
"Aarrhhgg.. "
Erangan Starla menahan sakit di seluruh tubuhnya. Bahkan tidak sampai di situ, tubuhnya tiba-tiba di tarik dengan paksa oleh pria bertopi hitam yang mencoba untuk merobek pakaian yang sekarang Starla kenakan.
"Mau apa kau... Lepaskan aku.. Aargghh.. Lepaaasss.... " Teriak Starla mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan pria bertopi hitam tersebut.
"Apa kau masih berani untuk bersuara?" Tanya Tuan Fridell lagi. Sedang Starla yang masih terisak dengan wajah yang terlihat pucat pasih karena ketakutan hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya, meringkuk untuk berusaha melindungi dirinya yang sudah nampak berantakan.
"Lemparkan dia di jalanan, wanita seperti dia pantas mendapatkannya." Perintah Tuan Fridell yang langsung di balas anggukkan oleh kedua pengawalnya yang sejak tadi mengapit tubuh Starla, dan dengan kasar mereka mendorong tubuh Starla hingga tersungkur di pinggiran trotoar.
"Saya rasa kau cukup mengenal saya dengan baik, jika kau masih ingin hidup dengan tenang, tinggalkan Negara ini, dan jangan pernah kembali lagi. Jika kau tidak bisa melakukannya, saya pastikan akan membuatmu menghilang dari muka bumi ini." Ucap Tuan Fridell, yang dalam hitungan detik mobil mewahnya sudah melaju meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan Starla yang masih bersimpuh di pinggiran trotoar dengan kondisi yang terlihat sangat berantakan.
Sambil menyeret langkahnya yang sudah terasa berat, Starla terus berjalan menyelusuri pekatnya malam, memaksakan tubuhnya yang sejak tadi masih bergetar karena rasa takut yang tidak kunjung hilang. Bahkan dengan sekuat tenaga Starla berusaha menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak kembali terjatuh. Bahkan air matanya yang sejak satu jam lalu terus saja menitik seakan tidak ada habisnya, rasa sakit di sekujur tubuhnya kini semakin terasa akibat di lempar begitu saja dari dalam mobil yang dilakukan oleh suruhan orang-orang Tuan Fridell.
"Starlaaaaa... Starlaaaa.. Dari mana saja kau, apa yang sudah terjadi..." Seru Lucas yang langsung berlari menghampiri kala netranya tertuju pada sosok Starla. Hingga semenit kemudian, ekspresinya Lucas tiba-tiba berubah saat melihat kondisi Starla yang benar-benar kacau dengan pakean yang sedikit robek juga rambut yang terlihat sangat berantakan.
"Starla.. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Lucas panik.
"TINGGALKAN AKU SENDIRI...." Teriak Starla dengan tatapan dinginnya, bahkan dengan keras ia mendorong tubuh Lucas hingga terpental ke belakang.
"Starla.. Ada apa denganmu?" Tanya Lucas terkejut dengan reaksi Starla yang tidak seperti biasa.
"TINGGALKAN AKU SENDIRI, JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI, JANGAN PERNAH MENYENTUHKU, JANGAN PERNAH... PERGIIIII... PERGI DARI HIDUPKU SEKARANG.. AKU MEMBENCIMU LUCAS.. SANGAT MEMBENCIMU...." Raung Starla yang terus mendorong tubuh Lucas, bahkan ia tidak memberikan kesempatan kepada Lucas untuk berbicara.
"Starla... "
"PEERRGIIIII... PERGIII SEKARANG...AARRGGHHH...." Teriak Starla dengan sangat keras, layaknya seorang yang tengah mengalami depresi, bahkan Starla sampai menjambak rambutnya sendiri dengan sangat keras.
"Starla.. Apa yang terjadi, jangan buat aku gila.. Aku mohon, katakan padaku.. Siapa yang melakukan hal ini padamu."
"MENJAUH DARIKU... PERGIIII.." Jerit Starla semakin histeris dan langsung berlari meninggalkan Lucas yang masih bersimpuh di jalan aspal seraya tertunduk sambil menatap jalan dengan perasaan sakit dan marah.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu," Gumam Lucas dengan wajah yang nampak memerah menahan tangis, bahkan tubuhnya terlihat bergetar menahan amarah yang tiba-tiba muncul sambil mengepalkan tangannya erat, Lucas terus menatap punggung Starla yang semakin menjauh dan tertelan pekatnya malam yang dingin dan senyap.
Sedang Starla masih terus berlari sambil mengusap tubuhnya dengan sangat kasar, ia bahkan mulai merasakan jika banyak noda yang menempel di seluruh tubuhnya. Bahkan saat ia memasuki rumahnya sendiri, Starla langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, menyalakan shower dan terus menggosok tubuhnya hingga memerah bahkan nyaris berdarah.
"Menjijikkan... Sungguh menjijikkan.. Kotor.. Kau gadis yang paling kotor dan menjijikkan Starla, kau tidak pantas dicintai oleh siapapun.. Kau terlalu kotor.. Kenapa noda ini tidak bisa hilang.. Menjijikan.. Aarrhhgg.. Menjijikan.. Aarrhhgg.." Teriak Starla yang terus menggosok tubuhnya sendiri secara terus menerus, bahkan satu jam berlalu, Starla masih terus menggosok tubuhnya, hingga menyisakan luka gores dengan tubuh yang penuh ruam memerah setengah berdarah.
Bayangan Alpha dan Ibunya kembali melintas di pikiran Starla, Ia terus menagis sejadinya hingga kembali menjambak rambutnya dengan sangat keras, perasaan sakit seolah akan membunuhnya sebentar lagi, sebab hanya untuk bernafas saja sangat sulit.
Kenapa semua menjadi seperti ini, ini bukan kehidupan yang aku inginkan..
Tubuh Starla meringkuk di sudut ruangan gelap di dalam rumahnya, kejadian 10 tahun lalu yang di mana ia harus kehilangan semuanya saat keegoisan seseorang memaksa untuk merengut semua kebahagiaan dan masa depannya kembali hadir di dalam pikirannya, di mana pada malam itu, ia harus merelakan tubuhnya di jamah oleh pria asing yang tidak di kenalnya, bahkan bukan hanya seorang pria asing saja di sana, tetapi tiga pria asing yang dengan tega menculik dan menyekapnya, bahkan menidurinya secara bergiliran. Dan hanya satu wajah yang Starla lihat pada malam itu, hanya ada satu suara yang terekam jelas di telinga juga ingatannya sampai saat ini, pria bertopi juga hoodie hitam, yang baru beberapa jam lalu kembali di lihatnya bahkan kembali menyentuhnya dengan sangat kasar, meskipun pria tersebut tidak sampai menjamah tubuhnya seperti apa yang pernah ia lakukan 10 tahun lalu, namun perlakuan pria itu cukup membuat Starla syok sebab ia kembali merasakan rasa takut yang berlebihan.
"AARRGGHHH..... AAARRGGGHH.."
Teriakan keras Starla kembali memenuhi ruangan kamarnya yang pengap dan gelap, air matanya terus mengalir sejak beberapa jam lalu. Starla kembali merasa jika dunia ini sungguh tidak adil padanya, semua seolah di rebut dengan paksa darinya dan tidak menyisahkan satupun yang setidaknya bisa membuatnya tersenyum dan tetap bertahan untuk menjalani hidup sendirian. Semua seolah pergi dan menghilang, menyisahkan luka dan sakit di dalam hati dan di setiap hari-harinya.
"Alpha.. Aku ingin berada di kehidupan lain, aku ingin hidup di kehidupan lain, dan ingin kembali bersamamu di kehidupan lain, aku akan mencintaimu dan selalu menemanimu. Bisakah kau menungguku.. Alpha.. Alpha..." Gumam Starla yang terus memanggil nama sosok yang sangat di rindukannya saat ini. Terus hingga tubuhnya melemah, dengan tatapan mata yang mulai kabur, dan kepala yang terasa berat. Untuk sesaat semua perlahan menjadi gelap, hingga Starla tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Heejin kembali pingsan tidak sadarkan diri dengan luka sayatan di lengannya bersamaan dengan darah kental yang mengalir. Dan untuk yang kesekian kalinya, Starla kembali melukai dirinya sendiri dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
* * * * * *
* MANSION ALPHA KHANDRA.
Alpha termenung di atas balkon kamarnya dengan tatapan yang menerawang ke atas langit malam yang malam ini terlihat gelap tertutup awan yang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, bahkan suara guntur mulai bersahutan, bersamaan dengan kilatan petir yang sesekali terlihat terang.
Sejak satu jam lalu, Alpha sudah merasakan ada yang aneh dengan perasaannya, hatinya tiba-tiba merasakan kesedihan juga kegelisahan yang entah datangnya dari mata, bahkan Alpha sempat berfikir jika semua perasaan gelisah itu hadir di sebabkan rasa rindunya ke pada sang Ibu, namun usai melakukan panggilan video call dan berbincang dengan sang Ibu selama beberapa menit, perasaan sedih itu masih saja terus di rasakan Alpha, entah apa yang salah dengan perasaannya saat ini. Yang jelas perasaan gelisah yang tiba-tiba ini seakan membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin.
Dengan perlahan Alpha melangkah keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Leon yang sudah tertutup rapat. Lama Alpha berdiri di depan pintu dengan pikiran kacaunya, Hingga tangannya kembali mengetuk pintu tersebut beberapa kali.
"Leon.. Apa kau tidur?"
Tanya Alpha sambil terus mengetuk pintu kamar Leon yang masih tertutup, Alpha yang merasa jengah langsung menghentikan gerakan tangannya, dan langsung memutar knop pintu kamar Leon sambil memanggil sang pemilik kamar. Tampa menunggu jawaban sang pemilik kamar, Alpha langsung menerobos masuk, dan menarik selimut yang menutupi tubuh Leon yang tengah tertidur. Hingga gangguan kecil dari Alpha berhasil membuat Leon terbangun dengan perasaan kesal dan juga bingung, manakala saat membuka matanya, Leon langsung mendapati Alpha yang tengah berdiri di sampaing ranjangnya sambil nersedekap dengan ekspresi yang terlihat cemas.
"Apa yang salah denganmu?" Tanya Leon sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 tengah malam. Sedang Alpha lebih memilih bungkam di bandingkan harus menjawab pertanyaan Leon, bahkan tampa basa basi Alpha langsung mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang Leon dengan perasaan yang semakin gelisah.
"Apa kau akan terus di situ dan tidak tidur? setidak bicaralah, apa yang kau inginkan di malam selarut ini." Tanya Leon sekali lagi sambil terus mengucek matanya.
"Yoon.. Aku merasa ada yang salah dengan perasaanku," Jawab Alpha seraya memegangi dadanya.
"Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Leon yang langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Alpha yang di rasa masih normal.
"Entahlah.. Aku hanya.."
"Alpha.. Apa yang sedang kau pikirkan? Kau baik-baik saja kan, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Leon sedikit khawatir dan juga merasa aneh, sebab Alpha yang tidak biasanya membangunkannya di tengah malam, tiba-tiba menggedor pintu kamarnya, bahkan membangunkannya dengan paksa.
"Tidak, aku merasa gelisah, mungkin hanya perasaanku saja,"
"Apa kau yakin?" Tanya Leon yang masih belum yakin.
"Hm.. "
"All.. Aku sudah lama mengenalmu, apa kau benar-benar tidak sedang memikirkan sesuatu? Apa ini ada hubungannya dengan Starla?" Tanya Leon yang langsung membuat Alpha terdiam untuk sesaat saat mendengar nama Starla keluar dari mulut Leon, sebab sejak beberapa saat yang lalu, Alpha memang benar-benar sangat merindukan sosok Starla.
"Apa itu benar?"
"Entahlah.."
"Alpha.. Sepertinya kau sangat merindukannya, kenapa kau tidak menemuinya saja?" Saran Leon.
"Apa mungkin aku bisa menemuinya, sedang Starla sendiri sudah tidak ingin melihatku." Balas Alpha yang tiba-tiba terlihat sangat sedih.
"Tapi bukankah kau sangat merindukannya sekarang?" Tanya Leon yang sudah sangat mengerti dengan perasaan Alpha.
"Tapi bukan berarti aku harus menemuinya, dan kembali membuatnya merasakan suasana hati yang buruk karena melihatku?"
"Kau salah.. Mungkin saat ini Starla juga sangat ingin bertemu denganmu," Balas Leon yang berusaha meyakinkan Alpha yang terlihat sudah kehilangan kepercayaan diri, apalagi jika menyangkut masalah Starla. Alpha sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Entahlah.. Aku bahkan terlihat seperti pria bodoh sekarang, merindukan sesuatu yang tidak di harapkan sedikitpun."
"Alpha.. "
"Mungkin aku hanya kesulitan tidur malam ini, dan ingin mengobrol.. "
"Baiklah.. Aku akan menemanimu," Ucap Leon yang langsung menyibak selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Tidak perlu.. Istrahatlah.." Jawab Alpha yang langsung beranjak dari duduknya.
"Apa kau yakin?"
"Hm.. Aku akan meminum beberapa pil dan mencoba untuk tidur." Balas Alpha yang langsung melangkah keluar meninggalkan Leon yang masih melongo. Dan kembali ke kamarnya seraya meraih ponsel yang terletak di atas nakas dan menghubungi seseorang.
Satu panggilan tidak terjawab, dan Alpha kembali memanggil nama yang tersimpan di ponselnya, hingga beberapa panggilan, namun tetap saja, panggilan Alpha kembali di abaikan.
Apa kau benar-benar sudah tidak ingin bertemu denganku Starla..
Alpha yang semakin merasakan kegelisahan, langsung melangkah menuju pintu keluar yang langsung di sambut oleh hujan yang malam ini tiba-tiba turun begitu deras. Alpha langsung melajukan mobilnya, menerjang hujan dan melintasi jalanan yang sudah sepi menuju rumah seseorang yang sejak tadi membuat perasaannya gelisah. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, yang jelas hatinya sangat ingin melihat Starla.
Setidaknya biarkan aku melihatmu sekali saja.
Alpha yang langsung menghentikannya laju mobilnya tiba-tiba merasa semakin gelisah, kala netranya tertuju pada mobil ambulance yang terparkir tepat di depan rumah Starla, dan beberapa perawat yang berlarian sambil membawa brankar dan beberapa alat rumah sakit untuk pasien sekarat.
Starla..
Alpha langsung keluar dari mobilnya dan terus berlari mendekati mobil Ambulance, bahkan Alpha sudah tidak menghiraukan hujan lagi yang semakin deras mengguyur tubuhnya yang tiba-tiba berhenti mematung tepat di depan rumah Starla, kala ia melihat tubuh Starla yang sudah tidak sadarkan diri dan penuhi darah tengah berada di dalam gendongan Lucas.
"Starla.. " Gumam Alpha dengan tubuh yang bergetar, saat melihat darah yang terus menetes dari pergelangan Starla Bahkan mulutnya tiba-tiba terbungkam saat tatapan dingin dari Lucas tertuju ke arahnya. Seolah Alpha adalah seorang pelaku utama dari kejadian yang menimpa Starla saat ini.
"Apa yang terjadi... Apa yang terjadi dengannya.. Lucas... " Alpha yang nampak ketakutan dan panik langsung berlari menuju brankar yang di sana sudah terbaring tubuh Starla yang terlihat membiru. Sebelum akhirnya tubuhnya tersungkur kebelakang saat Lucas dengan sekuat tenaga melepaskan satu pukulan dan tepat mengenai wajahnya.
"Menjauh darinya.." Ucap Lucas yang langsung berdiri tepat di samping brankar sebelum para perawat memasukkan brankar tersebut ke dalam mobil ambulance.
"Lucas.. Aku mohon.. Biarkan aku melihatnya.. "
"Pergilah.. "
"AKU TIDAK AKAN KEMANAPUN SEBELUM MELIHATNYA BANGSAT." Teriak Alpha yang langsung melepaskan satu pukulan keras ke arah Lucas hingga membuat tubuh tinggi itu terjungkal.
Dengan cepat Alpha berlari ke arah ambulance yang sudah melaju dengan kecepatan tinggi bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras, seolah sengaja untuk menutupi air mata Alpha yang saat ini tengah menangis sambil terus mengejar mobil ambulance yang membawa Starla.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.