I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
pengakuan.



* MANSION UTAMA.


"Maaf, Tuan muda Daniel tengah sudah datang." Bisik Asisten Tuan Fridell. Seolah takut jika kehadiran Kang Daniel di Mansion utama di ketahui penghuni Mansion yang tidak tahu apa-apa tentang status seorang Kang Daniel, dan ada hubungan apa dengan Tuan besar mereka.


"Suruh dia ke ruang kerjaku."


"Baik Tuan," Balas Asisten Tuan Fridell yang kembali melangkah meninggalkan Tuan Fridell yang masih duduk di sebuah ruangan dengan segelas Champagne di tangannya sambil menatap keluar jendela.


Hingga 15 menit berlalu, Tuan Fridell melangkah keluar menuju ruang kerjanya, yang di sana sudah nampak sosok Kang Daniel yang tengah duduk menunggunya.


"Ayah,"


Sambut Kang Daniel yang langsung berdiri saat melihat Tuan Fridell memasuki ruangan tersebut, ruangan yang cukup luas dan aman untuk berbincang.


"Apa ada yang ingin kau katakan kepada Ayah?" Tanya Tuan Fridell tampa basa basi dan langsung menyamankan dirinya di sebuah sofa single.


"Maafkan saya Ayah."


"Maaf? Apa kau sadar jika sudah membuat kesalahan?"


"Maaf, sebab saya tidak memberi tahu Ayah jika selama dua tahun ini saya kembali bekerja di keluarga Cullen."


"Apa kau mempunyai alasan untuk keputusan yang sudah kau ambil itu?"


"Saya.. "


"Ayah harap kau mempunyai alsan yang tepat Daniel, agar Ayah bisa menerima alasan kamu." Ucap Tuan Fridell yang terus menatap Kang Daniel yang terlihat semakin gugup.


"Saya hanya ingin menepati janji saya kepada Tuan Chris untuk menjaga keluarganya."


"Apa kau yakin? Itu alasan kamu satu-satunya?"


"Saya.. "


"Apa karena Putri Tuan Chris?" Tanya Tuan Fridell yang sontak membuat Kang Daniel terkejut.


"Jawab Daniel."


"Ayah.. Saya hanya."


"Apa kau benar-benar menyukai wanita itu?" Tanya Tuan Fridell sekali lagi.


"Maafkan saya Ayah," Jawab Kang Daniel tertunduk, alih-alih menjawab pertanyaan sangat Ayah yang masih menunggu jawabannya.


"Jadi benar."


"Maaf,"


"Alih-alih meminta maaf, sebaiknya lupakan cintamu kepada wanita itu."


"Kenapa saya harus melakukannya Ayah? Apa karena Lucas?"


"Daniel.. Kau adalah sosok yang tidak seharusnya di ketahui oleh publik. Apapun alasannya, dan dengan dirimu berhubungan dengan keluarga Cullen lagi, semua akan mengetahui siapa dirimu, cepat atau lambat. Dan Ayah tidak ingin itu terjadi. Apa kau mengerti?"


"Apa hanya karena itu?" Tanya Kang Daniel dengan wajah murungnya.


"Yah. Kau sudah tahu itukan?"


"Bagaimana jika saya lebih memilih untuk tidak menjadi anak Ayah? Apa saya masih bisa mencintai wanita itu?"


"DANIEL... " Teriak Tuan Fridell yang langsung beranjak dari duduknya.


"Apa kau akan menentang Ayah sekarang? Seperti Lucas adikmu?" Tanya Tuan Fridell yang membuat kang Daniel tertunduk dalam diam.


"Maafkan saya Ayah,"


"Tinggalkan Keluarga Cullen."


"Tapi Ayah.."


"Ini keputusan Ayah. Tinggalkan keluarga Cullen. Dan berangkat ke Amerika. Apa kau tidak paham juga? Jangan membuat Ayah  mengulangi kata-kata Ayah lagi."


"Ayah.. "


"Apa kau mau kejadian dulu terulang lagi?"


"Tapi saya sudah dewasa Ayah, bahkan saya sudah bisa menjaga diri saya sendiri." Jawab Kang Daniel.


"Yah Ayah tahu, kau seorang pengawal pribadi sekarang, Ayah juga tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri, tapi apa kau lupa satu hal, jika semua ini adalah keinginan Ibumu?"


"Iya, saya mengerti." Jawab Kang Daniel yang langsung mengangguk, saat Tuan Fridell menemukan kelemahan terbesar Kang Daniel yang langsung akan tunduk jika itu bersangkutan dengan Ibunya.


"Maafkan Ayah. Menyembunyikan identitasmu dari semua orang bukanlah keinginan Ayah. Satu-satunya orang yang menginginkanmu tetap seperti sekarang ini adalah Ibumu. Dan ini adalah permintaan terakhir Ibumu. Sebab dengan cara seperti ini dia bisa melindungimu. Kau tahu kan, pekerjaan Ayah bisa membuat kalian semua dalam bahaya. Dan itulah alasannya, sampai saat ini Ayah tidak ingin kau di ketahui publik sebagai putra Alfredo. Apa kau mengerti?"


"Iya Ayah.."


"Baiklah.. Ayah sudah mengurus semuanya, malam ini Asisten Ayah akan mengantarmu ke bandara."


"Malam ini?" Tanya Kang Daniel terkejut.


"Benar, ada apa? Bukankah lebih cepat lebih baik?"


"Tapi Ayah.. Aku belum.. "


"Berpamitan? Ayah rasa kau tidak perlu melakukannya."


"Tapi Ayah.. Emery adalah wanita yang saya cintai, dan saya tidak mungkin menyakitinya dengan pergi begitu saja Ayah.. "


"Daniel.. Apa Emery juga mencintaimu?" Tanya Tuan Fridell yang kembali membuat Kang Daniel terbungkam dengan perasaan kalut.


"Ayah rasa Ayah sudah tahu jawabannya. Dan Ayah rasa, kau memang sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal."


"Ayah benar.. "


Tidak ada alasan untukku untuk tetap tinggal, tapi aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya.


"Bersiaplah.. "


"Iya Ayah.." Balas Kang Daniel yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan kerja Tuan Fridell.


Dengan kecepatan tinggi Kang Daniel melajukan mobilnya, perasaan gelisah semakin menguasai pikirannya saat mengingat sebentar lagi Ia akan meninggalkan wanita yang selama bertahun-tahun ini sudah menjadi penghuni hatinya.


Kenapa sangat berat untuk meninggalkanmu Emery, meskipun aku tahu, aku tidak pernah ada di dalam hatimu, tapi kenapa hatiku selalu menolak untuk pergi.


Kang Daniel dengan perasaan gelisah kembali menginjak pedal gas mobilnya yang semakin melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga hanya butuh waktu 30 menit saja, mobilnya sudah terparkir tepat di depan pintu rumah Emery.


Dengan langkah perlahan kang Daniel memasuki ruangan tersebut, yang di sana sudah nampak sosok Emery yang tengah duduk menyambutnya dengan senyum manis seperti biasa. Senyum yang selalu membuat Kang Daniel berdebar dan bahagia. Senyum yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi.


"Kau terlalu lama, duduklah.." Pinta Emery yang tiba-tiba bersikap manja dan langsung menggeserkan tubuhnya, memberi Kang Daniel ruang untuk duduk di sampingnya.


Untuk sesaat Kang Daniel terdiam dengan posisi yang masih berdiri tidak jauh dari Emery duduk sekarang, alih-alih untuk duduk di samping Emery seperti keinginannya.


"Daniel.. Ada apa? Kau sakit?" Tanya Emery perlahan saat melihat sikap tidak biasa dan wajah Kang Daniel yang terlihat memerah dengan mata yang berkaca.


Maafkan aku Emery, jika ternyata aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk selalu berada di sampingmu dan menjagamu. Maaf..


"Daniel.. Mendekatlah, aku... " Kalimat Emery terhenti saat tubuhnya kini sudah berada di dalam dekapan Kang Daniel, bahkan dekapan erat itu membuatnya sedikit sesak.


"Daniel.. What is wrong with you?" Tanya Emery lagi saat ia merasakan tubuh Kang Daniel bergetar, bahkan ia juga bisa merasakan, jika saat ini sang pengawal pribadinya itu tengah menangis, dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Kang Daniel, Emery melihat air mata yang keluar dari sudut mata Kang Daniel.


"Daniel.. Apa kau menangis?" Tanya Emery semakin khawatir namun ia berusaha untuk bersikap tenang dan dengan perlahan mengusap punggung Kang Daniel lembut.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, aku mohon."


"Daniel.."


"Hanya sebentar, selagi aku masih punya waktu,  aku ingin memelukmu." Gumam Kang Daniel dengan suaranya yang sedikit bergetar.


"Apa maksudmu? Waktu apa?" Daniel.. " Tanya Emery yang langsung mendongak ke atas, menatap wajah Kang Daniel yang sudah terlihat basah.


"Daniel.. Sebenarnya ada apa? Aku mohon, bicaralah.. "


"Bisakah aku pergi sekarang?"


"Maksudnya? pergi? kau akan pergi?" Tanya Emery yang langsung di balas anggukan oleh Kang Daniel.


"Aku akan...."


"Tidak." Seru Emery, bahkan sebelum Kang Daniel menyelesaikan kalimatnya.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun,"


"Maafkan aku Emery, jika tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjagamu."


"Tidak.. Jangan pergi.. Daniel.. Apa kau sedang mengerjaiku sekarang? Hentikan, ini tidak lucu. Berhenti bermain denganku." Balas Emery dengan senyumnya, bahkan ia terus mengguncang tubuh Kang Daniel.


"Maaf,"


"Daniel.. Apa kau serius?"


"Maafkan aku."


"Kau akan pergi? Lagi?"


"Emery.. "


"Kenapa? Apa aku terlalu merepotkanmu?" Tanya Emery yang kembali mendongak ke atas, menatap wajah Kang Daniel yang terlihat murung.


"Tidak seperti itu," Jawab Kang Daniel seraya mengusap pipi Emery lembut.


"Lalu apa?"


"Aku mempunyai sedikit urusan di Amerika, dan... "


"Berapa lama?"


"Mungkin beberapa tahun, atau mungkin juga aku tidak akan kembali." Jawab Kang Daniel yang membuat Emery terhenyak, matanya seketika berkaca, bahkan memundurkan langkahnya perlahan menjauh dari Kang Daniel.


"Emery.. Maafkan aku."


"Berhentilah meminta maaf, dan pergilah.." Ucap Emery yang terus menatap Kang Daniel. Bahkan air matanya mulai menitik, ia sendiri tidak mengerti kenapa sampai semarah ini hanya karena mendengar Kang Daniel yang akan pergi.


"Maafkan aku Emery, aku harap kau bisa menjaga diri, makanlah yang teratur, jangan sering menangis sendirian, jangan selalu memikirkan jika kau tidak akan pernah bahagia, sebab suatu saat kau pasti akan bahagia, dan jangan pernah berfikir jika tidak ada yang mencintaimu, sebab suatu saat, akan ada seseorang yang datang dengan tulus untuk memintamu menikah, seperti apa yang kau inginkan, jadi aku harap, jalanilah hidupmu dengan bahagia Emery.."


Tapi kenapa aku tidak merasa bahagia sekarang Daniel, aku ingin kau selalu berada di sampingmu, aku mohon.. Jangan tinggalkan aku, jangan lagi..


"Baiklah.. Aku akan berusaha untuk bahagia seperti keinginanmu, pergilah.. Pergilah sekarang, jangan pedulikan aku.."


"Emery.. "


"Pergilah.. "


"Maaf.. "


"PERGII.. " Ucap Emery yang langsung berpaling membelakangi Kang Daniel, bahkan air matanya menitik begitu saja, saat terdengar Kang Daniel memundurkan,  langkahnya dan mulai meninggalkan Emery yang masih terpaku dengan perasaan sakitnya. Hatinya gelisah, entah apa yang harus di lakukannya sekarang.


"Jangan pergi... Jangan pergi Daniel.." Gumam Emery perlahan sambil terus mengusap air matanya, bahkan dengan cepat ia berlari meraih tangan Kang Daniel dan mencengkramnya dengan sangat erat.


"Jangan pergi.. Aku membutuhkanmu.. Aku tidak tahu akan seperti apa aku jika kau pergi.. Aku tidak bisa.. Aku tidak bisa tampamu Daniel.. Aku.. Hiksss..."


"Emery.. Aku.. "


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Kang Daniel.. Jangan tinggalkan aku... " Ucap Emery dengan tangisnya, bahkan tubuhnya terlihat bergetar saat terus mencengkram lengan Kang Daniel yang masih terpaku dengan pernyataan Emery barusan, hingga di satu menit kemudian, Kang Daniel langsung meraih tubuh Emery untuk di peluknya, pelukan hangat dan erat yang membuat Emery semakin terisak.


"Maafkan aku.. Maaf.. I will not leave you." Bisik Kang Daniel yang semakin erat memeluk tubuh Emery.


* * * * *


* MANSION UTAMA.


"Bagaimana keadaannya?"


"Putramu baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." Jawab Dokter Hanenda saat usai memeriksa kondisi Lucas dan mengganti cairan impus Lucas.


"Sebenarnya ada apa dengan Lucas? Apa yang sudah kau lakukan dengan putramu Fridell?"


"Aku hanya memberinya satu peringatan agar tidak menentangku."


"Aku rasa cukup Fridell. Dia putramu, dan tidak seharusnya kau melakukan hal seperti itu. Entah apa yang sudah di lakukannya hingga membuatmu semurka ini, tapi.. Apapun yang Lucas lakukan, aku yakin.. Jika dia tidak pernah melakukan hal yang salah."


"Kau tahu apa Han?"


"Yah aku cukup tahu Fridell, dan saat di rumah sakit kemarin, apakah kau tahu, sekhawatir apa Lucas malam itu? Bahkan aku kembali melihat ekspresi yang sama saat ia kehilangan Ibunya,"


"Tapi, gadis itu bukan gadis yang tepat untuk Lucas,"


"Hanya putramu yang bisa menentukan, gadis seperti apa yang pantas dengannya, dan aku rasa gadis yang terbaring di rumah sakit itu adalah gadis yang yang sangat putramu cintai."


"Tidak, Gadis itu tidak akan pernah bisa masuk dalam keluarga Elfredo, sebab kesalahan yang pernah Tiar Galenka perbuat sungguh tidak bisa di maafkan,"


"Apa maksudmu?" Tanya Dokter Hanenda mengernyit bingung.


"Apa kau tahu, siapa pembunuh Yuwa Favian 26 tahun lalu? Itu di lakukan oleh Tiar Galenka, Ayah gadis itu."


"Apa? Jadi? Maksudmu, yang membunuh Ibu Keano.. "


"Benar.. Sungguh suatu kesalahan yang tidak bisa di maafkan bukan? Dan sekarang.. Setelah bajingan itu menghilang, kini anaknya yang datang mengganggu ketenangan Lucas, dan berusaha untuk masuk ke keluarga Elfredo. Tidak akan aku biarkan."


"Tapi Fridell, aku yakin, gadis itu tidak mengetahui apapun tentang masa lalu Ayahnya. Dan tidak seharusnya kau menumpahkan semua kemarahan dan dendammu pada gadis itu."


"Kenapa? Apa kau pikir, mengambil tanggung jawab atas kehamilan Yuwa itu hal yang mudah? Hingga aku harus melupakan semuanya? Bahkan aku harus kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku saat aku harus menjadikan Yuwa selirku,"


"Aku tahu.. Tapi gadis itu, dia.. "


"Tidak ada yang bisa lepas dari cengkramanku Han, kau sangat tahu itu. Dan aku yakin kau tidak pernah melupakan jika kakakmu adalah seorang Mafia, bukan seorang Pendeta yang selalu memberi maaf pada seseorang yang bersalah."


"Baiklah.. Tapi aku minta satu hal padamu, tolong pertimbangkan perasaan putramu, cukup Daniel saja yang merasa tersia-siakan oleh Ayah kandungnya sendiri, dan Keano.. Tidak seharusnya kau memperlakukan dia selayaknya orang yang harus menerima nasib buruk Ibunya, dia juga putramu Fridell." Ucap Dokter Hanenda.


"Aku tidak pernah menyia-nyiakan mereka Hanya, aku hanya menyembunyikan identitas mereka untuk melindungi mereka."


"Tapi mereka tidak merasa seperti itu Fridell," Balas Dokter Hanenda yang langsung melangkah meninggal Tuan Fridell yang masih berdiri di sana, hingga langkah kaki Dokter Hanenda terhenti saat melihat Lucas yang sudah berdiri di depan pintu, dan entah sudah berapa lama ia di sana, yang jelas saat melihat ekspresi Lucas sekarang yang di penuhi oleh rasa amarah dan kesedihan cukup membuktikan, jika Lucas sepertinya sudah mendengar semuanya.


"Lucas.. Sejak kapan kau di sana? Bukankah kau harus beristirahat, kondisimu belum sepenuhnya pulih,"


"Aku baik-baik saja paman Han," Ucap Lucas yang langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Tuan Fridell yang masih berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.


"Bukankah banyak yang harus anda katakan kepadaku?" Tanya Lucas yang masih menatap tajam sangat Ayah.


"Kenapa anda tidak pernah menceritakannya jika Ken juga putra anda? Kenapa anda tidak pernah menceritakan jika pelaku pembunuhan Ibu Ken adalah Ayah dari Starla, dan Daniel, siapa dia sebenarnya?"


"Lucas, kita bisa bicarakan ini lain waktu, kondisimu masih kurang baik sekarang," Balas Dokter Hanenda seraya memegangi pundak Lucas yang sudah nampak bergetar.


"Tidak paman, tidak akan ada lain waktu, aku ingin semuanya jelas sekarang, sudah cukup selama ini aku menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, dan sekarang.. Katakan.. KATAKAN SEMUA YANG TIDAK AKU KETAHUI AYAH.. " Teriak Lucas.


Dengan perlahan Tuan Fridell menarik nafas panjang seraya mendudukan dirinya di kursi putarnya sambil terus menatap Lucas yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Apa kau yakin ingin mengetahui semuanya?" Tanya Tuan Fridell perlahan yang belum melepaskan tatapan matanya.


"Semuanya, katakan semuanya."


"Baiklah.. Ayah akan menceritakan semua hal, termasuk kenapa kau masih bisa mernafas hingga sekarang." Jawab Tuan Fridell yang sontak membuat Lucas merasakan gelisah.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.