I Can'T Have Your Heart.

I Can'T Have Your Heart.
Cukup berada di sisiku.



"Apa kau tak bosan menatapku?" tanya Alpha, menempelkan bibirnya ke telinga sang istri dengan tangan yang terus menurunkan resleting hingga ke pinggang.


Sedang Emery masih terdiam. Bagaimana ia akan merasa bosan, sedang pria itu yang terus memenuhi pikirannya selama bertahun-tahun.


"Ada apa?" tanya Alpha dengan suara berat dengan bibir yang masih bermain di daun telinga sang istri.


"Aku hanya sedang menikmati irama detak jantungku yang terus berdebar sejak tadi."


"Ahh, sejak kapan kau memiliki kata-kata manis seperti itu?"


Emery kembali tersenyum. Sejak dulu ia selalu memiliki kata-kata manis untuk pria itu yang tak pernah ia utarakan, mengingat hubungan mereka yang selalu buruk dulunya.


"Aku merasa jatuh cinta padamu, lagi dan lagi." 


"Apa kau sedang menggodaku sekarang? Kau bahkan membuat jantungku ikut berdebar."


"Kau tak menyukainya?"


"Itu membuat hatiku berbunga bahagia, bagaimana bisa aku tak menyukainya, Emery."


Emery memejam erat dengan napas yang tertahan di tenggorokan hingga beberapa detik sambil meremat kuat gaunnya saat bibir Alpha berpindah di ceruk lehernya, mulai mengecupnya lembut.


"What do you like, my Cherry?" tanya Alpha nampak puas saat melihat hasil karyanya yang terpampang jelas di leher putih mulus sang istri.


"Apa yang kau lakukan dengan leherku?"


"Menghiasi kulitmu, apa itu kurang?" bisik Alpha kembali menciumi bahu dan punggung istrinya yang sudah nampak polos, sebab gaun yang di kenakan Emery sudah terbuka meski belum sepenuhnya.


"Oh no, Sayang. Ini sudah cukup ...." 


Kalimat Emery lagi-lagi tertahan di tenggorokan saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menjalar di separuh tubuhnya. 


"Sayang ... apa yang kau ... lakukan?" Napas Emery mulai terengah menahan sensasi geli di area punggungnya.


"Sedang menikmati istriku," balas Alpha tersenyum, sebelum membalikkan tubuh istrinya memunggungi kaca, dan tanpa babibu langsung menciumi bibir istrinya, ciuman yang semakin panas dan sedikit liar, dengan kedua tangan Alpha yang mulai membuka gaun sang istri hingga membuat tubuh ramping itu nampak polos.


Bahkan cumbuan Alpha membuat Emery tidak menyadari jika saat ini jemari lincah pria itu sudah merambat di punggungnya dan melepaskan kancing bra berenda yang di pakainya. Emery benar-benar terbuai, ia hanya merasakan jika sesuatu sedang bergerak liar di dalam rongga mulutnya, dengan beberapa gigitan lembut di bibirnya.


Hingga di detik kemudian, saat Emery membuka mata. Nampak terhenyak, saat mendapati tubuh polos sang suami yang terpampang di hadapannya, tubuh yang tidak pernah ia lihat selama ini, bahkan selama ia mengenal Alpha, ia sendiri tidak pernah tahu jika tubuh sixpack yang sempurna ternyata di penuhi beberapa bekas luka.


Kenapa kau memiliki begitu banyak luka. Apa saja yang sudah kau lakukan selama ini?  


Tanpa sadar, Emery langsung mengecup beberapa bekas luka di tubuh Alpha, mengusapnya lembut dan kembali mengecupnya. Satu sentuhan yang membuat gairah Alpha memuncak saat tubuh polos sang istri menyentuh tubuhnya, cukup membuat darah Alpha mendidih hingga langsung menarik pinggang istri untuk mendekat padanya.


"Aku bisa gila," gumam Alpha sedikit mendorong tubuh istrinya hingga menempel dinding, dan langsung menunduk, membenamkan wajah di dada istrinya. "Aku benar-benar tidak tahan lagi, bisakah kita melakukan sekarang? Aku berjanji tidak akan menyakitimu," sambungnya.


 Menggendong tubuh sang istri, sebelum melangkah menuju ke tempat tidur dan merebahkannya dengan perlahan di sana, bahkan tak ingin membuang waktu, Alpha langsung mengungkum tubuh istrinya, dan menciumi dahinya lembut.


"I love you, Emery," bisik Alpha sekali lagi sebelum mulai mencumbui istrinya.


Hingga di menit kemudian, ketika ia merasa ada sesuatu yang perih di balik punggungnya, juga cengkraman kuat sang istri yang cukup membuatnya khawatir, terlebih saat melihat air mata yang menitik dari sudut mata Emery yang masih memejam, merasakan perih yang luar biasa, bahkan membuat telinganya berdengung dengan kedua lutut yang bergetar saat merasa jika selaputnya sobek hingga mengeluarkan darah.


 "Emery, kau... Masih virgin?" tanya Alpha tak percaya, bahkan langsung menghentikan pergerakannya. Sangat terkejut ketika mendapati bercak darah di sana.


Hingga sedetik kemudian, saat ia kembali melihat ekspresi kesakitan yang terlihat sangat jelas di wajah yang bahkan sudah di penuhi keringat sang istri yang masih mencengkram pundaknya. Dan ekspresi itu cukup menjawab pertanyaan Alpha, jika selama ini Emery memang masih perawan.


"Aku adalah milikmu, Alpha. Tubuh dan semua yang ada pada diriku adalah milikmu, maka dari itu, aku selalu menjaganya untukmu," ucap Emery yang perlahan membuka mata, sambil menangkup wajah suaminya, mengusap butiran bening yang membasahi wajah sang kekasih tercinta, sebelum mengecup dahi itu lembut sambil menikmati sensasi perih yang luar biasa di sana.


"Terima kasih, Emery, sungguh aku berterima kasih padamu, kau benar-benar menjaga dirimu dengan sangat baik," balas Alpha kembali mengecup dahi sang istri, bersamaan dengan air mata yang kembali menitik dari sudut mata, ia tidak pernah menyangka, jika selama ini Emery benar-benar menjaga semuanya, dan juga menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.


Sedikit lega, bahkan sangat bersyukur, sebab selama ini ia juga tidak memiliki niat sekalipun untuk tidur dengan seorang wanita, meskipun kebanyakan wanita menginginkan bahkan langsung mengangkang di hadapannya untuk minta di tiduri. Dan Emery adalah wanita satu-satunya yang ia sentuh, wanita yang sudah menjadi miliknya, yang ia nikahi beberapa jam yang lalu.


"Aku mencintaimu, Emery. Sungguh mencintaimu," bisik Alpha yang terus mengungkapkan perasaannya seolah tak bosan.


"Apa kita bisa melanjutkan ini? Kau masih merasa perih?" tanya Alpha justru merasa khawatir.


"Ya, jika kau bisa menahannya sedikit saja."


"Hmm, aku percaya padamu. Kau tak akan menyakitiku, kan?"


Alpha tersenyum sambil mengusap dahi istrinya.


"Yang benar saja. Rasa sakit ini tak akan membuatmu patah hati," goda Alpha, sebelum kembali melanjutkan aktifitasnya.


Sungguh di luar dugaan. Apa yang ia katakan 'perlahan' dan 'tak akan lama' hanyalah omong kosong belaka. Sebab yang terjadi sekarang, ia benar-benar membuat sang istri kehabisan tenaga dan kelelahan sepanjang malam, membuat Emery terus meneriakkan namanya, hingga berakhir tertidur di pukul tiga pagi, bahkan tak bergerak saat Alpha menggendong dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sebelum terlelap di dalam pelukan hangat pria itu.


"Aku mencintaimu, Emery. Sangat mencintaimu. Dan terima kasih untuk semuanya," bisik Alpha menghirup aroma manis di rambut sang istri, sebelum ikut memejam.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku, Alpha," balas Emery dengan suara seraknya, mendongak untuk menatap wajah sang suami sekali lagi. "Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"


"Hmm, tentu."


"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?"


"Mungkin sejak kita terpisah, saat kau menghilang secara tiba-tiba di rumah sakit saat itu."


"Benarkah?" tanya Emery tak percaya, bahkan masih menatap wajah Alpha yang sekarang balas menatapnya, mengecup dan mengelus pucuk kepalanya lembut.


"Ya, aku rasa aku mulai memikirkanmu sejak saat itu. Aku merasa khawatir, apa kau baik-baik saja ketika jauh dariku," balas Alpha.


Menarik nafas berat saat tak sengaja melihat bekas luka di betis sang istri, yang ia yakin bekas luka itu istrinya dapatkan karena pecahan kaca dari vas bunga yang di lemparnya dalam kondisi marah waktu itu.


"Bekas luka itu ...."


Kalimat Alpha tertahan di tenggorokan.


"Apa tak bisa hilang?"


"Bisa saja, jika aku menghilangkannya. Tapi aku tidak ingin melakukannya."


Alis Alpha mengernyit. Kembali menatap wajah sang istri.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin melupakan semua hal yang menyangkut tentang dirimu. Aku tidak ingin melupakanmu."


"Tapi itu adalah kenangan buruk yang seharusnya kau lupakan. Aku menyakitimu saat itu, bahkan tak hanya hati dan perasaanmu. Tapi juga tubuhmu. Aku selalu bersikap jahat padamu."


Emery terdiam hingga beberapa menit. Haruskah ia mengatakannya jika sedikit pun ia tak pernah marah ataupun menaruh dendam atas segala tindakan buruk Alpha padanya selama ini.


"Maafkan aku, Emery."


"Sejujurnya, aku sudah tak ingin jika kau terus mengucapkan maaf, Alpha."


"Aku memang harus mengucapkannya, bahkan seribu kata maaf tak akan mampu mengobati luka hatimu, aku sungguh ...."


"Kau sudah cukup mengucapkannya saat itu, dan aku benar-benar sudah tak ingin mendengarnya. Karena aku tahu, jika kau tak akan pernah menyakitiku lagi. Bukankah kita harus sepakat untuk tak mengingat kenangan buruk itu lagi?"


Tak mengatakan apa pun, Alpha hanya bisa tersenyum sebelum kembali menarik tubuh istrinya dan di tenggelamkan ke dalam pelukannya.


"Aku selalu merasakan ketakutan. Jika saja aku tak bisa membahagiakanmu, Emery," bisik Alpha.


"Selama kau berada di sisiku, maka kebahagiaan itu akan terus aku rasakan. Cukup berada di sisiku saja," balas Emery memejam dengan kenyamanan yang lekas membawanya ke alam mimpi yang indah.


Entah apa yang akan terjadi pada hubungan mereka nantinya. Selama Alpha terus memeluk dan menggenggam tangannya. Ia tak akan mencemaskan apa pun lagi sekarang.


***