
"Kau ...."
"Masuklah," perintah sang gadis masih menyeringai, bahkan langsung mendorong tubuh pria yang bahkan lebih tinggi darinya masuk kedalam mobil. Menyusul dirinya. Sedang Frankie berpindah duduk kedepan kursi kemudi.
"Apa harus seperti ini? Kau semakin lihai memegang senjata," balas sang pria.
"Oh ayolah, aku sangat merindukan, Kak," ucap sang gadis yang tak lain adalah Gabriella.
Menenggelamkan tubuhnya yang nampak mungil di dalam pelukan Daniel yang hanya pasrah, tak membalas memeluk tapi juga tak menolak.
"Berhenti memelukku seenakmu Briel, aku kakakmu."
"Yang nanti akan menjadi suamiku."
"Kau bahkan masih terlalu kecil untuk menjadikanku suami," balas Daniel. Sedang Frankie mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran menuju jalan besar.
"Aku sudah dewasa kak, usiaku sudah menginjak 21 tahun, dan bulan depan akan menginjak 22 tahun, aku juga bisa menjadi gadis dewasa seperti apa yang kakak inginkan," ucap Gabriella yang masih memeluk tubuh Daniel, bahkan tanpa berniat sedikitpun untuk melepaskannya, meski Daniel sudah melepaskan lingkaran tangannya yang sejak tadi melingkar di pinggangnya.
"Fokuslah dengan buruanmu, alih-alih memaksakan diri untuk menjadi seorang gadis dewasa," balas Daniel memijat tengkuk lehernya, bahkan ia merasa mulai sesak saat Gabriella terus memeluknya.
"Buruanku tidak akan mempengaruhi usahaku untuk menjadi gadis dewasa, jadi bersiaplah. Kakak akan benar-benar menjadi suamiku suatu saat nanti," sambung Gabriella mengecup pipi Daniel sekilas sebelum melepaskan pelukannya.
"Dari mana kau tahu aku akan pulang hari ini?" tanya Daniel merapikan kemejanya yang nampak berantakan karena ulah gadis itu.
"Dari kak Jackob."
"Jackob?"
"Ya, sudah beberapa hari ini Jackob berada di Verona."
Alis Daniel nampak mengernyit.
Apa yang di lakukan pria itu di sana? Apa ada pengiriman barang? Atau ....
Pikiran Daniel mendadak kacau. Ia tahu jika beberapa hari lalu Alpha dan Emery baru saja melangsungkan pernikahan. Meski ia merasa jika mungkin itu tak ada hubungannya dengan keberadaan Jackob di Verona. Namun, ia tahu jika Alpha dan Jackob sempat terlibat satu masalah di club malam milik Axel, dan ia cukup tahu Jackob pria seperti apa, dan bagaimana hubungan keluarga Almero dan Cullen sebelumnya.
"Sepertinya kak Jackob mendapatkan buruan baru," sambung Gabriella.
"Buruan? Di Verona? Siapa?" tanya Daniel, bahkan pikirannya yang langsung tertuju kepada keluarga Berta, siapa lagi yang bisa di jadikan target oleh sindikat mafia seperti Almero family, jika bukan keluarga Berta yang memiliki pengaruh besar di Verona.
"Entahlah, kak Jackob tidak mengatakan apa pun. Sebab saat ini kak Jackob masih mencari cela untuk melacak informasi penting dari buruannya tersebut."
Daniel semakin cemas, ia tahu jika sindikat mafia dari klub Almero family mungkin sedang mengincar keluarga Berta, terlepas dari masalah antara Jackob dan Alpha. Dan jika memang demikian, itu artinya Emery juga berada dalam masalah. Meski pihak Almero masih satu family dengan keluarga Cullen. Namun, tetap saja, mereka tidak akan melihat dari sisi tersebut, sebab jika Emery sudah menyandang nama Berta, saat itu juga, Emery sudah bukan dari keluarga Cullen lagi.
Semoga kau selalu baik-baik saja Eme.
Daniel mengusap seluruh wajah kasar, dengan tarikan nafas panjang sebelum mengeluarkannya dengan perlahan. Berharap jika apa yang dipikiran tidaklah benar. Biar bagaimanapun, Emery masihlah menjadi penghuni hatinya, ia bahkan masih sangat mencintaiwanita itu, kendati tahu jika Emery sudah kembali ke sisi Alpha.
"Kakak nampak cemas, ada apa?" tanya Gabriella yang sudah sejak tadi mengamati Daniel.
Bahkan gadis itu tidak memalingkan pandangannya sedikit pun, tak juga berkedip meski kedua matanya sudah sangat perih. Ia benar-benar terpesona oleh ketampanan pria yang bahkan lebih tua darinya.
"Bisakah aku berbicara dengan Jackob?" tanya Daniel.
"Of course, kakak bisa berkunjung di Detroit untuk makan malam bersama. Kak Jack akan kembali beberapa hari lagi, dan kalian bisa berbincang," jawab Gabriella mengembangkan senyum di bibirnya.
"Ya, sebaiknya hubungi aku jika Jackob sudah kembali," balas Daniel mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Kak,"
"Ya."
"Kenapa kakak nampak gelisah? Apa yang sedang kakak pikirkan?"
"Haruskah aku memberitahu semua yang ada di dalam pikiranku kepadamu, Briel?" balas Daniel menatap wajah Gabriella yang kembali memasang senyum. "Dan sebaiknya kau tidak mencoret wajahmu seperti itu lagi, Gabriella. Kau nampak menakutkan," sambungnya hingga membuat Frankie yang sejak tadi diam sambil menyimak obrolan mereka terlihat sedang menahan tawa.
Bahkan ia masih mengingat ucapan Gabriella pagi tadi saat akan menjemput Daniel ke bandara, jika dandanannya saat ini akan membuat Daniel tergila-gila padanya. Namun, sepertinya Nona mudanya salah besar, sebab Daniel sendiri nampak tidak nyaman dengan dandanan Gabriella sekarang.
"Ya, kau nampak menakutkan."
"Oh siall! Aku pikir ini akan membuatmu tertarik," umpat Gabriella.
"Berhenti mengumpat Briel."
"Okey, aku akan mendengarmu kak,"
"Dandanan itu bagus. Namun, tak cukup pantas untukmu, kau lebih terlihat manis tanpa riasan," hibur Daniel yang kembali mencerahkan wajah Gabriella yang sempat ia buat mendung.
"Benarkah?"
"Hmm,"
Daniel akhirnya tersenyum sebelum kembali murung saat ingatannya kembali tertujuh pada adiknya Lucas. Entah bagaimana kabar Lucas sekarang. Apa dia baik-baik saja? Ia bahkan lebih ingin mendengar kabar jika Lucas sudah terbangun dari komanya.
"Apa paman Fridell memberitahumu sesuatu?"
"Ayah?"
"Hmm,"
"Tidak."
"Ah, pantas saja. Kakak nampak terkejut saat pertama melihatku. Aku pikir Kakak sudah tahu jika aku yang akan menjemput."
"Siapapun akan terkejut dengan cara anehmu seperti itu."
"Maaf," balas Gabriella terkekeh.
"Apa Ayah berkunjung ke sana?"
"Ya. Bersama seseorang."
Daniel alihkan pandangan ke arah Gabriella yang masih menempel padanya.
"Ken?"
"Hmm, pria yang terus diam seperti seorang idiot."
"Dia adikku. Sebaiknya jaga bicaramu."
"Ups, sorry. Aku hanya tak tahan melihatnya terus diam, padahal dia memiliki senyum yang indah."
Daniel menggeleng pelan. Bersamaan dengan beban pikirannya yang semakin bertambah. Bagaimana tidak, ia jelas tahu jika sejak dulu Keano tak pernah ingin terlibat apa pun yang bersangkutan dengan kejahatan, begitu juga dengan Lucas. Namun, sekarang sepertinya ia harus terbiasa, bahkan harus berbaur dan mungkin masuk ke dalam dunia hitam. Sebab ia tak akan pernah bisa menentang atau menolak keinginan ayah mereka jika saja suatu waktu Fridell Elfredo memintanya untuk melakukan satu pekerjaan yang bertentangan dengan keinginannya.
Hingga mobil berhenti di depan kediaman Elfredo. Dengan Daniel yang terlihat bergegas turun dari mobil.
"Aku akan turun untuk menyapa ...."
"Mungkin lain waktu, Briel." potong Daniel yang langsung menutup pintu mobil ketika Gabriella hendak turun.
"Tapi aku masih ingin mengobrol denganmu, sekaligus menyapa paman Fridell, bertemu adikmu dan ...."
"Aku cukup lelah dan akan langsung tidur. Ayah juga tak sedang berada di rumah sekarang, begitu juga dengan Ken."
Gabriella berdecak dengan wajah cemberut.
"Hmm, baiklah. Mungkin lain waktu."
"Terima kasih, Briel."
***