
* MANSION UTAMA.
Lucas terbungkam dengan luka yang semakin mengaga di dalam hatinya saat mendengar semua cerita masalalu yang tidak ia ketahui selama ini dari Tuan Fredell. Masa lalu yang entah mengapa sangat menyakitkan buat seorang Lucas. Bahkan tampa di sadarinya, tubuhnya yang beberapa menit lalu masi berdiri dengan tegapnya kini merosot ke bawah dengan kedua tangan yang menopang ke depan untuk menahan tubuhnya. Air matanya menetes saat merasakan perih yang kini seolah menggerogotinya.
Kenapa harus Ayah Starla.. Dan kenapa Starla dan Ibunya yang harus menanggung semua kesalahan Ayahnya.. Kenapa.. Ken.. Maafkan aku.. Maafkan aku..
"Lalu Ibu Starla.. Apa karena ini ia menolak untuk melakukan operasi?"
"Menurutmu apa dia akan menerima semua kebaikan yang Ayah berikan setelah ia tahu jika suaminya telah membunuh Ibu Ken?"
"Tapi.. Tetap saja, Ayah sudah menghancurkan kehidupan Starla, dia bahkan tidak tahu apa-apa."
"Ayah memang bukan seorang yang baik Lucas, nyawa harus di bayar dengan nyawa, dan apa yang telah di lakukan oleh Tiar Galenka harus ada yang membayarnya, dan Ayah rasa kau sudah tahu cara kerja seorang Mafia seperti Ayah kan?"
"Maksud Ayah? Jangan bilang jika Ayah telah.. "
"Kau benar,"
"Apa? Jadi benar Ayah telah menyuruh orang untuk melakukan hal buruk kepada Starla? KENAPA AYAH TEGAAA... AYAH BAHKAN LEBIH BURUK DARI AYAH STARLA.." Teriak Lucas dengan tatapan penuh dengan kebencian yang ia tujukan kepada Ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Membawa gadis itu masuk kedalam kehidupanmu, dan membiarkan Ken merasakan sakit saat harus mengikuti keinginanmu untuk selalu bersama dengan anak dari seorang yang sudah membunuh Ibunya, bahkan Ken rela menahan rasa sakit demi melihatmu bahagia, dan sekarang, di saat kau sudah mengetahui semuanya, apa kau masih akan bersama gadis itu?" Ucap Tuan Fredell yang lagi-lagi membuat Lucas hanya bisa terbungkam.
"Ayah sudah pernah memberikan Ken satu kesempatan untuk membunuh orang itu, tapi Ken dengan bodohnya malah menolak karena tidak ingin melihatmu bersedih saat melihat gadis yang kau cintai itu kehilangan orang tuanya,"
"Tapi Starla tidak salah.. Dia tidak tahu apa-apa, dia..."
"Dan itulah kebodohan gadis itu, dan juga alasan Ayah kenapa tidak menginginkan gadis itu terus berada di sekitarmu. Ayah harap kau bisa menggunakan otakmu untuk berfikir Lucas, kau terlahir dari keluarga yang keras, dan sekeras apapun kau menolak Ayah, kau tetap darah daging Ayah, darah daging dari seorang Mafia, dan kau tidak bisa memungkirinya. Jadi berhentilah bersikap lemah hanya karena gadis itu. Ayah tidak akan pernah mengusik hidup keluarga Galenka jika saja mereka tidak mengusik kehidupan Ayah dan berbuat ulah."
"Lalu, Daniel.. Siapa dia? Apa dia anak dari wanita itu? Wanita yang telah membuat Ibu pergi?" Tanya Lucas yang masih tertunduk dengan air matanya.
"Yah, juga wanita yang rela mengorbankan hidupnya sendiri, agar kau bisa hidup, wanita yang rela meninggalkan anaknya sendiri demi kesehatanmu, dialah wanita yang selama ini kau benci,"
"Apa?"
"Dia wanita yang rela memberikan jantungnya demi dirimu, dia yang ingin kau tetap hidup, karena menyayangimu dan tidak ingin melihat Ibu dan Ayah bersedih karena penyakit jantung yang kau derita sejak lahir."
Dan lagi-lagi Lucas hanya bisa terisak sambil meremas kuat dadanya yang terasa sesak, bahkan nafasnya tiba-tiba merasa tercekit. Kenyataan sungguh sangat menyakitkan buat Lucas yang selama ini bersikap angkuh dan arogan, bahkan tampa alasan jelas ia habiskan hidupnya untuk membenci wanita yang ternyata sudah memberinya kesempatan untuk hidup.
"Kenapa... Kenapa Ayah tidak pernah.. Mengatakan hal ini.. Kenapa.. Ayah sangat egois.. Dan membiarkanku hidup dalam kebencian karena tidak mengetahui apapun, kenapa.. Apa Ayah memang sengaja ingin melihatku hidup seperti ini? Hidup seperti Ayah yang selalu di penuhi dendam? Kenapa Ayah?. KENAPAAA? AKU TIDAK INGIN HIDUP SEPERTI AYAAH... "
"Lucas, tenangkan dirimu.. " Balas Dokter Hanenda yang langsung memegangi bahu Lucas yang bergetar.
"AAARRGGHHHH.... " Teriak Lucas seraya mencengkram rambutnya sendiri dengan sangat keras.
"Lepaskan dia Han, biar dia tahu semuanya, dan kembali sadar jika selama ini apa yang aku lakukan hanya untuk kebaikannya," Seru Tuan Fredell saat melihat Dokter Hanenda yang tengah memeluk Lucas.
"Sudahlah Fred, sudah cukup. Ingat kondisi Putramu, jantungnya tidak cukup kuat, apa kau lupa?"
"Aku hanya ingin ia melupakan gadis itu, karena sampai saat ini di otaknya masih di penuhi oleh gadis itu."
"Karena Starla tidak salah.." Gumam Lucas
"Lalu? hanya karena gadis itu tidak bersalah, lantas kau akan terus memaksakan diri untuk tetap bersamanya dan mengabaikanmu orang-orang di sekitarmu?"
"Tidak.. Tidak seperti itu, aku.. "
"Lalu? kau tinggal bersikap masa bodoh dan mengacuhkan semuanya, hingga kau melihat semua orang-orang yang dekat denganmu perlahan menghilang meninggalkanmu, apa itu yang kau inginkan?"
"....... "
"Dengar baik-baik Lucas, dari awal gadis itu bukanlah takdirmu, dan sampai kapanpun, dia bukan untukmu, sekeras apapun kau berusaha. Kecuali jika kau ingin melihatnya lebih menderita lagi. Kau tinggal memilih."
"Baiklah.. Baiklah.. Aku akan meninggalkan Starla jika memang semuanya akan membaik, aku akan melupakannya.. " Sambung Lucas sambil berusaha untuk berdiri dengan kaki yang bergetar, dan terus melangkah tampa memperdulikan Dokter Hanenda yang tengah berusaha untuk menahannya.
Lucas terus berlari keluar meninggalkan Mansion dengan kondisi yang sangat berantakan. Hingga tubuhnya sedikit terpental saat sebuah mobil nyaris menyambarnya.
"Lucas... "
Seru sang pengendara mobil saat keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Lucas yang masih terduduk di atas aspal.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya pria tersebut yang langsung memapah tubuh Lucas.
"Siapa kamu..?"
"Aku... "
"Bisakah kau mengantarku ke satu tempat?" Tanya Lucas yang masih memegangi dadanya yang terasah nyeri dan sesak.
"Tentu saja, masuklah.. " Balas Pria tersebut yang langsung menuntun Lucas masuk kedalam mobilnya dan langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Terimakasih, sudah menolongku,"
"Tidak masalah.. "
"Lalu, siapa kamu? Kenapa kamu bisa mengetahui namaku?"
"Daniel.. "
"Apa? Daniel? Kau... " Lucas yang nampak terkejut langsung menatap tajam ke arah Kang Daniel yang masih terlihat fokus dengan kemudinya tampa memperdulikan reaksi Lucas yang saat ini terlihat sangat terkejut.
"Apa kau sudah mengetahui siapa aku?" Tanya Kang Daniel yang masih tetap pada posisinya.
"Hentikan mobilnya," Perintah Lucas.
"Diamlah.."
"AKU BILANG HENTIKAN MOBILNYA BRENGSEK."
"Berhentilah berteriak Tuan muda, kau membuat telingaku sakit, apa kau tidak bisa tenang? Dasar anak manja,"
"Apa? Kau... "
"Ada apa? Apa kau akan berlari lagi dan kembali menabrakkan dirimu di mobil lain? Aku akan mengeluarkanmu dari sini, tapi setidaknya tenangkan dulu pikiranmu."
"Tapi aku tidak bisa tenang jika terus berada di sini bersamamu." Balas Lucas yang masih bersikeras.
"Kenapa? Apa karena aku hanya anak yang tidak di ketahui semua orang? Aku kakakmu, bukan malaikat pencabut maut."
"Sialan... " Umpat Lucas merasa kesal.
"Dan kau malah mengatai kakakmu sendiri."
"Kau... "
"Tenanglah.. Kendalikan emosimu, kau bahkan terlihat sama seperti Ayahmu."
"Cih, dia juga Ayahmu bangsat."
"Berhenti mengataiku, atau aku akan mengeluarkanmu dari mobil tampa alas kaki dengan piyama itu, apa kau mau? Kau bahkan tidak terlihat seperti seorang Tuan Muda sekarang," Ucap Kang Daniel yang langsung membuat Lucas melongo sambil memperhatikan piyama dan kakinya yang polos tampa alas kaki.
"Dan lihat wajah pucatmu, matamu bahkan terlihat sembab, apa kau baru saja mengalami pata hati?"
"Yah, kau benar, aku baru saja mengalami pata hati, tapi bukan karena wanita. Tapi karena Ayah. Bahkan sakitnya melebihi dari apapun." Balas Lucas yang langsung tertunduk. Bahkan matanya kembali berkaca saat kembali mengingat semua kenyataan yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu, suatu kebenaran yang keluar dari mulut Tuan Fredell Ayahnya.
"Ada apa? Apa yang sudah Ayah ceritakan padamu?" Tanya Kang Daniel perlahan, seolah paham dengan luka yang di rasakan adiknya saat ini.
"Semuanya.. Semua hal yang tidak aku ketahui, termasuk.. "
Kalimat Lucas terhenti saat kembali mengingat bagaimana dulu ia memperlakukan Ibu Kang Daniel, ia yang selalu bersikap kasar, bahkan tiap hari selalu meneriakkan kata-kata kebencian pada wanita itu, wanita yang ternyata sudah menolongnya, membuatnya hidup sampai saat ini.
"Maafkan aku." Gumam Lucas dengan mata yang berkaca.
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu lagi, kau masih sangat kecil waktu itu, dan pikiranmu masih sangat labil, dan jika waktu itu kau bersikap sangat kasar, dan selalu merasa marah dengan hal-hal yang membuatmu tidak nyaman, aku bisa mengerti."
"Apa sedikitpun kau tidak merasa marah? Bahkan aku sudah sangat keterlaluan pada Ibumu."
"Siapa bilang aku tidak merasa marah? Aku sangat marah, tetapi tidak bisa melakukan apapun, karena kau masih sangat kecil waktu itu. Tapi sekarang kau harus menebus semuanya, agar aku bisa memaafkanmu."
"Apa?"
"Kau harus menebus semuanya Tuan muda."
"Tsk, dasar.. Apa yang harus aku lakukan?"
"Bersikaplah baik padaku, sejak tadi kau terus berbicara tidak formal padaku, ingat aku ini kakakmu."
"Sialan, aku sudah bersikap sangat baik tadi,"
"Kau bahkan sudah berapa kali mengataiku."
"Aarrgghhhh... Baiklah, kenapa kau sangat cerewet seperti Ayah?" Balas Lucas yang sudah benar-benar merasa geram, sedang Kang Daniel hanya tersenyum menggeleng sambil terus berkonsentrasi dengan kemudinya.
"Apa kakak akan kembali ke Mansion?"
"Hm,"
"Apa ada masalah?"
"Sedikit,"
"Apa?"
"Haruskah aku menceritakannya kepada orang yang baru saja memanggilku dengan sebutan kakak?"
"Sialan.. "
"Ayah menginginkanku untuk kembali ke Amerika malam ini."
"Lalu?"
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?" Tanya Lucas.
Karena aku tidak mau meninggalkan wanita yang aku cintai.
"Apa kakak sudah membuat kesalahan? Sebab Ayah akan menyuruh anaknya ke Amerika jika telah melakukan satu kesalahan, seperti Ken."
"Ken? Jadi? Kau sudah tahu siapa Ken?" Tanya Kang Daniel mengernyit. Meskipun ia tidak begitu terkejut.
"Maksudnya? Kakak sudah tahu jika Ken juga anak Ayah?"
"Hm, aku tahu semuanya,"
"Ternyata benar, satu-satunya yang tidak tahu apa-apa hanya aku. Bukankah itu sangat keterlaluan," Ucap Lucas dengan nada suara yang penuh dengan kekecewaan.
"Lucas, kau lahir dengan kondisi jantung yang tidak sehat, meskipun kau sudah mendapatkan jantung yang baru, tapi Ayah tetap khawatir, dan tidak ingin kau memikirkan hal yang akan membuat penyakitmu menjadi kambuh."
"Tetap saja." Jawab Lucas dengan pandangan yang di arahkan keluar jendela mobil sambil berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari Kang Daniel yang saat ini tengah menatapnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Kang Daniel perlahan.
"Hm, Lalu, apa yang sudah kakak lakukan hingga membuat Ayah mengambil keputusan untuk mengirim kakak ke Amerika?"
"Karena aku sudah mencintai seorang wanita, dan menjadi seorang pengawal pribadi pada keluarga yang tidak seharusnya mengetahui identitasku yang sebenarnya."
"Apa? Siapa keluarga yang kakak lindungi?"
"Keluarga Cullen."
"Apa? Jadi? Wanita yang kakak cintai?"
"Wanita yang akan di jodohkan denganmu." Jawab Kang Daniel datar.
"Shyiit... " Umpat Lucas.
"Ada apa? Apa kau kecewa?"
"Tsk, aku juga sudah mencintai seseorang, meski gadis itu sudah mencintai pria lain, dan semua ini karena ulah Ayah,"
"Dan ulah Ayah gadis itu juga." Sambung Kang Daniel yang membuat Lucas kembali terdiam.
"Apa kakak juga tahu siapa gadis itu? dan apa yang sudah di lakukan Ayahnya?"
"Aku tahu, dan aku juga tahu jika gadis yang kau cintai itu sudah mencintai pria bermarga Berta."
"Sebenarnya apa yang tidak kakak ketahui? Kakak bahkan mengetahui segalanya."
"Karena kakak pernah berurusan dengan keluarga Berta."
"Maksud kakak? keluarga Alpha Khandra?"
"Hm,"
"Apa dia.... "
"Berhentilah bertanya soal keluarga Berta, Okeey.. "
"Ada apa?" Tanya Lucas yang semakin penasaran.
"Karena kisah dengan keluarga Berta bukan kisah yang bisa di ceritakan, bahkan sampai saat ini, jika aku disuruh untuk memilih kenangan apa yang harus aku lupakan, aku akan memilih untuk melupakan semua yang bersangkutan dengan keluarga Berta, sebab rasa bersalah masih sangat membekas, meskipun aku tidak menyesalinya, karena pekerjaan sebagai seorang pengawal pribadi ataupun seorang Asisten, aku wajib mengikuti semua perintah bos besar, dan melakukan apa saja yang di perintahkan. Benar atau salah, dan aku hanya mempunyai dua pilihan, membunuh atau di bunuh."
"Kakak memang anak Ayah, jiwa seorang Mafia sudah mendarah daging ditubuh kakak."
"Hentikan.. Aku ingin berubah, setidaknya berubah untuk wanita yang aku cintai."
"Maksud kakak? Kakak tidak akan menjadi... "
"Berhenti bertanya dan turunlah." Perintah Kang Daniel yang langsung turun dari mobil dan mengantarkan Lucas ke dalam Apartemennya.
"Kak,"
"Ada apa?"
"Kenapa Ayah menyembunyikan identitas kakak selama ini?" Tanya Lucas perlahan sambil terus mengikuti langkah Kang Daniel dari belakang.
"Saat usia 2 tahun, kakak pernah di culik oleh sekomplotan Mafia yang menjadi rival Ayah, dan sejak saat itu, Ibu jadi sangat takut, bahkan Ibu bersikeras dan meminta kepada Ayah agar tetap menyembunyikan kakak."
"Lalu... "
"Berhenti bertanya dan masuklah. Kau bisa tinggal di sini sampai perasaanmu membaik, ganti pakainmu dan bersihkan dirimu, kau bisa menggunakan pakain kakak di sana, dan memanaskan makanan di dalam kulkas jika kau lapar, kau bisa melakukannya kan?"
"Tidak,"
"Sudah kakak duga, selain manja dan hobi mengumpat, kau juga tidak tahu apa-apa. Mandilah.. Kakak akan memesan makanan. Jika ada apa-apa hubungi kakak."
"Hm.. " Jawab Lucas yang langsung merebahkan dirinya di atas sofa.
"Kak Daniel.. "
"Apa lagi sekarang?"
"Terimakasih atas semuanya, dan... "
"Dan?"
"Aku senang bertemu dengan kakak."
"Maka bersikap baiklah, Okey?"
"Baiklah.. Kakak sungguh cerewet." Balas Lucas langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Kang Daniel yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah Lucas langsung dan tampa menunggu lama ia langsung melangkah keluar meninggalkan Apartemennya menuju ke Mansion utama.
* * * * *
* HOSPITAL.
Alpha melangkahkan kakinya menuju ruang VIP dengan beberapa tangkai mawar putih di tangannya. Dan seperti biasa pula, siang ini Alpha akan kembali mengunjungi Starla, seperti apa yang sering ia lakukanĀ beberapa hari ini. Hingga langkahnya terhenti saat ia melihat beberapa perawat dengan langkah yang sedikit berlari menuju ruang VIP tempat Starla di rawat sekarang.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Gumam Alpha seketika panik dan juga ikut berlari menuju ruang VIP yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Alpha sekarang, hingga suara ponselnya berbunyi sebelum ia memasuki ruangan VIP tersebut.
"Yoon.. " Gumam Alpha menghentikan langkahnya saat melihat nama panggilan yang tertera di ponselnya.
"Ada apa Yoon.. Aku di depan kamar Starla sekarang,"
Jawab Alpha dengan langkah tergesa.
"Syukurlah.. Starla sudah sadar dan kau bisa langsung masuk untuk menemuinya, lekaslah."
"Apa?"
Langkah Kaki Alpha terhenti seketika dengan pandangannya yang tertuju ke arah Starla yang saat ini sudah membuka matanya, bahkan ia bisa mendengar dengan jelas saat Starla dengan jelas menyebut namanya. Alpha terus terdiam tampa mempedulikan suara teriakan Leon di ponselnya yang masih terhubung.
Syukurlah.. Kau bangun, kau sudah bangun sekarang Starla, terimakasih, karena kau sudah berjuang untuk hidup lagi. Maafkan aku karena tidak bisa berada di sampingmu saat kau bangun, aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu Starla, sangat mencintaimu.
Alpha masih terus memandang nanar wajah Starla dari kejauhan, bahkan matanya sudah nampak berkaca, meski rasa rindu dan bahagia membuatnya sangat ingin berlari untuk memeluk tubuh itu, namun entah mengapa, hatinya tubuhnya mengatakan lain, Ia semakin memundurkan langkahnya dan menjauh dari ruang VIP tersebut, semakin jauh dan akhirnya dengan langkah lebarnya Alpha berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.