I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kang Daniel Elfredo.



Mobil mewah Tuan Fridell terparkir tepat di depan sebuah bangunan Apartemen yang terlihat cukup sederhana. Dengan langkah perlahan Tuan Fridell


memasuki Apartemen tersebut hingga lift yang membawa Tuan Fridell berhenti tepat di lantai 16.


"Ayah.. "


Seru pria yang tengah duduk di sebuah sofa sambil mengerjakan beberapa laporan di dalam laptopnya, namun saat Tuan Fridell yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri mendekat, pria tersebut langsung menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya untuk menyambut sang Ayah.


"Ada apa Ayah? Tidak biasanya Ayah datang untuk berkunjung, apa nada sesuatu?" Tanya Kang Daniel.


"Ayah hanya merindukanmu, apa itu salah?"


"Tidak Ayah, silahkan duduk. Ayah nampak kelelahan." Balas Kang Daniel yang langsung mempersilahkan Tuan Fridell untuk duduk.


"Apa yang sedang kau lakukan Daniel? Bukankah sudah waktunya kau beristirahat?" Ucap Tuan Fridell yang langsung mengusap pundak putranya.


"Mungkin sebentar lagi Ayah," Jawab Kang Daniel sambil merebahkan tubuh lelahnya di sandaran sofa.


"Sampai kapan kau akan tinggal di tempat pengap seperti ini Daniel? Bahkan kau sudah jarang mengunjungi Mansionmu." Tanya Tuan Fridell sambil mengamati tiap sudut ruangan Apartemen Kang Daniel yang meskipun terlihat sederhana dan sempit namun sangat rapi.


"Aku sudah terlanjur betah di Apartemen ini Ayah, lagi pula Apartemen ini lumayan dekat dengan tempat tinggal atasanku sekarang." Balas Kang Daniel dengan senyumnya yang membuat Tuan Fridell mengernyit.


"Benarkah? Apa bukan karena alasan lain?" Tanya Tuan Fridell seraya menatap wajah lelah putranya.


"Memang alasan apa lagi yang aku miliki Ayah," Jawab kang Daniel tersenyum.


"Apa kau masih akan merahasiakannya kepada Ayah, siapa keluarga yang sedang kau jaga sekarang?"


Aku masih menjaga keluarga Cullen Ayah, maaf.. Jika aku merahasiakannya dari Ayah.


"Maaf jika aku masih belum bisa memberitahu Ayah. Tapi suatu saat Aku pasti akan memberitahu Ayah."


"Yah, Ayah harap secepatnya,"


"Iya Ayah.."


"Baiklah.. Ayah harus pulang sekarang, Ayah cukup lelah hari ini. kau tahu sendirikan butuh tenaga ekstra untuk mengadapi Lucas adikmu. Dan Ayah harap kau tidak berlama lama di tempat ini Daniel dan tinggallah di Mansionmu sendiri." Balas Tuan Fridell seraya beranjak dari duduknya untuk bersiap pergi.


"Baik Ayah, Apartemen ini hanya untuk sementara."


"Ayah harap juga begitu."


"Memangnya apalagi yang Lucas lakukan Ayah?" Tanya Kang Daniel sembari membuka layar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Ayah baru saja memperkenalkannya dengan seseorang yang akan menjadi calon istrinya."


"Apa? Jadi Ayah berniat untuk menjodohkan Lucas?"


"Hm,"


"Lalu? Apa Lucas mau menerimanya?" Tanya Kang Daniel sedikit penasaran.


"Mau tidak mau dia harus menerimanya, sebab hanya wanita ini yang bisa mengimbangi sikap arogan dan keras kepala adikmu." Balas Tuan Fridell yang membuat Kang Daniel sedikit tersenyum.


"Bukankah kasian dengan calon istrinya, sebab ia akan hidup bersama seorang pria yang tidak menginginkannya?" Balas Kang Daniel yang tiba-tiba merasa iba kepada calon istri adiknya tersebut.


"Dari perkataanmu barusan seolah kau sudah memiliki pengalaman pahit tentang hidup bersama seseorang yang tidak mencintaimu sedikitpun." Balas Tuan yang membuat Kang Daniel terdiam sejenak.


Mungkin Ayah benar, bahkan sudah sejak lama aku merasakannya.


"Mungkin Ayah benar, tapi lupakan saja. Sekarang aku malah jadi memikirkan Lucas."


"Kau tidak perlu memikirkannya, Ayah yakin. Hal itu tidak mungkin berlangsung lama, sebab Emery adalah gadis yang..."


"Tunggu. siapa nama wanita itu?" Sela Kang Daniel mengernyit dan langsung menatap lekat sangat Ayah.


"Maksud kamu?"


"Apa baru saja Ayah menyebut nama Emery?" Tanya Kang Daniel meyakinkan pendengarannya.


"Yah, Emery. Emery Cullen. Anak dari Chris Cullen, Ayah rasa kau pasti mengenalnya kan? Bukankah kau cukup lama bekerja dengan keluarga Cullen saat itu."


Tidak hanya mengenalnya Ayah, tapi anak Ayah ini mencintainya, tapi kenapa..


"Daniel.. Ada apa?" Tanya Tuan Fridell yang nampak kebingungan dengan sikap diam Kang Daniel saat ini.


"Kenapa harus wanita itu Ayah?" Ucap Kang Daniel perlahan dengan suara begetarnya.


"Maksud kamu? Apa ada yang salah?" Tanya Tuan Fridell yang semakin bingung. Apalagi di saat ia melihat Kang Daniel yang terlihat murung dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.


Emery adalah gadis yang sudah lama aku cintai Ayah.


"Apa Ayah yakin akan melakukannya? mereka berdua tidak akan merasa bahagia dengan pernikahan itu Ayah."


"Apa? kenapa kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu Daniel?"


"Seperti yang Ayah dengar. Bahkan Lucas sendiri tidak mencintai Emery, begitupun dengan Emery, Bukankah itu tidak adil buat mereka berdua Ayah?"


"Daniel.. Ayah tahu dengan apa yang Ayah lakukan, dan kau tidak perlu khawatir. Semua akan berjalan sesuai dengan rencana Ayah."


"Ayah.. "


"Cukup Daniel, kau adalah putra Ayah yang tidak pernah menentang Ayah, jadi untuk masalah ini, kau tidak perlu memikirkannya. Dan Ayah tidak mau kau ikut campur."


"Ayah.."


"Ayah pulang sekarang." Balas Tuan Fridell yang langsung melangkah menuju pintu keluar.


"Maafkan Ayah Daniel, tapi Ayah tidak bisa merubah keputusan Ayah." Ucap Tuan Fridell sebelum ia meninggalkan Apartemen tersebut, meninggalkan Kang Daniel yang masih terpaku di tempatnya dengan perasaan sakit. Bahkan saat ini ia merasa jantungnya seperti di tusuk-tusuk benda tajam, membuatnya sesak.


Kang Daniel menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, seraya memejamkan matanya sambil mencengkram rambutnya. Bahkan ia yang hanya berstatus sebagai anak yang di rahasiakan oleh Tuan Fridell tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya untuk mengatakan jika Emery adalah wanita yang di cintanya saja ia tidak bisa.


* * * * *


* MANSION ALPHA KHANDRA.


Dengan keadaan berantakan dan tidak sepenuhnya sadar, Alpha menyeret langkahnya untuk  masuk kedalam Mansionnya, memegangi apa saja yang bisa ia pegang untuk menahan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh. Matanya terlihat merah dengan rambut yang terlihat acak-acakan, juga baju kemeja yang sudah terlihat kusut. Bau alkohol seketika menyeruak memenuhi ruangan tersebut, bau menyengat yang berasal dari Alpha yang saat ini tengah menyeret langkanya, dengan sangat hati-hati Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kepalanya yang di rasakan seperti akan meledak membuatnya kesulitan untuk bergerak lagi. Rasa mual di perutnya membuatnya sesekali ingin mengeluarkan semua isi perutnya, namun selalu di tahannya. Entah berapa botol Champagne yang Alpha habiskan di Bar malam ini, yang jelas saat ini ia terlihat sangat mabuk. Suasana hati yang buruk membuat Alpha prustasi dan lebih memilih menghabiskan waktunya di sebuah Bar untuk meminum alkohol. Hatinya benar-benar hancur saat ini, sangat sulit untuk menerima semuanya, bayangan Starla bahkan sudah sangat melekat di dalam pikirannya.


Kenapa sangat sulit untuk melupakanmu.. Bagaimana caraku untuk melupakanmu, bahkan aku sudah tidak berdaya lagi sekarang. Kau benar-benar menghancurkan semuanya tampa sisa Starla..


Air mata Alpha mengalir dari sudut matanya, badannya merosot kebawah, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia tekuk. Dengan perasaan hancur, Alpha meluapkan segala rasa sakitnya dengan isakkan yang membuatnya benar-benar terlihat sangat rapuh.


"All.. "


Seru Leon saat mendapati Alpha yang tengah menangis layaknya seorang anak kecil yang kehilangan sebuah mainan. Bahkan saat ini Leon dengan jelas dapat melihat sisi lain dari seorang Alpha saat air mata Alpha yang selalu terlihat kuat, tegas, dingin dan kaku menetes begitu saja.


"Apa kau mabuk? Hei, ada apa denganmu?" Tanya Leon mulai khawatir saat melihat kondisi Alpha saat ini. Kondisi yang benar-benar sudah berada di titik terendah bahkan terlihat seperti seseorang yang putus asa.


"Yoon.. Dadaku seperti akan meledak," Ucap Alpha seraya mendongakkan kepalanya ke atas sambil mencengkram keras dadanya.


"Alpha.. Apa yang terjadi? Kenapa kau menjadi seperti ini?" Tanya Leon sekali lagi sambil mencengkram bahu Alpha yang bergetar.


"Kenapa wanita selalu memiliki banyak alasan, atas semua tindakannya yang sangat membingungkan? Kenapa mereka tidak diam saja dan menurut?"


"Alpha.. Apa Starla.. "


"Kau benar Yoon.. Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk terus berada di sisinya, bahkan cintaku membuatnya sulit untuk bernafas, dia tidak benar-benar menginginkanku Yoon.. " Balas Alpha semakin terisak.


"Apa kau sedang mengeluarkan air matamu untuk Starla? All.."


"Aku terlalu menyayanginya Yoon, hingga membuatku merasa seperti seorang yang bodoh, aku tidak berhasil meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja, aku.. Aku..."


"Alpha.. "


"Ternyata selama ini aku tidak berarti baginya," Ucap Alpha yang langsung beranjak dari duduknya, meski ia kembali terjatuh saat tidak mampu lagi menyeimbangi tubuhnya karena mabuk.


"Alpha... " Seru Leon seraya memegangi lengan Alpha yang kembali terjatuh, meskipun tangan Leon lagi-lagi di tepis oleh Alpha yang masih berusaha untuk berdiri sendiri, meskipun beberapa kali ia harus kembali terjatuh, hingga membuat lututnya sakit akibat terbentur lantai keramik berulang kali, dan hal itu sangat jelas saat Alpha terlihat meringis.


"Hentikan Alpha." Seru Leon yang tiba-tiba merasa marah. Dan dengan keras  mencengkram lengan Alpha dengan sangat keras.


"Apa kau sedang menyiksa dirimu sendiri sekarang?" Tanya Leon yang sudah merasa geram sekaligus sedih, bahkan matanya sudah terlihat memerah karena menahan butiran bening yang sudah bertengger di sudut matanya saat melihat telapak tangan Alpha yang terlihat memar dan bengkak. Hal itu membuat Leon benar-benar merasa sangat marah, namun ia tidak tahu mesti marah kepada siapa selain pada dirinya sendiri.


Maafkan aku.. Aku yang selalu memaksamu untuk membuka hatimu kepada wanita, tapi.. Tapi bukan ini yang aku inginkan Alpha, melihatmu terpuruk seperti ini, melihatmu menagis, bukan seperti ini yang aku harapkan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Karena kau sudah cukup menderita selama ini.


"Lepaskan aku Yoon.. Aku baik.. Baik saja.. Aku hanya merasa sakit di sini.. Dan pasti akan sembuh dengan sendirinya.. Aku.. Hanya butuh.. Tidur, untuk.. Melupakannya.. Aku akan melupakannya.. Benarkan Yoon.. Semua.. Pasti akan baik-baik saja.. Seperti apa yang selalu kau katakan.. " Racau Alpha sampai akhirnya tubuhnya tersungkur di atas carpet berbulu karena kelelahan.


"Bahkan ini cinta pertamamu, tapi kau sudah patah hati sebelum merasakan kebahagiaan." Gumam Leon sambil memapah tubuh Alpha ke arah sofa dan membaringkannya di sana.


"Leon... "


Seru Dareen sedikit berlari dengan nafas yang terengah dan langsung menghampiri Leon yang tengah membuka sepatu Alpha yang sudah terlelap.


"Apa Tuan muda baik-baik saja?" Tanya Dareen yang kelihatan khawatir.


"Sejujurnya kondisinya tidak baik, baru kali ini aku melihatnya mabuk sampai separah ini." Jawab Leon yang masih menatap wajah Alpha.


"Maaf, saya tidak bisa mencegahnya agar tidak meminum minuman alkohol  sebanyak ini,"


"Aku mengerti, memang siapa lagi yang bisa mencegahnya, dia bahkan tidak pernah mau mendengar perkataan orang lain," Ucap Leon yang sudah mengerti dengan tabiat Alpha sepupunya.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Selama 13 tahun saya bersama Tuan Muda, saya bahkan tidak pernah melihatnya meminum alkohol sampai segila ini, Tuan Alpha bahkan memaksa mengendarai mobil sendiri untuk pulang ke Mansion, saya benar-benar khawatir, sebenarnya apa yang telah terjadi siang tadi, sebab setahu saya, pagi tadi dia masih dalam kondisi yang baik saat di Perusahaan."


"Memangnya menurutmu siapa lagi yang bisa membuat Alpha seperti ini?" Balas Leon seraya mengalihkan  pandangannya ke arah Dareen.


"Nona Starla?"


"Yah, hanya dia yang bisa membuat Alpha menjadi seperti ini sekarang, membuatnya menjadi terlihat sangat buruk bagi seorang pria seperti Alpha." Jawab Leon.


"Apakah separah itu?" Tanya Dareen perlahan.


"Hm, Seumur hidupnya Alpha tidak pernah mencintai atau jatuh cinta kepada siapapun, kau tahu sendiri kan? Dan rasa sakit yang Alpha rasakan sekarang,  membuatnya sangat terluka."


"Apa tidak ada jalan keluar?"


"Menurutmu apa yang bisa kita lakukan? Balas Leon seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Leon.. Apa anda tidak bisa membantu mereka?"


"Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan? Dalam masalah ini, aku tidak berhak untuk ikut campur. Karena melibatkan dua perasaan di antara mereka, perasaan yang tidak semua orang bisa melibatkan diri untuk ikut campur."


"Saya mengerti.. Saya hanya tidak bisa melihat Tuan Alpha terus seperti ini." Ucap Dareen dengan nada yang penuh dengan kekhawatiran.


"Dia akan baik-baik saja." Balas Leon perlahan seraya memejamkan matanya. Hanya kata itu yang bisa ia katakan saat ini.


Bayangan Nyonya Aleen Ibu Alpha kembali hadir di dalam pikirannya, membayangkan raut wajah sedih di wajah Nyonya Aleen sungguh membuat Leon khawatir. Nyonya Aleen yang selalu ingin melihat Alpa bahagia, dan pasti Nyonya Aleen akan sangat terluka jika melihat kondisi Alpha saat ini, dan hal itulah yang menjadi kekhawatiran Leon selama ini.


Bibi Aleen.. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, maafkan aku..


Leon menarik nafas dalam sembari membuka kelopak matanya, dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Alpha yang masih terlelap.


"Sepertinya anda kelelahan, istrahatlah, saya akan membawa Tuan Alpha ke kamarnya." Ucap Dareen sesaat saat melihat Leon yang tengah memijat tengkuk lehernya.


"Aku akan membantumu Dareen." Balas Leon yang langsung memapah tubuh Alpha di bantu oleh Dareen menuju kamar lantai dua milik Alpha.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.