
Ternyata bukan hanya di ruangan ICU saja yang tengah di penuhi dengan suara tangis dan air mata. Tetapi tidak jauh dari tempat mereka sekarang tengah berdiri Tuan Chris dengan mata yang sudah terlihat berkaca, bahkan satu butiran bening lolos keluar dari sudut matanya yang sejak setengah jam lalu berada di sana. Satu-satunya orang yang di penuhi dengan rasa penyesalan, rasa kesedihan yang sangat mendalam, juga kemarahan yang tidak mampu di tahannya lagi saat melihat tubuh putranya sudah terbujur kaku dengan berlumuran darah.
Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah anak yang sangat di nantikannya selama beberapa tahun ini juga sudah tidak bernyawa lagi, anak dari wanita yang sangat di cintai seumur hidupnya kini telah meninggalkannya tampa mengetahui siapa Ayahnya. Dan semua itu di sebabkan oleh perbuatannya sendiri, hal itu membuat Tuan Chris menjadi kehilangan akal sehat, bahkan tampa berfikir panjang Tuan Chris langsung mengarahkan pistolnya tepat ke arah Alpha yang masih terisak di samping tubuh Edrea yang sudah tidak bernafas lagi. Hingga sebuah suara terdengar sangat jelas di pendengarannya.
"KRIIISSS.. JANGAAANN... "
Teriakkan Nyonya Aleen yang tiba-tiba berlari melindungi tubuh Alpha yang tidak menyadari saat satu peluru kecil tengah melesat cepat kearahnya.
DOORR..
Kembali suara tembakan terdengar di sana. Dengan gerakan yang sangat cepat Dareen menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya tepat ke arah Tuan Chris yang tiba-tiba saja membeku di tempatnya dengan air mata yang terus menetes. Meski tembakan Dareen kali ini tidak mengenai sasaran, sebab di samping Tuan Chris ada Kang Daniel yang sudah terlebih dahulu menarik tubuh Tuan Chris, melindungi Presdirnya dari peluru panas Dareen. Bahkan hanya dalam hitungan detik saja, tubuh Tuan Chris dan Kang Daniel sudah menghilang dari pandangan mereka semua, dan hanya tersisa beberapa pengawalnya saja yang saat ini sudah melepaskan tembakan mereka masing-masing. Karena sudah di penuhi dengan rasa amarah, Dareen berlari keluar untuk menyusul Kang Daniel dan Tuan Chris yang sudah terlebih dahulu berlari keluar, dengan perlindungan beberapa bodyguard Alpha yang berusaha melindungimu Dareen dan yang lainnya dari serangan pengawal Tuan Chris.
Suara tembakan demi tembakanpun terdengar di sana, membuat semua penghuni ruangan di lantai 10 tersebut ketakutan dan tidak ada satupun yang berani untuk keluar dari kamar pasien mereka. Begitupun dengan para perawat yang langsung berlari untuk mencari perlindungan. Sedang Alpha masih terpaku menatap wajah sang Ibu yang tengah tersenyum dengan mata yang berkaca. sosok yang sangat di rindukannya itu.
"Ibu.. "
"All.. All.. An...ak I..bu.. "
Nyonya Aleen mengulurkan kedua tangannya yang bergetar untuk menyambut kedatangan Alpha, anak yang sudah sejak lama di rindukannya, yang selalu di sebutnya dalam diam, dan penantiannya, hingga saat itu tiba, di mana ia bisa kembali memeluk tubuh putranya sambil menghirup aroma khas putranya.
Namun tubuhnya seolah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tatapannya kini mulai berkabut. Sebelum Alpha meraih tubuh Ibunya, tubuh itu sudah terlebih dahulu lunglai di dalam pelukan Alpha, tubuh yang di punggungnya sudah bersarang sebuah peluru panas.
"Ibu.. Ini All anak Ibu... " Ucap Alpha dengan isakannya.
"All.. All sa..yang.. Ma..afkan.. I..bu Nak.. Ma..afka..n Ibu.. "
"Ibu.. Jangan bicara dulu, Ibu akan baik baik saja, WIIILL.. WIILL.. AARRGGHHH.... " Teriak Alpha prustasi seraya mengangkat tubuh Ibunya yang sudah tidak bergerak lagi untuk di gendongnya sambil terus berlari menuju ruangan ICU yang langsung di sambut oleh Dokter Wilfreed di sana.
Sedang Emery yang baru saja datang masih trus menagis meratapi kepergian Elard yang kini mayatnya sudah di letakan di atas brankar bersampingan dengan mayat Edrea yang masing-masing sudah di tutupi kain putih. Duka mendalam sedang menyelimuti keluarga Cullen dan Berta sore itu. Bersamaan dengan hujan yang turun sangat deras seolah ikut merasakan kesedihan kedua keluarga besar tersebut. Nyonya Carolyn memeluk erat tubuh Emery sambil menatap kedua mayat yang terbujur kaku di hadapan mereka. Sedang Alpha yang masih berlumuran darah tiba-tiba berlari keluar sambil memegang sepucuk senjata di tangannya.
Hujan turun sangat deras sore ini. Bersamaan dengan lajunya sebuah mobil membela hujan.
"Tuan... "
Panggil Kang Daniel yang sedikit khawatir dengan keadaan Presdirnya saat ini yang hanya terdiam tampa suara sedikitpun, tidak ada teriakan, umpatan atau makian yang selalu Kang Daniel dengar dari Presdirnya. Sejak tadi Tuan Chris hanya terdiam sambil memandangi kedua tangannya yang nampak masih bergetar. Tangan yang telah melukai wanita yang sangat di cintainya, bahkan telah membunuh kedua anak yang sangat di nantikan dan di sayanginya.
"Apa dia akan baik baik saja?" Tanya Tuan Chris sesaat sambil terus menatap tangannya yang terus bergetar.
"Apa dia akan mati?" Tanya Tuan Chris dengan suara seraknya.
"Nyonya Aleen akan baik baik saja Tuan." Ucap Kang Daniel perlahan.
"Tapi... Dia berdarah.. Aku menembaknya.. " Balas Tuan Chris terbata.
"Tuan tidak sengaja melakukannya."
"El.. Elard.. Anakku.. Dia... "
Kang Daniel hanya bisa menarik nafas dalam, ia juga merasakan kesedihan yang teramat besar saat melihat mayat Tuan mudanya tergeletak di sana. Bahkan sekarang pun ia masih enggan menyebut nama Elard di hadapan Tuan Chris yang sekarang tengah merasakan kesedihan yang teramat mendalam, sebab Elard adalah anak yang sangat di sayangi oleh Tuan Chris, anak yang selalu di banggakannya. Dan kini kesedihan itu bertambah, saat Tuan Chris menyadari, jika sosok yang selama ini berusaha di bunuhnya ternyata anak yang sudah lama di nantikannya.
"AARRGGHHH.... "
Teriakkan keras Tuan Chris sambil menjambak rambutnya dengan sangat keras. Sedang Kang Daniel yang melihat hal tersebut seketika panik, saat Tuan Chris mulai meraih senjatanya.
"Tuan.. Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Kang Daniel dengan penuh kekhawatiran.
"Apa senjata ini bisa membununya?"
"Tuan.. Saya mohon, letakkan senjata itu."
"Daniel, aku sudah kehilangan segalanya, Perusahaan, anak dan wanita yang sangat aku cintai, tidak ada lagi yang tersisa.. Semuanya pergi meninggalkanku." Ucap Tuan Chris dengan suara bergetarnya.
"Tidak Tuan, anda tidak sendiri, ingat lah, masih ada Nona Emery yang sangat menyayangi anda."
"Emery? Hahahahaha... " Tuan Chris terbahak dengan sangat keras, begitupun dengan air matanya yang terus menetes membasahi wajahnya yang terlihat dingin.
"Dia membenciku, anak itu membenciku Daniel."
"Tidak Tuan.. Nona Emery sangat menyayangi anda, dia tidak akan pernah meninggalkan anda. Percayalah Tuan."
"Dan kau... "
"Saya tidak akan pernah meninggalkan anda Tuan." Balas Kang Daniel yang dengan perasaan paniknya saat melihat Tuan Chris mulai mendekatkan pistol yang sejak tadi di pegangnya ke arah kepalanya sendiri. Dengan cepat Kang Daniel menepikan mobilnya di trotoar jalan dan bergegas keluar dari mobilnya di tengah hujan yang semakin deras mengguyur kota seoul yang sudah mulai terlihat gelap. Tampa di sadarinya, jika di ujung jalan sana sudah terparkir sebuah mobil yang tidak asing bagi Kang Daniel.
Matanya sedikit menyipit saat melihat sosok yang keluar dari mobil tersebut. Sosok Dareen dengan sepucuk pistol di tangannya.
"Serahkan dia padaku."
Ucap Dareen sambil menodongkan senjatanya. Begitupun juga dengan Kang Daniel yang dengan gerakan cepat langsung meraih pistolnya dan menodongkan senjatanya hingga jarak mereka semakin dekat.
"Tidak semudah itu." Ucap Kang Daniel dengan senyum smirknya.
"Tsk, sampai kapan kau akan melindungi pembunuh itu?" Tanya Dareen yang semakin mendekati Kang Daniel.
"Sampai aku kehilangan nyawa." Jawab Kang Daniel yang masih dengan posisinya.
"Tsk,"
"Aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama denganku, Dareen kita dalam posisi yang sama, biarkan aku melindungi Tuanku, dan kau melindungi Tuanmu." Ucap Kang Daniel.
"Tapi kita melindungi orang dengan sifat yang berbeda Daniel, apa kau sadar sedang melindungi seorang pembunuh?"
"Aku tahu, namun aku akan tetap melindunginya, dan itu adalah kewajibanku." Ucap Kang Daniel yang masih berdiri di samping mobilnya untuk melindungi Tuan Chirs.
"KELUAR KAU BANGSAT.. "
Teriak keras Alpha yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana dengan sepucuk pistol di tangannya. Tatapannya tajam memandang ke arah Tuan Chirs yang masih terdiam di dalam mobilnya.
"Tetap di dalam Tuan, saya akan membereskan mereka semua." Ucap Kang Daniel perlahan yang tidak di indahkan oleh Tuan Chirs yang begitu saja membuka pintu mobilnya dan langsung keluar, berdiri tegap di hadapan Alpha dengan pistol di tangannya, pistol yang ia gunakan untuk menembak Nyonya Aleen.
"Tuan.. Apa yang anda lakukan? Kembalilah ke mobil." Pintar Kang Daniel.
"Tsk, aku bukan seorang pengecut Daniel, haruskah aku mengingatkanmu lagi, bagaimana caraku membunuh Ayahnya?"
Balas Tuan Chirs dengan senyum smirknya sambil menatap tajam ke arah Alpha yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.
"Dan sayangnya aku bukan anak kacil lagi yang hanya menangis di sudut ruangan saat melihat Ayahnya di tembak oleh seorang bajingan busuk sepertimu." Balas Alpha.
"Rupanya kau melihat semuanya?"
"Lalu kenapa selama ini kau hanya diam saja dan bersembunyi? Apa kau seorang pengecut?"
"Aku diam untuk melihat anda menderita seperti saat ini, di mana anda sangat di benci oleh orang-orang terdekat anda, di jauhi, bahkan di tinggalkan."
"DIAM KAU BOCAH SIALAN.. "
"HAHAHAHAHA... Bagaimana Tuan Chirs? bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat anda sayangi? apa anda menikmatinya?"
"Dasar bocah sialan.. TUTUP MULUTMU." Teriak Tuan Chirs merasa geram.
"Dan Seharusnya anda berfikir dua kali sebelum keluar dari sana." Ucap Alpha yang langsung menarik pelatuknya hingga peluru panasnya melesat tepat di dada kiri Tuan Chirs.
DOORR..
"TUAN MUDAAA.. MENYINGKIR DARI SANAAA... "
Teriak Dareen yang langsung menghalau peluru yang melesat dari senjata Kang Daniel hingga mengenai perutnya. Sedang beberapa pengawal Alpha mulai membentuk barisan untuk melindungi Tuan mereka, begitupun dengan pengawal Tuan Chirs, hingga saling tembak pun tidak bisa terhindarkan lagi.
Kang Daniel yang panik saat melihat darah yang terus keluar dari tubuh Tuan Chirs hanya bisa merangkul tubuh Tuan Chirs sambil menekan luka itu dengan menggunakan jaket yang di pakainya.
"Tuan, bertahanlah.. Anda akan baik baik saja." Ucap Kang Daniel panik.
"Tsk, kau tidak perlu panik Daniel, luka kecil ini tidak akan bisa membunuhku." Balas Tuan Chirs terbatuk dan langsung mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Bocah sialan.. Beraninya dia menembakku, arrrggghhh.. " Terdengar suara erangan dari Tuan Chirs yang tengah menahan sakit.
"Tuan, saya akan membawa anda ke rumah sakit sekarang." Ucap Kang Daniel seraya memapah tubuh Tuan Chirs untuk di masukannya ke dalam mobil.
"Tidak.. Sebelum aku membunuh bocah sialan itu." Tolak Tuan Chirs sambil berusaha untuk berdiri sendiri.
Sedang di sebrang sana, di balik sebuah mobil, nampak Dareen yang tengah meringis kesakitan sambil memegangi sisi kanan perutnya yang terkena luka tembak.
"Dareen, bagaimana, apa kau masih bisa bertahan? kita harus kerumah sakit sekarang." Ucap Alpha panik.
"Tidak Tuan.. Orang kita masih di sana.. "
"Bertahanlah Dareen, aku mohon.. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi." Ucap Alpha dengan mata yang sudah berkaca.
"Akan saya anggap itu sebagai perintah Tuan muda, saya tidak akan meninggalkan anda sendrian." Balas Dareen tersenyum, hingga akhirnya ia kembali meringis saat rasa sakit kembali menyerang tubuhnya yang sudah nampak berkeringat dingin.
"AARRGGHHH SIALAN KAU KRIS.."
Teriak Alpha yang langsung berdiri dari duduknya dan kembali melepaskan tembakannya secara membabi buta.
"Aakkhh siaall... " Umpat Alpha seraya melempar senjatanya yang sudah kehabisan peluru.
DOORRR... DOORRR..
"Arrrggghhh.. "
Jerit Alpha saat di rasakan nyeri yang teramat sangat di bahu juga pahanya, yang di sana sudah bersarang dua peluru di sana. Darah segar mengalir dari paha dan bahunya. Hingga membuat Dareen yang melihat itu menjadi panik dan memaksa tubuhnya untuk berdiri.
"Tuan Muda.."
"TETAP DI TEMPATMU DAREEN.."
Teriak Alpha yang terus memegangi bahunya, sambil membungkuk.
Hingga ia kembali mendengar suara tembakan berkali-kali dari arah belakangnya.
DOORRR.. DOORRR.. DOORRR..
"Wil.. Kau datang?" Seru Alpha saat melihat Dokter Wilfreed sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan di sana Tuan muda Alpha Khandra Berta?" Tanya Dokter Wilfreed saat berhasil melumpuhkan semua pengawal Tuan Chirs dan langsung menghampiri Alpha yang masih duduk di sana sambil menahan rasa sakit.
"Arrrggghhh sialan, lengan dan pahaku tertembak."
"Apakah itu parah?" Tanya Dokter Wilfreed khawatir.
"Tidak.. Sebaiknya kau lekas membawa Dareen, luka tembaknya cukup parah, aku khawatir dia akan kehabisan darah." Balas Alpha sambil mengarahkan pandangannya ke arah Dareen yang sudah melemah. Wajahnya sudah terlihat sangat pucat akibat kehilangan banyak darah.
Namun belum sempat Alpha melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dokter Wilfreed dan Dareen tiba-tiba sebuah pisau sudah menempel tepat di lehernya.
"Selamatkan Tuan Chirs sekarang, kalau tidak pisau ini akan menyayat lehernya."
Perintah Kang Daniel pada Dokter Wilfreed yang tengah memeriksa luka Dareen dan bersiap untuk mengeluarkan peluruh dari tubuh Dareen dengan beberapa alat rumah sakit yang sengaja di bawahnya.
"Bajingan kau Daniel, JAUHKAN PISAU ITU DARINYA." Teriak Dokter Wilfreed yang terlihat geram.
"Tidak, sebelum kau mengeluarkan peluru dari tubuh Tuan Chirs, sekarang."
"Bangsat kau Daniel aku akan membunuhmu jika sampai kau melukainya Arrrggghhh.." Erangan keluar dari mulut Dareen bersamaan dengan darah yang keluar dari mulutnya. Sedang Alpha yang melihat kondisi Dareen sekarang tahu, jika saat ini Dareen sedang sekarat.
"Jangan pedulikan aku, Wil keluarkan peluru itu dari tubuh Dareen," Perintah Alpha.
"Ta..pi Tuan muda,"
Dareen dan Dokter Wilfreed mulai panik saat melihat darah yang mulai menitik dari leher Alpha akibat tekanan pisau yang di pegang Kang Daniel sekarang.
"LAKUKAN SEKARANG JUGA, JANGAN PEDULIKAN AKU."
Teriak Alpha dengan sangat keras. Namun Dareen kelihatan menolak, Alpha dapat melihat dengan sangat jelas saat Dareen menggeleng sambil mendorong tubuh Dokter Wilfreed dengan sangat keras agar menjauh dari tubuhnya.
"YAAKKK DAREEN.. BIARKAN WIL MENGOBATIMU BRENGSEK."
Lagi-lagi Alpha kembali berteriak dengan air mata yang sudah mengalir dari sudut matanya. Seolah mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Dareen, Dokter Wilfreed perlahan mundur sambil meraih tas yang berisi beberapa peralatan operasi dan langsung berdiri.
"APA YANG KAU LAKUKAN WIL.. CEPAT OBATI DIA.. BRENGSEK KALIAN AARRGGHHH... "
Teriak Alpha saat Dokter Wilfreed melangkahkan kakinya menuju mobil Tuan Chirs. Di sana nampak Tuan Chirs yang sudah sekarat dengan darah yang terus menerus keluar dari tubuhnya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.