Ayah.. Aku bahkan sudah memaafkan ayah sejak dulu.


Gumam kecil Emery semakin terisak. Sedang Nyonya Carolyn hanya bisa terdiam tampa ekspresi apapun. Wanita itu hanya tertunduk dengan pikirannya sendiri yang tidak satupun orang mengetahuinya.


"Dan.. Ada satu hal lagi yang Tuan Chris inginkan,"


"Apa itu?" Tanya Nyonya Carolyn yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kang Daniel.


"Beliau ingin agar saya selalu menjaga Nyonya besar dan Nona Emery."


"Tapi kami tidak apa apa sendirian Daniel,"


"Meskipun demikian, Saya akan tetap melindungi keluarga ini dengan nyawa saya sendiri. Dan tulah janji saya terhadap almarhum Tuan Chris."


"Daniel.. Kau punya kehidupan sendiri yang harus kau jalani. Kau tidak perlu menghabiskan hidupmu untuk melindungi kami, sudah cukup selama ini kau menemani Tuan besar, bukankah kau juga harus menikah, dan memiliki keluarga sendiri untuk kau lindungi."


Balas Nyonya Carolyn yang membuat Kang Daniel terdiam sejenak. Bahkan ia sudah lupa. Jika dia juga sebenarnya membutuhkan sebuah keluarga.


"Tetapi Hidup saya untuk melindungi keluarga Cullen. Dan saya akan melakukannya. Saya tidak butuh kehidupan yang lain lagi nyonya. Karena hidup saya hanya untuk melindungi keluarga anda. Maafkan saya."


"Daniel.. Kau tidak seharusnya meminta maaf, justru kami yang seharusnya berterima kasih, karena lagi-lagi kami harus kembali merepotkanmu."


"Tidak Nyonya, anda sama sekali tidak merepotkan saya sedikitpun, karena ini pilihan saya sendiri. Jadi saya mohon, izinkan saya untuk melindungi keluarga anda."


"Daniel.. "


"Saya mohon Nyonya, saya ingin menepati janji saya kepada almarhum Tuan Crhis." Balas Kang Daniel yang kembali berdiri untuk membungkuk, lama Nyonya Carolyn terdiam untuk berfikir, pandangannya kembali tertuju kearah Emery yang hanya mengangguk pelan menyetujui keinginan Kang Daniel.


"Baiklah.. "


Ucap Nyonya Carolyn tersenyum sambil mengangguk yang membuat Kang Daniel berhenti membungkuk, dan kembali duduk.


"Terimakasih Nyonya besar."


"Iya Daniel, maaf saya akan kedalam terlebih dulu." Ucap Nyonya Carolyn yang langsung beranjak dari duduknya tampa menunggu jawaban dari Kang Daniel yang saat itu wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi, tubuhnya tiba-tiba di penuhi keringat dingin, hingga membuat Emery yang melihat perubahan pada Kang Daniel menjadi sedikit khawatir.


"Kau tidak apa apa?"


"Ah, ti..dak apa apa.. Sa..ya baik baik saja.. "


"Tapi kau terlihat sangat pucat, sekarang apa kamu sakit?" Tanya Emery sambil menatap wajah Kang Daniel yang semakin berkeringat.


Berhenti menatap saya Nona, saya mohon.. Jantung saya bisa meledak.


Batin Kang Daniel yang tiba-tiba menjadi merasa gugup, sebab selama ini Kang Daniel tidak pernah duduk berdua bersama Emery, meskipun ia sudah bertahun-tahun menjadi Asisten pribadi almarhum Tuan Chris, dan ini kali pertama buat Kang Daniel yang langsung merasa gugup.


"Sa..ya hanya gu..gup Nona." Ucap Kang Daniel yang bahkan langsung mengatupkan bibirnya seola telah menyesali perkataan yang baru saja iya ucapkan.


Astaga bodoh, kenapa aku harus mengatakan hal memalukan seperti ini, bodoh kau Daniel.


Batin Kang Daniel yang terus mengutuk dirinya sendiri.


"Gugup? Kenapa kau terlihat sangat lucu, wajahmu bahkan kelihatan memerah seperti sebuah tomat."


Ucap Emery terkekeh, dan ini yang pertama kalinya Kang Daniel melihat tawa di wajah Emery setelah 5 tahun terakhir pernikahannya. Wajah Kang Daniel seketika memerona dengan jantung yang kembali berdetak. Dengan perlahan Kang Daniel memegangi tengkuknya lehernya.


"Maaf Nona, saya sebaiknya pulang sekarang."


Sebelum jantung saya benar-benar berhenti berdetak.


Batin Kang Daniel yang langsung beranjak dari duduknya.


"Baiklah.. Sebaiknya kau ke Dokter, kau nampak tidak baik baik saja. Kau sangat pucat, dan sekarang wajahmu bahkan semakin memerah seperti seekor udang rebus."


Bagus, tomat dan udang.. Terimakasih Nona, aku akan anggap itu sebagai satu pujian.


"Ba.. Baik Nona.. Saya permisi."


"Iya Nona.."


Balas Kang Daniel membungkuk dan langsung melangkah keluar dengan langkah yang cukup lebar, yang sempat membuat Emery mengernyit, sebab hanya dalam hitungan detik tubuh Kang Daniel sudah menghilang di balik pintu.


Sedang di dalam kamar yang hanya di terangi lampu duduk di atas nakas, nampak Nyonya Carolyn sedang duduk di pinggiran ranjang dengan air matanya yang menitik sambil memeluk bingkai foto suaminya. Sosok yang sangat di cintainya sampai detik ini.


"Bahkan sampai detik inipun kau masih membuatku terus menangis Chris, apa kau pernah tahu, jika sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu, meskipun aku tidak pernah ada dihatimu, aku akan selalu mencintaimu Chris."


Air mata terus meleleh membasahi wajah Nyonya Carolyn yang semakin erat memeluk bingkai foto Almarhum suaminya.


Begitupun juga dengan Emery yang saat ini sedang berdiri di depan pigura yang berukuran besar, yang di mana di sana terdapat kenangan satu satunya yang ia punya bersama ayahnya di masa kecilnya.


"Aku sangat merindukanmu Ayah."


Ucap Emery perlahan seraya mengusap foto yang terpampang di hadapannya. Setidaknya ia pernah merasakan kasih sayang Ayahnya, merasakan pelukan hangat sang Ayah juga perhatian sang Ayah. Dan saat itu ia perna merasa sebagai anak yang paling beruntung dan bahagia di dunia.


* * * * * *


* MANSION ALPHA KHANDRA.


"Sayang.. Apa kau yakin dengan keputusan mu?"


Tanya Nyonya Aleen seraya mengusap lembut rambut Alpha yang tengah duduk di sebuah sofa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Aku sudah memikirkannya, dan ini adalah keputusan yang terbaik. Aku hanya ingin memulai kehidupan baru bersama Ibu."


"Iyaa sayang, Ibu mengerti, Ibu akan selalu mendukung dan menghargai apapun keputusan yang kau buat." Balas Nyonya young memeluk tubuh anaknya.


"Aku lelah.. "


Balas Alpha yang langsung berbaring di pangkuan sang Ibu yang masih mengusap lembut rambut Alpha hingga membuatnya tertidur dengan sangat pulas.


Sedang Dareen dan Dokter Wilfreed yang melihat sikap manja Alpha hanya bisa menggeleng pelan dengan senyuman mereka masing-masing. Dan Nyonya Aleen yang melihat tingkah keduanya langsung menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya untuk memberikan isyarat agar mereka tidak mengeluarkan suara yang akan membuat Alpha terbangun dari tidurnya.


Sejak Mansion Alpha kosong, ia sengaja meminta Dareen juga Dokter Wilfreed untuk tinggal di Mansion itu bersamanya. Sebab di Mansion yang mempunyai ukuran yang sangat luas tersebut hanya ada beberapa pelayan dan pengawal pribadi setia yang selalu menjaga Mansion. Bahkan Emery sebagai Nyonya besar yang seharusnya ada di Mansion itu sudah pergi bersama Areta pelayan pribadinya.


"Dareen.. Boleh Ibu bertanya sesuatu?"


Tanya Nyonya Aleen dengan wajah seriusnya.


"Silahkan Nyonya."


"Panggil Ibu.. kalian sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri."


"Ba.. Baik Ibu Aleen.."


"Apa selama ini Ken bahagia dengan pernikahannya?" Lanjut Nyonya Aleen yang membuat Dareen terdiam untuk beberapa saat.


"Tidak sama sekali Nyonya." Ucap Dareen perlahan.


"Benarkah? Selama 5 tahun pernikahannya, apakah All tidak bahagia? Tapi kenapa?" Tanya Nyonya Aleen yang tiba-tiba terlihat sedih.


"Sebab Tuan muda tidak pernah mencintai istrinya." Lanjut Dareen.


"Lalu kenapa mereka sampai menikah jika dia tidak mencintai istrinya?" Pertanyaan Nyonya Aleen yang kembali membuat Dareen terdiam dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Dokter Wilfreed yang hanya mengangguk pelan.


"Tuan muda menikah karena sebuah perjodohan." Jawab Dareen perlahan yang seketika membuat Nyonya Aleen kembali menitikkan air mata dan kembali menatap wajah Alpha yang masih tertidur sangat pulas di atas pangkuannya.


Apa kau sangat menderita selama ini? Maafkan Ibu, karena terlambat menemukan mu.


Batin Nyonya Aleen yang masih mengusap rambut anaknya.


"Dan Edrea.. Dia anak seperti apa?" Lanjut Nyonya Aleen yang seketika tersenyum saat menyebutkan nama putrinya.


"Dia gadis yang sangat ceria dan lucu." Jawab Dokter Wilfreed tersenyum saat kembali mengingat bagaimana sosok Edrea dulu, seorang sosok yang ceria sekaligus ceroboh.


"Dia juga gadis yang sangat manis, juga pekerja keras."


Mendengar betapa orang-orang sangat mengagumi sikap Putrinya Edrea membuat Nyonya Aleen sangat bahagia sebab pernah memiliki anak seperti Edrea, terlepas dari siapa Ayah Edrea dan bagaimana Edrea bisa berada dalam rahimnya, dan bagaimana Nyonya Aleen melewati penderitanya selama bertahun-tahun.


* * * * *


* APARTEMEN ELARD.


"Selamat siang Aleen, silahkan masuk."


Ucap Nyonya Carolyn menyambut kedatangan Nyonya Aleen dengan pelukan hangatnya. Lalu di susul oleh Alpha yang juga mendapat pelukan oleh Nyonya Carolyn. Sedang Dareen hanya membungkuk memberi hormat. Merekapun langsung masuk  kedalam, menuju ruang tengah yang di sana sudah ada Emery dan Kang Daniel yang sedang duduk.


Dan saat melihat Alpha, perasaan Kang Daniel mendadak kacau, pikirannya tiba-tiba merasa kalut, namun ia berusaha dengan sebisa mungkin untuk menyembunyikan perasaan gelisanya saat Alpha dan Ibunya mulai duduk dan saling berbincang. Sebelum akhirnya Dareen menaruh sebuah map coklat di atas meja atas perintah Alpha. Map yang berisi surat Akta cerai. Seperti kesepakatan dari keluarga masing-masing, yang sudah menyetujui perceraian mereka sebagai jalan yang terbaik. Bahkan Alpha menyerahkan semua saham yang di ambilnya dari CALL KORP juga sebagian hartanya,  untuk Emery. meskipun harta yang ia berikan tidak akan membuat aset kekayaan keluarga Berta berkurang sedikitpun.


Untuk sesaat Emery menatap surat Akta cerai tersebut dengan mata yang berkaca. Dengan perlahan Emery meraih sebuah pulpen sambil mengalihkan pandangannya kearah bunya yang tersenyum sambil mengangguk. Lalu perlahan pandangannya tertuju kepada Alpha yang masih menatapnya.


Akhirnya aku benar-benar kehilanganmu All, kehilangan cinta pertamaku. Emery.


Maafkan aku.. semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, karena sampai saat ini aku tidak bisa mencintaimu. Alpha.


Ditariknya nafas dalam sebelum ia menandatangani surat tersebut hingga dalam waktu beberapa detik saja mereka berdua pun sudah resmi bercerai.


"Minggu depan kami akan kembali ke Jerman, dan tinggal disana untuk berberapa lama." Ucap Nyonya Aleen sambil menggenggam tangan Alpha yang masih terdiam menatap Emery yang masih mengeluarkan air mata.


"Kita akan memulai kehidupan baru di sana, terimakasih Carolyn, selama ini kau sudah sangat banyak membantuku." Ucap Nyonya Aleen.


"Aleen, apa kau lupa kalau kita teman baik, apapun itu, selama aku bisa membantu, aku akan melakukannya." Balas Nyonya Carolyn tersenyum meraih tangan Nyonya Aleen untuk di genggamnya.


"Aleen, berbahagialah, aku harap kau bisa melupakan segala penderitaanmu selama ini, dan aku yakin, Alpha akan menjagamu dengan sangat baik."


"Sekali lagi Terimakasih Carolyn."


Balas Nyonya Aleen. Hingga pertemuan kedua keluarga Berta dan Cullen berakhir dengan keluarga Berta yang meninggalkan rumah kediaman Cullen.


Hingga 20 menit berlalu, nampak Emery yang masih terduduk sambil menatap ke arah luar jendela.


"Nona baik-baik saja?" Tanya Kang Daniel saat mendapati Emery yang sedang terdiam dengan lamunannya dan langsung duduk mendudukkan dirinya tepat di samping Emery. Namun belum sempat Kang Daniel melanjutkan kata katanya, tubuhnya tiba-tiba merasa kaku saat Emery menyandarkan kepalanya di bahu lebarnya.


"Lima menit saja, tidak.. Tiga menit saja, biarkan seperti ini tiga menit saja Daniel."


Ucap Emery yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Kang Daniel yang perlahan menepuk-nepuk bahunya lembut, mencoba menenangkan hati wanita itu yang ia tahu sedang merasakan kesedihan.


"kapanpun Nona, jika anda membutuhkan saya Nona, saya akan selalu ada buat Nona. Ucap Kang Daniel perlahan.


"Trimakasih Daniel, kau selalu membuat hatiku merasa nyaman, terimakasih." Jawab Emery yang langsung tersenyum sambil mengusap air matanya.


Akan saya pastikan, ini terakhir kalinya anda mengeluarkan air mata. Dan di hari hari selanjutnya, anda hanya akan tersenyum, sebab saya akan selalu melindungi anda selamanya.


"Daniel.. "


"Iya Nona."


"Stay with me please."


Ucap Emery yang langsung mengeluarkan kata yang membuat Kang Daniel tersenyum bahagia, kata yang begitu saja ada di dalam pikirannya hanya karena ia merasa nyaman berada di samping Kang Daniel. Bahkan Emery mengakui hanya Kang Daniel yang bisa membuat perasaannya lebih tenang dan bahagia.


"Pasti Nona, I will always be there for you."


* * * * *


* END.


* NEXT SEASONS 2.