
...ALPHA DAN EMERY. ...
* Flashback.
Alpha menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, matanya memejam dengan pikiran yang di penuhi dengan kekalutan. Bahkan ia sendiripun merasa bingung dengan hatinya saat ini, sejak kapan wajah Emery, gadis yang pernah mengisi hidupnya selama 5 tahun berubah menjadi penghuni di dalam pikirannya. Batinnya berkecamuk, ia yakin jika selama ini ia mencintai Starla, bahkan ia juga yakin jika Starla adalah cinta pertamanya, namun mengapa saat ini bayangan Starla seakan lenyap tergantikan oleh bayangan Emery, sosok wanita yang sangat ia benci mati-matian.
Apa yang salah dengan hatiku, aku mencintai Starla, tapi kenapa hatiku merasa takut jika Emery menjauh.
"All... Bukankah kau melamum di sana sudah cukup lama?" Tanya Leon yang tiba-tiba muncul dan langsung membuyarkan lamunan Alpha seketika.
"Yoon.. Apa menurutmu wajar jika sekarang ini pikiranku sering tertuju kepada Emery?" Tanya Alpha yang langsung membenarkan posisi duduknya, bahkan wajahnya terlihat nampak serius saat menanyakan satu pertanyaan yang membuat Leon seketika tersenyum.
"Aku menunggu jawabanmu, bukan ingin melihat senyummu."
"Kenapa tidak? bukankah Emery adalah wanita pertama yang masuk di dalam kehidupanmu?"
"Tapi kau tahu sendiri jika aku tidak mencintainya sedikitpun, tapi... "
"Mencintai Starla?"
"Bahkan di pikiranku tidak ada Starla sekarang,"
"All.. hatimu memilih Emery. Itulah jawabannya, dan adapun perasaanmu lebih kuat ke Starla, kau hanya merasa bingung, sebab di saat kau menutup diri selama dua tahun ini, Starla hadir dan selalu ada di sekitarmu."
"Entahlah.. Aku malah sedikit merindukan dia sekarang,"
"Starla?"
"Emery.. Apa dia baik-baik saja? apa luka di lehernya baik-baik saja? apa..... "
"Apa tidak sebaiknya kau mengunjungi dia saja?" Tanya Leon.
"Maksudmu?"
"Kau sibuk menghabiskan waktumu di sini untuk bertanya-tanya tentang keadaan Emery, kenapa kau tidak mengunjunginya saja?"
"Tidak. Aku masih sangat sibuk hari ini, aku yakin dia baik-baik saja." Jawab Alpha yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamarnya.
Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu, Alpha memang sudah tidak pernah lagi bertemu Emery, meskipun perasaan rindu kadang mengusik hatinya, Alpha lebih memilih untuk tetap menunggu dan memastikan perasaannya kepada Emery, entah itu murni karena Alpha khawatir, atau karena dia sudah benar-benar memiliki rasa kepada wanita itu.
Hingga setengah jam berlalu, Alpha kembali terlihat keluar kamar dengan penampilan yang tidak biasa, bahkan ia terlihat jauh lebih tampan dengan pakaian Casualnya, hingga membuat Leon yang masih sibuk dengan gamenya menjadi terpaku melihat Penampilan Alpha.
"Kau? mau ke mana?" Tanya Leon yang masih belum mengalihkan perhatiannya, begitupun juga dengan Dareen yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Leon.
"Ketemu Klien."
"Tapi Tuan muda tidak punya jadwal ketemu Klien malam ini, maaf jika saya salah, tapi.. "
"Bisakah kau diam saja Dareen?" Tanya Alpha yang seketika merasa gugup.
"Maaf Tuan, saya... "
"Kenapa kau menjadi gugup seperti itu? sebenarnya mau kemana kau dengan wajah tampanmu itu?" Tanya Leon.
"Aku... Mau silaturahmi, di rumah... Nyonya Caroline.." Jawab Alpha berdeham sambil merapikan bajunya.
"Apa? sejak kapan kau punya urusan dengan Nyonya Caroline?" Tanya Leon dengan senyum tengilnya yang membuat Alpha semakin gugup. Bahkan telinganya terlihat memerah tampa di sadarinya.
"Ibu ingin aku menyampaikan pesan buat Nyonya Caroline, itu saja."
"Bibi punya ponselkan untuk menghubungi Nyonya Caroline langsung jika ada hal penting yang ingin di sampaikan? kenapa mesti kau yang harus repot-repot kesana?"
"Benar Tuan, atau biar saya saja yang ke sana untuk..."
"YAAAKKK... BISAKAH KALIAN DIAM SAJA? KENAPA KALIAN BERDUA MENJADI SANGAT CEREWET?" Teriak Alpha yang langsung melangkah pergi meninggalkan Leon dan Dareen yang masih terpaku dengan mulut yang terbungkam. Mereka hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan jantung yang masih berdebar akibat suara keras Alpha yang membuat mereka terkejut.
"Apa ada yang salah dengan..... "
"Sssttt... sebaiknya kau diam, jika masih ingin bernafas sampai besok." Jawab Leon yang langsung melanjutkan permainan gamenya.
"Sebenarnya ada apa dengan Tuan Alpha?"
"Dia hanya sedang merasa bingung saja dengan perasaannya, sebaiknya biarkan saja dia."
"Maksudnya?"
"Dia merasa masih mencintai Starla, namun hatinya selalu memikirkan Emery."
"Emery?"
"Hm,"
"Saya rasa Tuan Alpha memang sangat peduli kepada Nyonya Emery, dan itu sangat terlihat jelas saat kejadian di rumah sakit kemarin, bagaimana panik dan takutnya Alpha saat melihat Nyonya Emery dalam keadaan terancam, bahkan siapapun yang melihat akan berfikiran sama, jika jauh dari lubuk hati Tuan Alpha, ia sebenarnya sangat peduli kepada Nyonya Emery, sebenci apapun Tuan Alpha terhadap Nyonya Emery."
"Kau benar Dareen, biar bagaimanapun All juga memiliki perasaan yang peka, dia yang tidak pernah menunjukan perasaannya selalu membuat kita tidak bisa menebak apa yang ada di dalam hatinya, dan hanya dia yang mengetahuinya. Siapapun pemilik hatinya saat ini, pasti dia wanita yang sangat beruntung. Meskipun sikap pemarahnya kadang bikin kesal." Balas Leon yang masih fokus dengan permainannya.
* * * * *
* KEDIAMAN EMERY CULLEN.
Lama Alpha terdiam di depan pintu rumah Emery dengan perasaan gugup dan gelisah, bahkan tangannya yang sejak tadi terulur kedepan masih belum berani menyentuh tombol merah yang berfungi sebagai bel rumah Emery.
Sialan.. Sejak kapan aku jadi merasa gugup seperti ini, bahkan lebih gugup di banding menandatangani tender besar.
Keluh Alpha membatin sambil mengusap wajahnya, hingga suara knop pintu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka, dan menampakkan sosok Nyonya Caroline di sana.
"Selamat siang Bibi Caroline.. "
Sapa Alpha yang langsung membungkukkan badannya 90 derajat untuk memberi hormat kepada Nyonya Caroline yang tengah berusaha menyembunyikan tawanya saat melihat tingkah Alpha.
"Ini sudah pukul 7 malam Alpha.. "
"Ah iya.. Maaf Bibi.. saya.. "
"Silahkan masuk." Balas Nyonya Caroline menggeleng pelan dengan senyumnya.
"Maaf.. jika saya mengganggu waktu istrahat Bibi, saya.. "
"Tidak masalah All, jangan sungkan. Kau bebas kesini kapan saja kau mau."
"Terimakasih Bibi, saya tidak akan lama, saya hanya ingin mengetahui keadaan..." Mulut Alpha tiba-tiba terasa kelu saat akan menyebutkan nama Emery, ia tiba-tiba terdiam sambil mengatur perasaannya.
Apakah keputusanku sudah benar untuk datang kesini, bukankah ini terlihat sangat memalukan? Astaga Alpha.. Kenapa kau begitu hina sekarang.
"Alpha.. Ada apa?"
"Saya.. "
"Ingin bertemu Em..."
"Iya Bibi.." Jawab Alpha dengan cepat, bahkan sebelum Nyonya Caroline menyelesaikan kalimatnya.
Astaga.. Respon yang bagus Alpha..
Batin Alpha sambil memejam dan menarik nafas dalam.
"Emery sedang tidak berada di rumah sekarang."
"Apa?"
"Daniel menjemputnya sore tadi."
"Ha? Daniel?"
"Iya, dan mungkin akan makan malam bersama."
"Apa? Bukannya kondisi Emery saat ini masih tidak memungkinkan untuk keluar rumah? Dia masih perlu istrahat, bagaimana jika terjadi sesuatu?"
"Bibi tidak begitu khawatir jika Emery bersama Daniel, sebab Bibi yakin, Daniel bisa menjaga Emery dengan sangat baik." Ucap Nyonya Caroline yang seketika membuat hati Alpha tiba-tiba merasakan sakit.
Entah kenapa, sebelumnya ia tidak pernah merasa sesakit ini saat mendengar Emery dengan siapapun, bahkan ia tidak peduli sedikitpun, namun entah saat ia mendengar jika saat ini Emery tengah bersama Daniel benar-benar membuat Alpha merasa terganggu.
"Iya, saya tahu.. Emery akan baik-baik saja.. " Balas Alpha terlihat lesu bahkan langsung tertunduk.
"All.. Sepertinya ada yang mengganggu perasaanmu, ada apa? Apa ini ada sangkut pautnya dengan Emery?" Tanya Nyonya Caroline perlahan.
"Maaf, saya hanya merasa sedikit cemas dengan keadaan Emery."
"Apa hanya itu?"
"Saya.. "
"All... Emery sekarang sedang menjalani hubungan dengan Daniel, dan sebagai Ibu yang ingin melihat putrinya bahagia, Bibi sangat mendukung, siapapun pilihan Emery. Dan Bibi rasa, Daniel adalah pria yang tepat untuk Emery." Ucap Nyonya Caroline yang lagi-lagi membuat hati Alpha teriris.
"Bibi benar, Daniel adalah pria yang tepat buat Emery, tidak seperti saya.. "
"Alpha.. Apa sekarang kau sedang membandingkan dirimu dengan Daniel?"
"Tidak Bi, saya.. "
Jelas saya yang terbaik.
"Alpha.. Bibi ingin kau jujur, sebenarnya Bibi sedikit terkejut saat melihatmu berkunjung ke sini, maaf, jika Bibi lancang menanyakan hal ini. Tapi, apa kau ke sini untuk Emery?" Tanya Nyonya Caroline yang seketika membungkam mulut Alpha. Entah pertanyaan Nyonya Caroline benar atau tidak, yang Alpha tahu saat ini ia sangat ingin melihat Emery.
"Jika memang benar, Bibi ingin tahu, apa maksudmu ingin bertemu dengan Emery? Sebab yang Bibi tahu selama ini, hubungan kalian tidak begitu baik, sejak perceraian kalian pun, Bibi tidak melihat ada hubungan baik di antara kalian, jadi Bibi rasa, wajar saja jika Bibi menanyakan hal ini, Maaf.. Jika pertanyaan Bibi menyinggung perasaanmu Alpha."
"Tidak masalah Bibi, Saya baik-baik saja, dan mungkin hal yang wajar, jika Bibi bertanya seperti itu, sebab saya sendiri sebenarnya tidak mengerti perasaan saya sekarang, saya.. "
"Alpha.. Bagaimana perasaanmu terhadap. Emery?"
"Saya.. "
"Emery sudah menceritakan semuanya, kejadian di rumah sakit saat itu, dan Bibi harus berterimakasih, sebab kau juga sudah menyelamatkan nyawa Emery, tapi.. Apa semua yang kau lakukan benar-benar hanya ingin menolong Emery?"
"Takut?" Tanya Nyonya Caroline mengernyit, satu pertanyaan yang hanya di balas anggukan oleh Alpha.
"Saya takut dia terluka, saya takut jika tidak bisa menyelamatkannya, dan saya benar-benar merasa takut jika kehilangan dia, entah perasaan seperti apa ini."
"Alpha.. Apa kau yakin?"
"Yakin? Maksud Bibi?"
"Perasaanmu kepada Emery bukan hanya sebatas perasaan seorang teman biasa, rasa takutmu yang berlebihan itu timbul karena kau ingin melindungi Emery, melindungi seseorang yang berarti untukmu." Balas Nyonya Caroline yang lagi-lagi membuat Alpha terdiam.
*Apa benar seperti ini? sejak kapan? kenapa aku tidak pernah menyadari*nya."
"Alpha.. Bibi mohon.. Jika memang apa yang Bibi pikirkan ini benar, Bisakah kau menjauh dari Emery?"
"Apa? Ma.. Maksudnya?"
"Emery pernah sangat terluka karenamu, dan pernikahan kalian sungguh membuat Emery tersiksa, dia bahkan pernah mengakhiri hidupnya sendiri waktu itu, dan sedikitpun kau tidak peduli. Bibi takut.. Emery akan terluka lagi. Bisakah kau mengabulkan permintaan Bibi? Tolong... Jauhi Emery, dia sudah cukup bahagia sekarang."
"Tapi Bi.. Saya tidak.... "
"Bibi mohon... "
"Maafkan saya Bi. Selama ini sudah membuat Emery menderita, maaf.. Dan jika ada cara untuk menebusnya, saya bersedia melakukannya,"
"Bibi dan Emery tidak pernah menyalahkanmu atas kejadian masa lalu Alpha, sedikitpun kita tidak pernah menyalahkanmu. Tapi... Jika sekarang perasaanmu sudah berubah terhadap Emery, Bibi sedikit khawatir, mungkin kau hanya merasa bingung, dan... "
"Iya saya mengerti Bi, maaf... "
"Terimakasih Alpha."
"Baiklah.. Saya permisi Bi, dan bisakah Bibi menyampaikan salam saya... "
"Iya.. Bibi akan menyampaikan kepada Emery." Jawab Nyonya Caroline mengerti, meski Alpha tidak melanjutkan kata-katanya.
"Terimakasih Bi Caroline.. " Balas Alpha kembali membungkuk sebelum Akhirnya meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Nyonya Caroline yang masih melihatnya, dan langsung menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah Emery.
Lama Alpha terdiam di sana dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Permintaan Nyonya Caroline yang menginginkannya menjauhi Emery adalah permintaan yang sangat sulit baginya, sebab saat ini ia benar-benar tidak ingin menjauh dari Emery.
Dan lamunan Alpha yang berlangsung selama beberapa menit akhirnya terhenti saat suara dari mobil lain terdengar menyapa indera pendengaran Alpha. Hingga netranya tertuju kepada sosok Emery yang baru keluar dari mobil.
Emery..
Alpha yang dengan senyumnya langsung bergegas membuka kembali pintu mobil yang sudah ia tutup, dan langsung beranjak keluar dari sana, namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, netranya kembali tertuju pada sosok Kang Daniel yang ikut keluar dari mobil dan langsung menggandeng tangan Emery, hingga membuat Alpha tercengang dan kembali menuju mobilnya dengan langkah tergesa, sebelum kehadirannya di sadari oleh keduanya.
"Aarrghhh siaaal... " Umpat Alpha saat tidak sengaja kepalanya menghantam permukaan pintu mobil. Pemandangan yang sungguh tidak ingin di lihatnya di saat sekarang ini. Bahkan jika Alpha bisa memilih, ia lebih memilih untuk tidak berada di sana dan melihat saat dengan lembut Kang Daniel mengecup telapak tangan Emery.
Apa yang mereka lakukan? Apa mereka tidak tahu jam berapa sekarang?
Dengan cepat Alpha membuka pintu mobilnya dan langsung keluar melangkah menghampiri keduanya yang tentu saja langsung terkejut dengan kehadiran Alpha yang secara tiba-tiba, bahkan tatapannya terlihat cukup menakutkan saat menatap Kang Daniel yang masih menggenggam telapak tangan Emery.
"Alpha.. Sejak kapan kau di sana?" Tanya Emery yang sontak membuat Alpha terdiam, bahkan ia tidak punya jawaban atas pertanyaan Emery.
"Apa anda tersesat Tuan Alpha?" Tanya Kang Daniel.
"Diam kau, aku hanya lewat." Jawab Alpha sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya.
"Di jam seperti ini?"
"Apa ada aturan aku mesti lewat di tempat ini jam berapa?" Tanya Alpha sedikit jengah dengan pertanyaan Kang Daniel.
"All.. Ada apa?" Tanya Emery yang kembali membuat Alpha terdiam.
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu."
"Aku.. "
"Dia baik-baik saja,"
"Aku tidak bertanya padamu. Dan bisakah kau diam saja? dan ini... " Balas Alpha yang langsung menarik tangan Emery yang masih di dalam genggaman Kang Daniel. "Lepaskan tanganmu, Emery bukan anak kecil yang harus di gandeng kemanapun." Lanjut Alpha yang membuat Kang Daniel melongo sambil menatap tangannya sendiri.
"Alpha... Aku baik-baik saja, sungguh. Terimkasih karena sudah mengkhawatirkan ku."
"Syukurlah.. Maaf, jika mengganggumu..."
"Baguslah.. Jika anda menyadarinya." Gumam Kang Daniel yang langsung di balas tatapan horor oleh Alpha yang ternyata bisa mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari mulut Kang Daniel.
"Tidak masalah Alpha. Apa kalian akan terus di luar? Kalian tidak masuk kedalam?"
"Baiklah, Aku akan..... "
"Tidak, kita akan pulang sekarang." Balas Alpha yang dengan cepat langsung menarik jaket Kang Daniel yang baru saja akan melangkah masuk ke dalam rumah Emery.
"Yaak lepaskan... "
"Apa?"
"Hentikan kalian berdua." Tegur Emery yang sontak membuat Alpha dan Kang Daniel terdiam, hanya tatapan mata mereka yang saling beradu, tatapan kesal dari seorang Kang Daniel dan tatapan puas penuh kemenangan dari Alpha yang langsung tersenyum miring.
"Baiklah.. Aku akan masuk, Selamat malam Daniel, All.. " Ucap Emery yang langsung melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Apa kau yakin hanya sekedar mampir Tuan Alpha yang terhormat?" Tanya Kang Daniel saat Emery sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Ada apa? Kau nampak sangat penasaran."
"Tentu saja, melihat anda berada di rumah Emery adalah hal yang sangat tidak mungkin."
"Kenapa harus menjadi hal yang tidak mungkin? Apa yang salah dengan itu?" Tanya Alpha mengernyit.
"Tentu saja salah, sebab kalian berdua sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jika anda tidak memiliki maksud lain, itu tidak masalah buat saya, namun jika anda bermaksud untuk mengusik hidup Emery, aku akan sangat keberatan."
"Apa? mengusik? keberatan? Maksudmu?"
"Saya rasa anda sangat mengerti dengan maksud saya Tuan Alpha, dan saya rasa anda juga sudah tahu jika Emery adalah kekasih saya sekarang."
"Apa?"
"Anda tidak perlu terkejut seperti itu Tuan Alpha, bahkan reaksi anda sekarang membuat saya jadi berfikiran jika anda menginginkan Emery."
"Kau... "
"Apa saya benar Tuan Alpha Khandra? dan satu hal lagi. Anda sudah tidak berhak atas Emery lagi, sebab dia bukan istri anda lagi." Ucap Kang Daniel yang langsung melangkah meninggalkan Alpha yang masih terdiam di sana.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Alpha meninggalkan kediaman Emery yang sejak tadi berdiri di balik jendela sambil memandang kepergian Alpha dengan perasaan bingung.
"Emery.. "
"Ibu.. "
Emery yang terkejut dengan kehadiran Nyonya Caroline membuatnya sedikit gugup dan langsung menutup tirai jendelanya.
"Apa Alpha sudah pulang?"
"Ha? Iya.. baru saja." Jawab Emery sambil melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya dengan perasaan semakin gelisah.
"Boleh Ibu menanyakan sesuatu?" Tanya Nyonya Caroline yang juga ikut duduk di samping Emery.
"Ada apa Ibu?"
"Bagaimana perasaanmu terhadap Daniel?"
"Daniel? aku.. Menyukainya Ibu, dan aku cukup nyaman berada di dekatnya."
"Lalu Alpha?" Tanya Emery sekali lagi yang membuat Emery terdiam dengan tarikan nafas dalam.
"Emery.. Bisakah kau jujur kepada Ibu?"
"Soal apa Ibu?"
"Alpha.. Apakah kau masih mencintanya?" Tanya Nyonya Caroline yang lagi-lagi membuat Emery terdiam dengan pikiran kalut. Bahkan hanya dengan mendengar pertanyaan Ibunya saja jantung Emery kembali berdebar dengan sangat kencang.
"Emery.. Kau tahu kan? ibu tidak ingin melihatmu menderita lagi untuk yang kedua kalinya, sudah cukup."
"Aku tahu Ibu,"
"Jadi, bisakah Ibu memohon satu hal padamu? Lupakan perasaanmu kepada Alpha."
"............ "
"Kau pasti bisa melakukannya, selama ini kau bisa melewati semuanya kan? dan Ibu yakin. Kehadiran Daniel bisa membuatmu benar-benar melupakan Alpha."
"............ "
"Emery, jangan diam saja. Bisakah kau melakukannya untuk Ibu?"
"Ibu... "
"Ini demi kebaikanmu Emery, dan Ibu.... "
"Aku lelah Ibu.. Ibu juga sebaiknya istrahat, ini sudah larut." Jawab Emery yang langsung beranjak dari duduknya, melangkah perlahan menuju kamarnya, meringkuk di atas tempat tidurnya dengan perasaan kalut.
Aku masih sangat mencintainya Ibu.. Maafkan aku,
Emery memejam dengan air mata yang menitik dari sudut matanya, meremat dadanya yang terasa sesak, hanya dengan memikirkan Alpha saja jantungnya sudah berdetak dengan sangat kencang. Dengan perlahan Emery membuka laci mejanya yang di sana tersimpan satu bingkai Foto yang selama 7 tahun di simpannya. Foto pernikahannya yang tidak pernah di pajang ataupun di lihat oleh orang lain. Dengan erat Emery memeluk foto tersebut. Perasaannya semakin sakit kalut, rasa rindu tiba-tiba menghampirinya, wajah Alpha yang penuh kekhawatiran dan ketakutan kembali terlintas di dalam ingatan dan membayanginya, bahkan baru setengah jam lalu, ia melihat wajah Alpha yang dipenuhi kecemburuan. Dan jujur itu sangat membuat Emery bahagia.
"Alpha... " Gumam Emery perlahan sambil memejam.
...* * * * * *...
... TO BE CONTINUED. ...