I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Panthouse.



"Anda akan kemana?" Tanya Dareen kebingungan saat melihat Alpha yang tiba-tiba beranjak dari duduknya dan terus melangkah keluar.


"Mansion," Jawab Alpha singkat tampa berniat menghentikan langkahnya.


"Tapi, bagaimana dengan Nona Starla?" Tanya Dareen yang masih mengikuti langkah lebar Alpha.


"Dia tidak ingin melihatku untuk saat ini, aku takut, jika ia tahu akau masih di sini, ia akan kembali memaksa untuk pergi. Dan aku tidak ingin itu terjadi." Jawab Alpha yang langsung menuju mobilnya.


"Kemana perginya Akirra?" Tanya Alpha saat ia tidak melihat sosok Akirra, salah satu pengawal pribadinya.


"Maaf Tuan, Akirra sedang bersama Tuan Leon sekarang." Jawab salah satu pengawal tersebut.


"Seharusnya dia di sini," Balas Alpha, sebab ia rasa, hanya Akirra yang bisa menjaga Starla dengan sangat baik, bukan berarti ia tidak mempercayai semua pengawalnya, namun dari dulu hingga sampai saat ini hanya Akirra yang selalu membuat Alpha merasa puas dengan kinerja sang pengawalnya tersebut.


"Apa perlu saya menghubungi Akirra?" Bisik Dareen saat menangkap kecemasan Alpha saat ini.


"Tidak perlu," Balas Alpha.


"Jaga Nona Starla dengan baik. Ingat, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Jaga dia seperti kau menjaga nyawamu sendiri, apa kau mengerti?"


Perintah Alpha kepada beberapa pengawalnya yang langsung mengangguk paham. Sedang Dareen hanya bisa menarik nafas dalam sambil berlari kecil menuju mobil Alpha. Hingga tidak membutuhkan waktu lama mobil Alphard hitam tersebut sudah melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Panthouse mewah yang di jaga beberapa pengawal Alpha.


"Oh iya Tuan muda, apa Tuan Leon baik-baik saja?" Tanya Dareen memecahkan keheningan di dalam mobil yang sedang ia kendarai saat ini.


"Dia baik-baik saja, mungkin dia sedang berada di Mansion sekarang dengan Red Winenya," Jawab Alpha seraya kembali memejamkan matanya yang terasa lelah. Mendengar jawaban dari Dareen hanya bisa mengangguk pelan dan terus berkonsentrasi dengan kemudinya.


* * * * *


Di dalam sebuah kamar yang berarsitektur mewah dengan semua perabotan yang juga terlihat sangat mewah, Starla masih setia dalam diam dan perasaan kalutnya, bahkan matanya sulit untuk terpejam, bayangan masa lalu seolah mengikutinya, hingga membuat Starla ingin menjerit sekeras mungkin, berharap ia bisa menghilangkan semua bayangan-bayang Lucas yang secara tiba-tiba hadir menyapa ingatan yang sudah ia lupakan sejak lama.


* FLASHBACK.


Langkah Starla terhenti di depan sebuah pintu Hotel mewah yang sedikit terbuka, dengan perasaan gelisah dan tangan yang sedikit bergetar Starla memegang knop pintu untuk membuka pintu itu lebih lebar lagi, untuk meyakinkan jika apa yang ia lihat di dalam sana bukanlah Lucas tunangannya.


Namun ternyata ia salah, sebab apa yang ia lihat di dalam sana memanglah Lucas, dengan sosok wanita tampa busana sedang mengerang kenikmatan di bawah kungkungan Lucas yang juga tidak memakai busana apapun. Sangat jelas terlihat keringat yang membasahi tubuh Lucas, dengan nafasnya yang memburu di tambah dengan suara desahan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut wanita itu karena perbuatan Lucas. Suara desahan Lucas terdengar jelas di pendengaran Starla yang masih berdiri di depan pintu Hotel dengan air mata yang terus mengalir dan dari sudut matanya,  nafasnya seakan tercekik hingga membuatnya susah untuk mengeluarkan suara sedikitpun.


Starla memundurkan langkahnya kebelakang dengan kaki yang sudah bergetar, bahkan jika saja ia tidak memegangi pintu kamar Hotel saat itu, mungkin tubuh Starla pasti sudah merosot kebawah, sebab saat ini ia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk sekedar berlari.


BRUGHH..


"Ahk.. "


Suara Starla terdengar begitu keras saat dirinya menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya terpental kebelakang dan menghantam pintu kamar Hotel itu, bahkan suara Starla sampai di pendengaran Lucas yang baru saja klimaks dan masih mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur sambil mencengkram keras rambutnya dengan kepala yang tertunduk memandang lantai dengan perasaan kalut. Hingga lamunannya terhenti saat suara yang tidak asing baginya terdengar dengan sangat jelas menyapa indra pendengarannya.


"Honey.. "


Gumam Lucas yang langsung meraih handuk piyama untuk di pakainya dan langsung keluar menuju pintu kamar yang bahkan sudah terbuka lebar. Namun saat Lucas berdiri di sana, ia tidak melihat siapapun, hanya ada dua sosok bodyguardnya yang langsung membungkuk saat melihat Lucas di sana.


"Sepertinya aku mendengar suara Starla, apa ini hanya halusinasi ku saja, ah siaal." Umpat Lucas sambil terus mencengkram keras rambutnya, berusaha mengatur nafasnya yang masih terasa sesak dan memburu.


"Maaf Tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang bodyguardnya saat melihat Lucas yang terus mengusap keringat di dahinya.


"Tidak, aku hanya seperti mendengar suara Starla di sini," Ucap Lucas yang terus mengedarkan pandangannya kedepan.


"Nona Starla?" Tanya salah satu bodyguard Lucas.


"Hmm.."


"Tapi setengah menit yang lalu, Nona Starla memang berada di sini Tuan muda,"


"Apa?"


Mendengar jawaban dari Bodyguardnya membuat tubuh Lucas seketika kaku dengan perasaan yang sudah tidak menentu lagi. Dengan cepat Lucas melangkahkan kakinya, bahkan ia sedikit berlari untuk menyusul Starla yang ia yakin pasti masih berada di sekitar sini, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sosok yang baru saja membuat perasaannya kalut kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Honey.. Sejak kapan kau di sini?"


Tanya Lucas dengan nada suara bergetar.


"Sejak kau tengah mendesah di atas tubuh bugil wanita itu," Jawab Starla yang kini mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar hotel Lucas, yang di sana tengah berdiri seorang wanita yang hanya menggunakan pakean tipis dengan senyum miring yang sengaja ia tunjukkan kepada Starla.


"Honey.. Aku.. "


"Apa kau sudah tidak memiliki kata-kata lagi sebagai pembelaanmu Tuan muda Lucas Elfredo?" Tanya Starla dengan air mata yang sudah menitik dari pelupuk matanya, air mata yang sejak tadi di tahannya.


"Sayang... " panggil wanita itu dengan nada manja yang bahkan masih betah berdiri di depan pintu kamar tersebut.


"Usir wanita jalang itu," Perintah Lucas dengan nada rendah pada kedua bodyguardnya, yang langsung bergerak dengan cepat, menghampiri wanita yang masih berdiri di depan kamar dan langsung menuntunnya untuk keluar.


"Hei, apa yang akan kalian lakukan, lepaskan aku.. " Pinta wanita tersebut sambil berusaha untuk memberontak saat tangannya di cengkram oleh salah seorang bodyguard Lucas.


"Sayang.. Kau tidak bisa melakukan ini padaku, setelah kau bersenang-senang dengan tubuhku semalaman." Ucap wanita itu yang semakin membuat air mata Starla menetes.


"Yaakk.. Lepaskan aku, kalian tidak tahu siapa aku? Lepaskan... " Teriak Wanita itu saat perkataannya tidak di hiraukan sedikitpun oleh Lucas yang masih menatap Starla dengan mata berkaca. Bahkan sampai wanita itu menghilang dari penglihatan mereka, Lucas masih terdiam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, sebab ia sendiri tidak tahu harus berkata apa, sedang malam itu saat ia terbangun dengan keadaan hasrat dan gairah yang sudah memuncak hingga sampai ke ubun-ubunnya, membuat Lucas nyaris gila, di tambah malam itu ia ternyata tidak sendiri, ada seorang wanita lain di dalam kamarnya, wanita yang entah datang dari mana, dannyang lebih membuatnya marah, sebab ia merasa malam itu ia tengah bersama Starla kekasihnya, ternyata penglihatan salah, dan ia baru menyadarinya ketika mereka sudah melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Bahkan ia melakukannya hingga sampai berkali-kali.


"Maaf.. Aku.. "


"Tapi aku sudah tidak bisa memaafkanmu lagi Lucas," Jawab Starla.


"Jangan pergi Honey.. Aku mohon.. Jangan pergi.. "


Pinta Lucas dengan air mata yang menetes dari sudut matanya, hanya kata itu yang bisa ia ucapkan, meskipun Starla sudah menghilang dari hadapannya, Lucas terus mengucapkan kata itu hingga berkali-kali.


Starla yang terbangun dari lamunannya hanya bisa menarik nafas dalam, dengan pandangan yang ia arahkan keluar jendela. Dengan perlahan Starla melangkahkan kakinya ke arah balkon, mengamati jejeran pohon pinus yang tertata rapi di bawah sana.


Tidak seharusnya aku di sini.. apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan tempat ini di penuhi dengan pengawal, Alpha.. sebenarnya siapa dirimu, kenapa aku merasa tidak nyaman sekarang, kenapa aku menjadi ketakutan.


Starla mengalihkan pandangan ke tiap sudut halaman yang tengah di jahat ketat oleh pengawal Alpha, bahkan tidak ada cela untuk dirinya keluar dari Panthouse tersebut.


"Selamat malam Nona, apa anda perlu sesuatu?" Tanya salah satu pengawal saat melihat Starla yang tengah berjalan menuruni anak tangga.


"Tidak, saya hanya.... "


"Ada yang bisa kami bantu Nona? katakan saja." Balas pengawal tersebut. Bahkan beberapa pelayan berseragam sama sudah berjejer di ujung tangga untuk menunggu Starla.


Bisakah kalian menyingkir saja, aku harus pergi dari sini. aku bukan putri raja yang harus kalian kawal seperti ini.


"Saya hanya sedikit haus, dan akan ke.... "


Kenapa jadi begini, aku mohon.. bisakah kalian tidak mempedulikan aku saja? anggap saja aku tidak ada di sini.


"Tapi saya bisa melakukannya sendiri."


"Iya Nona, tapi biarkan kami yang melakukannya," Jawab salah satu pelayan yang sepertinya mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pelayan lainnya.


"Terimakasih.. Tapi saya tidak terbiasa, maaf.." Ucap Starla yang langsung melangkah menuju Pantry dan langsung membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral di sana untuk di minumnya.


"Saya hanya butuh ini, dan tidaklah susah untuk melakukannya sendiri." Ucap Starla seraya menunjukan botol mineral yang sudah kosong di tangannya.


"Maaf Nona, kami hanya melakukan perintah Tuan muda untuk melayani anda dengan baik."


"Iya, saya mengerti, tapi saya wanita normal yang bisa berjalan sendiri, bukan wanita lumpuh yang tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan dengan perlakuan kalian yang berlebihan seperti ini malah membuat saya merasa tidak nyaman sekarang." Balas Starla.


"Maaf Nona, kami melakukannya karena memang itu sudah tugas kami, sekali lagi maaf jika membuat Nona merasa tidak nyaman."


"Apa Tuan muda kalian memang orang yang seperti itu?" Tanya Starla lagi.


"Tuan muda melakukan ini hanya kepada anda." Jawab pelayan tersebut.


"Apa? saya?"


"Benar Nona," jawab pelayan tersebut mengangguk.


Tapi aku tidak butuh di perlakukan seperti ini.


"Apa anda membutuhkan sesuatu yang lainnya?" Tanya pelayan tersebut dengan nada lembut lengkap dengan senyumnya yang ramah.


"Tidak, terimakasih."


"Baiklah, sebaiknya Nona beristirahat. Kondisi Nona masih belum pulih sepenuhnya."


"Hm.." Jawab Starla dengan anggukannya, dan langsung melangkah meninggalkan pelayan tersebut yang masih berdiri memandangnya.


"Maaf.. " Ucap Starla yang kembali menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap pelayan tersebut yang masih berdiri di sana dengan senyum ramah di wajahnya.


"Iya Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Pelayan tersebut.


"Tidak.. sejak tadi saya tidak melihat Tuan Alpha, apa dia.. "


"Tuan muda sudah kembali ke Mansion sejak satu jam yang lalu Nona," Jawab pelayan tersebut.


Ternyata dia benar-benar pergi, Baguslah.. setidaknya aku tidak perlu mengucapkan selamat tinggal padanya.


"Apa perlu saya menghubungi Tuan Dareen untuk memberitahu Tuan muda jika Nona.. "


"Tidak.. Tidak perlu, saya hanya bertanya karena tidak melihatnya." Balas Starla yang langsung menggeleng dengan cepat.


"Baik Nona, jika anda menginginkan hal lain, Nona tinggal menghubungi saya lewat telepon yang berada di kamar Nona."


"Tapi saya bisa melakukannya sendiri, saya rasa hal itu terlalu berlebihan," Protes Starla yang menganggap semua perlakuan pelayan ataupun pengawal di tempat ini kepadanya terlalu berlebihan.


"Ini perintah Tuan muda langsung, maaf.. Kami hanya mengikuti perintah Nona." Balas pelayan tersebut membungkuk.


"Tapi saya bukan wanita yang spesial yang harus kalian layani layaknya seorang putri raja."


"Siapapun yang menginjakkan kaki di Panthouse ini adalah seorang yang spesial buat Tuan muda, dan satu-satunya wanita yang masuk ke Panthouse ini hanya Nyonya besar Aleen dan Nona."


"Apa?"


"Maaf Nona, jika pelayanan kami membuat anda merasa tidak nyaman." Balas Pelayan tersebut yang kembali membungkuk.


"Tidak.. Tidak seperti itu, saya hanya belum terbiasa," Jawab Starla sambil memegangi pundak wanita paru baya tersebut.


"Terimakasih Nona, silahkan.. saya akan mengantarkan anda di kamar untuk beristirahat."


"Baiklah.. " Balas Starla pasrah dan langsung melangkah meninggalkan pantry dan menaiki anak tangga menuju lain atas, yang disana sudah menunggu beberapa pelayan untuk mengantarkannya ke kamar.


* * * * *


* MANSION ALPHA KHANDRA.


"Kau di sini? kemana Star?"


Tanya Leon saat keluar dari kamar dan mendapati Alpha yang tengah duduk sendiri di sebuah sofa sambil memejam, bahkan Leon sudah bisa menebak jika saat ini Alpha tidak sedang tidur.


"All.. "


Panggil Leon yang membuat Alpha terkejut dan langsung membuka matanya.


"Starla, di mana dia?" Tanya Leon.


"Panthouse," Jawab Alpha dengan suara beratnya.


"Panthouse? Dan kau meninggalkannya di sana sendirian?" Tanya Leon mengernyit.


"Disana banyak pelayan khusus untuk melayaninya, dan pengawal untuk menjaganya,"


"Yah kalau soal itu aku tahu, kau pasti sudah mempersiapkannya, yang aku tanyakan saat ini, kenapa kau tidak menemaninya di sana?" Tanya Leon lagi.


"Jika aku tetap di sana, maka Starla yang akan pergi," Jawab Alpha.


"Maksudnya?"


"Dia tidak ingin melihatku sekarang ini," Jawab Alpha seraya mengusap wajahnya kasar.


"Aku mengerti," Balas Leon yang langsung melangkah mendekati Alpha yang masih dengan posisinya.


"Biar aku yang akan menemaninya di sana," Ucap Leon yang membuat mata Alpha melebar sempurna dengan posisi duduk yang langsung berubah tegap.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.