I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Terluka.



Alpha yang saat itu tidak sengaja mendapat semua informasi  tentang Tiar Galenka Ayah dari Starla membuatnya cukup terkejut. Bahkan tampa menunggu lama, Alpha langsung menyusun rencana untuk mengeluarkan Starla dari rumah sakit dengan bantuan Akirra yang terpaksa harus menggunakan tipuan agar orang-orang Tiar terkecoh dengan cara membakar mobil Akirra dan juga salah satu pengawal Tiar yang mencoba menculik Starla. Dan tentu saja untuk membawa Starla pergi dari sana bukanlah hal yang sulit bagi Alpha dan Akirra.


Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Starla, hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk melindungimu.


Dengan perlahan Alpha memasuki satu ruangan yang di sana nampak sosok Starla yang tengah duduk dipinggiran ranjang sambil meremat jemari tangannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau nampak cemas." Tanya Alpha yang langsung duduk di hadapan Starla dengan tangan yang langsung menggenggam jemari Starla yang terasa dingin.


"Sebenarnya apa yang kita lakukan di sini Alpha?" Tanya Starla yang tidak mengetahui apapun, termasuk Ayahnya yang masih hidup dan berniat untuk menculiknya demi membalaskan dendamnya kepada keluarga Elfredo.


"Maaf.. Aku pasti akan menjelaskannya, tapi untuk saat ini. Bisakah kau tetap di sini? Dan mengikuti perintahku?" Tanya Alpha seraya mendongak dan mengusap wajah Starla yang langsung mengangguk dengan senyum di bibirnya yang masih terlihat pucat.


"Asal bisa selalu bersamamu Alpha,"


"Terimakasih Starla, karena kau kembali percaya padaku untuk melindungimu," Balas Alpha semakin mempererat genggaman tangannya.


"Telapak tanganmu terasa dingin, apa kau kedinginan?" Tanya Alpha terlihat sedikit khawatir saat ia menggenggam tangan Starla.


"Hm, udara di sini cukup dingin," Jawab Starla sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Sedang Alpha yang melihat kondisi Starla yang nampak kedinginan langsung melepaskan Hoodie yang di kenakannya dan langsung memakaikannya ke tubuh Starla.


"Pakailah.. Setidaknya bisa mengurangi rasa dinginmu,"


"Kau.. Tidak kedinginan? Kau juga membutuhkan baju ini." Tanya Starla saat melihat tubuh polos Alpha yang tidak mengenakan apapun.


Bahkan mata Starla seketika melebar saat melihat tubuh proporsional yang terlihat sempurna dan juga beberapa bekas luka di tubuh putih Alpha, satu bekas luka tembak di bahu, dan beberapa luka gores di bagian perut, dada dan lengan. Bahkan tampa sadar dengan tangan yang sedikit bergetar Starla meraba bekas luka di dada Alpha. Rasa dingin yang menyentuh kulit Alpha membuatnya terdiam dengan nafas yang mulai terasa sesak saat Starla terus menyentuh bekas lukanya.


"Bekas luka ini.... " Tanya Starla perlahan dengan posisi tangan yang masih menempel di dada Alpha.


"Aku mendapatkan sudah sangat lama." Jawab Alpha dengan suara beratnya, yang langsung menggenggam telapak tangan Starla yang masih menempel di tubuhnya.


"Alpha.. Apa masa lalumu begitu berat? Apa yang sudah terjadi di masa lalumu?"


"Apa kau benar-benar ingin tahu siapa diriku dan masa laluku? Aku sendiri bahkan tidak ingin mengingatnya,"


"Apa kau sudah melupakannya?" Tanya Starla sekali lagi.


"Aku tidak bisa sepenuhnya untuk melupakan semuanya, ada masalalu yang ingin aku ingat seumur hidupku, dan ada juga yang ingin aku lupakan,"


"Masalalu apa yang ingin kau ingat Alpha? bisakah aku mengetahuinya?"


"Sepertinya kau sangat menyukai bekas luka ini, sejak tadi kau terus menatapnya bahkan menyentuhnya." Ucap Alpha alih-alih menjawab pertanyaan Starla yang masih menggenggam tangan Starla.


Apakah masalalu itu begitu berharga buatmu, sehingga kau ingin menyimpannya sendiri Alpha. Bahkan kau tidak ingin aku mengetahuinya.


"Starla.. "


"Aku.. Menyukainya." Balas Starla gugup.


"Benarkah? Bagaimana dengan tubuhku yang lain,"


"Aku.. Menyukai semua yang ada pada dirimu Alpha, mata ini, hidung ini, bibir ini, semua yang kau miliki, aku.. "


"Benarkah?" Tanya Alpha yang langsung mengecup bibir Starla lembut, tampa menunggu jawaban dari Starla yang langsung menyambut ciuman Alpha dengan mata yang terpejam.


"Sepertinya kita harus mengakhirinya, aku... "


Kenapa ada dia di dalam pikiranku, kenapa ada wajah itu..


Dengan perlahan Alpha melepaskan ciuman bibirnya dan langsung menangkup wajah Starla yang terlihat memerah dengan nafas yang masih memburu.


"Aku takut, jika aku tidak bisa mengontrol diriku dan melakukan hal yang tidak diinginkan," Bisik Alpha yang masih berusaha mengatur nafasnya.


"Maaf, aku hanya tidak ingin menyakitimu, dengan memaksamu melakukan hal itu. Aku.." Lanjut Alpha lagi yang langsung menuju ke arah sebuah lemari pakaian dan mengambil sebuah baju kaos berwarna putih untuk di pakainya.


"Apa kau tidak menginginkannya Alpha?" Tanya Starla perlahan dengan tatapan nanarnya.


"Starla, siapa pria yang tidak menginginkannya, aku pria normal, tapi.. Aku tidak ingin melakukannya."


Apa karena kau masih memikirkan dia, wanita yang pernah jadi bagian dari hidupmu, wanita yang memang tidak sebanding denganku, aku hanyalah gadis kotor yang tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini darimu.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar Starla. Dan kau bisa bebas," Ucap Alpha sambil memeluk tubuh Starla dengan erat. Hingga suara dering ponselnya terdengar dan membuat Alpha melepaskan pelukannya dan langsung meraih ponselnya yang di sana tertera nama Leon.


Dengan perlahan Alpha menatap wajah Starla yang masih berdiri terpaku tidak jauh dari Alpha sekarang. Dengan hati yang di penuhi dengan kekhawatiran Alpha melangkah perlahan mendekati Starla dengan senyum yang terulas di bibirnya, pria Berta tersebut memeluk tubuh Starla dengan erat.


"Siapa?" Tanya Starla yang tiba-tiba merasa khawatir.


"Leon.. "


"Ada apa dengan Yoon? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Starla yang tiba-tiba merasakan gelisah.


"Dia... "


"Alpha.. Ada apa?"


"Starla.. Bisakah kau menungguku sebentar saja?"


"Apa kau akan pergi?"


"Hm, aku hanya akan menjemput Leon untuk pulang."


"Tapi.. Apa semuanya baik-baik saja?"


"Iya, selama kau tetap di sini. Dan menungguku, bisakah kau melakukannya?" Tanya Alpha seraya menangkup wajah Starla.


"Alpha.. Kau akan kembali kan?"


"Aku akan kembali Starla, bukankah aku sudah berjanji akan membawa Leon? Jadi percayalah.."


"Baiklah.. "


"Terimakasih Starla, karena sudah mau menurutiku, beberapa pengawal ku akan menjagamu di sini sampai aku kembali." Ucap Alpha seraya mengusap kepala Starla yang tengah mendongak ke atas untuk menatap wajah Alpha. Wajah yang di penuhi kekhawatiran dan juga ketakutan.


"Tidurlah.. Saat kau terbangun nanti, akan ada aku di sampingmu." Ucap Alpha yang langsung melepaskan pelukannya, mengecup lembut pucuk Starla dan langsung melangkah meninggalkan Starla dengan perasaan khawatir dan gelisah.


"Kenapa saat melihatmu pergi membuatku sangat merasa takut Alpha, kenapa aku selalu merasa akan kehilanganmu? Apa aku sudah benar-benar melukai perasaanmu? bahkan aku tidak melihat ketulusan saat kau mengatakan sayang padaku, Alpha.. Maafkan aku." Gumam Starla yang entah membuat air matanya tiba-tiba menitik.


* * * * *


Mobil Alphard hitam milik Alpha melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Panthousenya mengikuti arah GPS dari ponsel Leon, hingga tidak berselang lama mobilnya sudah sampai di sebuah bangunan tua yang lebih terlihat seperti gudang yang di sana ia sudah di sambut dengan pemandangan yang tidak biasa. Bagaimana tidak, sebuah bangunan tua yang di jaga oleh begitu banyak pengawal hingga membuat Alpha kesulitan untuk menyelinap masuk.


"Apa mereka benar-benar berada di dalam, dengan penjagaan seketat ini?"


"Sepertinya benar Tuan, apa perlu saya menghubungi pengawal kita yang lain?"


"tidak perlu, berlima sudah cukup," Balas Alpha yang langsung menyiapkan senjatanya dan beberapa peluru cadangan.


"Akirra ikut saya, sisanya berpencar, temui lokasi Leon dan Dareen, kalian sudah tahu kan posisi mereka? Dan saya harap kalian bisa kembali dengan selamat."


"Baik Tuan," Jawab ketiga pengawal Alpha yang langsung berpencar, begitu pula dengan Alpha dan Akirra yang langsung menyelinap masuk ke dalam gedung melewati sisi gedung yang tidak di jaga oleh pengawal. Satu sisi yang di penuhi rerumputan tinggi juga beberapa barang tidak terpakai.


"Di liat dari GPS, sepertinya Tuan Leon dan Dareen tengah berada di lantai atas," Ucap Akirra sambil mendongak ke atas melihat lantai tiga bangunan tersebut.


"Baiklah.. Kita selesaikan ini dan..."


DOOR... DOOR...


"Apa yang terjadi?"


Alpha dan Akirra saling menatap saat melihat semua pengawal yang menjaga bangunan tua tersebut berjatuhan dengan luka tembakan masing-masing di kepala mereka.


"Siapa mereka?" Tanya Alpha yang masih dalam posisinya.


"Sepertinya keluarga Elfredo sudah datang untuk menjemput Tuan muda mereka." Jawab Akirra saat melihat beberapa pengawal dari keluarga Elfredo yang sudah menerobos masuk ke dalam bangunan tua tersebut.


"Baguslah.. Dan kita tinggal menyelesaikan sisanya, aku takut Yoon tidak bisa bertahan dengan lukanya."


"Tuan Alpha, sepertinya bukan hanya keluarga Elfredo yang berada di sini, tetapi juga keluarga Cullen."


"Apa? Oh.. Aku tidak heran jika memang ada keluarga Cullen di sini." Balas Alpha yang langsung menerobos masuk dan di susul oleh Akirra, bahkan mereka tidak perlu melumpuhkan para pengawal Tuan Tiar Galenka, sebab sebagian pengawal Tuan Tiar Galenka sudah terbunuh oleh orang-orang keluarga Elfredo.


Sedang di lantai tiga tempat di mana Lucas di sandera, nampak sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan senyum yang seolah tidak pernah hilang dari wajahnya tengah duduk dengan sebuah pisau di tangannya.


"Keluarlah.. Jika kau masih ingin melihat adikmu bernafas." Seru Tuan Tiar sambil menempelkan ujung pisau ke leher Lucas.


"Adik? Siapa?" Tanya Leon dan Dareen yang saling menatap, dan pandangan mereka langsung tertujuh kepada Kang Daniel yang tiba-tiba langsung beranjak dengan wajah yang dipenuhi dengan kekhawatiran.


"Yaak... Kau.. Aahhkkk.." Seru Leon yang terlihat kesakitan saat melihat Kang Daniel.


"Maaf.."


"Jadi kaulah anak yang di sembunyikan Tuan Elfredo selama ini?" Tanya Dareen.


"Benar," Jawab Kang Daniel yang langsung melemparkan senjatanya ke depan.


"Seharusnya kalian sudah pergi sejak tadi, saat tahu jika gadis yang di sana itu bukan Starla, tapi kenapa masih tetap bertahan di sini? apa kalian benar-benar ingin cari mati?"


"Diamlah.. Kita bisa saja pergi dan meninggalkanmu sendiri di sini, tapi keluarga Berta tidak seperti itu, mungkin kau tidak tahu, jika Alpha juga memerintahkan kita untuk tetap di sini, entah apa tujuannya. Tidak mungkin kan dia merasa khawatir karena kau Juga bagian dari keluarga Cullen." Balas Leon asal yang justru membuat Kang Daniel terdiam sesaat.


"Alpha?"


"Hm, dan aku yakin dia sudah berada di sini sekarang."


"Baiklah.. Aku yakin kalian bisa melakukannya, ingat. Tiar adalah seorang yang licik, jangan sampai gegabah, untuk sementara ikuti dulu perintahnya." Ucap Kang Daniel yang di balas anggukan oleh Leon dan Dareen.


"APA KALIAN AKAN TETAP BERSEMBUNYI DI SANA SEPERTI SEORANG PENGECUT?" Teriak Tuan Tiar yang sepertinya sudah kehilangan kesabaran dan langsung menendang tubuh Lucas hingga tersungkur ke lantai.


"HENTIKAN BANGSAT.. AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI." Teriak Kang Daniel yang langsung berlari menghampiri Lucas dan langsung memeluk tubuh adiknya.


"DAN KALIAN BERDUA, APA KALIAN AKAN TERUS DI SANA? APA KALIAN LEBIH SUKA MELIHAT GADIS INI MATI?" Tanya Tuan Tiar yang tentu saja di tujukan untuk Leon dan Dareen. Bahkan belum sempat Leon mengeluarkan kata-katanya, sebuah senjata sudah menempel tepat di kepala mereka masing-masing yang hanya pasrah dan menyerahkan senjata mereka saat tubuh mereka di giring oleh pengawal Tuan Tiar.


"Sampai kapan aku harus menahan diri." Bisik Leon meringis menahan sakit dan masih memegangi luka di perutnya.


"Kita harus menunggu." Jawab Dareen  dengan satu isyarat yang langsung di balas anggukan oleh Leon.


"Ikat mereka."


Perintah Tuan Tiar yang langsung di balas anggukan oleh pengawalnya.


"Manusia seperti apa anda yang tega mengorbankan anak kandung sendiri demi membalas dendam, apa anda benar-benar seorang pria?" Tanya Leon dengan seringaiannya.


"DIAM KAU." Bentak Tuan Tiar yang kembali melepaskan satu tendangan ke tubuh Leon yang terluka hingga membuat darah segar mengalir memenuhi ubin berdebu di ruangan tersebut.


"Leon.. " Seru Dareen semakin panik.


"Aku tidak butuh komentar kalian, seharusnya kalian diam saja sambil menunggu ajal kalian."


"Cih.. Seharusnya anda yang diam, sebab sebentar lagi anda yang akan menemui ajal anda terlebih dahulu." Ucap Leon sebelum akhirnya mereka mendengar suara gaduh di sekitar gedung tersebut, suara tembakan mulai bersahutan dan terdengar semakin jelas.


"Mereka datang." Bisik salah satu pengawal tersebut yang langsung di balas senyum smirk oleh Tuan Tiar yang langsung meraih tubuh Kang Daniel dan menempelkan sebuah pistol tepat di kepalanya.


"Sepertinya kali ini putramu kurang beruntung Fredell, tidak seperti 26 tahun lalu, dan hari ini, aku pastikan, dia tidak akan selamat dari maut lagi." Ucap Tuan Tiar saat melihat sosok Fredell yang sudah berdiri di ujung ruangan tersebut.


"Maka aku tidak akan melepaskanmu brengsek."


"Benarkah? Apa kau yakin? Ayolah Fredell, biarkan aku bersenang-senang sedikit." Balas Tuan Tiar yang langsung melepaskan satu peluru dan langsung menembus paha Kang Daniel.


"Aahhkkk... " Erangan Kang Daniel dengan lutut yang langsung menyentuh ubin dan kedua tangan yang  menopang kedepan.


"HENTIKAN KEPARAT.. " Teriak Tuan Fredell yang langsung menodongkan senjata kearah Tuan Tiar yang juga menodongkan senjata ke arah kepala Lucas.


"Jangan gegabah Fredell, kau masih punya harta yang paling berharga di sini."


"Kau.. "


Wajah Tuan Fredell seketika memerah saat melihat kondisi Lucas yang sudah berlumuran darah dengan tubuh yang masih terikat, bahkan Lucas masih belum sadarkan diri.


"Tenang saja, putra kesayanganmu sudah aku buat lumpuh dan tidak sadarkan diri, jadi saat peluru ini menembus kepalanya, dia tidak akan merasakan sakit lagi."


"Aku akan membunuhmu."


"Yah.. Yah.. Bahkan kau lupa jika tidak semuda itu untuk membunuhku. Dan aku tidak minta banyak Fredell, kematian kedua putramu bisa membayar semua bisnisku yang sudah kau hancurkan.


Leon yang melihat hal tersebut hanya bisa menyaksikan, bahkan beberapa pengawal Tuan Tiar yang berjaga di sana tidak menyadari jika saat ini tangan Leon yang terus bergerak untuk menggapai sebuah pisau yang ia selipkan di balik bajunya.


"Anda terlalu banyak bicara." Ucap Leon yang dengan gerakan cepat langsung melemparkan pisau ke arah Tuan Tiar yang tepat mengenai dada kirinya.


Melihat Tuan Tiar cedera membuat para pengawalnya yang sejak tadi berjaga dengan senjata masing-masing langsung bergerak hingga aksi saling tembak pun tidak dapat di hindari lagi. Mereka saling melumpuhkan satu sama lain, saling menyelamatkan nyawa yang bisa di selamatkan dan ada juga yang berusaha berlari untuk menyelamatkan diri meski dalam kondisi sekarat.


"BAKAR TEMPAT INI, JANGAN BIARKAN KELUARGA GALENKA HIDUP." Teriak Tuan Fredell.


Leon yang sudah cedera dan sekarat sejak awal mulai terlihat lemas, bahkan darah dari luka tembaknya terus menetes, dan satu keberuntungan baginya sebab pengawal dari keluarga Berta sudah melindunginya.


"BAWAH LEON KELUAR DARI SINI." Teriak Alpha yang tiba-tiba muncul dengan senjatanya. Bahkan sebelum Leon kehilangan kesadaran, ia sempat merasakan Akirra yang tengah meraih tubuhnya, melihat Alpha yang tengah bertarung dengan beberapa pengawal Tuan Tiar, hingga Tuan Fredell yang dengan air matanya memapah tubuh Lucas putranya yang juga sekarat. Bahkan Leon sempat melihat kobaran api memenuhi ruangan tersebut. Dan semuanya menjadi gelap, suara tembakan tidak terdengar lagi di telinga Leon yang tiba-tiba berdengung, dan akhirnya Leon kehilang kesadaran.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.


...Satu episode lagi buat namatin cerita ini, sekali lagi terimakasih buat Leaders setiaku....


^^^By _Audrey16_^^^