
"JANGAN PERGIIIIII.... "
Teriak Lucas saat terbangun dari lamunannya. Matanya nampak memerah, dengan nafas yang terasa sesak. Ingatan 10 tahun yang lalu kembali hadir dalam ingatannya, bahkan tidak hanya malam ini, di setiap malam-malam sebelumnya pun Lucas akan selalu di hantui oleh ingatan menyakitkan hingga membuatnya merasa tersiksa dengan bayangan masa lalunya. Dimana saat ia harus kehilangan gadis yang sangat ia cintainya hanya karena suatu kesalahan yang bahkan tidak pernah ia lakukan. Dan hal tersebut berhasil membuatnya sangat menderita hingga sekarang. Bahkan ia tidak bisa berbuat apapun saat Ayahnya mengatur suatu permainan yang membuatnya harus kehilangan gadis yang sangat di cintainya, gadis yang sama sekali tidak diinginkan oleh sang Ayah, sosok yang sangat menyanyangi dirinya dan menganggap jika ia adalah harta paling berharga di dunia ini.
Apapun yang ia inginkan, sang Ayah akan senang hati mengabulkan semuanya, tapi tidak dengan restu atas hubungannya dengan gadis yang sudah lama menjadi kekasihnya itu. Bahkan Ayahnya tidak pernah memberi alasan yang jelas kenapa sang Ayah sangat menentang hubungan mereka.
"Jika kau meminta seluruh dunia ini, Ayah akan memberikannya, tapi tidak dengan restu Ayah, sampai kapanpun, Ayah tidak akan merestuinya."
Itulah kata-kata sang Ayah yang selalu terngiang di telinga Lucas, ia sadar jika kekasihnya bukanlah berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan tinggi, kekayaan berlimpah, kekuasaan dan dari kasta yang tinggi seperti dirinya. Hanya itu yang membuatnya yakin akan alasan Ayahnya yang tidak merestui hubungannya dengan gadis yang di sayanginya.
Perlahan Lucas bangkit dari duduknya, melangkah masuk menuju kamarnya. Tempat satu-satunya di mana ia bisa melihat wajah kekasihnya, tempat di mana ia bisa meluapkan rasa rindunya, sebab di tempat itulah semua foto kekasihnya memenuhi seluruh dinding kamarnya.
"Aku akan menemukan dan membawamu kembali Honey."
Gumam Lucas tersenyum sambil mencium satu pigura yang berukuran Paling besar di sana
Dengan mata yang semakin berkaca saat Lucas kembali larut dalam lamunannya, lamunan indah yang selalu membuatnya bisa sedikit tersenyum.
* * * * *
* JERMAN (MUNCHEN).
Di pagi ini ada yang berbeda dari pemandangan di Cafe Alpha, terlalu sepi dari biasanya, dan itu bukanlah hal yang biasa bagi Starla yang sudah sejak tadi menunggu seorang sosok yang selalu menjadi kebahagiaannya di pagi hari. Siapa lagi kalau bukan wajah manis dari seorang Alpha, pria yang selalu membuatnya tersenyum di pagi dan petang hari.
"Apa hari ini dia tidak ke Cafe? Tapi ada apa? Apa dia sakit?"
Gumam Starla yang masih berdiri termenung di samping jalan dekat Cafe Alpha sambil sesekali melihat jam yang melingkar di lengannya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Bahkan perasaannya semakin gelisah dengan segala pertanyaan yang tidak ia dapatkan jawabannya, dan hal itu cukup membuat tubuhnya seketika melemas.
Dengan perlahan ia melangkah mendekati Cafe Alpha, berdiri di depan pintu masuk yang masih tertutup dengan papan tulisan CLOSE yang menggantung di pintunnya. Perlahan Starla menempelkan wajahnya di pintu Cafe tersebut, hingga dahi mulusnya menempel sempurna di permukaan pintu. Starla mencoba mengintip dari balik pintu kaca, berharap ia bisa melihat sosok yang ingin ia lihat sejak dua jam lalu.
"Kyaakk.. Aah.. Ma.. Maaf.. Maaf.. Aku.. Itu, tadi.. "
Dengan wajah terkejut dan mata yang melebar sempurna, Starla melangkah mundur, saat wajahnya hampir mencium wajah Alpha yang dengan tiba-tiba membuka pintu Cafenya dan berdiri cukup dekat, tepat di hadapan Starla, bahkan jarak mereka hanya menyisahkan beberapa centi meter saja. Sedang Starla dengan wajah yang sudah memerah dan jantung yang mulai berdetak kencang hanya bisa tertunduk sambil merutuki kecerobohannya.
"Ada apa?"
Tanya Alpha yang sebenarnya sudah sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Starla dari balik pintu Cafenya yang memang terlihat sangat jelas dari dalam Cafe namun tidak terlihat dari luar Cafe. Bahkan tingkah Starla malah menjadi hiburan bagi Alpha yang sempat tersenyum lebar saat melihat gadis yang sejak dua jam lalu berdiri di depan Cafenya dengan ekspresi kebingungan.
"Apa nada sesuatu?" Tanya Alpha sekali lagi.
"Ah tidak ada apa-apa, tadi itu aku, aku pikir anda tidak ke Cafe hari ini. Aku sempat berfikir apa anda sakit, ternyata anda baik-baik saja." Balas Starla yang berbicara tampa jedah untuk menutupi rasa gugupnya.
"Alpha," Ucap Alpha.
"Ha?"
"Panggil aku Alpha, Nona... "
"Ah iya.. Alpha, aku Starla, Starla Galenka,"
"Ada apa mencariku Starla?" Tanya Alpha lagi sambil menatap wajah gugup Starla yang tengah mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa dengan jelas melihat wajah Alpha yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Tidak ada yang serius, aku hanya merasa aneh saat tidak melihatmu di pagi ini," Jawab Starla yang akhirnya kembali tertunduk saat jawabannya membuat Alpha terdiam dengan satu alis yang sedikit terangkat ke atas.
"Aneh? Jadi selama ini kau selalu menungguku?" Tanya Alpha yang semakin membuat Starla semakin gugup.
"Tentu saja, eh.. Tidak. Maksudku.. Iya.. Maaf."
Jawab Starla yang sedikit gelagapan cukup menggelitik perut Alpha dan membuatnya nyaris tertawa, dan untung saja masih bisa ia tahan, apalagi saat melihat wajah merona dari Starla yang tiba-tiba tertunduk saat tatapan mata Alpha kembali tertuju ke arahnya.
"Maaf, aku sudah terbiasa melihatmu di setiap paginya, jadi aku merasa ada yang berbeda saat tadi tidak melihatmu, aku pikir kau sedang sakit." Ucap Starla perlahan.
"Aku baik-baik saja, masuklah.. "
Balas Alpha seraya membuka pintu Cafenya dan langsung melangkah masuk kedalam, lalu di susul oleh Starla yang langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang tepat berada di samping jendela, kursi yang pernah ia duduki saat pertama kali memasuki Cafe tersebut.
"Aku sejak pagi tadi di sini." Ucap Alpha sambil membuat dua cangkir Cappucino untuk dirinya dan Starla yang sudah duduk dengan manis di sana.
"Benarkah? Berarti aku yang datang terlambat,"
"Tidak juga, sepertinya kau selalu tepat waktu, aku yang kepagian, ada yang harus aku kerjakan juga sebenarnya." Balas Alpha.
"Ah iya.. Terimakasih." Ucap Starla tersenyum saat Alpha menyajikan secangkir cappucino untuknya dan langsung duduk tepat di hadapannya. Dan tentu saja hal itu membuat Starla berdebar, sungguh suatu peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bisa duduk berduaan dengan seorang pria yang sudah sangat lama di kaguminya dengan ditemani secangkir cappucino buatannya dan juga alunan musik clasic.
"Jadi kau gadis yang tiap pagi berdiri di depan sana?"
Tanya Alpha sambil menyesap secangkir cappucino miliknya, sedang yang mendapat pertanyaan hanya bisa tersenyum gugup sambil meremat jari-jarinya yang sengaja ia sembunyikan di bawah meja, tepat di atas pangkuannya.
"Iy.. Iyaa.. Maaf.. Apa kau menyadarinya?" Tanya Starla perlahan.
"Hmm.. Tapi tidak masalah, sebenarnya aku juga tidak menyadarinya jika bukan Yoon yang memberitahuku." Jawab Alpha santai.
Si mulut ember, awas saja kau jika bertemu denganku.
Batin Starla sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Sejak kapan?" Tanya Alpha.
"Ha?"
"Kau selalu berdiri di sana?"
"Ah itu, sejak dua tahun lalu," Jawab Starla tampa menatap wajah Alpha.
"Dua tahun? Selama itu?"
"Iya.. Apa aku terlihat seperti seorang gadis bodoh?" Tanya Starla perlahan.
"Yah, tepatnya tidak seperti itu, kau hanya sedikit.. "
"Memalukan?"
"Apa kau merasa begitu?"
"Ha? Iya.. Itu sangat memalukan, tapi entah kenapa, hal yang memalukan itu justru membuatku sangat bahagia." Jawab Starla yang tampa sadar menampakkan senyumnya.
"Kenapa?" Tanya Alpha.
"Karena aku menyukainya,"
Dan juga menyukaimu Tuan Alpha.
Batin Starla yang lagi-lagi hanya bisa tertunduk untuk menutupi rasa gugupnya.
"Aku bahagia jika selalu melihatmu." Gumam Starla lirih yang masih tertunduk, ia sebenarnya sangat tidak ingin menjawab segala pertanyaan dari Alpha yang menurutnya sangat memalukan, namun tidak ada pilihan lain, sebab ia tahu jika Leon pasti sudah memberitahu semua ke padanya, dan Starla juga yakin jika Alpha menanyakannya lagi karena hanya ingin meyakinkan saja, sebab menurut Starla secara pribadi, Alpha adalah pria yang cerdas, meskipun tidak pernah peka dengan keadaan di sekelilingnya, hingga membuat Starla kembali mengutuk Leon sekali lagi.
"Aku senang karena bisa membuatmu bahagia," Ucap Alpha tersenyum tampa basa basi.
Edrea juga sangat bahagia jika selalu melihatku.
Batin Alpha yang kembali mengingat sosok Edrea, tampa ia sadari jika saat ini jantung Starla hampir meledak karena bahagia, sungguh kebahagiaan yang berlipat ganda buat Starla di pagi ini, sebab pria Berta yang di dalam pikirannya adalah seorang yang arogan, dingin, dan irit bicara ternyata hanyalah omong kosong. Sebab kenyataannya Alpha adalah seorang yang sangat menyenangkan, murah senyum dan sangat baik.
Sungguh pria sederhana yang menyenangkan.
Itulah yang ada di dalam benak dan pikiran Starla saat ini.
Hingga suara bel pintu berbunyi, tanda jika ada seorang yang memasuki cafe tersebut.
Jangan bilang jika yang datang adalah...
Tubuh Starla seketika melemas saat apa yang di pikirkannya ternyata benar, sebab seseorang yang sejak tadi ia kutuk kini tengah melangkah kearahnya dengan senyuman khas yang membuat Starla ingin mengecil dan berlari sambil jongkok di pojokan. Di tambah lagi saat ini Leon tengah menampakkan seringaiannya untuk menggoda Starla yang tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya yang tadinya terlihat begitu segar kini terlihat sangat layu.
"Hei, apa dia pengunjung pertama kita di pagi ini?" Goda Leon sambil menarik kursi lain yang berada di samping Alpha dan langsung duduk di samping Starla.
"Aku mohon.. Kau tidak di butuhkan di sini,"
Gumam Starla sedikit berbisik sambil mempertahankan senyumnya di hadapan Alpha, sedang matanya sedikit melotot ke arah Leon yang hanya terbahak saat melihat tingkah Starla.
"Apa kau lupa jika aku bekerja di sini? Aku bahkan lebih di butuhkan di sini." Balas Leon sambil menaikan alisnya berkali-kali.
"Iya sudah kenapa kau tidak ke pantry saja untuk mencuci cangkir kotor, atau membuang sampah, atau kau bisa juga membersihkan toilet," Ucap Starla memohon.
"Yak.. Pria tampan sepertiku mana pantas melakukan pekerjaan seperti itu," Protes Leon.
"Berhentilah saling menggoda," Ucap Alpha.
"KAMI TIDAK SALING MENGGODA."
Jawab Leon dan Starla secara bersamaan yang membuat Alpha tersentak kaget.
"Iya sudah, Yoon kau bisa kan meng-handle semuanya?" Tanya Alpha tersenyum tipis.
"Tentu saja, kau boleh pergi sekarang," Jawab Leon mengangguk pelan.
"Baiklah,"
"Hmm.. Berhati-hatilah."
Balas Leon, begitu juga dengan Alpha yang langsung beranjak dari duduknya, dan tidak lupa pula ia melemparkan senyum ke arah Starla sebelum ia melangkah menuju pintu keluar, hingga 5 menit kemudian motor Alpha terlihat meninggalkan Cafe tersebut, menyisahkan Starla dan Leon yang masih saling menatap satu sama lain.
"Apa lagi?"
Tanya Leon saat mendapati Starla yang tengah menatapnya horor. Namun seketika tatapan itu berubah menjadi berbinar dengan wajah yang di penuhi senyum hingga membuat Leon bergidik ngeri sambil meraba tengkuk lehernya.
"Hentikan, kau sangat menakutkan dengan ekspresi seperti itu." Ucap Leon.
"Ish kenapa kau sangat tidak peka, apa kau tidak akan bertanya sesuatu padaku?" Tanya Starla tersenyum.
"Tampa bertanya pun aku sudah tahu dengan apa yang terjadi," Jawab Leon santai.
"Benarkah?"
"Itu sangat terlihat jelas di wajahmu Starla," Balas Leon seraya mengusap-usap ujung hidung mancungnya seperti kebiasaan yang sering ia lakukan.
"Tapi.. Mau kemana Tuan Khandra di pagi ini?" Tanya Starla sedikit penasaran.
"Mengurus sesuatu hal, sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat ini." Jawab Leon yang membuat Starla terkejut.
"Ha? Maksudmu Cafe ini? Di mana lagi Alpha akan pergi?"
"Alpha?"
"Tuan Khandra, lagi pula Alpha sendiri yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan seperti itu." Balas Starla.
"Benarkah? Wuuaaoooww.. Kemajuan yang cukup pesat, sepertinya Alpha sudah menerimamu untuk menjadi temannya,"
"Maksudnya?" Tanya Starla mengernyit.
"Dia tidak pernah peduli untuk sebutan yang orang tujukan padanya, tapi untuk nama Alpha, kau orang pertama yang ia izinkan untuk memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Tapi Alpha tidak sekedar meninggalkan Cafe ini, tapi juga Negara ini, dan akan kembali ke Negaranya." Balas Leon yang membuat Starla lemas seketika.
"Ma.. Maksudnya Alpha akan pergi? Tapi kenapa? Apa dia akan membuka cabang Cafe baru lagi di sana?" Tanya Starla dengan ekspresi sedihnya.
"Ha? Ca.. Cabang Cafe?" Balas Leon mengernyit bingung.
"Hmm.. Bukankah begitu? Tidak mungkin kan Alpha pulang ke Negaranya dan akan menjadi pengangguran di sana?"
Leon yang mendengar perkataan Starla barusan hanya bisa menarik nafas dalam, ia lupa jika di mata Starla, Alpha Khandra hanyalah seorang pria biasa pemilik Cafe sederhana. Bahkan Starla tidak pernah mengetahui sedikitpun pria seperti apa dan sekaya raya apa Alpha di Negaranya. Sebagai seorang Presiden Direktur di Perusahaan BRT GROUP, Alpha Khandra sangat berhasil menyembunyikan identitasnya dan menggantinya sebagai seorang pria biasa, dan Itulah fakta yang Starla ketahui selama ini. Seolah tidak ingin berdebat dengan Starla, Leon hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Starla yang sekarang nampak terlihat sedih.
"Ada apa lagi dengan wajahmu? Perasaan tadi wajahmu tidak sekusut seperti sekarang ini," Tanya Leon saat menyadari ekspresi yang berbeda dari Starla.
"Kenapa dia harus pergi?" Tanya Starla yang benar-benar terlihat sedih, bahkan matanya terlihat berkaca hingga membuat Leon sedikit khawatir.
"Dia punya alasan untuk pergi." Jawab Leon perlahan.
"Alasan? Apa dia akan menikah?" Tanya Starla.
"Tidak sama sekali, jangankan untuk menikah, kekasih saja dia tidak punya."
Jawab Leon yang membuat Starla seketika terlihat menarik nafas lega, meski masih menyisakan kesedihan di hatinya. Bahkan baru satu jam yang lalu ia akhirnya berbicara dan tersenyum bersama Alpha, hingga saat ia mendengar kabar jika Alpha akan pergi cukup membuatnya terpukul.
"Kau tidak perlu sesedih itu Starla, dia hanya pergi dari Negara ini, bukan meninggalkan dunia ini." Ucap Leon yang berusaha menenangkan Starla.
"Tetap saja, tidak melihatnya sehari saja membuatku sedih,"
"Apa kau begitu mencintainya?" Tanya Leon seraya menatap wajah Starla.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu kan? Dan aku rasa kau juga sudah tahu jawabannya." Jawab Starla berusaha untuk tersenyum dengan air mata yang sudah menetes dari sudut matanya.
"Yah, aku sangat tahu perasaanmu, aku hanya tidak menyangka, kau akan bereaksi seperti sekarang ini." Balas Leon sambil mengusap air mata Starla yang menitik dari sudut matanya. Bahkan ia juga tidak mengerti kenapa Starla bisa sesedih ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Leon perlahan.
"Tidak, kau tau sendiri Yoon.. "
"Jangan seperti ini Starla,"
"Lalu aku harus seperti apa Yoon? Alpha bahkan belum mengetahui perasaanku padanya," Balas Starla yang masih berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa kau tidak mengatakannya saja? katakan jika kau menyukainya."
"Tidak semudah itu," Balas Starla tertunduk.
"Siapa bilang, kau tinggal mengatakannya kan? Itu bukanlah hal yang sulit."
"Tapi aku... "
"Takut jika Alpha akan menolakmu? Kau bahkan belum mencobanya." Ucap Leon.
"Kenapa kau sangat mudah mengucapkan kata itu Yoon?"
"Karena memang itu bukanlah hal yang sulit Starla, aku sarankan, sebaiknya kau cepat mengatakannya sebelum terlambat, adapun Alpha menerimamu ataupun tidak, itu urusan belakangan, yang terpenting saat ini kau bisa mengungkapkan perasaanmu, perasaan yang selama dua tahun ini kau pendam."
"Entahlah Yoon.. Aku hanya merasa takut, kau tau sendiri, ini pertama kalinya aku merasa jatuh cinta dan menyukai seseorang lagi, setelah.."
"Aku tahu, dan bukan saatnya untuk mengingat masa lalu kan?" Balas Leon seraya mengusap pucuk kepala Starla yang masih tertunduk dengan air mata yang kembali menitik dari sudut matanya. Masa lalu yang hampir ia lupakan kini kembali membayanginya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.