
* HOSPITAL.
Dengan langkah tergesa, Leon mengintari lorong rumah sakit dengan kedua pengawal yang mengikutinya untuk menjemput Starla yang sudah di setujui oleh Dokter Hanenda untuk pulang, meski akhirnya Leon di kejutkan oleh keadaan kamar Starla yang sudah kosong, bahkan terlihat sangat berantakan.
"Oh tidak... STARLAAA.... " Teriak Leon yang sejak tadi sudah mendapatkan firasat buruk, sejak Akirra pengawal pribadi Alpa yang di tugaskan untuk menjaga kamar Starla mengabaikan telfon darinya, bahkan perasaan Leon semakin tidak tenang saat melihat Akirra tidak berada di depan pintu kamar Starla.
"Kemana Akirra? Cari dia sekarang." Perintah Leon kepada kedua pengawalnya yang langsung bergegas.
"Maaf.. Apa kalian melihat pasien di kamar ini?" Tanya Leon pada kedua orang perawat yang tiba-tiba langsung saling menatap satu sama lain.
"Maksud anda, Nona Starla Galenka?"
"Benar, kemana dia?"
"Tapi baru beberapa menit lalu kami bersama dengan Dokter Hanenda ke kamar Nona Starla untuk memeriksa kondisinya,"
"Apa? Tapi sekarang kamarnya kosong, apa kau tidak melihatnya?"
"Ma... Maaf Tuan kami... "
"Aiish.. "
Dengan penuh kepanikan Leon berlari menuju kamar mandi meninggalkan dua perawat tersebut yang masih kebingungan, untuk mencari sosok Starla, meski ia tidak melihat siapapun di sana.
"ARRGGHHH SIAAAL..." Umpat Leon semakin panik dan kembali menghubungi Dareen.
"Tuan muda.. Apa yang terjadi?" Tanya Dokter Hanenda yang tiba-tiba datang menghampiri Leon.
"Starla tiba-tiba saja menghilang, ke mana dia?"
"Apa? Hilang? Tapi.. 15 menit lalu saya baru saja memeriksa kondisinya, dan Nona Starla dalam keadaan tidur. Mana mungkin Nona Starla menghilang begitu saja." Balas Dokter Hanenda yang juga terlihat bingung dan panik.
"Apa Dokter yakin? Atau.. Apa Dokter tidak melihat ada yang mencurigakan akhir-akhir ini?" Tanya Leon.
"Saya rasa tidak, semua baik-baik saja. Sebenarnya ada apa Tuan muda?"
"Sesuatu yang buruk telah terjadi Dokter,"
"Maksud anda?"
"AAARGGHH... DI MANA DIA.. " Teriak Leon terlihat prustrasi.
"Tuan Leon, tenanglah.. atau bagaimana kalau kita memeriksa CCTV."
"Astaga, kenapa aku sampai melupakan hal itu.. " Balas Leon tampa berfikir panjang dan langsung mengikuti langkah lebar Dokter Hanenda yang menuju ke ruang kontrol keamanan.
"Selamat siang Tuan muda, ada yang bisa kami.... "
"Tunjukan rekaman CCTV dari pukul 7 pagi sampai pukul 9 pagi, di kamar pasien atas nama Nona Starla Galenka."
"Tapi Tuan sistem..... "
"SEKARANG... " Bentak Leon dengan tatapan horornya yang sepertinya mulai lepas kendali, bahkan dalam keadaan tidak sadar Leon menggebrak sebuah meja yang membuat Dokter Hanenda hanya bisa menarik nafas panjang tampa berkomentar apapun, begitu pula dengan kedua karyawan yang bertugas sebagai pengawas di ruangan tersebut yang hanya bisa terdiam sambil mulai memutar rekaman CCTV yang di minta Leon.
Mata tajam Leon nampak terlihat fokus pada layar monitor untuk melihat kejadian apa saja yang terjadi di depan kamar inap Starla pagi tadi. Lama mereka menunggu untuk memastikan jika ada yang mencurigakan di sana, namun tidak terlihat satupun kejanggalan di sana, hanya ada beberapa perawat yang terlihat memasuki kamar inap Starla. Hingga jam menunjukan pukul 8.30 tepat usai pemeriksaan kondisi Starla yang di lakukan oleh Dokter Hanenda.
"Tunggu." Seru Leon yang dengan tajam menatap layar monitor.
"Akirra.. Mau kemana dia?" Tanya Leon saat melihat Akirra di dalam video tersebut sedang melangkah meninggalkan kamar inap Starla tidak lama setelah pemeriksaan Starla usai, bahkan sampai satu jam, Akirra tidak kembali, hanya ada dua orang perawat yang masuk di sana dan keluar setelah 10 menit.
"Apa yang terjadi dengan Akirra?" Tanya Leon semakin gelisah. Hingga mata tajamnya menangkap dua sosok berseragam hitam yang nampak memasuki ruangan tersebut, namun yang anehnya di saat mereka keluar dari kamar Starla, tidak ada siapapun yang bersama mereka.
"Apa kau bisa mencetak gambar kedua orang itu?" Tanya Leon.
"Bisa Tuan, kami akan mencetaknya untuk anda."
"Secepatnya."
"Iya Tuan.."
"Dan.. Kemana saja kalian? Kenapa sampai ada kejadian seperti ini dan kalian tidak menyadarinya? Apa kalian tidur? APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN?" Tanya Leon dengan nada meninggi yang membuat karyawan tersebut kembali tertunduk dengan wajah pucat pasi.
"Ma.. Maafkan kami Tuan, kami lalai. Dan kami siap menerima hukuman."
"Tentu saja kalian akan mendapatkannya, jika terjadi apa-apa dengan pasien VIP tersebut. Sebaiknya persiapkan diri kalian." Balas Leon dengan wajah gelapnya.
"Tuan muda, kontrol emosi anda. Setidaknya kita sudah mendapatkan bukti gambar kedua pria tersebut." Ucap Dokter Hanenda yang berusaha menenangkan Leon.
"Tapi di mana kita bisa mencari bajingan-bajingan ini?" Tanya Leon yang sudah terlihat nampak geram hingga suara Dareen terdengar tengah berbicara dengan seseorang lewat panggilan telfon, dan sangat terdengar jelas di pendengaran Leon, karena jarak mereka yang tidak begitu jauh. Bahkan Leon semakin panik saat melihat ekspresi Dareen yang tiba-tiba berubah.
"Dareen.. " Seru Leon saat keluar dari ruang pengawasan dan langsung menghampiri Dareen yang tengah memijat pangkal hidungnya.
"Mereka menemukan mobil yang di kendarai Akirra terbakar di simpang jalan tidak jauh dari sini."
"Apa? Lalu.. Di mana Akirra?"
"Akirra berada di dalam mobil tersebut, dengan keadaan yang...."
"ARRGGHHH... BRENGSEEEEK.." Teriak Leon hilang kendali dan langsung refleks menendang jejeran kursi di hadapannya, bahkan pilar juga menjadi sasaran Leon yang dengan berkali-kali memukul pilar tersebut hingga punggung tangannya terlihat memar.
"Yoon.. Tenanglah.. "
"Bagaimana aku bisa tenang, Starla.. Aku yakin Dareen, dia pasti di culik, tapi siapa pelakunya?"
"Seseorang yang bisa kita curigai saat ini hanyalah Tuan Tiar Galenka, sebab dia tahu, jika Nona Starla memiliki hubungan dengan Lucas, putra Tuan Fredell yang saya yakin sudah menjadi incarannya sejak dulu."
"ARRGGHHH... "
"Leon... Tenanglah, kita harus berfikiran jernih,"
"Kita gagal melindungi Starla, dan Alpha.. Arrghh sialan... Bangsat.."
"Leon.. Kita masih berada di rumah sakit sekarang, tidak ada jalan lain, kita harus menghubungi Lucas."
"Baiklah.. Aku akan menghubungi beberapa pengawal untuk bersiap jika ada hal yang mendesak, dan ingat, Nyonya Aleen tidak boleh mengetahui hal ini."
"Iya, saya mengerti." Ucap Dareen yang langsung melangkah sambil mengubungi seseorang di ponselnya, begitupula dengan Leon. Hingga beberapa menit kemudian terlihat Leon dan Dareen keluar dari rumah sakit yang di jemput beberapa pengawal pribadi keluarga Berta.
* * * * *
* APARTEMEN KANG DANIEL.
"Kak.. KAK DANIEL... " Teriak Lucas sambil terus menggedor pintu kamar Kang Daniel yang masih tertutup rapat.
"KAK DANIEL... KAK... " Teriakan Lucas yang masih menggedor pintu kamar tersebut hingga akhirnya ia mendengar suara knop pintu kamar tersebut, bahkan sebelum pintu itu terbuka, Lucas dengan cepat mendorong pintu tersebut hingga membuat Kang Daniel yang masih mengumpulkan nyawanya menjadi tersentak.
"Ada apa?" Tanya Kang Daniel dengan tatapan kesalnya.
"Kau.. "
"Aku sangat kelaparan, menunggu kakak semalam membuatku Lupa untuk makan. Apa menjadi seorang pengawal pribadi mengharuskan kakak untuk pulang subuh?"
"Apa kau bocah? Apa kau tidak bisa memesan makan sendiri? Bahkan aku sudah menyiapkan makanan di.... "
"Ah baiklah.. Baiklah.. Cukup. Kakak begitu bawel, cepat lah.." Balas Lucas seraya menyilangkan kedua tangannya di depan wajah Kang Daniel.
"Apa?"
"Buatkan aku sarapan."
"10 menit lagi,"
"Tapi aku.... "
"Lucas.. " Balas Kang Daniel dengan tatapan horornya yang membuat Lucas membungkam mulutnya.
"Baiklah.. 10 menit."
"Hm," Jawab Kang Daniel yang kembali menutup pintu kamarnya, menyisahkan Lucas yang masih berdiri di depan pintu Kang Daniel dengan wajah datar sambil memegangi perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi.
"Aisshh.. Apalagi sekarang.." Ucap Lucas saat suara ponselnya terus berbunyi sejak tadi. Meskipun Lucas sudah mengabaikan panggilan tersebut, namun ponselnya masih terus berdering.
"Halo.. "
"Beraninya kau mengabaikan panggilan dariku."
"Apa? Siapa kau?"
"Apa aku perlu memperkenalkan diri dulu? Aku rasa kau cukup membuang waktuku,"
"Sialan.. SIAPA KAMU."
"Saat kau mendengar nama Starla, apa kau masih berteriak padaku?"
"Apa? Starla?"
"Gadis yang sangat kau cintai sekarang tengah bersamaku, sebaiknya jaga sikapmu dan turuti perintahku."
"Apa? Kau berani mengancamku bangsat? SIAPA KAU? JANGAN MEMBOHONGIKU ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU."
"Cuih.. Kau memang sangat mirip dengan Ayahmu, sebaiknya tutup mulutmu, apa aku perlu mengirim sekantung darah kekasihmu? Atau kau ingin bukti lain seperti sebuah jari tangan? Atau kau ingin mendengar jeritannya saat anak buahku bermain-main dengannya?"
Ucap seseorang di sebrang sana hingga beberapa detik kemudian Lucas mendengar suara jeritan seorang wanita.
Starla...
"BRENGSEEEEK.. SIAPA KAU? JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA SIALAN.. ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU."
"DIAM, Jika kau ingin gadismu selamat, datang lah menjemputnya, sendiri. Ingat aku bukan tipe orang yang mau menunggu lama, apa kau mengerti?"
"YAAK... KAU.... "
Panggilanpun terputus hingga membuat Lucas semakin panik. Dengan keras ia mencengkram rambutnya sambil terus berjalan mondar mandir dengan tatapan yang terus tertuju di layar ponselnya.
"DI MANA KALIAN BRENGSEK." Teriak Lucas saat tidak kunjung mendapat notifikasi dari sang penelfon misterius, hingga beberapa detik berlalu ponsel Lucas kembali berbunyi dengan satu pesan notifikasi yang masuk dari ponselnya. Dan disana tertulis jelas lokasi di mana Heejin di sekap sekarang, mereka bahkan mengirim sebuah foto seorang gadis yang tengah terbaring dengan tangan dan kaki yang terikat, meski wajah gadis itu tidak terlihat jelas, namun pakaian yang di kenakan gadis itu sungguh tidak asing bagi Lucas yang sudah sangat mengenal Starla.
Starla.. Apa yang sudah mereka lakukan padamu.
Wajah Lucas memerah menahan amarah, bahkan matanya terlihat berkaca, dengan tangan yang nampak bergetar saat tatapan terus tertuju pada layar ponselnya.
"Lucas.. Apa yang terjadi?" Tanya Kang Daniel yang baru saja keluar dari kamarnya dengan handuk kecil yang masih melingkar di lehernya, bahkan rambutnya masih terlihat sedikit basah.
"Tidak.. Tidak apa-apa.. Aku.. Aku hanya sedikit lapar.." Jawab Lucas terbata dan langsung memasukkan ponselnya di dalam saku piyamanya.
"Apa kau yakin? Tapi kau nampak terlihat aneh."
"Kakak kenapa begitu cerewet, aku baik-baik saja, cepatlah buatkan aku sarapan, aku benar-benar lapar, bahkan aku merasa akan pingsan sekarang." Balas Lucas dengan candaannya sambil terus mengusap-usap perutnya.
"Astaga, kau benar-benar menyebalkan." Ucap Kang Daniel menggeleng perlahan.
"Baiklah.. Aku akan keluar sebentar untuk membeli beberapa botol minuman isotonik."
"Hm, Cepatlah kembali."
"Pasti, aku mana mungkin melewatkan sarapan buatan kakak." Jawab Lucas yang langsung berjalan ke kamarnya untuk mengganti bajunya, dengan perlahan Lucas membuka sebuah laci dan mengambil sepucuk pistol milik Kang Daniel untuk diselipkan di balik Hoodie yang ia kenakan. Hingga 10 menit berlalu Lucas terlihat nampak meninggalkan Apartemen dengan mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi, Lucas melajukan mobilnya melewati jalan setapak yang terlihat sepi, bahkan tidak terdapat rumah satupun disana, hanya ada jejeran pohon pinus di kiri kanan jalan tersebut. Hingga mobil yang di kendarai Lucas memelan saat ia melihat sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah sangat lama tidak berpenghuni, dan itu terlihat jelas dari pilarnya yang berlumut, dan di penuhi tumbuhan merambat dan rumput liar.
Tampa berfikir panjang, Lucas mengambil sepucuk pistol yang sejak tadi terselip di balik hoodienya dan perlahan turun dari mobilnya, berjalan sambil mengendap masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun belum jauh Lucas melangkah, terdengar suara tembakan yang memenuhi pendengarannya bersamaan dengan langkahnya yang terhenti, bahkan kaki kanannya tiba-tiba terasa nyeri dan tidak mampu untuk berdiri lebih lama lagi, saat peluru panasĀ bersarang di pahanya.
"Aarrgghh... "
Erangan Lucas menahan rasa nyeri sambil memegangi pahanya yang sudah di penuhi darah segar. Bahkan belum sempat Lucas berdiri, tiba-tiba ia merasakan benda keras menghantam kepalanya hingga sedetik kemudian tubuh Lucas tersungkur di atas ubin berdebu, perlahan pandangannya kabur dengan nafas yang tersengal, samar-samar Lucas melihat beberapa pria tinggi menghampirinya, menyeret tubuhnya yang sudah tidak berdaya dan langsung mengikatnya di sebuah kursi tepat di depan seorang gadis yang juga tengah duduk dengan tubuh terikat.
"Starla.. "
Gumam Lucas yang akhirnya pingsan dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
* * * * *
Sementara di tempat lain, di satu ruangan yang nampak terlihat remang dengan pencahayaan yang kurang, nampak Alpha yang tengah duduk di sebuah kursi dengan tatapan yang tidak luput dari sosok yang saat ini tengah tertidur di atas sebuah ranjang. Hingga beberapa menit berlalu Alpha dapat melihat pergerakan dari sosok tersebut yang membuat Alpha beranjak dari duduknya dan menghampiri ranjang tersebut.
"Kau sudah bangun?"
"Alpha? Apa ini kau?"
"Iya, ini aku.." Jawab Alpha tersenyum sambil mengusap surai panjang tersebut, bahkan tampa menunggu lama Alpha langsung meraih tubuh yang nampak terlihat lemah tersebut untuk di dekapnya.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Alpha dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Kau terlalu lama Alpha.. Aku sudah lama menunggumu, ke mana saja kau? Kau membuatku takut, bahkan membuatku sedih karena selalu memikirkanmu." Ucap gadis itu dengan suara seraknya.
"Maafkan aku.. Maaf atas semua air mata yang sudah kau keluarkan untukku selama ini, aku berjanji akan membayar semuanya."
"Berjanjilah... Jangan pernah meninggalkanku lagi,"
"Aku berjanji." Balas Alpha yang semakin erat memeluk tubuh gadis itu.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.