I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Aku menginginkannya



"Why not? Bukankah ini hal menarik?" Tanya Jackob Sean terkekeh, nampak puas.


"Dasar maniak gila," umpat Alpha saat Jackob Sean kembali menarik pelatuk dengan seringaiannya , dan kali ini peluru melesat cepat dan kembali menggores kulit leher gadis tersebut yang masih dengan posisinya.


"Hei, come on, ini sangat menarik. Jangan bilang jika kau takut melihat darah Tuan Alpha," balas Jackob Sean yang semakin membuat graham Alpha mengeras dengan telapak tangan mengepal erat.


"Aku tidak berniat menghabiskan waktuku untuk hal konyol ini, nikmati permainanmu sendiri," desis Alpha bersiap untuk pergi.


"Tunggu. Aku tidak berniat untuk bermain sendirian. Tapi kau juga akan ikut dalam permainan ini," serga Jackob Sean masih menyeringai.


"Apa?!"


"Kau akan membidik sasaran dengan tepat, jika tidak kau akan membunuhnya. Dan jika itu terjadi, kau harus menyerahkan Emery padaku sebagai gantinya," balas Jackob Sean.


"Apa kau pikir aku bodoh?" 


Jackob kembali tersenyum dengan kedua sisi bahu di angkat ke atas secara bersamaan.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Dia adalah orangmu, sudah pasti akan melakukan apa pun untukmu termasuk membiarkan tubuhnya sendiri tertembak agar kau bisa menang dalam permainan ini."


"Cerdas. Tapi, aku tidak yakin jika dia akan berkorban untukku," balas Jackob ulurkan senjata ke arah Alpha yang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. "Ada apa, kau takut? Aku hampir lupa, jika seorang pengusaha sepertimu yang hanya bisa memegang pulpen dan kertas tidak biasa memegang senjata," ejek Jackob Sean mencemooh.


"Kau terlalu meremehkanku sialan!" balas Alpha yang langsung meraih shotgun. 


Senapan gantel yang merupakan salah satu senjata api dengan menggunakan selongsong peluru berbentuk silinder. Dan hanya dalam waktu sepersekian detik Alpha langsung menyenderkan gagang senjata tersebut ke bahunya yang lebar agar senjata tidak goyang, saat peluru di tembakkan. Hingga suasana di dalam ruangan tiba-tiba terdengar bising, dengan suara senjata yang memekik telinga dengan beberapa kali tembakkan.


Jackob Sean nampak sedikit terkejut, saat mendapati sang wanita dalam keadaan baik-baik saja tanpa luka, bahkan beberapa peluru yang di tembakkan Alpha semua tepat mengenai sasaran dan tak ada yang meleset satu pun.


"Wuah ... kau berbakat, tuan Alpha. Aku cukup kagum padamu, tak heran jika kau bisa membunuh Chris Cullen, mertuamu sendiri. Rumor yang aku dengar selama ini tentangmu memang benar, kau bukan pria biasa, aku penasaran sehebat dirimu," ucap Jackob Sean bertepuk tangan. Sebelum bersidekap di hadapan Alpha dengan senyum miringnya.


"Aku tidak butuh pujianmu, cukup tepati janjimu dan jauhi keluargaku. Jangan pernah berharap aku akan menyerahkan istriku padamu," desis Alpha melemparkan senjata tersebut ke atas lantai dengan sangat kasar. "Dan urusan kita selesai Jackob Sean," sambungnya melangkah pergi, di susul Darren yang masih dengan keterkejutannya, meninggalkan Jackob Sean dengan ekspresi wajah yang tidak bisa terbaca.


"Sudah aku katakan, jika Alpha Khandra bukanlah pria sembarangan, dia adalah putera Edley Berta,  Kakak dari Joe Lucchese salah satu bagian dari Osvaldo family," ucap Rikkard mulai menjelaskan seluk beluk keluarga Berta.


"Apa? Joe Lucchese?" tanya Jackob Sean mengernyit, bahkan langsung membalikkan badannya, menatap sang asisten tak percaya.


"Benar. Meski banyak yang tak mengetahui hubungan persaudaraan di antara mereka. Bahkan setelah Adley Berta meninggal dunia. Tidak ada yang mengetahui sedikit pun tentang hubungan darah mereka. Bahkan aku sendiri pun tidak pernah mengetahui itu,"


Siall!


Jackob Sean mendengus kesal, menatap tajam ke luar jendela, tepat ke arah mobil Alphard hitam yang baru saja melaju pergi meninggalkan gedung tersebut. Ia sadar jika sedang berurusan dengan orang yang tidak biasa, hingga membuatnya semakin tertantang. Mungkin akan sangat menyenangkan jika kembali terlibat dengan Osvaldo family.


"Kepala kita bahkan sudah menjadi target Augusto sejak beberapa jam lalu, sniper dari keluarga Berta, yang kehebatan menembaknya sudah tidak bisa di ragukan lagi," sambung  Rikkard.


"Augusto?"


"Ya, putera dari John Ritchie, salah satu anggota militer yang saat ini bertugas di perbatasan saudi, kerabat dekat dari Adley Berta,"


"Apa Chris benar-benar menyerahkan puterinya kepada pria itu?"


"Jadi kau mempertaruhkan nyawaku demi puteri Chris yang sudah menikah itu? Brengsek kau Jackob," maki seorang gadis saat rasa keterkejutannya hilang. 


Menghampiri Jackob Sean bahkan langsung melepaskan satu pukulan keras hingga tepat mengenai wajah pria itu, meski pukulan yang di penuhi dengan tenaga itu tidak membuat Jackob Sean bergeming. Hanya sedikit merenggangkan lehernya sambil menatap wajah murka sang gadis yang tengah meradang.


"Ya, bahkan aku sangat berharap dia bisa melubangi kepalamu dan aku bisa mengambil Emery untuk menggantikanmu," balas Jackob Sean santai dengan smirknya.


"Brengsek! Matilah kau, aku pastikan kau akan membusuk di neraka saat aku berhasil membunuhmu secara diam-diam," desis sang gadis menatap tajam Jackob Sean.


"Tentu saja, jika kau bisa melakukannya Seravina," balas Jackob Sean mengusap luka gores di leher putih Seravina sebelum tangannya di tepis kuat oleh gadis itu.


"Aku benci karena mencintai pria brengsek sepertimu Jackob! Terkutuklah kau, bahkan aku tidak akan menangis jika serigala buas mengoyak tubuhmu," geram Seravina berjalan meninggalkan Jackob Sean yang masih berdiri di tempatnya, bahkan mengabaikan sang gadis yang merajuk, dan sudah meninggalkan dirinya.


"Apa Anda akan membiarkan dia pergi begitu saja, Tuan?" tanya Rikkard.


"Memang apa yang harus aku lakukan?"


"Setidaknya susul dia, dan tenangkan hatinya."


"Aku bukan pria seperti itu, Rikkard," balas Jackob Sean masih enggan untuk pergi, bahkan ia kembali menyalakan pemantik untuk membakar rokoknya, mengisap dalam dan mengeluarkan asapnya hingga mengepul ke udara.


"Aku harap Anda tidak melupakan, jika Nona Gabriella adalah sahabat Nona Seravina. Anda tahu akibatnya jika Nona Seravina sampai mengadukan hal ini kepada Nona Gabriella."


"Sialan!" desis Jackob Sean yang langsung melemparkan puntung rokoknya dan berjalan dengan langkah lebar untuk menyusul sang gadis.


Sedang di dalam mobil Alphard hitam yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi, terlihat Alpha yang sesekali menghela nafas panjang, masih berusaha menekan rasa amarahnya saat baru beberapa menit lalu di buat meradang oleh Jackob Sean.


"Kita akan langsung ke mansion, untuk sementara waktu aku akan kembali ke sana," ucap Alpha masih dengan pandangan yang tertuju ke arah luar jendela mobilnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan ia yakin jika Emery pasti sudah sangat cemas menunggunya. Ia bahkan tidak mengatakan kepada sang istri kemana tujuannya, sebab tak ingin membuat kekasihnya khawatir. Terlebih saat wanita itu tahu jika ia kembali berurusan dengan sekelompok mafia yang sangat dekat dengan keluarganya bahkan di satu klub family yang sama.


"Darren, apa Axel sibuk malam ini?" tanya Alpha mengalihkan pandangannya ke arah Darren yang masih fokus dengan kemudinya.


"Aku rasa tidak, Tuan."


"Aku ingin bertemu dengannya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan."


"Ya. Aku akan menghubunginya segera."


"Dan ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan."


"Silahkan, Tuan."


"Soal sekretaris baru pengganti Gianela, apa kau merasa jika ada yang berbeda dengan wanita itu?" tanya Alpha dengan fokus yang langsung tertuju ke arah Darren.


"Maaf, maksud Anda?"


***