I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Terbaring koma



HOSPITALS


"Apa ayah sudah mengambil keputusan?" tanya Daniel, duduk di samping Fridell yang tengah menatap tubuh Lucas yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan alat bantu pernafasan yang masih menempel di tubuhnya.


Sudah hampir satu bulan pasca operasi. Namun, Lucas belum juga sadarkan diri meski sudah melewati masa kritis. Hingga Fridell berencana untuk membawa puteranya ke Amerika, kembali ke sana untuk melakukan perawatan yang menurutnya lebih baik.


Fridell juga tidak menginginkan Lucas berada di tempat ini lagi, ia bahkan menginginkan semua keluarganya untuk kembali ke Amerika, tepatnya di New Orleans, kota kelahiran sang ayah. Setidaknya dengan kembali ke sana, pikiran Fridell bisa sedikit lebih tenang, sebab sejak Lucas terbaring koma, Fridell tak tidur sedikitpun, tidak bisa beristirahat dengan benar, juga tak makan, ia terus mengawasi kondisi sang putera dengan perasaan takutnya, berharap sang putera lekas sadar hingga mereka mungkin bisa berdebat lagi sepanjang waktu. Itu yang ada di dalam pikiran Fridell tiap kali menatap wajah sang putera.


"Ayah akan kembali ke New Orleans bersama Keano, juga Darmaya. Ayah juga menginginkanmu untuk ikut Daniel," ucap Fridell menatap sang putera penuh harap.


"Maafkan aku ayah, bisakah aku memikirkannya dulu?" 


"Ya, ayah paham, tapi sekali lagi ayah katakan Daniel. Pikirkan sekali lagi," balas Fridell mencoba memahami perasaan Daniel, mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur sang putera saat ini.


"Aku akan mengurus semuanya,"


"Ayah percaya padamu, dan ayah ingin kau bisa menyelesaikan semuanya secepat mungkin."


"Ya," angguk Daniel beranjak dari duduknya hendak pergi sebelum langkah kakinya terhenti saat melihat sosok Darmaya yang sudah berdiri di depan pintu masuk dengan sekeranjang buah di dalam pelukannya, juga Keano yang juga tengah berdiri di samping sang pengasuh.


"Selamat siang, Tuan muda, " Sapa Darmaya sedikit membungkuk dan Daniel yang hanya mengangguk kecil dengan senyum tipis di wajahnya sebelum kembali melangkah pergi, usai  menepuk bahu Keano perlahan ketika melewatinya.


"M-maaf, Tuan ...." 


Langkah Daniel kembali terhenti saat mendengar Keano memanggilnya. Membalikkan tubuh dan menatap Keano yang masih berdiri canggung di sana. Bahkan ia sudah merasakan itu sejak tahu jika Daniel adalah kakaknya meski mereka tak memiliki hubungan darah sedikit pun.


"Ada apa, Ken?"


Keano melangkah mendekati Daniel yang sudah berdiri menunggunya, menatap sosok itu sesaat bahkan sangat ingin memeluk. Namun, di tahannya. Ia hanya berdiri tanpa kata, terus menatap dan berfikir, betapa beruntungnya dia memiliki seorang kakak seperti Daniel.


"Mau sampai kapan kau akan menatapku seperti itu?" tanya Daniel bersidekap, hingga membuyarkan lamunan pria itu.


"M-maaf. A-aku ... hanya ingin menyapa Anda," jawab Keano menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Hanya itu?" 


Daniel memiringkan kepala, amati tingkah Keano yang terlihat lucu baginya, bahkan pria itu lebih terlihat seperti bocah sekarang. Hingga kembali membuatnya merindukan Lucas.


"Tingkah kalian bahkan tak jauh berbeda."


"Hah?!"


"Kau dan Lucas."


"Ah, itu ...."


"Baiklah. Aku harus pergi sekarang, banyak yang harus aku persiapkan, sebaiknya kau masuk ke dalam dan hibur ayah," balas Daniel kembali menepuk pundak Keano yang masih terdiam dengan perasaan bahagia. " Aku percaya padamu, Ken." 


"I-iya ... Kak," angguk Keano.


"Terima kasih, Ken. Karena selama ini kau sudah menjaga Lucas dengan sangat baik. Sudah menjadi teman yang baik untuknya, selalau menemaninya, kau sudah menjadi Kakak yang sempurna buat Lucas." 


"Anda juga seorang Kakak yang terbaik. Dan, aku juga senang bisa melakukan hal yang terbaik untuk Tuan muda."


"Apa kau kesulitan?"  


"Hah?!"


"Selama berada di sisi Lucas. Aku yakin, kau pasti menemui banyak kesulitan. Karena aku tahu, Lucas sangatlah keras kepala." 


"Ya, lumayan."


"Namun, hanya kau yang bisa ia percaya. Aku yakin, jika saat itu kau yang berada di sampingnya, mungkin Lucas akan mendengarkanmu, dan tak menemui Tiar Galenka seorang diri," balas Daniel yang membuat Keano kembali terdiam dengan penyesalan sebab tak  pulang lebih awal waktu itu. "Aku bahkan terlambat menyelamatkan Lucas," sambungnya dengan mata berembun. Ia merindukan adiknya, merindukan sikap keras kepala Lucas, juga tingkah menyebalkan yang kadang membuatnya naik darah.


"Tuan muda akan baik-baik saja. Aku yakin, ia akan segera pulih," bujuk Keano berusaha menenangkan perasaan Daniel yang ia rasa pasti sedang tak baik-baik saja saat ini, meski ia sendiri juga sedang merasakan sakit yang sama.


"Ya. Aku juga berharap demikian," balas Daniel mengangguk pelan. "Baiklah. Aku harus pergi sekarang, masuklah. Lucas pasti sudah sangat merindukanmu," sambungnya.


"Ya," angguk Keano kembali membungkuk. Menatap langkah lebar Daniel hingga menghilang dari balik tembok rumah sakit.


Besok mereka akan kembali ke New Orleans, baru saja ia merasakan bahagia sebab mendapati sikap hangat dari Daniel. Namun, mereka harus kembali berpisah.


Keano kembali melangkah masuk ke dalam ruang inap Lucas, mendapati CEO yang masih terbaring di sana, juga Darmaya yang tengah duduk di sebuah kursi samping tempat tidur Lucas dan Fridell yang masih duduk di sebuah sofa, mengamati keduanya.


"Tuan besar," sapa Keano sedikit membungkuk di hadapan sang Tuan besar yang tak lain adalah ayah angkatnya sendiri.


"Duduklah," balas Fridell. "Bagaimana perasaanmu, Ken? Kau tahu, kan? Jika kita akan pindah ke New Orleans?" tanya Fridell membuka pembicaraan, bahkan Darmaya bisa mendengar percakapan mereka, meski ia tak ikut bergabung di sana, ia masih ingin menemani Lucas lebih lama lagi di sisi ranjang itu.


"Ya, Tuan."


"Apa kau akan baik-baik saja dengan itu?"


"Tentu. Selama berada di sisi Tuan muda dan Bibi May," angguk Keano, mengalihkan pandangannya ke arah Darmaya  yang langsung menyambutnya dengan senyuman, sebelum kembali menatap wajah Fridell yang juga terlihat mengangguk kecil.


"Baguslah. Lucas pasti sangat bahagia, kau di sini sekarang."


"Tapi, Tuan besar ...."


Kalimat Keano tertahan di tenggorokan.


"Ya. Ada apa, Ken?"


"M-maaf. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." 


"Silahkan." 


"Apa Tuan Daniel ...."


"Dia kakakmu, Ken," sela tidak ingin membatasi Keano dalam berkomunikasi dengan Daniel.


"Ya, Tuan. Maksudku, Kak Daniel. Apa ia tidak akan ikut bersama kita?"


"Tidak untuk sekarang. Daniel masih memiliki banyak urusan di sini."


"Ah, yah." Keano nampak mengangguk.


"Ada apa? Kau nampak gelisah," tebak Fridell saat mendapati Keano yang memang terlihat gelisah sejak tadi.


"Tidak apa-apa, Tuan."


"Apa kau sudah menyiapkan semua keperluan Lucas, Darmaya?" tanya Fridell mengalihkan pandangan ke arah wanita itu.


"Ya, Tuan. Aku sudah menyiapkan semuanya."


"Baiklah. Sepertinya kita hanya tinggal berangkat," ucap Fridell beranjak. "Aku akan keluar sebentar, mengunjungi makam Davanka dan juga ibumu," sambungnya, alihkan pandangan ke arah Keano.


***