
"Apa yang kau la..ku..kan Daniel.. Jauh..kan.. Me..reka dari..ku seka..rang juga"
Perintah Tuan Chirs saat melihat Dokter Wilfreed kini sudah duduk tepat di hadapannya sambil mengeluarkan beberapa alat oprasi darurat untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu kirinya.
"Dokter Wilfreed akan melakukan oprasi kecil untuk mengeluarkan peluruh dari tubuh anda Tuan." Jawab Kang Daniel yang semakin keras menekan pisau di leher Alpha hingga membuat Kenzie kembali meringis saat merasakan perihnya pisau menyayat kulit lehernya.
"Ti.. dak.. Jauhkan... Mereka da.. Dariku.. Sekarang.. "
"Tidak Tuan, maaf. Tapi kali ini saya tidak akan meniruti perintah anda." Balas Kang Daniel yang masih mencengkram erat pisaunya.
"Daniel.. Kau... Arrrggghhh... " Erang Tuan Chirs sembari mencengkram bahunya yang semakin banyak mengeluarkan darah.
"Maafkan saya Tuan, anda bisa menghukum saya setelah ini, tapi tunggu peluru itu keluar dulu dari tubuh anda."
"Cih.. Seharusnya aku menembak jantungmu." Balas Alpha dengan senyum smirknya, dan kembali meringis saat Kang Daniel menekan pisau di lehernya.
"Ka..u masih punya banyak waktu un....tuk melakukan...nya bocah.." Ucap Tuan Chirs dengan senyum remehnya.
"Diamlah, jika anda ingin saya melakukan dengan cepat Tuan Chirs." Balas Dokter Wilfreed yang langsung meletakkan tasnya yang berisi beberapa alat operasi dan juga alkohol, perban dan obat-obatan. Dan dengan cekatan mulai melakukan operasi kecil kepada Tuan Chirs yang hanya pasrah saat pisau operasi Dokter Wilfreed yang tajam dan dingin menyentuh lukanya tampa obat bius. Hingga 20 menit berlalu, satu peluruh telah berhasil keluar dari tubuh Tuan Chirs, dengan telaten Dokter Wilfreed membungkus luka itu dengan perban.
"Dia akan baik baik saja. sekarang bisa kau lepaskan dia?" Ucap Dokter Wilfreed dengan tatapan dinginnya.
"Tentu saja, saat aku mengetahui kondisi Tuan Chirs." Balas Kang Daniel yang sepertinya masih belum yakin, sebab sejak tadi Tuan Chirs hanya bisa terdiam. Bahkan tidak ada suara jeritan sedikitpun saat Dokter Wilfreed mencugkil lukanya untuk mengeluarkan peluruh. Hanya keringat dingin yang keluar dari tubuh Tuan Chirs.
"Dia akan membaik setelah beberapa hari, apa kau lupa, aku seorang Dokter terbaik di Jerman?" Ucap Dokter Wilfreed sambil melepaskan sarung tangannya.
"Kau pikir aku akan mempercayaimu begitu saja?" Tanya Kang Daniel yang membuat Dokter Wilfreed semakin geram.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, lepaskan Ken sekarang juga, jika kau tidak ingin ada pertumpahan darah lagi di sini."
"Le...paskan bocah itu Daniel," Perintah Tuan Chirs perlahan dengan suara beratnya.
"Tu.. Tuan.. Apa anda baik-baik saja?" Tanya Kang Daniel.
"Aku baik baik saja, aku tidak selemah itu Daniel. kita bisa pergi dari sini sekarang."
Balas Tuan Chirs yang lansung beranjak dari duduknya, melangkah perlahan sambil memegangi luka di bahunya yang sudah terbungkus perban, dan langsung duduk di belakang kemudi seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Apa kau pikir bisa pergi begitu saja? aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi." Ucap Alpha sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Tuan.. Apa yang anda lakukan?" Tanya Kang Daniel yang tiba-tiba merasa panik saat melihat Tuan Chris yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Pergi dari sini." Jawab Tuan Daniel perlahan.
"Tapi kondisi anda belum stabil Tuan."
"Aku baik-baik saja Daniel."
Mendengar jawaban dari Tuan Chirs, Kang Daniel langsung mendorong tubuh Alpha dengan sangat keras dan langsung menghampiri mobil Tuan Chirs .
"Tuan.. Biar saya yang membawa mobilnya, kondisi anda belum stabil." Pinta Kang Daniel yang semakin panik saat Tuan Chirs mengunci mobilnya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin kau membantuku untuk menyampaikan permintaan maafku kepada Carolyn dan juga putriku Emery. Sampaikan permintaan maaf ku kepada mereka."
"Tuan, kita bisa menemui mereka bersama sama, saya mohon.. Biar saya membantu anda." Balas Kang Daniel yang berusaha membuka pintu mobil yang sudah terkunci.
"Terima kasih Daniel, selama ini sudah menemaniku. Dan tidak meninggalkanku." Ucap Tuan Chirs dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
"Tuan.. Saya mohon, biarkan saya ikut anda.. "
"Tidak Daniel. Sudah waktunya kau berjalan sendiri. Dan berjanjilah.. jagalah Emery, jangalah keluarga Cullen.. Jangan tinggalkan mereka sendirian."
"Tuan.. Saya... "
"Aku tau jika selama ini kau sangat mencintai Emery."
"Tuan... "
Tampa menunggu jawaban dari Kang Daniel, Tuan Chirs langsung mendorong tubuh Kang Daniel yang masih berdiri di samping mobilnya dengan sangat keras, hingga tubuh Kang Daniel terjungkal. Dan hanya dalam hitungan detik saja mobil Tuan Chirs sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi, namun mobil itu tidak mengarah lurus kedepan, tetapi ke sisi jalan raya yang di sana terdapat jurang yang sangat curam.
Dengan sekuat tenaga Kang Daniel menyeret langkahnya, berharap bisa mengejar dan menghentikan mobil Tuan Chirs.
"TIDAAKKK.. TUAAAANNN.. "
Teriak Kang Daniel saat melihat mobil Tuan Chirs terperosok kedalam jurang, bahkan hanya dalam hitungan menit saja mereka kembali di kejutkan oleh sebuah ledakan keras dengan api yang menyala di dalam jurang tersebut.
"TIDAAAK... TUAAN.. AARRGGHHH..." Teriak Kang Daniel dengan tubuhnya yang nampak bergetar.
Tuan Chirs tewas dalam hitungan detik. Kang Daniel yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Tubuhnya seketika membeku saat melihat api yang berkobar di bawah sana.
Tuan Chirs.. Saya sudah berjanji akan tetap berada di samping anda, tapi kenapa malah anda yang meninggalkan saya, meninggalkan Nona Emery dan Nyonya besar.
Sedang di sisi jalan, nampak Alpha terus berusaha menyadarkan Dareen yang saat ini telah kehilangan kesadarannya.
"Wil selamatkan dia, dia harus hidup."
Pinta Alpha yang langsung menggendong tubuh Dareen di atas punggungnya sambil terus berlari menuju mobil yang di sana sudah ada Dokter Wilfreed yang duduk di belakang kemudi. Tampa memperdulikan lukanya yang juga semakin banyak mengeluarkan darah, wajah Alpha bahkan sudah terlihat pucat pasih akibat banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
* HOSPITAL.
Hingga 30 penjalan, mobil mereka pun langsung terparkir tepat di depan pintu rumah sakit. Tubuh Dareen sudah terbaring di atas brankar dan di bawah langsung oleh Dokter Wilfreed dan beberapa perawat lainnya memasuki ruang ICU.
Nyonya Carolyn yang sedang duduk di samping tempat tidur Nyonya Aleen nampak terkejut saat melihat keadaan Alpha yang baru saja masuk. Leher dengan luka sayatan juga paha dan bahu bekas tembakan yang bahkan masih mengeluarkan darah.
"All.. Kau terluka parah, kau harus segera di obati." Ucap Nyonya Carolyn sambil menghampiri Alpha yang tengah menyeret langkahnya untuk mendekati tempat tidur Ibunya yang masih memejam.
"Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya Alpha perlahan.
"Nyonya Aleen sudah melewati masa kritisnya, dia akan baik baik saja." Jawab Nyonya Carolyn yang hanya di balas anggukan pelan oleh Alpha dengan senyum yang tergambar di bibir pucatnya.
"Syukur lah.. "
Balas Alpha seraya menarik nafas dalam, sampai akhirnya ia merasakan pandangannya berubah gelap seketika dengan kaki yang tiba-tiba tidak bisa menopang berat badannya lagi, hingga tubuhnya ambruk di samping tempat tidur Ibunya.
* * * * *
Alpha mengerjapkan matanya berulang-ulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di retina matanya. Entah sudah berapa lama ia tertidur, ia hanya merasa jika baru saja bermimpi, dan mimpi yang di alaminya sangatlah panjang, mimpi yang membuatnya menangis, marah, dan ketakutan. Namun seketika persaan itu hilang saat wajah dengan senyuman teduh menyapa indera penglihatannya saat ini.
"Ibu.. " Gumam Alpha dengan pandangan berkabutnya.
"Iya sayang, ini Ibu."
"Ibu.. "
Alpha terus menggumamkan nama Ibunya, ia hanya takut jika ini hanyalah sebuah mimpi panjangnya, namun saat sentuhan dan pelukan hangat Ibunya menyambutnya, membuatnya tersadar dan kembali menitikkan air matanya.
Aku tidak bermimpi, ini nyata.. Ini adalah Ibu.. Hanya Ibu yang memiliki sentuhan hangat seperti ini.
"Ini bukan mimpi, Ibu.. Aku sangat merindukanmu." Gumam Alpha sembari memeluk tubuh Ibunya erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Ibu juga sangat merindukanmu anakku, kita akan bersama, kita tidak akan terpisahkan lagi." Balas Nyonya Carolyn mengusap lembut punggung Alpha yang masih menitikkan air matanya.
"Kau akhirnya bangun juga, anak ini hampir saja gila saat menunggumu sadar." Suara Dokter Wilfreed yang baru saja masuk di dalam ruangan di mana Alpha terbaring saat ini, dan di susul oleh Dareen dengan perut yang nampak masih terbungkus perban. Dan Alpha dapat melihatnya dengan sangat jelas. Setidaknya ia bisa lega saat ini, sebab Dareen baik-baik saja.
"Wil.. Dareen, apa kalian baik-baik saja?"
Tanya Alpha dengan nada khawatir.
"Iya Tuan muda, saya baik-baik saja, apa anda lupa, jika saya di tangani oleh Dokter terbaik dari Jerman."
"Yah.. Yah.. Berhentilah memujiku." Balas Dokter Wilfreed sambil memeriksa suhu tubuh Alpha dan luka di leher, bahunya juga pahanya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Dokter Wilfreed.
"Aku merasa cukup baik, berapa lama aku tertidur Wil?" Tanya Alpha sambil menyandarkan tubuhnya.
"Apa kau pikir baru saja terbangun dari tidur? Kau baru saja mengalami koma selama seminggu, dan kau berhasil membuat kita semua khawatir."
"Koma? Aku?"
"Benar, aku pikir kau tidak akan bangun lagi. Terimakasih Alpha, kau kembali." Balas Dokter Wilfreed seraya menepuk-nepuk pundak , yang langsung di sambut senyum oleh Dareen dan Nyonya Aleen.
"Edrea.. Mereka.. "
Gumam Alpha yang tiba-tiba mengingat adiknya Edrea yang terakhir kali ia lihat di kamar ICU dengan kain putih yang menutupi tubuhnya.
"Mereka sudah di makamkan sehari saat kau terbaring koma." Ucap Nyonya Aleen perlahan.
"Di mana?"
"Di tanah keluarga Berta, bersama Elard, maaf jika kita tidak bisa menunggumu."
Jawab Dokter Wilfreed. Ia dapat melihat kesedihan yang tergambar jelas dari wajah Alpha, begitupun dengan Nyonya Aleen yang kembali menitikkan air mata.
"Ibu.. "
Panggil Alpha seraya menggenggam telapak tangan Ibunya. Seolah paham dengan kesedihan sang Ibu saat ini. Meski meskipun Nyonya Aleen baru mengetahui jika pernah melahirkan seorang putri 17 tahun yang lalu. Namun kenyataan bahwa anak yang di lahirkannya adalah seorang gadis manis yang sudah tumbuh dewasa telah meninggal dunia cukup membuatnya syok. Terlepas siapa Ayah dari Edrea, tidak bisa Nyonya Aleen pungkiri jika hati dan perasaannya sangat sakit. Bahkan ia tidak mengetahui jika saat itu ia sedang mengandung. Sungguh sebuah masa lalu yang sangat ingin ia lupakan saat ini juga.
Meskipun Nyonya Aleen sempat menyesalinya, sebab ia tidak bisa merawat Edrea, memberikan kasih sayang layaknya seorang Ibu, dan menemani hari hari bersama anaknya akibat penyakit yang di deritanya. Namun saat ini ia sangat bersyukur, ia bisa kembali pulih dan bertemu dengan anak yang sangat di rindukannya untuk kembali memulai kehidupan yang baru meskipun tampa sosok pria yang sangat di cintainya.
Sayang.. Aku sudah kembali bersama anak kita sekarang, aku harap kau selalu bahagia, dan beristirahat dengan tenang di sana. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, maafkan aku.. jika terlambat menemukan Alpha kita, apa kau bahagia sekarang Adley..
Batin Nyonya Aleen yang dengan tiba-tiba menitikkan air mata di dalam pelukan hangat putranya.
"Ibu akan menemui Nyonya Carolyn dan Emery." Ucap Nyonya Aleen perlahan sambil mengusap rambut Alpha perlahan yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.
"Bagaimana? Apa dia benar-benar sudah meninggal?" Tanya Alpha saat ia sudah tidak melihat bayangan Ibunya lagi.
"Iya Tuan, mayatnya di temukan saat itu juga." Jawab Dareen.
"Dan Asistennya?"
"Kang Daniel menghilang, sepertinya dia sangat syok atas meninggalnya Tuan Chirs." Balas Dareen.
"Apa kau tahu, siapa yang aku lihat saat seminggu lalu?" Tanya Dokter Wilfreed dengan ekspresi serius.
"Siapa?" Tanya Alpha mengernyitkan alisnya
"Fredell." Ucap Dokter Wilfreed yang membuat Alpha terdiam sejenak dengan dahi menyatu.
"Maksudnya Fredell Elfredo ketua Mafia yang terkenal itu?" Tanya Dareen.
"Tepat sekali," Jawab Dokter Wilfreed mengangguk.
"Bukankah selama ini Tuan Fredell berada di Inggris bersama putranya?"
"Itu benar, tapi menurut yang aku dengar, Fredell kembali ke sini hanya untuk mengunjungi putra dari selirnya yang lain, Putra yang selalu ia sembunyikan identitasnya, bahkan sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa Putra pertama dari Fredell. Sebab yang publik tahu, Fredell hanya memiliki seorang putra bernama Lucas Elfredo." Jelas Dokter Wilfreed.
"Tidak perlu heran jika dia berada di sini, bukankah kalian sudah tahu, hubungan antara Chirs dan Fredell, dari dulu hubungan keluarga Cullen dan Elfredo sudah sangat dekat." Timpal Alpha.
"Dan bersamaan dengan merosotnya saham CALL KORP, Perusahaan keluarga Elfredo meningkat menjadi peringkat kedua yang memiliki saham terbesar setelah BRT GRUP." Lanjut Dokter Wilfreed.
"Aku tahu, bahkan mereka sudah menargetkan untuk bekerjasama dengan BRT GRUP." Balas Alpha.
"Yah.. Keluarga yang terkenal dengan sikap ambisius seperti Alfredo sudah pasti akan menargetkan BRT GRUP." Lanjut Dokter Wilfreed yang sedikit banyak sudah mengetahui seluk beluk keluarga Elfredo.
"Perusahaan EFR KORP cukup besar, dan sangat bagus untuk menanamkan saham kita. Tapi, untuk berurusan lagi dengan keluarga Elfredo yang sangat dekat dengan keluarga Cullen, sepertinya tidak akan mungkin.
"Yah aku mengerti, mungkin ada baiknya kau tidak berhubungan lagi dengan mereka, aku rasa semua yang pernah kau lewati dari dulu hingga sekarang sudah cukup." Lanjut Dokter Wilfreed.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.