I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Meminta pertemuan



"Apa kalian tidak akan pulang?" tanya Alpha dengan ekspresi datarnya.


"Lihat si brandal ini, apa kau mengusir kami?" balas Leon yang terlihat masih betah di kursinya. 


"Hoo. Sebaiknya kalian bergegas," angguk Alpha yang masih nampak memerah karena malu.


"**** ...."


"Baiklah, Tuan. Sebaiknya Anda beristirahat, kami akan pulang sekarang," sela Darren yang langsung membekap mulut Leon sebelum pria itu mengeluarkan kata-kata yang bisa memancing kemurkaan Alpha.


"Hmm," angguk Alpha sekali.


"Terima kasih atas undangan makan siangnya, Alpha," sambung Axel ikut beranjak, menyusul Akirra dan Augusto.


"Akirra,"


"Ya, tuan."


"Kau akan menjadi pengawal pribadi Emery mulai sekarang," ucap Alpha yang masih duduk di kursinya.


"Baik, Tuan."


"Dan Axel, kau akan membawa beberapa orang ke sini, kan? Darren yang akan menyeleksi mereka," sambung Alpha mengalihkan pandangannya ke arah Axel.


"Ya, aku sudah menyiapkan dua orang seperti permintaanmu. Dan aku akan membawa mereka ke mansion utama esok hari." 


"Terima kasih, Axel."


"Senang bisa membantumu, Alpha."


"Aku bahkan merepotkan, seharusnya kau bisa bersantai ketika pulang dari Swiss, baiklah. Salam untuk Uncle, aku dan Emery akan mengunjunginya nanti," balas Alpha ikut beranjak dari duduknya.


"Sebaiknya kau tepati janjimu, sebab Ayah sudah sangat lama ingin bertemu denganmu dan Zia,"


"Ya, aku akan mengusahakannya."


Mereka pun melangkah keluar, meninggalkan Alpha yang masih termenung di dalam ruangan kerjanya, berdiri di depan jendela sambil menatap pepohonan pinus yang berjejer di taman dari balik jendela. Meski tak begitu jelas terlihat oleh malam yang mulai beranjak naik.


Hati Alpha mulai di landa kegelisahan, sesungguhnya ia sangat ingin hidup tenang bersama keluarganya saat ini. Namun, kehadiran Jackob cukup membuatnya merasa terganggu. Di tambah lagi saat mendengar Darren yang mengatakan jika pria itu jelas sangat tertarik kepada Emery istrinya. Bahkan ia sudah tidak sabar ingin bertemu pria itu sekarang.


"Apa keluarga Cullen termasuk dalam Almero family?" gumam Alpha semakin merasa kalut. Mengingat Almero dan Elfredo adalah satu club family, tidak menutup kemungkinan, Cullen adalah salah satu bagian dari mereka.


Alpha mengusap seluruh wajahnya kasar, sambil berusaha bersikap setenang mungkin, melupakan masalah tersebut untuk sesaat. Setidaknya ia tidak ingin jika Emery mengetahui kekhawatirannya saat ini.


"All, kau di sini?" tanya Emery secara tiba-tiba. Cukup membuat Alpha terkejut, lekas berbalik dengan senyumnya saat menatap wajah sang istri yang masih berdiri di depan pintu.


"Hmm," angguk Alpha, berjalan mengintari meja kerjanya menuju ke arah istrinya, bahkan langsung memeluk tubuh itu dan membawa dalam gendongannya.


"Ada apa?" tanya Emery mengalungkan kedua tangan di leher suaminya, juga kedua kaki di pinggang suaminya yang saat ini juga sedang merangkul pinggangnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu," balas Alpha, tak mungkin jujur dan menceritakan semua tentang Jackob Sean kepada istrinya.


"Kita bahkan baru bersama beberapa jam lalu," ucap Emery masih menatap wajah suaminya yang tengah melangkah menuju meja kerjanya dan mendudukkannya di sana dengan kedua tangan yang ia letakan di atas meja untuk menopang tubuhnya. Begitu juga dengan Emery yang langsung meletakkan kedua tangannya ke belakang untuk menopang tubuhnya sendiri agak tak terjatuh saat Alpha mulai mencondongkan tubuh ke arahnya.


"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak bisa jauh darimu, dan aku akan selalu merindukanmu," balas Alpha berbisik ke telinga istrinya sebelum menggigit daun telinga istrinya yang sedikit meringis sebelum Alpha kembali merusuh di lehernya.


"Kenapa aromamu sangat manis?"


"Mungkin Ibu selalu menkonsumsi madu saat tengah mengandung diriku,"


"Begitukah?"


"Ayolah, All. Kita tidak mungkin melakukan itu di sini, kan? Kita bahkan ...."


"Ssshh," balas Alpha dengan jari telunjuk menempel di bibir istrinya. "Kau benar, kita akan melakukannya di sini," sambungnya tersenyum miring.


"A-apa? Oh no ... All ...."


Bahkan Emery tak bisa melanjutkan kalimatnya lagi saat Alpha kembali mencumbunya. Dan ini adalah pengalaman pertama yang akan Emery lakukan, bercinta di atas meja kerja suaminya dengan jendela ruangan yang terbuka, dan tirai tipis yang sesekali melambai tertiup angin malam. Ia tidak mungkin menolak lagi, saat Alpha sendiri bahkan sudah melepas seluruh pakaiannya. Dan kembali mencumbunya.


"Ini gila ... apa kau benar-benar akan melakukannya di sini?" tanya Emery dengan nafas terengah saat Alpha melepaskan pautan bibir mereka kemudian menatapnya sambil membuka kancing piyamanya satu persatu.


"Tentu saja, kita akan mencobanya," jawab Alpha tersenyum puas sebelum mulai dengan aktifitasnya.


Abaikan kertas yang terjatuh dan berhamburan di atas lantai ruangan, juga beberapa barang yang tadinya tertata rapi di atas meja, begitu juga dengan suara derit kaki meja yang sedikit bergeser. Hingga satu berlalu.


"Apa kau menyukainya?" tanya Alpha kembali berdiri sambil mengusap keringat sang istri yang sudah membasahi tubuhnya.


"Bagaimana denganmu, Tuan? Sepertinya kau sangat menikmatinya," jawab Emery dengan nafas yang masih terengah.


"Ini sangat luar biasa,"


"Aku bisa melihat itu. Dan sekarang aku sudah kelelahan."


"Tidak sekarang, Emery."


"A-apa maksudmu?" tanya Emery saat kembali melihat Alpha yang sepertinya masih belum menginginkan permainan mereka berakhir.


"Tubuhmu benar-benar candu bagiku," 


"All ...."


"Kita akan mandi bersama," ucap Alpha menggendong tubuh istrinya sambil terus berjalan, menaiki anak tangga menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Meletakkan tubuh istrinya di atas bhat-up dan mulai menyetel suhu air hangat dari shower.


"Kita hanya akan mandi, kan?" tanya Emery dengan wajah lelahnya, dan langsung bersandar di dada Alpha yang juga ikut masuk dalam bhat-up.


"Entahlah,"


"Ayolah All, apa kau sedang membuktikannya padaku betapa kuatnya dirimu?"


Alpha tertawa ringan. Apa benar begitu? Ia sendiri bahkan tak mengerti mengapa selalu menginginkan tubuh istrinya. Bahkan ia tak akan merasa bosan meski harus melakukannya seharian penuh.


"Aku akan membersihkan tubuhmu, kau hanya perlu bersantai, hmm?" balas Alpha mulai mengusap punggung dan seluruh tubuh sang istri dengan sabun cair yang aroma manisnya langsung menyebar ke seluruh ruangan kamar mandi mereka, tak hanya itu, Alpha juga membersihkan rambut panjang istrinya, memijat beberapa saat sebelum membilasnya.


"Aku menyukaimu yang selalu bersikap manis," ucap Emery, berbalik seraya menangkup wajah suaminya yang kini di penuhi busa.


"Berhenti memujiku, aku bisa memakanmu sekali lagi," balas Alpha lekas menarik tubuh sang istri untuk di peluknya erat.


"Ayolah sayang, apa lagi yang akan Anda lakukan?" 


"Sekali lagi, bolehkah?" pinta Alpha yang hanya dengan satu kali gerakan saja ia sudah berhasil mengangkat tubuh istrinya dan duduk di atas pangkuannya.


"Kau tak lelah?"


"Hmm, aku masih memiliki banyak tenaga untukmu."


Emery yang tak bisa melakukan apa pun, hanya bisa mengangguk. Merasa jika Alpha benar-benar sengaja untuk menyiksanya. Meski itu hal yang wajar setelah beberapa tahun tak menyentuhnya, saat mereka menikah tanpa cinta dari Alpha, hingga saat mereka menikah lagi dengan cinta yang sangat tulus dan besar dari pria itu, mereka bahkan sudah bercinta hingga berulang kali. Meski demikian sekalipun Emery tak pernah menolaknya, ia juga menikmatinya, dan sangat bahagia bisa membuat suaminya merasa puas. 


***