
6 Tahun kemudian.
...KEDIAMAN ALPHA KHANDRA BERTA....
"Bukankah hari ini Ele akan ke sekolah bersamamu?" Tanya Alpha Khandra sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Emery Berta yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tidak ada aroma lain yang terhirup di penciuman Alpha Khandra selain aroma manis jeruk dan segarnya bunga akasia dari tubuh sang istri yang hanya pasrah dengan sikap manja Alpha yang bahkan melebihi sikap manja Eleanor Berta Puteri semata wayang mereka.
"Hentikan sayang, sebaiknya bangunkan puterimu, aku sudah menyiapkan semua perlengkapan sekolahnya di kamarnya." Ucap Emery Berta yang masih sibuk dengan sandwich dan sosisnya di atas penggorengan.
"Biarkan putriku tidur sebentar lagi sayang." Jawab Alpha Khandra dengan berbagai macam alasan, yang masih dengan posisinya.
"Ayolah sayang, kau tidak ingin kan, puterimu terlambat kesekolah? Dan sebaiknya mulai sekarang kau harus mencarikan seorang pengasuh untuk Ele, agar... "
"Tidak." Sela Alpha Khandra yang langsung menjauhkan wajahnya dari ceruk leher sang istri yang sedikit terkejut dengan jawaban yang secara tiba-tiba keluar dari mulut Alpha Khandra. Bahkan Alpha Khandra langsung membalikan tubuh Emery Berta seraya menempelkan telapak tangannya di pipi istrinya. "Aku ingin merawat puteriku sendiri." Sambung Alpha Khandra yang langsung menyentil dahi Emery Berta yang hanya meringis dengan tarikan nafas dalam saat Alpha Khandra kembali mengecup dahi yang sudah ia sentil itu.
"Baiklah, jika kau yang menginginkan itu. Lagi pula Bibi Areta akan ke sini untuk membantuku, setidaknya kau tidak akan kerepotan jika Yoon sibuk, begitupun denganmu. Dan... " Kalimat Emery Berta menggantung saat ia melepaskan kedua tangan suaminya yang masih melingkar di pinggangnya dan langsung membalikkan tubuh suaminya dan sedikit mendorongnya. "Sebaiknya bangunkan Ele sekarang juga." Perintah Emery Berta sambil bersidekap.
"Tapi sayang.. "
"Sekarang sayang." Lanjut Emery Berta dengan satu alis yang mulai terangkat ke atas.
"Baiklah... baiklah, tapi setidaknya berikan aku morning kiss dulu." Balas Alpha Khandra dengan senyum lebarnya dan kembali mendekati sang Istri yang hanya bisa menarik nafas dalam.
"Bahkan kau sudah mendapatkannya sejak subuh tadi, kau juga tidak pernah memintanya, kenapa sekarang tiba-tiba meminta?" Tanya Emery Berta menggeleng pelan dan hendak membalikkan tubuhnya untuk melihat potongan-potongan sosis yang sudah berada di dalam penggorengan, namun dengan cepat Alpha Khandra menahan bahu itu dan meletakan satu tangannya di tengkuk leher sang istri.
Cup.
"Baiklah, aku tidak akan memintanya, tapi akan mengambilnya sendiri." Balas Alpha Khandra yang kembali mendaratkan kecupan lembut di dahi, kedua belah pipi dan terakhir di bibir merah muda sang istri, dan ciuman itu di lakukannya hingga berulang-ulang kali. "I love you dear." Bisik Alpha Khandra. "Aku akan membangunkan Ele." Sambung Alpha Khandra seraya mengusap pipi merona Emery Berta dan langsung melangkah meninggalkan pantry menuju kamar sang puteri yang masih tertutup rapat.
Dengan perlahan Alpha Khandra membuka pintu bercat merah muda yang di hiasi beberapa gambar bintang warna warni di sana dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar berukuran luas dan mewah berfasilitas lengkap untuk seorang anak perempuan, dengan bernuansa merah muda kombinasi biru muda sebagai warna favorit sang puteri. Dengan senyum yang terkembang dari bibirnya, Alpha Khandra mendekati tempat tidur sang puteri yang masih terlelap dengan selimut merah muda yang menutupi tubuh mungilnya.
"Good morning my dear daughter." Ucap Alpha Khandra perlahan sambil mengusap rambut bergelombang Eleanor Berta yang panjang kecoklatan, hingga membuat kelopak mata itu bergerak sedikit demi sedikit dan akhirnya terbuka dengan perlahan, meski belum sepenuhnya terbuka. Bahkan jemari mungilnya yang putih harus mengucek-ngucek kelopak mata yang masih terlihat berat itu untuk menghilangkan rasa ngantuknya.
Hingga akhirnya manik kebiruan yang cerah dengan bulu mata yang tebal dan lentik terbuka sempurna, juga senyum manis dengan bibir mungil dan deretan gigi susu yang putih terlihat rapi menghiasi wajah oval Eleanor Berta yang sedikit kemerahan di bagian pipinya, Eleanor Berta bahkan langsung menggeliat guna merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum akhirnya ia memeluk leher sang Ayah yang langsung menggendong tubuh mungilnya turun dari atas tempat tidur yang berukuran cukup besar bagi anak seumuran Eleanor Berta yang masih berusia 6 tahun.
"Morning Daddy." Ucap Eleanor Berta yang kembali menyandarkan kepalanya ke bahu sang Ayah yang langsung melangkah keluar kamar.
"Waktunya sekolah."
"Apa kali ini Daddy yang akan mengantar Ele?" Tanya Eleanor Berta yang masih memejam sambil memeluk leher Alpha Khandra.
"Hari ini Mommy yang akan mengantar Ele."
"Benarkah? Apa Daddy sedang sibuk hari ini? Bagaimana dengan Uncle Yoon?" Tanya Eleanor Berta lagi.
"Uncle Yoon sedikit sibuk sayang, begitupun dengan Daddy yang harus bertemu beberapa klien bersama Paman Dareen." Sambung Alpha Khandra sambil mendudukkan Eleanor Berta di atas Bathtub dan langsung menyetel suhu air hangat.
Usai dengan semuanya Alpha Khandra langsung memandikan sang puteri dengan telaten, memakaikan sabun cair dan juga shampoo, tidak jarang Alpha Khandra terlihat bermain busa dan mengikuti Eleanor Berta meniup sisa sabun dari tangannya untuk membuat balon. Rutinitas pagi yang selalu di lakukan oleh Alpha Khandra jika ia benar-benar tidak sibuk di Pagi hari, ia akan membantu Emery Berta untuk mengurus Puteri kesayangan mereka. Bahkan seorang Alpha Khandra sudah melakukan hal itu di usia Eleanor Berta yang menginjak 3 bulan, sejak sang Ibu Nyonya Kinandita Aleen kembali ke Jerman dan Nyonya Carolyn ke Thailand, juga Leon Avilas yang mulai sibuk di BRT Grup.
Dan Alpha Khandra sangat menolak jika ada seorang pengasuh yang mengurusi sang puteri, bukannya Alpha Khandra tidak mempercayai seorang pengasuh ataupun Babysitter, Alpha Khandra hanya lebih merasa nyaman jika ia sendiri yang mengurus sambil memantau perkembangan sang puteri, sesibuk apapun ia di Perusahaan, Alpha Khandra akan tetap meluangkan waktu buat sang puteri juga istrinya sepertinya janjinya saat mereka kembali menikah dan Emery Berta melahirkan Eleanor Berta, jika mereka berdua akan menjadi prioritas utama baginya, dan Alpha Khandra benar-benar menepati janjinya tersebut.
Emery Berta benar-benar merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat, sebab sudah mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari sang suami, juga hadiah paling istimewa yaitu seorang putri Eleanor Berta yang pandai, bertutur kata lembut, murah senyum dan juga berparas jelita. Bahkan Alpha Khandra langsung mengubah nama Emery Cullen menjadi Emery Berta, begitupun dengan puterinya yang menyandang nama keluarga besar mereka masing-masing. Dan hal itu yang membuat Eleanor Berta di jaga ketat oleh sang Ayah, sebab tidak jarang puteri dari pengusaha kaya raya yang terkenal tersebut jadi incaran orang-orang yang sekedar menginginkan uang ataupun bertemu dengan para pesaing bisnis Alpha Khandra yang menginginkan kerja sama dengan BRT Grup dan berkedok seperti pahlawan ataupun rekan bisnis untuk mendekati dan mengambil hari Eleanor Berta agar di sukai oleh Alpha Khandra.
"Berhenti bermain-main sayang, Ele harus sarapan, begitupun denganmu yang juga harus bekerja, sebentar lagi Dareen akan tiba untuk menjemputmu." Ucap Emery Cullen dari balik pintu kamar mandi saat mendengar kekehan sang puteri dan suaminya dari dalam kamar mandi.
Hingga beberapa menit kemudian Eleanor Berta sudah nampak terlihat rapi dengan seragam sekolahnya.
"Apa Ele sudah boleh sarapan?" Tanya Eleanor Berta yang masih duduk manis saat sang Ayah tengah menguncir dua rambutnya.
"Sedikit lagi sayang." Balas Alpha Khandra sambil menjepit rambut Eleanor Berta dengan sebuah jepitan berbentuk kupu-kupu berwarna merah muda. Jepitan favorit Eleanor Berta dari sang Grandma Nyonya Carolyn Cullen.
"Daddy... bukankah jepitan butterfly ini terlihat miring?" Protes Eleanor Berta saat melihat wajah imutnya dengan kunciran dua yang lucu di sebuah cermin.
"Memang harus seperti ini sayang." Balas Alpha Khandra sesaat sambil menggaruk tengkuk lehernya bingung dan kembali merapikan kunciran puterinya.
"Mommy, apa benar seperti ini? Kata Daddy ini sudah bagus." Tanya Eleanor Berta sambil menunjuk jepitan rambutnya yang memang terlihat miring.
"Iya sayang, itu terlihat manis." Balas Emery Berta dengan senyumnya.
"Benarkah?"
"Benar sayang, anak Mommy akan selalu terlihat manis dan cantik."
"Meskipun dengan jepitan rambut yang miring?" Tanya Eleanor Berta polos.
"Tentu saja sayang/Tentu saja sayang." Balas Emery Berta dan Alpha Khandra secara bersamaan. Hingga membuat Eleanor Berta tersenyum sumringah dan langsung beranjak dari duduknya dan menuju meja makan sebelum Alpha Khandra memencet tombol kecil yang berada di gantungan kalung Eleanor Berta untuk mengaktifkan sinyal, sebuah kalung yang memiliki alat yang selalu menunjukkan lokasi keberadaan Eleanor Berta di manapun itu, dan juga akan mengirimkan sinyal kepada Alpha Khandra, Leon Clovis dan juga Darren asistennya jika Eleanor Berta sedang berada dalam bahaya. Kalung yang sudah lama Eleanor Berta pakai, bahkan sejak ia berusia 6 bulan. Kalung dengan gantungan bermotif daun semanggi yang lucu. Kalung yang sengaja di desain dengan bentuk yang terlihat sederhana, agar tidak menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
"Sarapanlah, sebentar lagi kita akan berangkat." Ucap Emery Berta sambil menaruh sepotong sandwich di atas piring Alpha Khandra dan juga sosis goreng di atas piring Eleanor Berta yang langsung mengecup pipi Emery Berta.
"Terimakasih Mommy." Ucap Eleanor Berta dengan senyumnya.
"Iya sayang." Balas Emery Berta yang juga ikut duduk dan sarapan bersama mereka.
"Sayang, bagaimana kabar Ibu Carolyn?" Tanya Alpha Khandra di sela makan mereka.
"Ibu baik-baik saja, Ibu terlihat betah di Thailand. Tapi, sepertinya Ia akan kembali kesini untuk mengunjungi Ele." Jawab Emery Berta.
"Benarkah?"
"Iya sayang, sekaligus mengunjungi makam Elard." Balas Emery Berta.
"Mommy.. Uncle Elard orang seperti apa?" Tanya Eleanor Berta secara tiba-tiba menyela, yang sesaat membuat Emery Berta dan Alpha Khandra saling menatap.
Meskipun ia tidak pernah mengetahui pria seperti apa almarhum Elard Cullen, adik dari Emery Berta yang sudah sejak lama meninggal, namun Eleanor Berta mengetahui jika ia memiliki seorang Paman lewat beberapa foto keluarga yang sering Emery Berta tunjukkan kepadanya. Memperkenalkan sosok almarhum kakeknya, Tuan Chris Cullen juga Tuan Adley Berta dan almarhumah Kanzia Edrea. Meski Eleanor Berta tidak pernah tahu penyebab kematian mereka semua, dan konflik besar yang pernah terjadi di antara keluarga besar Cullen dan Berta. Sebab kedua keluarga tersebut sepakat untuk menyembunyikan semuanya dan mengubur rapat-rapat masalah tersebut, hingga memilih untuk melupakan semuanya.
"Yang jelas Paman Elard adalah sosok yang sangat baik dan hangat." Jawab Emery Berta dengan mata berkaca sambil mengusap kepala Eleanor Berta.
"Are you okay?" Tanya Alpha Khandra perlahan saat melihat gurat kesedihan di wajah Emery Berta.
"I am fine!" Balas Emery Berta dengan senyumnya sambil membalas genggaman tangan Alpha Khandra dengan erat. "Aku hanya merindukan mereka." Sambung Emery Berta sedikit berbisik.
"Aku mengerti." Balas Alpha Khandra mengangguk pelan.
...* * * * * ...
Bersambung...