I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Sebutan yang manis



Emery terdiam di atas balkon kamarnya, membiarkan angin di pagi hari menyapa wajah polosnya yang tanpa makeup, bahkan rambutnya masih terbungkus handuk kecil. Rasa bahagia kembali memenuhi ruang hatinya, kala ia kembali menginjakkan kakinya di kamar ini lagi, kamar yang dua stengah tahun lalu pernah ia huni seorang diri. Namun, sekarang, ia tidak sendiri lagi. Di sana nampak sosok Alpha yang hanya menggunakan sebuah handuk untuk menutupi stengah tubuh dan tengah berjalan menghampirinya dengan senyum yang sudah menjadi favoritnya sejak beberapa minggu terakhir ini. Senyum penuh kehangatan yang nyaris tiap saat di lihatnya bahkan sudah menjadi candunya.


"Emery," panggil Alpha perlahan. Bahkan ia selalu menyukai saat pria itu menyebutkan namanya.


"Ya, All?"


"Apa kau tidak merasa kedinginan dengan terus berdiri di sana?" tanya Alpha yang langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. Melingkarkan kedua lengan kekarnya dengan urat yang nampak menghiasi pergelangan tersebut di perut sang istri yang langsung menyambutnya dengan senyuman. "Bahkan kau belum mengeringkan rambutmu, kau bisa terkena flu," sambungnya, membalikkan tubuh sang istri untuk menghadapnya.


"Aku akan melakukannya."


"Biar aku bantu mengeringkannya," pinta Alpha yang langsung melepaskan handuk kecil yang membungkus rambut istrinya dan mulai mengusapnya pelan.


"Bukankah kau mengusapnya terlalu pelan?" 


"Benarkah? tapi ... aku takut menyakitimu jika aku mengusapnya dengan keras."


"Tidak, itu tidak akan sakit."


"Benarkah? Jadi ... jika aku menyelesaikan ini, apa aku boleh meminta hadiahku?" tanya Alpha sedikit berbisik sambil terus mengusap rambut istrinya. Entah sejak kapan ia berubabah menjadi pria mesum.


"Hadiah? Kau menginginkan hadiah seperti apa sekarang?"


"Bukankah aku masih harus menyelesaikan tugasku sebagai seorang suami?"


"Kau tak kelelahan? Kita sudah melakukannya semalam, bahkan hingga berulang kali."


"Maaf, tapi aku rasa itu masih kurang," bisik Alpha.


Dengan lengan kekarnya yang mulai merangkul pinggang istrinya, menarik pelan hingga menempel sempurna di tubuhnya yang hanya bertelanjang dada sambil menggigiti daun telinga istrinya yang hanya pasrah, bahkan saat Alpha kembali menggendong tubuh dan membaringkannya dengan perlahan di atas tempat tidur yang baru saja ditata rapi.


"Kita harus fokus, agar cepat memiliki Alpha junior," bisik Alpha dengan senyum miringnya yang seolah tengah menikmati raut wajah merona istrinya.


"Ayolah, All. Kita tak bisa melakukannya lagi pagi ini. Setidaknya jangan sekarang," balas Emery, tapi tak menolak saat Alpha terus merusuh di leher, bibir dan wajahnya.


"Kenapa tidak? Kita memiliki banyak waktu."


"Ya. Tapi jangan lupa, pagi ini mereka akan berkunjung kemari."


"Siapa? Aku tak pernah menyuruh siapa pun untuk berkunjung ke sini, setidaknya sampai satu minggu ke depan."


"All ...."


"Ahh, aku serius. Siapa yang akan berani berkunjung tanpa perintah ...."


"Ibu."


Alpha lekas menghentikan aktifitasnya, meski dengan berat hati. Menatap wajah Emery yang hanya tersenyum. Merasa cukup lucu saat melihat ekspresi sang suami sekarang.


"Kau tersenyum?"


"Hmm, kau terlihat seperti seorang anak kecil yang tak mendapatkan mainan yang di inginkan."


"Ahh, kau bahkan sudah pandai menggodaku. Senang membuatku menderita karena sangat menginginkanmu? Ayolah, Emery. Kita bisa melakukannya sebentar, hanya tiga puluh menit saja," balas Alpha bergegas membuka kancing piyama sang istri.


"Mungkin Ibu sudah berada dalam perjalanan sekarang."


"Lima belas menit saja, aku rasa cukup."


"Dan mungkin mereka sudah berada di teras rumah kita saat ini."


"Oh, ayolah ...."


"Kau tak bisa orgasme dalam waktu cepat. Apa kau bisa melakukannya hanya dalam waktu lima belas menit?"


"Ya, jika kau ...."


"Lekas beranjak dan pakai bajumu. Jika tidak, akan ada keributan di sana. Jangan lupa, Leon akan berada ada di sana. Dia cukup rewel, sama sepertimu."


Alpha menarik nafas panjang sebelum melepaskannya dengan perlahan. Cukup untuk menenangkan otaknya yang sempat panas campur aduk karena terus menginginkan istrinya.


"Baiklah, kau bisa lepas dariku kali ini. Tunggu saja sampai aku benar-benar memiliki waktu banyak untukmu."


"Hmm, lakukan sepuasmu. Tapi sebelum itu. Lekas bersiap dan sambut mereka," balas Emery beringsut turun dari tempat tidurnya.


Melepaskan piyama yang membungkus tubuh polosnya, abaikan Alpha yang terus menelan ludah ketika melihat pemandangan indah di depan matanya.


"Tak perlu. Aku bisa memakai bajuku sendiri."


Alpha yang berniat berdiri, lekas menghentikan pergerakannya, dan kembali duduk.


"Aku hanya ingin membantu."


"All, kau tak akan membantuku. Kau akan merusuh. Tetap duduk di sana. Aku akan selesai lima menit lagi."


"Hmm," angguk Alpha menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil terus mengamati sang istri yang sedang mengenakan pakaian, menguncir rambut, sebelum mengolesi sedikit liptint di bibirnya. Dan mengapa Emery selalu terlihat cantik meski hanya dengan tampilan sederhananya saja.


"Kita bisa turun sekarang," ucap Emery buyarkan lamunan Alpha.


"Hm baiklah, dan sepertinya ... aku harus ...."


Alpha dengan tiba-tiba langsung meraih tubuh istrinya untuk di gendongnya, melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju pantry. Emery pun tak menolak, meski Alpha memperlakukan layaknya seperti anak kecil hingga terlihat seperti bayi koala. Bahkan ia dengan senang hati menghujani sang suami dengan kecupan di wajah hingga berulang kali, mengacak-acak rambut, dan kembali memeluk tubuh kekar itu erat seolah takut akan terjatuh.


"Siang ini biar aku yang membuat makan siang," ucap Alpha. Mendudukkan tubuh sang istri di atas counter dan mengenakan apron sebelum mulai beraktifitas.


"Apa kau benar-benar bisa melakukannya?" tanya Emery terlihat sedikit ragu saat melihat Alpha yang mulai mengeluarkan bahan makanan dari dalam lemari pendingin.


"Apa kau sedang meragukan kemampuan suamimu sekarang?"


"Hmm, Tuan muda sepertimu tidak mungkin bisa melakukan hal seperti ini. Kau hanya pandai memegang pena, bukan pisau dapur."


"Sebelum menikahimu, aku sengaja meminta Ibu untuk mengajariku memasak, agar nanti bisa memasak untukmu." 


"Benarkah? Tapi aku bisa melakukannya untukmu, dan memasak sudah menjadi bagian dari tugasku," balas Emery, amati sang suami yang mulai memotong sayuran. Cukup terkejut sebab Alpha benar-benar melakukannya dengan benar.


"Tidak, kali ini biarkan aku yang memasak untukmu, seperti saat dulu, kau yang sering melakukannya untukku," sambung Alpha yang masih fokus dengan masaknya, dengan sesekali menciumi wajah sang istri.


Emery mengulas senyum manis.


"Aku bahkan tidak tega melihatmu bekerja keras seperti ini."


"Kau selalu tersenyum dengan sangat manis, Emery. Dan aku sangat menyukainya," puji Alpha kembali mengecup bibir sang istri hingga berulang kali.


"Oh ayolah, sepertinya senyumku bisa mengacaukan masakanmu, sebaiknya aku pergi ...."


"Tetap di tempatmu," perintah Alpha, menghentikan pergerakan Emery saat akan bersiap pergi.


"Tapi aku harus ...."


"Stay here."


"Oh baiklah, Hubby."


"H-hubby?" balas Alpha dengan wajah yang seketika memerah, sangat menyukai panggilan baru yang di berikan Emery untuknya.


"Hmm, H-u-b-b-y." ulang Emery mengeja kata tersebut. "Why? Kau tak menyukainya?"


Hidung Alpha terlihat kempas-kempis menahan senyum, sambil menikmati jantungnya yang berdegup dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Bahkan hanya satu kata sederhana saja, tapi sangat membuatnya bahagia, bahkan jadi salah tingkah. Layaknya anak remaja yang baru mengenal cinta.


Apa seperti ini rasanya jatuh cinta? Ahh, sangat indah dan membahagiakaan. Hubby? Sebutan yang indah.


"All?"


"Ahh demi Tuhan, Emery. Aku semakin tidak bisa jauh darimu, kemarilah," balas Alpha yang tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Emery untuk di bawah ke dalam gendongannya. Tubuh ramping sang istri terlihat tidak menyulitkan pergerakannya sedikit pun.


"Alpha, kau tidak berniat untuk memasak seperti ini, kan?"


"Aku akan melakukannya, ini cukup mudah, tubuhmu juga sangat ringan," balas Alpha mulai menumis bumbu di dalam teflon saat usai mencuci sayuran dan daging. "Kau tidak akan kemanapun, karena kau akan menemani suamimu memasak kali ini," sambungnya.


"Apa kita bisa melakukan hal manis seperti ini setiap hari?"


"Of course. Everyday," balas Alpha mengecup ringan bibir sang istri sebelum kembali dengan aktifitasnya.


Hingga satu jam berlalu. Masakan Alpha sudah tersaji di atas meja, bersamaan dengan suara sapaan selamat siang dari keluarga besar Berta. Termasuk Akirra dan Augusto yang langsung melongo melihat sang majikan yang tengah menggenakan apron merah muda sambil memegangi teflon, lengkap dengan sang istri yang masih menempel kaku di tubuh tinggi kekarnya. Bahkan mereka kembali saling tatap, untuk meyakini jika saat ini mereka tidak masuk ke dalam rumah yang salah.


"Apa yang kalian lakukan di sana? Duduklah," perintah Alpha kepada dua pengawalnya yang langsung bergegas, setelah yakin jika mereka tidak salah rumah. Di depan mereka memang Alpha Khandra Berta, majikan mereka yang sudah berubah menjadi seorang pria manis usai menikah sehari lalu.


Dan Axel adalah tamu terakhir mereka hari ini. Sang menejer klub malam ini sengaja di mintai Alpha untuk menghadiri acara makan siang mereka hari ini.


***