I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Kenyataan pahit. * HOSPITAL.



"Tuan muda, ingat. Masalah akan semakin rumit jika Tuan Fridell mengetahuinya."  Ucap Keano sekali lagi yang membuat Lucas sedikit melunak.


"Aku tidak akan pernah membiarkan anda untuk memiliki Starla, Ingat itu."  Ancam Lucas kepada Alpha yang sebenarnya tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang, sebab saat ini seluruh pikirannya tertuju kepada Starla.


"Cih, kau pikir kau siapa? Kau sungguh bocah yang benar-benar tidak tahu malu."  Oceh Leon yang kembali membuat Lucas geram.


"Leon, hentikan.. " 


Seru Alpha dengan pemikiran kalutnya, meskipun tatapannya masih terlihat menakutkan, namun sikap mengalah Alpha kali ini cukup membuat Leon tercengang. Bahkan Leon sudah memikirkan jika Alpha akan bersikap brutal dan menghabisi siapa saja yang sudah membuatnya terganggu seperti biasa. Namun kenyataan yang ia lihat sekarang sangatlah jauh berbeda dari bayangan Leon. Dan di sinilah Leon jadi mengerti, jika secara tidak langsung Starla sungguh telah merubah sikap Alpha.


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Ucap Alpha lagi, yang langsung melangkah pergi meninggalkan Lucas yang masih berusaha mengatur perasaannya. Begitupun dengan sisa pengawalnya yang  langsung mengikuti langkah lebar Alpha meninggalkan Rumah sakit tersebut.


* * * * *


* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


Starla terdiam di sebuah sofa ruang tengah Panthouse megah milik Alpha. Sejak tadi ia hanya terus terdiam dengan air mata yang terus menitik dari sudut matanya. Merutuki kebodohannya yang lagi-lagi merasa bodoh sebab ia kembali terperangkap ke dalam suatu cinta dan perasaan kepada pria yang tidak seharusnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perasaan cintanya, juga dengan Alpha, namun status Alpha yang tidak jauh berbeda dengan Lucas sungguh tidak bisa di terima oleh Starla juga masa lalunya yang pernah terpuruk, bahkan Trauma yang Starla alami saat itu masih sangat membekas hingga saat ini.


Kebencian Starla kepada semua pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan sudah sangat mendara daging. Rasa trauma yang pernah ia rasakan sungguh membuatnya merasakan sakit yang teramat dalam. Kenangan buruk yang pernah ia dapatkan dari keluarga Elfredo hingga membuatnya kehilangan Ibunya sungguh satu hal yang tidak akan pernah Starla lupakan. Dimana pada saat itu ia sangat di rendahkan, bahkan Ibunya Liora harus menukar nyawanya demi mendapatkan maaf untuk dirinya.


"Nona Starla.. Makanlah.. "


Ucap Dareen sambil meletakkan segelas coklat panas dan Sandwich di atas meja. Meskipun Starla tidak merespon sedikitpun, ia hanya terus terdiam dengan pandangan yang mengarah keluar jendela.


"Sebenarnya siapa Alpha sebenarnya?"


Tanya Starla dengan suara yang terdengar serak, ia kembali melemparkan pandangannya ke arah Dareen yang untuk sesaat terdiam atas pertanyaannya, bahkan Dareen sempat kebingungan sebab tidak tahu harus meemberikan jawaban yang seperti apa atas pertanyaan Starla.


"Apa Nona Starla benar-benar tidak tahu siapa dia?" Tanya Dareen.


"Tidak, sejak sejam lalu aku merasa Alpha hanyalah orang asing yang tidak aku kenal." Jawab Starla dengan nada yang penuh dengan kekecewaan.


"Maaf, tapi apapun yang Nona Starla pikirkan tentang Tuan muda, saya harap Nona Starla tidak sampai berfikiran buruk tentangnya, dan apapun yang Nona Starla dengar nanti, tolong.. Jangan pernah meninggalkannya." Pinta Dareen dengan wajah yang penuh dengan permohonan.


"Tuan muda? Jadi benar, Alpha bukan orang biasa?" Tanya Starla semakin merasa gelisah.


"Apa Nona Starla benar-benar tidak pernah mendengar keluarga yang bermarga Berta?" Tanya Dareen yang membuat Starla kembali terbungkam.


Jangan katakan jika Alpha berasal dari keluarga Berta.


Mendengar pertanyaan Dareen membuat Starla merasa tercekik, sebab Ia sangat tahu bagaimana berkuasanya keluarga yang bermarga Berta, meskipun ia tidak pernah mengetahui siapa saja mereka, namun Starla sekali pernah mendengar dan akhirnya mengetahuinya.


"Apa Nona pernah mendengar perusahaan BRT GRUP?" Tanya Dareen sekali lagi.


"BRT GRUP? Siapa yang tidak tahu itu." Jawab Starla.


"BRT GRUP adalah Perusahaan milik keluarga Berta, tepatnya milik Alpha."


"Apa?"


"Seperti yang Nona Starla dengar, Alpha Khandra Berta adalah seorang Presiden Direktur BRT Group. Anak tunggal dari Tuan Ivander Adley Berta dan Nyonya Kinandita Allen Berta."  Ucap Dareen yang membuat Starla hanya bisa terdiam, sungguh ia tidak pernah menduga jika Alpha adalah seorang pria yang derajatnya bahkan lebih tinggi dari Lucas. Dan yang lebih membuatnya merasa bodoh, sebab selama ini ia tidak pernah mencari tahu nama marga Alpha. Bahkan Leon sekalipun tidak pernah mengatakan nama marga mereka, sebab Leon sendiri tidak pernah menggunakan nama marganya.


"Sebenarnya dari awal Tuan Alpha tidak mempunyai niat sedikitpun untuk terjun langsung kedalam Perusahaan Ayahnya, menghabiskan masa mudanya untuk melakukan semua pekerjaan yang seharusnya belum saatnya ia lakukan, sebab di usia Tuan muda saat itu yang masih sangat muda, pekerjaan itu sangat menguras otak dan tenaganya, ia juga harus mempunyai tanggung jawab besar, yang ia sendiri tidak yakin akan bisa memegang tanggung jawab itu. Namun keadaan dan takdir mengharuskannya untuk menjalani semuanya, mau tidak mau ia harus masuk ke dalam dunia yang sungguh tidak ia inginkan." Jelas Dareen lagi.


"Sebenarnya Tuan muda hanyalah seorang pria biasa seperti yang lainnya, sebelum peristiwa itu terjadi dan menghancurkan segalanya kehidupannya. Seandainya anda mengetahui semua penderitaan yang pernah Tuan muda lewati selama ini, mungkin anda akan sedikit memahaminya. Menjadi seorang pria dengan kedudukan tinggi bukanlah kesalahannya. Dia berbeda, sebab dia mempunyai kasih sayang dan cinta tulus yang bisa melindungi anda, siapapun dan bagaimanapun kedudukannya, dia juga tetap seorang pria yang berhak untuk mencintai siapapun, dan yang pastinya dia tidak akan melihat bagaimana dan sebesar apa status seseorang yang sudah masuk di dalam hatinya, sebab baginya cukup di cintai saja, itu sudah sangat membuatnya bahagia." Jelas Dareen.


"Penderitaan? Maksud anda?"


"Mungkin saya tidak punya hak untuk menceritakan semuanya, Maaf.. Saya hanya ingin meminta satu hal pada anda Nona Starla, jangan pernah meninggalkan Tuan Alpha." Pinta Dareen dengan tatapan mata yang penuh kesedihan juga permohonan.


"Maaf.. Jika aku tidak bisa memenuhi keinginan anda, aku.. "


"Starla.. Starla..."


Panggil Alpha dengan langkah lebarnya, bahkan ia sedikit berlari untuk mencari sosok yang sejak tadi di panggilnya berulang-ulang kali.


"Dareen... di mana Starla..."


Panggil Alpha sekali lagi sambil memasuki ruang tamu, dan suara baritonenya semakin jelas saat ia memasuki ruang tengah, bahkan tampa berfikir panjang, Alpha langsung berlari mendekati Starla yang masih terduduk di sofa dan dengan cepat ia membuka jaketnya dan langsung memakaikannya kepada Starla yang ternyata masih mengenakkan piyama rumah sakit.


"Apa kau baik-baik saja." Tanya Alpha terlihat khawatir, meskipun ia tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, sebab sejak tadi Starla hanya terdiam dengan air mata yang sudah bertengger di pelupuk matanya.


"Starla.. Apa kau merasakan sakit di tubuhmu? kenapa kau hanya terdiam, jawab aku," Tanya Alpa sekali lagi.


Bukan di tubuhku, tapi di hatiku, aku merasakan sakit di hatiku.. sangat sakit Alpha.


"Aku baik-baik saja." Jawab Starla dengan anggukan perlahan tampa melihat wajah Alpha. Starla hanya menundukkan kepalanya seolah enggan menatap sosok Alpha yang sedari tadi duduk di hadapannya dengan wajah yang di penuhi dengan kesedihan juga kekhawatiran.


"Maafkan aku."  Ucap Alpha perlahan yang masih sangat paham dengan perasaan Starla yang sepertinya belum sepenuhnya menerima dirinya.


"Maaf untuk apa? karena sudah membuatku terlihat bodoh seperti sekarang?"


"Starla.. Bisakah kau memahamiku, tolonglah.. Bisakah kau tidak.."


"Aku tidak bisa, maaf.." Sela Starla.


"Aku akan mengantarkanmu di kamar untuk beristirahat, agar pikiranmu jauh lebih tenang." Ucap Alpha yang langsung di balas gelengan oleh Starla yang masih menolak untuk menatap wajahnya.


"Starla.. Istrahatlah sebentar, tubuhmu bahkan belum sepenuhnya pulih."


"Tidak," Tolak Starla yang membuat Alpha terkejut.


"Starla.."


"Antarkan aku pulang ke rumah." Pinta Starla memohon tampa menatap wajah Alpha.


"Tidak, sebaiknya kau di sini dulu."


"Aku mohon, biarkan aku pulang ke rumah." Pinta Starla sekali lagi.


"Starla.. Bisakah kau mendengarkanku sekali ini saja? Kau tidak aman jika berada di sana, karena aku yakin Lucas akan ke sana untuk mencarimu, kecuali jika kau ingin Lucas menemukanmu." Ucap Alpha dengan nada suara yang terdengar khawatir. Apalagi di saat ia melihat Starla yang hanya terdiam dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takut juga kebencian, entah perasaan benci itu di tujukan kepada siapa, yang jelas saat ini Alpha sungguh tidak ingin Starla meninggalkannya.


"Starla.. Tinggallah di sini, apa kau sungguh tidak melihat kekhawatiranku?"


"Tapi, aku tidak ingin... "


"Baiklah, aku yang akan pergi dari sini," Sela Alpha, "Jika kau memang tidak ingin melihatku di sini, biar aku yang pergi. Tapi aku mohon, biarkan beberapa pengawalku tetap di sini untuk menjagamu." Pinta Alpha lagi sambil mengulurkan tangannya untuk kembali meraih tangan Starla, meskipun respon Starla yang seolah tidak memperdulikannya dan membuat Alpha mengurungkan niatnya.


"Kenapa kau harus melakukan itu Tuan Alpha, kenapa kau harus tersingkir dari rumahmu sendiri demi gadis miskin sepertiku?" Tanya Starla perlahan sambil terus tertunduk, seolah sedang berusaha menghindari tatapan Alpha yang sejak tadi menatapnya.


"Memangnya ada apa dengan dirimu? Kau gadis seperti apa? Kenapa kau jadi tiba-tiba merendahkan dirimu sendiri?"  Tanya Alpha dengan nada suara yang mulai meninggi, alih-alih menjawab pertanyaan Starla, dan hal itu cukup membuat Starla terkejut dengan air mata yang terus menetes dari sudut matanya.


"Jangan menangis." Pinta Alpha yang saat ini sebenarnya sangat ingin memeluk erat tubuh Starla, namun lagi-lagi ia mengurungkan niatnya, sebab saat melihat respon Starla yang sepertinya sedang memasang jarak di antara mereka membuat Alpha prustrasi, dan membuat Alpha semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Siapapun dan bagaimanapun dirimu, aku tidak pernah memperdulikan itu Starla, sebab aku.. " 


Alpha menggantungkan kalimatnya, bibirnya tiba-tiba mengatup sempurna.


"Aku hanya ingin kau tetap disini." Ucap Alpha yang langsung meraih tubuh Starla untuk di gendongnya, tampa memperdulikan penolakan Starla yang tengah merontah di dalam gendongannya,


" Apa yang anda lakukan, turunkan aku.."


"Diamlah.."


Ucap Alpha, dengan langkah lebar Alpha langsung berjalan menaiki anak tangga menuju sebuah kamar yang cukup luas. Bahkan ia langsung merebahkan tubuh Starla dan menyelimutinya. Sedang Starla dengan jantung yang nyaris berhenti sudah tidak mampu lagi untuk berkata apa-apa.


"Aku akan pulang, hubungi aku jika ada yang kau butuhkan." Ucap Alpha yang langsung beranjak dari tempatnya sekarang, melangkah keluar dan meninggalkan ruang kamar Starla. Menyisakan Starla yang masih terdiam dengan perasaan yang bercampur aduk.


* * * * *


Alpha melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ruang tengah yang di sana masih terlihat sosok Dareen yang sepertinya sedang menunggunya. Alpha yang langsung menyandarkan tubuhnya di sansaran sofa sambil memejamkan matanya cukup membuat Dareen mengerti, jika saat ini Alpha tengah mengalami masalah serius, sebab sudah beberapa menit berlalu sejak Alpha disana, belum ada satu katapun yang terdengar, Alpha masih enggan untuk membuka mulutnya, ia masih bungkam dengan segala masalah yang sepertinya sangat membebaninya.


"Tuan muda, bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Dareen yang tidak tahan lagi dengan situasi sekarang, dan akhirnya membuka mulutnya yang sejak tadi bungkam dengan satu pertanyaan yang sebenarnya ia sendiri sudah mengetahui jawabannya, ia tahu, jika saat ini Alpha sedang tidak baik-baik saja, terlihat jelas kerutan di dahinya, saat sesekali Alpha mengernyitkan keningnya di sela matanya yang terpejam, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


"Sepertinya dia membenciku," Jawab Alpha setelah beberapa menit, dan akhirnya membuka mulutnya, namun masih tetap dengan posisinya yang masih memejam, bahkan enggan untuk menatap Dareen.


"Tapi cepat atau lambat ia akan mengerti dan satu hal yang perlu Tuan ketahui, Nona Starla tidak pernah membenci anda," Jawab Dareen yang terlihat sedang berusaha menghilangkan pikiran buruk Alpha.


"Apa kau yakin? Tapi.. Kenapa perasaanku mengatakan jika ia akan menjauh, dan akan meninggalkanku," Balas Alpha.


"Tuan, apa sekarang Tuan muda merasakan takut?" Tanya Dareen.


"Entahlah.. Aku selalu memikirkan, apa yang akan terjadi jika suatu saat dia pergi dan meninggalkanku." Jawab Alpha semakin merasa cemas, bahkan ia sendiri tidak mengerti dengan perasannya sekarang yang benar-benar tidak ingin kehilangan gadis yang saat ini tengah berada di sekitarnya, satu atap dengannya, bahkan berbagi oksigen dengannya.


"Anda mencintai Nona Starla" Ucap Dareen yang secara tiba-tiba dan sontak membuat Alpha terkejut.


"apa?" Tanya Alpha untuk meyakinkan pendengarannya.


"Anda sudah jatuh cinta pada Nona Starla, rasa peduli dan kekhawatiran anda jelas menunjukkan jika saat ini anda sedang berusaha melindunginya, melindungi seseorang yang anda cintai, juga mengkhawatirkan seseorang yang sebenarnya anda sayangi, apa saya salah Tuan?" Ucap Daren panjang lebar yang sontak membuat Alpha terdiam.


Alpha bahkan tidak pernah menyadari akan hal itu, di dalam pikirannya hanya satu, yaitu ia hanya ingin melindungi Starla, tidak ingin melihat Starla menangis dan terluka, bahkan tampa memikirkan perasaannya sendiri, perasaan cinta yang sudah jelas terlihat, jika semua hal yang ia lakukan karena ia mencintai gadis itu.


"Kau benar, aku.. Aku merasakan perasaan yang berbeda kepadanya, Tapi.. Kenapa sekarang hatiku merasa sakit, bahkan untuk menatap wajahku saja ia enggan." Ucap Alpha seraya memegangi dadanya.


"Mungkin saat ini Nona Starla butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Dan rasa sakit yang Tuan muda rasakan sekarang karena Nona Starla sedang mengabaikan anda." Balas Dareen.


"Kenapa semua jadi serumit ini, kenapa mencintai seseorang mesti sesakit ini Dareen?" Tanya Alpha perlahan.


"Tidak seperti itu Tuan muda, rasa sakit yang Tuan muda rasakan sekarang karena adanya masalah yang terjadi di antara Tuan muda dan Nona Starla" Jelas Dareen yang sekarang justru merasakan kekhawatiran. Ini cinta pertama Alpha, dan bahkan ia sudah harus merasakan sakit.


"Semua akan membaik, Nona Starla hanya salah paham terhadap anda, dan itu hal yang wajar bagi seseorang yang pernah mengalami trauma hingga membuat mereka menderita. Tuan muda hanya butuh waktu untuk lebih bersabar lagi dalam menghadapinya,"


"Aku mengerti, Aku akan menunggunya.. " Gumam Alpha lirih sambil beranjak dari duduknya dan langsung melangkah keluar yang di susulan oleh Dareen.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.