I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Perasaan Kang Daniel.



* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.


"Wil, bisakah kau menjaga Shareen untukku sebentar?"


Tanya Alpha yang tiba-tiba beranjak dari duduknya dengan wajah yang nampak terlihat panik saat baru saja menerima telfon dari Dareen yang sedang berada di Perusahaan saat ini. Seharusnya di hari minggu ini Alpha bisa menghabiskan waktunya di Panthouse untuk bersantai, namun sepertinya kali ini Alpha harus membatalkan rencananya, sebab di Perusahaan saat ini tengah terjadi masalah yang cukup serius, dan hal itu bisa Alpha rasakan saat Dareen menginginkannya ke Perusahaan dan turun langsung untuk menanganinya sendiri.


"Kakak,"


Panggil Edrea yang pagi ini baru saja keluar dari kamarnya dan langsung melihat Alpha dengan langkah lebarnya menuju pintu keluar yang di susul oleh kedua bodyguardnya.


"Shareen, bisakah kamu di rumah dulu hari ini? Dan tidak boleh kemanapun." Perintah Alpha sambil memegang kedua sisi bahu Edrea yang langsung mengangguk patuh.


"Iya kak, tapi kakak mau kemana?" Tanya Edrea dengan kening menyatu.


"Ke Perusahaan sebentar."


"Tapi ini kan hari minggu, bukankah hari ini kita akan jalan ke taman?" Tanya Edrea dengan badan yang terdengar kecewa.


"Maafkan Kakak, mungkin lain kali saja jalan jalannya yah? Kakak benar benar harus kek Perusahaan hari ini. Ada Dokter Wil di sini yang akan menemanimu." Jawab Alpha seraya menangkup wajah oval Edrea yang hanya bisa mengangguk pasrah.


"Baiklah, kakak pergi dulu." Balas Alpha mengusap pucuk kepala Edrea, sebelum mengecup dahi Edrea dan langsung melangkah pergi.


"Iya kak," Ucap Edrea sambil terus menatap punggung Alpha yang masuk ke dalam mobil, hingga tidak berselang lama mobil mewah itu bergerak pergi dengan kecepatan tinggi, di susul mobil bodyguardnya.


"Dokter Wil, sebenarnya ada apa dengan kakak, dia nampak sangat terburu buru, apa terjadi sesuatu?" Tanya Edrea saat mobil Alpha sudah tidak terlihat lagi.


"Sepertinya begitu, tapi tenang saja, semua akan baik baik saja." Jawab Dokter Wilfreed yang juga ikut masih berdiri di ambang pintu dengan perasaan cemas.


"Benarkah? Tapi aku liat tadi kakak nampak panik."


"Jangan khawatir, kakakmu pria yang tidak biasa, dia pasti bisa mengatasi masalahnya dengan cepat."


"Semoga saja." Balas Edrea yang terlihat masih nampak khawatir, dan itu terlihat jelas di raut wajahnya saat ia mulai menggigit bibir bawahnya dengan keras. Sedang Dokter Wilfreed hanya bisa tersenyum, mencoba untuk menutupi kekhawatirannya yang sebenarnya lebih besar dari Edrea saat ini, sebab ia cukup paham dengan kondisinya saat Dareen sudah tidak bisa mengatasi masalah yang terjadi di Perusahaan dan harus melibatkan Alpha langsung, berarti masalah yang terjadi saat ini benar benar rumit.


Semoga masalah kali ini tidak terlalu besar.


Batin Dokter Wilfreed menarik nafas dalam hingga pandangannya teralihkan kearah Edrea yang masih berdiri termenung di depan pintu sambil memandang keluar.


"Nona Shareen, apa yang sedang anda pikirkan?" Tanya Dokter Wilfreed yang langsung menghampiri Edrea yang masih terdiam dengan wajah murungnya.


"Tidak apa apa Dokter Wil, Shareen hanya merasa bosan saja." Jawab Edrea tampa berniat untuk mengalihkan pandangannya ke arah Dokter Wilfreed yang sudah berdiri tepat di sampingnya dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana slimfitnya hitamnya.


"Anda bisa menonton acara televisi kan?" Balas Dokter Wilfreed mencoba memberikan Edrea solusi.


"Tetap saja masih merasa bosan Dokter Wil," Jawab Edrea menarik nafas panjang dengan wajah di tekuk.


"Bisakah Nona tidak memanggilku dengan sebutan formal seperti itu? Aku juga kakakmu, karena aku sahabat All"


"Ah, maaf kak." Balas Edrea dengan senyum lebarnya.


"Panggil aku Wil," Ucap Dokter Wilfreed yang langsung melangkah pergi.


"Kak Wil?" Panggil Edrea yang langsung menghentikan langkah kaki Dokter Wilfreed.


"Hm,"


"Jadi.. Bisakah kak Wil menemaniku ke taman hari ini?"


"Taman?" Tanya Dokter Wilfreed mengernyit.


"Hmm.. Aku benar benar bosan di rumah seharian." Rengek Edrea yang membuat Dokter Wilfreed menghela nafas panjang, seolah tidak tega melihat rengekkan Edrea yang saat ini tengah memasang wajah sedihnya. Dengan perlahan Dokter Wilfreed melangkah mendekati Edrea yang masih dengan ekspresi sedihnya. Dengan gemas Dokter Wilfreed mengusap pucuk kepala Edrea, hingga membuat rambut gadis itu sedikit berantakan.


"Shareen, kau tau kan, kakakmu pasti keberatan jika kau keluar sekarang, dan mungkin dia akan marah jika kau keluar tampa seizin dari dia." Ucap Dokter Wilfreed seraya menaikan satu alisnya.


"Tapi.... Aku... Baiklah, Aku akan tidur saja." Balas Edrea memautkan bibirnya sambil melangkah dengan malas.


"Hanya satu jam saja." Ucap Dokter Wilfreed yang tiba tiba menghentikan langkah kaki Edrea, dan langsung berpaling menatap Dokter Wilfreed yang masih tersenyum sambil menyedekapkan tangannya di atas dada bidannya.


"Maksud kak Wil?"


"Aku bersedia menemanimu, tapi hanya satu jam saja, bagaimana?" Tanya Dokter Wilfreed.


"Dua jam." Jawab Edrea sembari mengancungkan jari tangannya dengan senyuman khasnya.


"Satu." Balas Dokter Wilfreed tegas.


"Dua jam, plis.. " Edrea memohon seraya menangkupkan kedua tangannya dibatas dadanya.


"Satu jam Nona Shareen,"


"Tapi kak."


"Semakin lama berdebat semakin membuang waktu, dan waktu satu jam kamu akan semakin berkurang," Ucap Dokter Wilfreed sambil melirik jam tangan yang melingkar di lengannya.


"Aah baiklah," Balas Edrea pasrah.


"Jangan lupa menggunakan topi,"


"Siap kak." Balas Edrea yang terlihat nampak sumringah sambil berlari kecil menuju kamarnya. Sedang Dokter Wilfreed hanya bisa menggeleng dengan senyumnya saat melihat tingkah gadis itu, dengan sedikit tergesa, Dokter Wilfreed melangkah ke sebuah meja besar yang terletak di ruangan tengah tersebut, membuka laci dan langsung mengambil sepucuk pistol yang langsung ia selipkan ke dalam jaketnya untuk berjaga jaga.


* * * * *


* PERUSAHAAN BRT GRUP.


Dengan di kawal beberapa bodyguardnya, Alpha keluar dari mobilnya, dengan langkah tergesa ia langsung menuju ke dalam gedung BRT GRUP yang saat itu memang terlihat sepi, sebab di hari minggu. Semua karyawan sedang libur, hanya ada beberapa security yang menjaga di lobby.


"Dareen, apa yang terjadi?" Tanya Alpha saat ia memasuki ruang kerjanya yang di sana sudah ada Asistennya menunggu dengan wajah yang terlihat panik.


"Tuan, ada pihak yang telah melakukan pencurian data perusahaan kita." Jawab Dareen perlahan.


"Peretas? Bukankah sistem perusahaan kita sudah sangat aman dari peretas?"


"Mereka mendapatkan cela dan langsung menyerang pertahanan Tim TI kita."


"SIALAN... "


BRUGH..


Teriak Alpha yang dengan reflek menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras, kemudian mencengkram rambutnya hingga terlihat berantakan. Dengan kasar di bukanya jaket berbahan jeans yang di kenakannya dan langsung di lemparkannya ke sofa dengan sangat kasar. Sedang Dareen hanya bisa terdiam saat melihat reaksi Alpha yang saat ini sedang dalam keadaan panik dan marah.


"Segera terapkan teknologi analis lalu lintas jaringan." Lanjut Alpha yang masih mondar mandir di dalam ruangannya sambil berkacak pinggang.


"Maksud tuan muda, Greycortex?" Tanya Dareen sekali lagi.


"Bingo, sebab hanya jaringan itu yang memiliki fitur handal untuk mendeteksi dan menganalisis juga membuat kesimpulan, agar bisa membaca setiap aktivitas dalam jaringan secara mendetail." Jelas Alpha yang masih berjalan bolak balik dengan wajah yang terlihat gelisah.


"Apa kau mendengarku?"


"Kita gunakan juga algoritma deteksi khusus untuk mendeteksi prilaku berbahaya, agar bisa membedakan prilaku mesin dan manusia, kau mengerti kan?"


"Iya Tuan, saya mengerti." Jawab Dareen mengangguk sedang Alpha kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya sambil mengusap wajahnya kasar. Nampak terlihat dengan sangat jelas kegelisahan wajahnya.


"Tuan, apa ada yang anda curigai? Sebab selama ini Perusahaan kita selalu aman dari serangan cyber." Tanya Dareen seraya menatap Alpha yang masih memejam.


"Aku masih memikirkannya, mana mungkin Kris, sebab dari dulu dia tidak pernah berhasil mencuri data data kita, apalagi untuk meretasnya." Jawab Alpha yang masih dengan posisinya.


"Saya juga sempat memikirkannya tuan, dan yang anehnya, operasi pencurian data rahasia ini hanya di lakukan oleh satu orang tuan,"


"Maksudnya? Bukan berkelompok?" Tanya Alpha yang langsung menatap serius wajah Dareen.


"Tidak Tuan, si peretas kali ini sepertinya sangat berpengalaman, sebab ia bisa mengawasi dan mempelajari sistem keamanan Cyber Perusahaan dan data data digital seorang diri, bahkan dia melakukannya hanya dalam waktu satu minggu." Jelas Dareen yang membuat ekspresi Alpha seketika berubah.


"Tunggu, maksudmu?" Tanya Alpha yang nampak berfikir keras. Dan hanya ada satu orang yang langsung muncul dalam pikirannya.


"AAHHKK SIALAN." Teriak Alpha yang kembali mengumpat kesal.


"Tuan.. Apa anda.. " Tanya Dareen nampak ragu.


"Aku tahu siapa yang bisa melakukan cara ini," Jawab Alpha dengan tatapan tajamnya.


"Maksudnya? Anda tau siapa orang itu?"


"Hmm.. Aku sangat yakin, pasti anak brengsek itu, ARRGGHH... SIAL.. "


"Tenanglah tuan,"


"Apa dia berhasil mencuri semua data?"


"Iya Tuan."


"ARRGGHH SIALAN, lakukan seperti apa yang aku perintahkan tadi, jika memang data data perusahaan kita jatuh di tangan CALL KORP aku akan merebutnya secepat mungkin." Ucap Alpha dengan seringaiannya.


"Apa tuan yakin jika data Perusahaan kita jatuh di tangan tuan Kris?"


"Aku sangat yakin, dan untuk merebutnya kembali kita akan menggunakan sistem TOR."


"Tuan yakin akan menggunakan cara itu?" Tanya Dareen terlihat ragu.


"Mereka telah menggunakan cara licik untuk mencuri data perusahaan, jadi aku akan menggunakan cara licik juga untuk merebutnya." Balas Alpha dengan senyum smirknya yang membuat wajah tampannya seketika berubah sangat menakutkan.


"Iya Tuan, saya mengerti." Jawab Dareen yang saat ini lebih memilih tidak banyak bicara dan bertanya, sebab ia mengetahui kondisi presdirnya saat ini.


* * * * *


Sementara di tempat lain, nampak senyum iblis menghiasi wajah tuan Chris saat ini.


"Dasar anak bodoh, dia pikir bisa merebut CALL KORP dengan mudah, HAHAHAHAHA..." Tawa keras tuan Chris memenuhi ruangan tersebut.


"Baiklah, apa Ayah puas sekarang?" Tanya Elard sambil menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran sofa.


"Tentu saja, tapi ini belum cukup buat Ayah."


"Tsk, apa lagi yang Ayah inginkan?"


"Ayah tidak akan puas sebelum melihat BRT GRUP hancur berkeping keping." Balas tuan Chris dengan seringaiannya.


"Bukankah ayah hanya ingin mengambil data data penting dari Perusahaan BRT GRUP bukan untuk menghancurkannya?" Tanya Elard mengernyit.


"Ya, itu rencana awal Ayah, tapi Ayah berubah pikiran, Ayah ingin melihat kehancuran BRT GRUP segera."


"Baiklah, jika itu keinginan Ayah, aku tidak bisa membantu ayah." Balas Elard yang langsung mengenakan jaketnya.


"Tsk, kau tidak perlu melakukannya, tugasmu cukup meretas Perusahaan mereka saja, dan sekarang tugas mu sudah selesai, sekarang giliran Ayah untuk menghancurkannya."


"Bukankah Ayah sangat keterlaluan?" Tanya Elard yang nampak terlihat khawatir.


"Apa menurutmu ini keterlaluan? justru ini sangat menarik." Jawab tuan Chris yang masih menyeringai.


"Terserah ayah saja, aku mau keluar sebentar." Balas Elard yang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar Mansion.


"Mau kemana kau?" Tanya tuan Chris perlahan.


"Cari udara segar," Jawab Elard tampa berniat untuk menghentikan langkah kakinya yang semakin menjauh dari hadapan tuan Chris.


"Bawah bodyguard bersamamu."


"Tidak perlu." Tolak Elard yang terus berlalu, hingga sejurus kemudian mobil sportnya sudah melaju meninggalkan Mansion dengan kecepatan tinggi.


"Ikuti dia." Perintah tuan Chris pada kedua bodyguardnya yang langsung membungkuk dan beranjak keluar mengikuti Mobil Elard seperti perintah tuan Chris.


"Sepertinya ada yang sedang Anda pikirkan tuan, ada apa tuan?" Tanya Kang Daniel yang sejak tadi mengamati perubahan ekspresi dari tuan Chris.


"Sepertinya El sedang berusaha mencari kakaknya." Jawab tuan Chris.


"Maksud Tuan?"


"Anak itu tidak akan mudah percaya begitu saja, dan aku tau, akhir akhir ini dia selalu berkeliling untuk mencari Kakaknya Emery."


"Lalu apa yang akan tuan lakukan?"


"Biarkan saja dia, lama kelamaan dia akan capek sendiri dan menyerah, meski aku tau anak itu tidak akan mudah untuk menyerah begitu saja."


"Baiklah Tuan."


Semoga tuan muda El bisa menemukan Nona Emery.


Batin Kang Daniel seraya menarik nafas dalam. Dan suatu hal yang wajar jika Kang Daniel sangat berharap demikian, sebab rasa peduli dan kekhawatiran Kang Daniel terhadap putri Presdirnya sangat besar, selain itu ia juga sudah sangat lama menaruh perasaan khusus kepada Emery. Diam diam memperhatikan wanita itu, meskipun setiap saat ia selalu merasakan rasa bersalah dan sakit kalau ia tidak bisa melindungi Emery. Selama ini ia hanya bisa mengawasi Emery dari kejauhan, sebab ia sadar jika Emery adalah wanita yang sangat mustahil untuk ia dapatkan, dan ia juga tahu, seberapa besar rasa cinta Emery kepada Alpha suaminya.


* * * *


Elard melangkahkan kakinya perlahan di sebuah taman sambil mengedarkan pandangannya, hari ini ia sudah cukup jauh berkeliling, namun belum juga menemukan sosok yang di carinya, hingga netranya menangkap sosok yang nampak tidak asing baginya.


Sambil terus berfikir, Elard mengikuti pergerakan sosok itu hingga matanya tiba tiba melebar sempurna saat ingatannya tertuju pada selembar foto yang di ambilnya secara diam diam dari Ayahnya, bahkan sosok itu kini sudah berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari hadapannya.


Bukankah dia gadis yang menjadi target ayah? kenapa dia bisa berada di sini? bukankah ini sangat berbahaya.


Batin Elard yang nampak terlihat panik, sebab ia sudah mengetahui sejak meninggalkan Mansion beberapa jam yang lalu, bodyguard ayahnya sedang mengikutinya. Dan yang membuatnya lebih panik lagi saat ia bisa melihat kedua bodyguard itu nampak mengamati gadis itu. Bahkan mereka sudah bersiap untuk mendekati gadis yang masih asik mengamati sebuah kolam kecil di hadapannya. Dengan cepat Elard melangkah mendekati gadis itu yang ternyata adalah Edrea dan langsung menarik tangannya keras dan lekas membawanya pergi secepat mungkin. Dan tentu saja pergerakan tiba tiba dari Elard membuat Edrea terkejut juga panik saat ada orang asing menarik tangannya dengan keras bahkan Edrea semakin panik dan ketakutan saat Elard semakin berlari tampa mempedulikan teriakkan Edrea yang tengah memukuli tangannya dengan mata bulat yang sibuk mencari keberadaan sosok Dokter Wilfreed yang ternyata sedang menerima telfon dan tidak mendengar suara teriakkannya yang tentu saja susah untuk di dengar sebab dengan spontan mulutnya di bekap oleh Elard. Hingga mereka berhenti berlari saat mereka sampai di balik tembok samping toilet umum, di rasa cukup aman dari jangkauan kedua bodyguard yang ternyata sedang mengejar mereka sejak tadi, Elard langsung melepas lengan juga bekapan tangannya dari mulut Edrea yang sejak tadi berontak.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.