I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Ketakutan Elard.



"Tenangkan diri anda Tuan."


Ucap Kang Daniel perlahan yang hanya di balas anggukan perlahan dari Tuan Chris yang malam ini nampak terlihat sangat berbeda.


Sebab saat ini Kang Daniel kembali melihat rasa kekhawatiran dan kesedihan di wajah Tuan Chris setelah sekian lama. Terakhir kali Kang Daniel melihat ekspresi itu saat Tuan Chris kehilangan wanita yang sangat di cintai presdirnya itu. Wanita yang selalu di perjuangkannya meskipun dengan menggunakan cara yang salah, bahkan mencintai wanita itupun dengan cara yang salah pula, hingga membuat Tuan Chris menjadi seperti sekarang pun karena ia belum bisa menerima kenyataan jika wanita itu sudah pergi darinya, meninggalkannya dengan sejuta kebencian yang teramat besar. Meskipun demikian Tuan Chris masih belum bisa melupakan wanita yang sudah menghancurkan hatinya tersebut, wanita yang sebenarnya tidak pernah mencintainya. Wanita yang selalu membuatnya menghabiskan malamnya dengan terus menatap fotonya, dan tidak jarang membuat pria berhati dingin dan kejam itu meneteskan air mata jika sudah sangat merindukan wanitanya itu.


Itulah yang Kang Daniel ketahui selama ini, suatu kelemahan dari Presdirnya yang seorang pembunuh berdarah dingin dan kejam. Kelemahan yang selalu ia tutupi dengan sangat rapi. Hingga orang-orang hanya melihat seorang Presdir CALL KORP yang dingin, sadis, dan tidak berperasaan.


"Daniel, kau tahu kan, El adalah anak yang tidak pernah sedikitpun membangkang ataupun menentang ku?" Tanya Tuan Chris perlahan dengan suara beratnya.


"Iya Tuan, saya tahu," Jawab Kang Daniel mengangguk pelan.


"Tapi sekarang dia sudah mulai membangkang, aku tidak akan membiarkan hal itu." Balas Tuan Chris yang kali ini nampak terlihat khawatir.


"Tuan, mungkin kejadian siang tadi hanya suatu kebetulan saja, Tuan tidak perlu merasa khawatir." Ucap Kang Daniel yang sedang berusaha untuk menenangkan hati Tuan Chris.


"Aku harap juga begitu, sebab aku tidak ingin anak itu terlibat dalam urusanku, aku hanya tidak ingin menyakiti anak itu."


"Iya Tuan, saya akan terus mengawasi Tuan muda, agar tidak melakukan kesalahan lagi." Balas Kang Daniel dengan nada tegas.


"Sebaiknya kau bisa melakukannya dengan benar Daniel."


"Iya Tuan." Jawab Kang Daniel mengangguk pelan, sedang Tuan Chris kembali menyandarkan tubuhnya di sofa singlenya.


Pria itu menarik nafas dalam sambil memejam, sosok wajah yang selalu di rindukannya selama puluhan tahun ini kembali muncul di pikirannya.


Kau puas sekarang? Dengan pergi begitu saja apa kau pikir sudah membuatku hancur? Tidak.. Tidak semudah itu. Kau harus mempertanggung jawabkan semua luka yang sudah kau berikan padaku selama ini. Dan aku pastikan, aku akan membuatmu kembali padaku.


Tuan Chris beranjak dari duduknya, dan langsung beranjak keluar.


"Tuan, Anda mau kemana?" Tanya Kang Daniel saat melihat Tuan Chris meraih kunci mobil yang terletak di atas nakas.


"Mencari wanita itu." Jawab Tuan Chris terus melangkah.


"Tapi Tuan.. "


"Diamlah.. Sebaiknya kau awasi anak itu."


Perintah Tuan Chris yang terus berjalan keluar menuju mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Sedang Kang Daniel hanya mengangguk pelan dan langsung memerintahkan beberapa Bodyguard Tuan Chris agar bergegas masuk kedalam mobil dan menyusul presdir mereka.


Hal yang selalu di lakukan Tuan Chris selama bertahun-tahun, terus mencari sosok yang sebenarnya sudah tidak ada, sosok yang sudah benar-benar menghilang.


Sedang di dalam satu ruangan lantai dua, nampak terdengar suara teriakan juga umpatan dari Elard yang saat ini sedang di penuhi rasa amarah.


"ARRGGHH SIAL.. SIALL.. "


Teriakkan keras Elard kembali terdengar. Dengan kasar di bukanya jaket yang di pakainya lalu membuangnya ke sembarang arah, dan langsung membanting tubuhnya sendiri ke atas tempat tidurnya.


"Aku bahkan belum menyelesaikan satu pekerjaan pun di sini, kenapa dia akan mengirimku lagi ke Kanada."


Gumam Elard seraya menatap langit langit kamarnya, sebenarnya ia masih sangat penasaran, kenapa Ayahnya begitu menginginkan gadis itu


"Bukankah Alpha sudah cukup, jika dendam itu soal Perusahaan ataupun kak Emery, apa Ayah berniat untuk membunuhnya? Tidak.. Tidak mungkin.. Ayah bukan seorang pembunuh, apalagi gadis itu anak Tuan Adley, sahabat Ayah sendiri, Ayah tidak akan setega itu kan?"


Elard beranjak dari tidurnya dan langsung mengusap kasar wajahnya.


"Aku harus menanyakan hal ini pada Ayah." Gumam Elard yang langsung beranjak turun dan keluar dari kamarnya, namun kakinya kembali terhenti.


Astaga kenapa aku lupa satu hal, Ayah tidak mungkin kan mengatakan semuanya, bagaimana kalau aku langsung menanyakan hal ini langsung pada gadis itu, tapi di mana aku akan menemukan gadis itu, astaga.. Aku bahkan lupa kalau dia adik si Alpha.


"ARRGGHH.. "


Teriak keras Elard yang tampa ia sadari telah mengejutkan Kang Daniel yang kebetulan sedang berjalan menuju pantry.


"Apa?" Tanya Elard sambil mengacak-acak rambut panjangnya.


"Tidak apa-apa Tuan muda, lanjutkan saja." Jawab Kang Daniel tersenyum sambil sedikit membungkuk dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju pantry.


"Tsk,"


Sambil mengusap wajahnya kasar Elard kembali melangkah, namun lagi lagi langkah kakinya terhenti saat melihat Kang Daniel yang keluar dari pantry.


"Tunggu."


Serga Elard menghalangi langkah Kang Daniel yang langsung membungkuk saat sudah berdiri tepat di hadapan Elard.


"Ada apa Tuan muda?" Tanya Kang Daniel perlahan.


"Aku ingin menanyakan sesuatu."


"Silahkan Tuan," Balas Kang Daniel mengangguk perlahan.


"Kenapa ayah mengincar gadis yang ada di foto ini?" Tanya Elard sambil menunjukkan selembar foto pada Kang Daniel yang hanya di balas senyum oleh Asisten Ayahnya itu.


"Saya rasa, saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda Tuan muda, maaf." Jawab Kang Daniel membungkuk.


"Cih, pantas saja Ayah sangat mempercayai mu Daniel."


"Maaf Tuan."


"Tapi ayah tidak berniat untuk mencelakai gadis ini kan?" Tanya Elard sekali lagi, berharap kali ini ia bisa mendapatkan satu jawaban dari Kang Daniel untuk mengurangi rasa penasarannya.


"Maaf Tuan."


"Astaga, aku bosan dengan permintaan maafmu." Balas Elard yang sudah terlihat jengah.


"Sebaiknya anda istrahat Tuan muda, ini sudah larut malam." Ucap Kang Daniel perlahan yang membuat Elard melongo.


"Hei kau bukan baby siterku." Protes Elard dengan wajah datarnya.


"Maaf Tuan, saya.... "


"Aaisss sudahlah, kenapa seolah aku sedang berbuat salah di sini karena kau yang terus terusan meminta maaf." Gerutu Elard berlalu dari hadapan Kang Daniel yang masih membungkuk.


Sepertinya Tuan muda sangat menyukai gadis itu.


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA BERTA.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 dan seharusnya di jam sekiaan, orang-orang sudah terlelap di balik selimut hangat untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka, namun tidak dengan Alpha dan Dareen yang masih bergelut dengan laptop dan beberapa dokumen penting mereka masing-masing. Hingga nampak Alpha yang terlihat sesekali memijat keningnya karena kelelahan.


Dokter Wilfreed yang melihat hal tersebut hanya bisa menggeleng pelan dan melangkah pelan menghampiri mereka berdua sambil membawa beberapa botol pil vitamin.


Melihat kehadiran Dokter Wilfreed, perlahan Alpha langsung menutup laptopnya sambil merenggangkan urat-urat tubuhnya.


"Kau belum tidur?"


"Hm.. " Jawab Alpha sambil memijat tengkuk lehernya.


"Seharusnya kau istrahat Wil, bagaimana kalau kau sampai jatuh sakit." Ucap Alpha sambil menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran sofa.


"Tsk, bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu sekarang?" Balas Dokter Wilfreed menggeleng.


"Ayolah Wil, aku hanya butuh vitamin mu, bukan omelanmu." Protes Alpha.


"Brengsek kau Ken." Umpat Dokter Wilfreed.


"Hei.. Kau bahkan memaki ku sekarang."


Balas Alpha sambil menerima beberapa vitamin dari tangan Dokter Wilfreed untuk di minumnya. Sedang Dareen hanya menggeleng menahan tawanya.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Dokter Wilfreed seraya duduk di hadapan Alpha yang kembali menyamakan dirinya sambil menyilangkan kakinya di sebuah sofa single.


"Tidak baik, kondisi perusahaan buruk." Balas Alpha.


"Apa kau benar-benar tidak bisa mengatasinya?" Tanya Dokter Wilfreed merasa khawatir.


"Aku masih mengatur strategi, semua akan baik-baik saja, hanya tinggal menunggu waktu." Jawab Alpha yang langsung membuat Dokter Wilfreed tersenyum lega. Dan seharusnya ia tidak perlu merasakan kekhawatiran yang berlebihan ke pada Alpha Khandra, yang semua orang juga tahu jika ia adalah seorang pria yang mempunyai otak yang kapasitas kecerdasannya di atas rata-rata di bidang intelektual. Dan julukannya sebagai genius Man bukanlah isapan jempol semata.


"Aku sempat merasa khawatir. Aku yakin kau bisa melakukannya." Lanjut Dokter Wilfreed dengan penuh keyakinan.


"Hmm.. Bagaimana kondisi Shareen saat ini?" Tanya Alpha.


"Kondisinya sudah sangat membaik, oh iyaa.. Tadi." Jawab Dokter Wilfreed, namun ia menghentikan kalimatnya sambil menatap wajah Alpha yang masih menunggu jawaban darinya dengan wajah yang nampak terlihat serius.


"Apa ada masalah dengannya?" Tanya Alpha lagi saat ia tidak mendengar jawaban dari Dokter Wilfreed.


"Maaf, tadi aku sempat mengajak Nona Shareen ke taman, apa.. " Jawab Dokter Wilfreed nampak ragu untuk meneruskan kalimatnya, apalagi saat ia melihat ekspresi wajah Alpha yang sudah berubah.


"Kalian keluar?" Tanya Alpha sekali lagi.


"Iya, tapi tidak bisakah kau mendengar ku dulu? Ada hal yang lebih penting dari ini." Jawab Dokter Wilfreed yang juga terlihat serius.


"Apa?"


"Aku sempat melihat Elard." Jawab Dokter Wilfreed yang sontak membuat Alpha dan Dareen terkejut dan saling menatap satu sama lain.


"Kau tidak salah kan?" Tanya Alpha meyakinkan.


"Tidak, aku yakin dia Elard Cullen anak Tuan Chris, meskipun selama ini aku tidak pernah melihat anak itu secara langsung, dan hanya melihat fotonya saja, tapi aku yakin dia adalah Elard Cullen." Jawab Dokter Wilfreed yakin.


"Dia sudah kembali rupanya. Tsk, dasar brengsek. Ternyata benar dugaanku, dia yang telah meretas dan mencuri data-data di Perusahaan BRT Grup." Balas Alpha.


"Ternyata Tuan Chris benar-benar ingin menghancurkan BRT GRUP dan sekarang dia menggunakan anaknya untuk menjalankan rencananya." Sambung Dareen yang membuat Alpha semakin geram.


"Dan anak brengsek itu, bahkan dia melakukannya dengan sempurna, tapi liat saja, mereka boleh merasa senang sekarang, dan Wil.. " Kalimat Alpha menggantung.


"Ada apa?" Tanya Dokter Wilfreed.


"Seharusnya kau tetap waspada." Jawab Alpha yang terdengar khawatir.


"Aku mengerti, aku akan berhati-hati. sebaiknya kau tidak perlu mengkhawatirkanku Ken." Balas Dokter Wilfreed tersenyum sambil mengangguk untuk menenangkan Alpha. Dokter Wilfreed sudah paham dengan maksud Alpha untuk menyuruhnya lebih berhati-hati lagi, sebab ia tahu, jika Tuan Chris tidak akan membiarkan orang-orang yang berada di samping Alpha hidup dengan tenang. Entah sudah berapa orang yang berhubungan dengan Alpha telah menjadi korban Tuan Chris.


Masih lekat dipikirannya saat, Bibi saudara dari Ibunya yang merawatnya selama ia berusia 6 tahun, di temukan tewas dengan luka tembak yang sama sperti Ayahnya. Namun pihak polisi menyimpulkan kasus itu sebagai kasus bunuh diri karena depresi. Bahkan saksi mata yang melihat peristiwa pembunuhan itu juga tewas yang di sebabkan oleh kecelakaan. Dan itu terjadi sehari setelah usai menemui Alpha untuk memberikan kesaksiannya dan menyerahkan sebuah bukti, meski akhirnya Alpha juga harus kehilangan satu satunya bukti dari kasus pembunuhan itu karena kelalaiannya. Mobil yang ia gunakan saat bertemu saksi mata tersebut tiba-tiba di bakar oleh seseorang yang tidak di kenal, saat mobil tersebut sedang terparkir di depan sebuah restoran. Dan yang sialnya Alpha belum sempat mengambil bukti yang berupa ponsel tersebut dari dalam mobilnya. Sebab sampai sekarang pun Alpha sendiri belum mengetahui, apa motif sebenarnya Tuan Chris membunuh kedua orang tuanya. Bahkan sekarang ia kembali teringat kepada seseorang yang sampai saat ini belum mengetahui penyebab pasti kematian Ibunya, seseorang yang sangat dekat dengannya, seseorang yang masih berada di Jerman.


Aku harap kau baik-baik saja di sana, maaf.. jika aku menyembunyikan semuanya, aku hanya tidak ingin kau merasakan kesedihan yang mendalam sepertiku, dan merasakan dendam di seumur hidupmu sepertiku. Cukup aku saja yang merasakan semuanya.


"All.. "


Panggil Dokter Wilfreed saat melihat Alpha yang tiba-tiba terdiam dengan nafas yang terlihat tercekik.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Dokter Wilfreed lagi.


"Aku hanya tidak ingin ada yang menjadi korban Chris lagi, sudah cukup." Jawab Alpha yang tidak mampu menyembunyikan rasa amarahnya.


"Apa kau memikirkan Leon?" Tanya Dokter Wilfreed yang seolah bisa menebak apa yang di pikirkan Alpha saat ini.


"Hm.. "


"Aku yakin, Leon akan baik-baik saja, selama kau masih bisa menyimpan rahasia tentang kematian Bibi padanya."


"Tapi sampai kapan? aku tidak bisa terus menyembunyikannya." Balas Alpha sambil meremat keras rambutnya.


Bahkan kematian kedua orang tua Dareen sudah sangat membuatku prustasi, aku tidak bisa membayangkan, akan sesedih dan semarah apa dia jika mengetahui penyebab kematian kedua orang tuanya.


Pandangan Alpha kembali tertuju kepada Asistennya Dareen yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Alpha.. aku tahu itu berat, bahkan bukan hal yang mudah, aku ingin kau bisa melakukannya," Ucap Dokter Wilfreed saat ia mendapati Alpha yang tengah menatap Dareen dengan tatapan yang di penuhi kesedihan dan kegelisahan. Dokter Wilfreed yang mengetahui semuanya cukup memahami perasaan Alpha saat ini.


"Apa kau yakin, semua akan baik-baik saja? apa aku sudah melakukannya dengan benar? aku bahkan terlalu banyak berbohong Wil, dan sekarang Shareen, entah apalagi yang harus aku katakan padanya jika semua ingatannya kembali, kebohongan apalagi yang harus aku katakan padanya." Tanya Alpha terlihat gelisah.


"Alpha, kau sudah melakukannya dengan benar, kau sedang melindungi mereka sekarang, dan itulah yang kau lakukan, dan jika suatu saat nanti Dareen ataupun Leon mengetahui kebenarannya, aku yakin, mereka tidak akan pernah menyalahkanmu."


"Aku juga berharap demikian Wil,"


* * * * *


* TO BE CONTINUED.