
Sementara di dalam sebuah mobil mewah yang sedang melesat melewati jalanan kota Seoul yang sedikit ramai. Nampak Alpha yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"Bukankah sudah lama Tuan muda tidak bertemu dengan Nyonya Emery?" Tanya Dareen mencoba membuka suara.
"Hmm, cukup lama." Jawab Alpha yang masih pada posisinya, menatap keluar jendela mobilnya.
"Bagaimana perasaan anda?" Tanya Dareen sekali lagi seraya melirik wajah Alpha lewat sebuah kaca yang terletak di tengah mobilnya.
"Perasaan seperti apa yang kau maksudkan?" Jawab Alpha dengan satu pertanyaan sambil mengalihkan pandangannya ke arah Dareen yang masih fokus dengan kemudinya.
"Apa yang anda rasakan sekarang?"
"Entahlah.. Aku bahkan tidak merasakan apa-apa." Jawab Alpha yang kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil sambil memejam, seraya memijat tengkuk lehernya.
"Tuan muda.. "
"Hm,"
"Apa mungkin anda masih menyimpan rasa dendam untuk keluarga Cullen?" Tanya Dareen perlahan.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Saya hanya merasa khawatir dengan anda, sebab saya tahu, tidak semudah itu untuk melupakan semuanya." Jawab Dareen.
".......... "
"Maaf, saya tidak pernah bermaksud untuk mengungkit masalah ini lagi, tapi.. "
"Ada apa Dareen?" Tanya Alpha saat ujung matanya menangkap ekspresi yang tidak biasa dari Asistennya tersebut.
"Dareen, sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Alpha sekali lagi, dan kali ini ekspresi Alpha terlihat sangat serius.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu apakah saya masih pantas menanyakan masalah ini kepada anda, tapi.. Apa benar, jika orang tua saya meninggal dunia bukan karena sebuah kecelakaan? Tapi karena perbuatan Tuan Chris?" Tanya Dareen yang membuat Alpha terdiam untuk beberapa saat.
Akhirnya kau sudah mengetahui tentang masa lalu yang menyebabkan kedua orang tuamu meninggal.
Masa lalu yang seharusnya tidak ia ketahui, sebab Alpha tahu, jika kisah tragis tentang meninggalnya kedua orang tua Dareen bisa membuatnya merasa terpukul. Sebab yang Dareen tahu, selama beberapa tahun ini adalah kedua orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan, bukan karena di bunuh dengan cara menyabotase mobil yang di kendarai kedua orang tuanya.
Bahkan tidak hanya sampai di situ, mobil mereka juga sengaja di jatuhkan kedalam sebuah jurang hingga meledak tampa sisa. Dan sang pelaku sengaja menghilangkan sebuah bukti dan membuat semua yang terjadi pada keluarga Millard adalah sebuah kecelakaan murni karena kelalaian sang pengemudi, yaitu Tuan Millard dan istrinya Daniah Millard, Asisten pribadi almarhum Tuan Adley Ayah dari Alpha.
"Dareen, aku tidak tahu, kau mendengar semua ini dari siapa? yang jelas aku tidak ingin masalah ini mempengaruhimu." Tanya Alpha.
"Apa Tuan muda juga sudah lama mengetahuinya?" Tanya Dareen perlahan.
"Maaf, jika tidak menceritakannya padamu saat itu, bahkan tidak ada yang mengetahui masalah ini. Masalah yang sebenarnya tidak ingin aku dengar." Jawab Alpha.
"Tidak, Tuan muda tidak perlu meminta maaf, saya mengerti dengan posisi Tuan muda saat itu."
"Jika kita bisa bahagia dengan cara melupakan semuanya, kenapa kita tidak melakukannya saja, lagi pula siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas kejadian ini, meskipun itu tidaklah muda, selama dua tahun ini aku sudah sangat berusaha untuk melupakan semuanya. Aku selalu berusaha untuk berdamai dengan hatiku dan mencoba menerima semuanya. Namun.."
"Tuan Alpha.."
"Jika melihat Ibu.. Satu-satunya orang yang paling menderita atas kejadian ini, itu sangatlah sulit buatku. Meskipun ia selalu mengatakan jika ia baik-baik saja, tapi kenapa, aku sangat sulit untuk mempercayainya. Sebab aku masih sering melihatnya menangis sendirian, dan berusaha tersenyum saat melihatku, seolah tidak terjadi apa-apa. Itulah masa-masa tersulitku Dareen."
"Tuan Alpha.. Maaf jika saya kembali mengungkit luka lama anda."
"Tidak, meskipun kau tidak mengungkitnya, saat menginjakkan kaki di tempat ini pun aku pasti akan kembali mengingatnya dengan jelas. Dan itulah alasannya, kenapa aku tidak menginginkan kau dan Leon untuk mengetahui semuanya, karena aku tidak ingin kalian merasakan perasaan yang sama, seperti apa yang aku rasakan selama ini. Perasaan benci dan sakit, perasaan sedih dan marah. Sungguh.. Aku benar-benar tidak ingin kalian merasakan itu." Balas Alpha kembali memejamkan matanya, memang sangatlah sulit untuk melupakan rasa sakit hati yang Alpha rasakan selama bertahun-tahun lamanya.
"Saya akan mencoba untuk menerima, dan mengikhlaskan semuanya Tuan." Ucap Dareen dengan suara yang terdengar bergetar.
"Aku percaya, kau pasti bisa melakukannya Dareen." Balas Alpha berusaha menguatkan hati Dareen, yang ia tahu, jika saat ini perasaan Asistennya itu tengah terluka, Alpha bisa merasakan semuanya, sebab ia juga pernah mengalami hal yang sama. Dan satu hal yang Alpha sangat syukuri, sebab ia benar-benar tidak kehilangan semuanya. Ia masih memiliki sang Ibu di sampingnya, berbeda dengan Dareen yang benar-benar sudah kehilangan semuanya.
"Dareen, everything will be fine. and you're not alone." Ucap Alpha yang langsung menepuk-nepuk pelan pundak Dareen yang terlihat sedang mengusap air matanya.
"Terimakasih Tuan Alpha." Balas Dareen.
Entah sampai kapan Alpha akan terus diikuti masa lalu yang membuatnya selalu menjadi pria yang selalu di selimuti rasa amarah.
* * * * *
* MANSION LUCAS ELFREDO.
Suasana di Mansion Lucas saat ini cukup menegangkan, dimana sang pemilik Mansion tengah meluapkan segala amarahnya dengan cara menghancurkan setiap benda yang berada di hadapannya.
"AARRGGHHH... SIALAN.. "
Teriak Lucas yang terus memecahkan beberapa guci keramik yang tertata rapi di ruang tengah Mansionnya.
"Apa dia serius, menolak kerja sama kita? Lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakukan dengan BRT GRUP dan juga Presdirnya yang sangat arogan itu."
"Tenanglah Tuan muda," Ucap Keano berusaha menenangkan Presdirnya.
"Kau menyuruhku tenang setelah apa yang orang itu lakukan padaku? dia benar-benar membuat harga diriku jatuh, dia juga berani mempermalukanku di depan orang-orang, sialan.. Dia pikir dia siapa." Umpat Lucas.
"Saya mengerti Tuan muda. Kita masih punya cara lain untuk membunjuk Tuan Khandra agar mau bekerja sama dengan Perusahaan kita."
"Memang apalagi yang bisa kau lakukan?" Tanya Lucas menatap tajam ke arah Asistennya.
"Saya akan mencoba untuk memikirkan semuanya Tuan. Dan sebenarnya saya masih belum mengerti, kenapa anda begitu tertarik bekerjasama dengan Perusahaan BRT GRUP, sementara masih sangat banyak Perusahaan lain yang bisa kita ajak kerjasama."
"Tentu saja untuk membuat EFR GRUP unggul dan menjadi urutan teratas sebagai Perusahaan terbesar. Apa kau lupa jika saat ini BTR GRUP yang berada di tingkat atas sebagai Perusahaan tertinggi? Sudah jelas jika kita berhasil bekerja sama dengan Perusahaan BRT GRUP maka kita bisa menjejeri bahkan mendominasi BRT GRUP."
"Saya mengerti Tuan, saya akan mencoba untuk mencari cara."
"Aku percaya padamu Ken, dan satu lagi, apa kau sudah mendapatkan informasi tentangnya?" Tanya Lucas saat kembali tenang.
"Seperti dugaan kita, Nona muda berada di Jerman selama 10 tahun ini." Jawab Keano.
"Apa? Jerman? Kenapa aku tidak pernah menemukannya?" Tanya Lucas mengernyit.
"Nona muda sangat lihai untuk menyebunyikan identitas dan tempat persembunyiannya, semua itu berkat bantuan Tuan Fredell."
"Apa? Ayah? jadi lagi-lagi semua karena Ayah, apa semua belum cukup?"
"Iya Tuan muda. Dan saya rasa, ini cara Tuan Fredell yang terakhir untuk membuat Anda benar-benar tidak bisa menemukan Nona muda lagi."
"Arrrggghhh sialan... " Umpat Lucas terlihat geram.
"Tuan Fredell melakukan ini semua karena merasa sangat kecewa dan marah atas sikap anda, maaf.. "
"Saya tahu, tapi bukankah Ayah sudah keterlaluan?"
"Iya Tuan, namun jika melihat dari sikap dan kekuasaan Tuan Fredell, saya rasa kita juga tidak bisa berbuat apa-apa."
"Aaarrgghhh... Kenapa aku begitu bodoh,"
Teriak Lucas yang terlihat nampak prustasi, kelemahannya yang tidak bisa melawan kekuatan sang Ayah sungguh membuatnya merasa tersiksa. Bahkan di depan matanya ia hanya bisa menyaksikan kekasih yang sempat menjadi tunangannya itu pergi meninggalkannya.
Dan hingga sampai saat ini, meski sudah 10 tahun berlalu, Lucas masih belum bisa melupakan semuanya. Ia masih sangat merindukan sosok kekasihnya, bahkan sangat berharap jika gadis itu masih mencintainya seperti dulu, dan akan kembali padanya suatu saat nanti.
"Aku juga berharap seperti itu Ken," Balas Lucas penuh harap.
* * * * *
* MANSION ALPHA KHANDRA.
Alpha Khandra merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sambil memejam untuk menghilangkan lelah juga pikiran kalutnya. Hari ini cukup melelahkan untuknya, terlalu banyak hal dan kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Bahkan ia sudah sangat merindukan suasana Munchen dan juga Ibunya sekarang, tentu saja diam-diam ia juga merindukan sosok Starla. Hingga 10 menit berlalu, ia baru tersadar jika sosok yang seharusnya ada di Mansion ini tiba-tiba tidak terlihat olehnya.
"Ah syiitt.. Aku sampai melupakan hal penting." Gumam Alpha seraya mengusap wajahnya kasar.
"Di mana Yoon?"
Tanya Alpha pada salah satu pelayan di Mansionnya, bahkan sebelum pelayan tersebut menjawab, ia sudah melihat sosok Leon yang tengah melangkah dari arah luar sambil membuka setelan jasnya dan langsung berjalan mendekati Alpha yang sudah memasang wajah manis berharap bisa di berikan ampunan oleh Leon.
"Ada apa? Kau mencariku?" Tanya Leon yang langsung mengunci pergerakan Alpha dengan lengan kekarnya.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu ke pemakaman Bibi."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk menebus semuanya?" Tanya Leon yang masih mengunci pergerakan Alpha.
"Apa saja,"
"Menemaniku minum Wine?"
"Tidak,"
"Lalu?"
"Ahk lepaskan.. Kau mau mati?"
"Baiklah.."
"Aku akan menemanimu minum Wine sekali. Tapi sebelumnya aku minta maaf, karena tidak bisa menemanimu." Jawab Alpha pasrah dengan ekspresi wajah yang penuh dengan penyesalan dan hanya di balas senyuman oleh Leon yang juga ikut menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa setelah puas bermain-main dengan Alpha.
"Aku mengerti, kau sangat sibuk hari ini, lagi pula kita masih punya banyak waktu kan untuk mengunjungi makam Ibu lagi."
"Hmm.. Aku pasti akan mengunjungi makam Bibi secepatnya."
"Bagaimana pertemuanmu dengan pimpinan EFR GROUP siang ini?"
"Tidak ada yang menarik, aku hanya menghabiskan waktu dengan berhadapan dengan seorang yang angkuh dan menyebalkan," Jawab Alpha saat kembali mengingat sosok Lucas yang baru saja ia temui siang tadi. Tidak hanya itu, ia juga kembali mengingat pertemuannya dengan Emery yang membuatnya kembali menghembuskan nafas kasar hingga membuat Leon mengernyit saat melihat tingkah Alpha yang sedikit aneh.
"Ada apa? Kau nampak sangat kesal hari ini."
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istrahat."
Balas Alpha seraya beranjak dari duduknya dan langsung melangkah pergi meninggalkan Leon yang masih melongo melihatnya.
"Tuan muda, apa anda..... "
Kalimat Dareen menggantung saat Alpha yang masih terus melangkah sambil mengangkat satu tangannya, menandahkan jika ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa saat ini, dan Dareen yang sudah sangat paham dengan sikap dan perasaan Alpha sekarang ini hanya bisa mengangguk dan membatalkan niatnya menawarkan Alpha untuk makan malam.
"Apa harinya sangat berat hari ini?" Tanya Leon yang masih mengarahkan pandangannya ke arah Alpha yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Hmm, lumayan berat Tuan Leon." Jawab Dareen yang ikut memandang pintu kamar Alpha yang sudah tertutup rapat.
"Hei ayolah Dareen, jangan memanggilku seperti itu, aku bukan atasanmu, bisakah kita saling berbicara santai saja?" Tanya Leon sambil menepuk lengan Dareen.
"Baik Leon."
"Yoon.."
"Iya, Yoon.."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini?" Tanya Leon lagi, yang masih sangat penasaran dengan perubahan sikap Alpha saat ini.
"Mungkin karena siang tadi, Tuan Alpha tidak sengaja bertemu dengan Nyonya Emery di sebuah Restaurant."
"Apa? Mereka? Lalu?" Tanya Leon yang semakin penasaran.
"Yah seperti yang anda duga, tidak ada pembicaraan yang khusus, hanya saling menyapa satu sama lainnya."
"Aku paham, tidak mungkin All akan bersikap berlebihan setelah apa yang pernah terjadi di antara mereka."
"Setidaknya mereka tidak seperti dulu, khususnya Tuan Alpha."
"Maksudnya?"
"Mungkin anda sudah mengetahui, bagaimana bencinya Tuan Alpha kepada Nyonya Emery dulu."
"Iya, aku tahu, meskipun aku tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi aku cukup tahu kisah di antara mereka."
Balas Leon sambil menarik nafas panjang, meskipun ia tidak pernah bersama Alpha selama beberapa tahun kemarin, setidaknya ia banyak mengetahui, jika tujuan Alpha menerima perjodohan saat itu tidak lain hanya untuk balas dendam saja. Bahkan ia juga sangat tahu dengan semua perbuatan Tuan Chris dulu kepada keluarga Berta, dan juga keluarganya.
"Lalu bagaimana dengan pertemuannya dengan yang katanya sangat menyebalkan itu?"
"Ha? Tuan Lucas?"
"Apa? Lu.. Lucas? Nama Pimpinan EFR GROUP itu Lucas? Lucas Elfredo?"
Tanya Leon untuk meyakinkan, dan yang lebih membuatnya terkejut lagi saat Leon melihat mengangguk Dareen yang membenarkan pertanyaan Leon barusan.
Sebagai seseorang yang mengetahui banyak tentang kisah masa lalu Starla, tentunya Leon sangat tidak asing dengan nama tersebut, bahkan ia akan langsung mengenali pria tersebut jika ia tidak sengaja bertemu dengannya. Mungkin Leon melewatkan satu cerita saat beberapa hari lalu ia menceritakan semua kisah masa lalu Starla pada Alpha. Ia tidak menyebutkan siapa pria yang sudah menghancurkan hidup Starla dulu. Dan itu adalah keberuntungan buat Leon, sebab ia sudah bisa menebak jika saja ia memberi tahu nama pria itu, mungkin Alpha dan Lucas sudah berakhir di sebuah rumah sakit dengan luka parah saat ini, karena kasus saling pukul.
"Ah, nyaris saja." Gumam Leon yang membuat Dareen mengernyit bingung.
"Ada apa?" Tanya Dareen kebingungan.
"Ah tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya baru saja mensyukuri sesuatu." Jawab Leon menarik nafas lega.
"Maksudnya?"
"Dareen, aku peringatkan. Sebaiknya kau tidak sering mempertemukan mereka berdua." Ucap Leon yang tepatnya tengah memperingatkan Dareen.
"Ha?"
"Aku hanya memberikanmu saran Dareen. jika kau tidak ingin melihat Presdirmu bersikap seperti seorang psikopat, sebaiknya jangan pernah lakukan itu."
Ucap Leon menepuk-nepuk pundak Dareen yang masih terlihat kebingungan dengan perkataan Leon yang saat itu juga langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Dareen yang masih mencoba mencerna perkataan dari Leon.
Sedang di dalam sebuah kamar dengan pencahayaan lampu remang, nampak sosok Alpha yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya dengan kedua tangan yang berada dalam sakuĀ celananya. Pandangannya jauh mengarah kedepan, menerawang dengan segala pikiran yang membuat hatinya uang sejak tadi merasakan sebuah rindu, bahkan ia sendiri tidak mengerti, kenapa bayangan gadis itu selalu menguasai pikirannya akhir-akhir ini. Dan kenyataannya sekarang adalah, Alpha tiba-tiba merindukan sosok Starla yang sudah beberapa hari ini tidak di lihatnya. Ada sesuatu yang hilang saat di tiap paginya ia tidak melihat wajah gadis yang selalu berdiri dengan senyum harap di depan Cafenya. Dan tidak bisa di pungkiri, jika saat ini ia merasa kehilangan semuanya.
Bukannya Alpha tidak mengetahui dengan semua kebiasaan Starla selama ini yang selalu diam-diam memperhatikannya, bahkan tidak ada yang tahu jika diam-diam Alpha juga sering memperhatikan Starla dari kejauhan. meskipun ia tidak pernah merespon. Sebab sejak awal melihat tingkah lucu Starla, Alpha sudah sangat menyukainya, entah karena ia bisa melihat sosok Edrea yang sangat ia rindukan di dalam diri Starla, atau karena gadis itu memang menarik. Yang jelas selama ini, Starla selalu berada di dalam pandangan Alpha setiap saat.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.