I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Jackob Sean Almero



KEDIAMAN BERTA


"Selamat sore, Tuan," sapa Akirra yang baru saja memasuki ruang kerja Alpha yang di sana sudah berdiri Augusto, juga Darren dan Leon.


"Apa Emery masih di taman?" tanya Alpha saat Akirra sudah berdiri di hadapannya.


"Ya, Tuan. Nyonya Emery sedang berbincang dengan Nyonya besar."


"Yoon, bisakah kau mengalihkan perhatian Emery untuk beberapa jam? Kau tahu, Emery tidak mengetahui pertemuanku dengan Jackob Sean malam ini," ucap Alpha mengalihkan pandangan ke arah Leon yang langsung membalasnya dengan anggukan.


"Apa kau yakin akan bertemu pria itu?" tanya Leon nampak ragu. 


Sebab yang ia tahu, Alpha akan pergi menemui salah satu anggota mafia yang cukup berbahaya, terkenal bengis, dan tak berperasaan. Bukan seorang gangster yang biasa mereka temui selama ini.


"Aku tidak punya pilihan lain, aku harus mengetahui apa yang Jackob Sean inginkan dariku." 


"Baiklah, aku percaya kau pasti bisa melakukannya."


"Aku akan pergi bersama Darren dan Augusto. Kau bisa berjaga di sini, dan sebentar lagi beberapa orang dari Axel akan datang. Kalian tahu, kan? Apa yang harus di lakukan jika aku tidak kembali dalam waktu dua jam," balas Alpha kembali menatap Akirra  yang kembali mengangguk paham.


"Ya, Tuan, saya mengerti."


"Aku akan berangkat sekarang," balas Alpha beranjak dari duduknya.


Melangkah keluar tanpa berpamitan dengan sang istri yang masih asik berbincang di taman bunga mawarnya sambil menikmati secangkir coklat panas yang di temani suasana hangat di sore hari.


Menanggalkan kemeja yang di kenakan, Alpha pergi dengan hanya menggunakan ripped skinny jeans hitam yang di padankan dengan kaus polos hitam serta jaket kulit warna senada lengkap dengan sepatu bootsnya. Dan tak lupa juga menyelipkan Glock 45 GAP di balik punggungnya.


Hingga mobil Alphard hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah arena pusat Latihan memanah dan menembak di area pinggiran kota. Sedikit masuk ke dalam lahan yang di penuhi jejeran pohon pinus. Bahkan tanpa membuang waktu Alpha dan Darren langsung masuk ke dalam ruangan latihan, sedang Augusto menunggu di luarnya, tepatnya bersiaga dengan barrett M95 miliknya yang selalu ia bawah jika tengah berjaga dan mengintai, seperti saat ini. Augusto langsung berlari ke atas pohon yang paling rimbun dan tinggi di sana, tepat dengan belakang gedung lantai dua, sudut bibir Augusto nampak melengkung ke atas, saat teropongnya tepat mengenai kepala seseorang yang saat ini tengah duduk di sebuah kursi, dengan seseorang yang saat ini sedang berbicara lewat ponselnya.


Bahkan Augusto terlebih dulu menemukan Jackob Sean di banding Alpha. Hingga beberapa menit kemudian nampak Alpha dan Darren terlihat di sana, saling menyapa dengan sorot mata yang tak biasa, dingin, datar, dan tak bersahabat. Itulah yang Augusto lihat lewat teropongnya.


"Kau cukup memiliki nyali juga untuk menemuiku di sini," ucap Jackob Sean masih menatap tajam, sambil menyulut rokoknya. 


Di ruangan tersebut nampak sepi. Bahkan hanya mereka berempat. Namun, Alpha yakin jika semua orang Jackob Sean tengah bersembunyi di satu tempat dengan sniper mereka. Mungkin. Dan ia harap Augusto bisa menemukan lokasi yang tepat tanpa ketahuan. Meski ia tidak perlu mengkhawatirkan seorang Augusto yang bukanlah seorang yang biasa dan ceroboh.


Senyum smirk nampak terlihat di wajah Alpha, terus berdiri di hadapan Jackob Sean yang masih duduk menyilangkan kaki.


"Tidak usah berbasa-basi, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Alpha masih menatap tajam penuh waspada sambil mempelajari situasi, saat ia melihat beberapa orang yang di ketahui sebagai kaki tangan Jackob Sean mulai bermunculan.


"Calm down, duduklah," jawab Jackob Sean terlihat santai.


"Kau cukup menggangguku, Alpha Khandra Berta."


"Aku minta maaf."


"Hanya itu?" balas Jackob Sean menyalakan pemantik dan kembali membakar rokok yang sudah terselip di bibirnya.


"Emery Cullen,"


"Bedebah sialan!" desis Alpha.


"Tuan," panggil Darren pelan, masih berusaha untuk menenangkan Alpha yang nyaris melepaskan satu pukulan ke arah Jackob Sean yang tengah terbahak. Seolah tengah menikmati ekspresi Alpha saat ini.


"Aku serius."


"Dia istriku."


"Yes I know, but i want her," balas Jackob Sean yang membuat Alpha semakin meradang.


"Maka aku akan membunuhmu."


"Tidak semudah itu tuan Alpha. Kau bahkan sudah terkepung olehku." 


"Kita bisa membicarakan masalah ini secara baik-baik, Nyonya Emery tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, saya harap Anda bisa bersikap rasional," sambung Darren diam-diam pegangi lengan Alpha, berusaha menekan kemarahan pria itu yang sudah terlihat akan mengambil senjata yang terselip di balik punggungnya.


"Ya, tadinya aku berfikir demikian, mungkin kita bisa berdamai dengan cara yang mudah. Namun, sepertinya kau sudah menikahi wanita incaranku sejak lama," balas Jackob Sean nampak datar tak berekspresi, dan tiba-tiba saja terlihat marah meski tak langsung menujukkannya.


Begitu juga dengan Alpha yang benar-benar menahan amarahnya, bahkan wajahnya nampak memerah dengan graham yang mengeras bersamaan dengan suara gemeretak yang terdengar di dalam sana.


"Puteri Chris adalah wanita yang sudah lama aku inginkan, jadi kau bisa menyerahkannya padaku, maka urusan kita akan selesai, dan aku akan melepaskanmu dengan suka rela," sambung Jackob Sean dengan satu alis terangkat ke atas.


"Maka aku akan melubangi keningmu," balas Alpha beranjak dari duduknya, sebelum akhirnya pergerakannya terhenti saat beberapa orang suruhan Jackob Sean menodongkan senjata ke arahnya. 


Mungkin jika ia mengeluarkan senjata, ia bisa saja mati saat itu juga. Namun, di luar sana telunjuk Augusto sudah bergerak dan siap menarik pelatuk. 


"Tuan Alpha, tenanglah," bujuk Darren masih bersikap lembut. Sadar jika saat ini Jackob Sean sedang mengumpan kemarahan pria itu.


Haha, hahaha ... hahaha ....


"Ternyata kau sangat cepat terpancing Tuan Alpha. Apa kau ingin bermain denganku? Anggap saja kita sedang melakukan kesepakatan," ucap Jackob Sean setelah puas memainkan emosi Alpha.


"Cepat katakan apa maumu," tanya Alpha nyaris meledak. Tatapannya tajam seperti kilatan petir yang cukup menakutkan.


"Kita bisa berburu, dan kau tidak perlu membuang tenaga, karena target sudah berada di depan mata," balas Jackob Sean beranjak dari duduknya, sebelum mematikan api rokok di bawah sepatunya. Berjalan menuju ruangan latihan khusus yang tidak bisa di gunakan oleh orang lain. Hanya beberapa pengawalnya di sana, yang nampak berjaga.


Dan di papan target tersebut sudah berdiri seorang gadis cantik bertubuh indah dengan penampilan seksinya. Bahkan ekspresi wajah itu nampak biasa saja, tak menunjukkan rasa takut ataupun panik, terlihat seperti tidak peduli jika peluru akan melubangi kepalanya saat Jackob Sean meraih sebuah senjata api dan langsung mengarahkan tepat ka arahnya. Sedang Alpha yang masih berdiri di sana dengan kening mengernyit masih tidak mengerti dengan apa yang akan di lakukan pria gila itu sekarang.


"Apa kau berniat menyuruhku menyaksikan saat kau membunuh orangmu sendiri? Aku tidak tertarik Jackob," ucap Alpha saat Jackob Sean benar-benar melepaskan satu tembakan ke papan sasaran dan sedikit mengenai lengan putih mulus gadis tersebut yang bahkan masih berdiri kokoh di sana, tanpa meringis kesakitan, atapun bergerak sedikit pun untuk menghindari, meski sebuah peluru tersebut sudah menggores lengannya


"Why not? Bukankah ini hal yang menarik?" tanya Jackob Sean tersenyum, nampak puas.


***