
"APA? GAGAL? SIAL.. " Teriak Tuan Chris geram.
"Ma.. Maaf Tuan,"
"Melumpuhkan satu orang saja kalian tidak becus."
"Maaf Tuan, tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang dan langsung menolongnya." Jawab Kang Daniel.
"ARRRGGGHHH SIAL.. CARI GADIS ITU." perintah Tuan Chris.
"Baik Tuan, kami akan mencari informasi tentang gadis itu."
"Sebaiknya kau bergegas, kau tau kan aku tidak bisa menunggu lama." Ucap Tuan Chris sambil menenggak winenya hingga tandas.
"Baik Tuan, saya akan segera menyelidikinya."
"Lekaslah.. Kalau perlu buat gadis itu cacat seumur hidupnya karena sudah berani mencampuri urusanku."
"Iya Tuan." Balas Kang Daniel mengangguk pelan.
"Bagus, lalu? Bagaimana dengan orang kita yang tertangkap?"
"Tuan bisa tenang sekarang, sebab dia tidak akan pernah buka mulut."
"Pastikan itu, jika dia berani buka mulut, bunuh semua keluarganya."
"Baik Tuan." Jawab Daniel membungkuk perlahan.
* * * * *
* MANSION ALPHA KHANDRA BERTA.
Dengan wajah yang terlihat panik Areta terus mengetuk pintu kamar Emery yang sejak tadi terkunci dengan rapat. Sejak pertengkaran Emery dengan suaminya Alpha, Emery langsung mengurung dirinya di dalam kamar, bahkan sudah beberapa jam ia tidak kunjung keluar juga, dan hak itu membuat Emery semakin gelisah saat ia tidak mendengar suara Emery di dalam sana. Dengan tergesa-gesa Areta kembali berlari kecil menuju sebuah lemari, dan membuka laci yang di sana terdapat semua kunci duplikat kamar di mansion itu.
Dan saat pintu kamar itu berhasil di buka, mata Areta melebar dengan mulut mengaga saat melihat Emery terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan mulut yang sudah di penuhi busa. Bahkan Areta juga melihat beberapa pil obat yang berserakan di lantai kamarnya.
"TIDAK.. NYONYA... "
Teriak Areta panik dan langsung berlari menghampiri tempat tidur di mana tubuh Emery terbaring, bahkan tampa berfikir panjang lagi, Areta langsung meraih tubuh itu dan langsung di peluknya. Tubuh yang sudah terasa dingin dengan nadi yang mulai melemah. Meski masih ada detak jantung di sana.
Beberapa pelayan masuk untuk membantu Areta mengangkat tubuh Emery dan langsung membawanya ke dalam mobil untuk menuju kerumah sakit.
* * * * *
Tubuh Emery terbaring lemah di atas sebuah ranjang rumah sakit dengan alat bantu oksigen yang masih menempel di hidungnya. Kondisinya cukup parah, bahkan sudah 10 jam berlalu namun ia masih belum sadarkan diri.
Hanya ada Areta yang nampak cemas dan ketakutan sambil meremas jari jari tangannya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, saat melihat tubuh Emery dari luar ruangan. Hingga indra pendengarannya tertuju pada suara langkah kaki yang tidak asing di telinga wanita itu, bahkan ia langsung terkejut saat melihat wajah gelap Tuan Chris yang semakin mendekati kamar inap Emery, yang digunakan susul oleh Asistennya Kang Daniel juga ke empat pengawalnya yang selalu mengikutinya.
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Tuan Chris tampa basa basi dan langsung masuk ke dalam ruangan anaknya yang di susul oleh Emery. sedang Daniel hanya menunggu di luar bersama pengawalnya.
"Nyo.. Nyonya belum sadarkan diri Tuan." Jawab Areta terbata.
"APA?"
Teriak Tuan Chris dengan wajah yang terlihat sangat menakutkan hingga membuat tubuh Areta bergetar saat mulai melihat amarah di wajah Tuan Chris.
"Iy.. Iya Tuan."
"Sebenarnya apa yg terjadi?"
"Nyo... Nyonya terlalu banyak mengkonsumsi obat penenang hingga over dosis dan... "
"Apa? Obat penenang? Sejak kapan anak itu mengkonsumsi obat penenang?"
"Ma.. Maaf Tuan, sa.. Saya juga tidak tau sejak ka.... "
PLAAK.. PLAAK..
Tamparan keras mendarat di wajah Areta berulang kali, yang membuat tubuh wanita itu terjatuh ke lantai.
"Bukankah sudah aku katakan agar kau menjaganya seperti kau menjaga nyawamu sendiri?" Ucap Tuan Chris sambil menatap Areta tajam
"Ma.. Maafkan saya Tuan."
"Tsk, dengar baik baik. aku akan membunuhmu jika sesuatu terjadi padanya."
"Ma..aafkan saya Tuan, saya lalai.." Balas Areta terbatah sambil terus memegangi pipinya yang terasa panas dan sudah mulai memerah.
Perlahan Tuan Chris melangkah mendekati wanita paru baya tersebut dengan sedikit membungkuk dan Dengan keras Tuan Chris mencengkram pipi wanita itu dengan sangat kasar.
"Apa kau sengaja untuk membuat rencana yang sudah aku susun selama ini gagal?" Tanya Tuan Chris yang semakin keras mencengkram pipi Areta.
"Ma.. Maksud Tu.. Tuan?"
"Tsk, dasar bodoh, aku tidak akan melepaskan mu jika terjadi sesuatu pada anak itu, dia harus hidup agar rencanaku bisa berjalan dengan lancar. Apa kau mengerti?" Ucap Tuan Chris dengan senyuman iblisnya yang membuat tubuh Areta semakin bergetar, air mata wanita itu mengalir deras membasahi wajah dan sudut bibirnya yang terlihat sobek dan mengeluarkan darah akibat tamparan keras Tuan Chris yang sudah berlalu dari hadapannya.
Bahkan sampai keluar dari ruangan anaknya pun, Tuan Chris masih terlihat sangat marah, hingga mobil yang ia tumpangi meninggalkan Rumah sakit tersebut. Di tengah perjalanan nampak Tuan Chris mengepalkan kuat tangannya hingga buku buku jarinya terlihat memutih.
"Jadi begitu rupanya permainanmu, dasar bajingan." Umpat Tuan Chris geram.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang Tuan?" Tanya Kang Daniel.
"Menghancurkan anak itu tentu saja, dia bahkan sengaja membuat Emery agar membunuh dirinya sendiri." Jawab Tuan Chris.
"Tapi apa tujuannya? Kecuali dia.."
"Apa?"
"Apa mungkin Tuan Alpha sudah mengetahui tentang kejadian 24 tahun lalu?" Ucap Daniel yang sempat membuat Tuan Chris terdiam sambil menyatukan keningnya.
"Bukankah kita sudah menghilangkan semua bukti pada saat itu?" Tanya Tuan Chris lagi.
"Benar Tuan, bahkan polisi saja tidak menemukan bukti apa apa pada saat itu."
"Lalu apa tujuan anak sialan itu?"
"Pasti ada motif di balik itu semua Tuan, bahkan Tuan Alpha dengan cepat menerima perjodohan itu tampa ada kata penolakan sedikitpun."
"Kau benar Daniel, sialan.. Aku bahkan tidak memikirkan itu, aku pikir dia tertarik pada umpan ku."
"Dan juga selang 5 tahun ini omset kita selalu menurun, kita selalu mengalami kerugian besar, bahkan sudah beberapa kali perusahaan kita kena hacker, dan itu semua ulah Tuan Alpha, dan yang parahnya kita tidak bisa sama sekali menembus akses mereka." Jelas Kang Daniel yang membuat Tuan Chris semakin geram.
"Anak sialan itu."
"Saya hanya sedang berfikir, apa mungkin.. "
"Tidak.. Tidak ada yang mengetahuinya, tidak mungkin." Balas Tuan Chris yang langsung paham dengan apa yang di maksud oleh asistennya.
"Tapi Tuan, kita sudah melupakan satu hal yang penting,"
"Apa?"
"Tidak, tidak mungkin dia, kau tau sendiri Daniel, kondisinya saat itu sangat tidak memungkinkan untuknya membuka mulut, aku bahkan belum mengetahui keberadaannya sekarang." Ucap Tuan Chris yang tiba-tiba terlihat resah, saat Kang Daniel mengingatkannya ke pada seseorang.
"Apa mungkin Nyonya sudah meninggal dunia?"
"TIDAK.. dia bahkan tidak berhak untuk mati dan pergi meninggalkan aku sendirian, aku akan terus mencarinya."
"Kita bahkan sudah mengelilingi seluruh negara untuk mencarinya Tuan."
"Terus cari. Aku yakin dia masih hidup. dan aku tidak mau kehilangan dia."
"Baik Tuan, orang kita masih terus mencari keberadaan Nyonya besar."
"Bagus." Balas Tuan Chris menatap tajam keluar jendela mobilnya, kebencian dan kesedihan terlihat jelas di mata tajamnya.
Kau Jangan coba coba meninggalkan ku, kau tidak berhak melakukan itu.
"Lalu gadis itu?" Tanya Tuan Chris.
"Tenang saja Tuan, Kita tinggal menunggu kabar saja. Orang kita sudah mengawasi gadis itu, dan sebentar lagi akan segera membereskannya." Jawab Kang Daniel merasa yakin.
"Sebaiknya Jangan membuat ku kecewa kali ini Daniel, aku akan terus menghabisi orang-orang yang berada di sekitar anak sialan itu."
"Kali ini saya pastikan, rencana kita akan berhasil."
* * * * *
Dengan langkah sedikit di percepat, Edrea melangkahkan kakinya mengintari jalan raya yang sudah terlihat sepi. Malam ini ia terpaksa pulang cukup larut, sebab ia memiliki banyak pengunjung di supermarket, dan mengharuskan dirinya untuk lembur. Namun baru setengah perjalanan pulang langkah Edrea terhenti oleh sebuah mobil range rover hitam yang berhenti tepat di hadapannya.
Matanya seketika melebar saat melihat tiga orang berseragam hitam turun dari mobilnya dan langsung menghampirinya. Bahkan belum sempat Edrea berlari tangannya sudah di cengkram oleh seorang dari mereka dengan sangat keras hingga membuat Edrea meringis kesakitan.
"Si.. Siapa kalian.. Lepas.. Lepaskan aku.."
Pinta Edrea merontah Saat tangan kekar itu semakin keras mencengkram tangannya hingga ia merasakan tangannya mulai keram.
"Haruskah aku memperkenalkan diri dulu sebelum membunuhmu? Sayang sekali Nona, aku tidak sesopan itu." Jawab pria berpakaian hitam tersebut. sambil mengeluarkan senyum smirknya yang membuat Edrea semakin merasa ketakutan.
"Ap.. Apa..?"
Tanya Edrea tergagap yang tiba-tiba membuat tubuhnya bergetar saat sebuah pistol sudah menempel tepat di kepalanya.
"Ti.. Tidak.. Jangaaan.. Ibuku menungguku di rumah.. Biarkan aku pergi.. Aku mohon.. "
"HAHAHAHAHA... Tuan kami tidak pernah mengajarkan kami untuk melepaskan mangsa begitu saja Nona."
"Ta.. Tapi apa salahku? Aku bahkan tidak mengenal kalian." Tanya Edrea dengan wajah yang semakin pucat.
"Kau benar benar tidak mengetahui apa kesalahanmu?Kau terlalu banyak mencampuri urusan kami Nona, seharusnya saat itu kau diam saja di tempatmu, bukannya berlari menyelamatkan pria itu." Jawab pria itu yang membuat Edrea terkejut.
"Ap.. Apa??"
Tanya Edrea dengan kening yang menyatu, hingga kejadian tempo hari saat ia mendorong tubuh seorang pria untuk menyelamatkannya dari pengendara mobil yang sengaja ingin menabrak pria itu tiba-tiba terlintas di ingatannya, hingga membuat mata Edrea melebar sempurna.
"Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya?" Tanya pria itu tersenyum miring dengan tangan yang masih mencengkram kuat tangan Edrea.
"Ja.. Jadi kalian yang... "
"Tidak perlu terkejut sperti itu, seharusnya pria itu sudah mati sekarang dan membusuk di neraka, kalau bukan karena dirimu."
"Brengsek kalian.. LEPASKAAN... "
Teriak Edrea yang dengan sekuat tenaga menginjak kaki pria tersebut yang langsung meringis kesakitan dan melepaskan cengkraman tangannya, dan kesempatan tersebut langsung di gunakan Edrea untuk melarikan diri meskipun ia sadari jika berlari adalah hal yang sia sia, sebab kedua pria lain sudah berada tepat di hadapannya saat tidak sengaja kakinya tersandung dan membuatnya merangkak di atas jalan raya.
"BIARKAN AKU PERGIIII.... ARRRGGGHHH...."
Teriak Edrea dengan sangat kencang di saat pria di hadapannya kembali mencengkram keras rambut Edrea sambil menyeret tubuh itu, hingga membuat Edrea terus menjerit menahan sakit di kepala dan sekujur tubuhnya yang kini sedang beradu dengan aspal. Dengan sekuat tenaga Edrea berusaha bangkit saat pria berjaket hitam itu kembali mendekatinya.
"Beraninya kau."
BUUGGHH..
Pukulan keras tepat mendarat di perut Edrea yang membuat gadis itu membungkuk mengerang menahan sakit sambil memegangi perutnya yang membuatnya terbatuk di sertai darah kental yang keluar dari mulutnya. Bahkan tidak sampai di situ, pria itu kembali menendang tubuh Edrea dengan sangat keras hingga membuatnya tersungkur ke jalan dengan tubuh yang bergetar menahan sakit.
Ibu.. Selamatkan Rea..
"Kau pikir bisa lolos begitu saja?" Tanya Pria itu. "Dasar bodoh."
"ARRGGGHHH... Sakiiit hiikss.. "
Jerit Edrea saat pria itu mencengkram rambutnya keras dan memaksanya untuk berdiri, sedang tangan yang satunya mulai mengambil sebuah Tang berukuran besar yang ia selipkan di punggungnya.
"Silahkan. Kau bisa berteriak dengan sekuat tenagamu, mungkin pria yang kau selamatkan itu bisa datang untuk menyelamatkan nyawamu, atau dia bisa menukar nyawanya dengan nyawamu."
"Aakkhh.. Ak.. Aku mohoonn.. "
"Peluru akan membunuhmu dengan cara yang cepat, dan itu tidak menarik." Ucap Xuan dengan senyum smirknya. Mata Edrea melebar saat melihat tang ukuran besar yang berada di dalam genggam Xuan tersebut mulai di arahkan padanya. air matanya mengalir sambil menggeleng dengan cepat, sedangkan kedua tangannya masih memegang tangan Xuan yang yerus mencengkram keras rambutnya.
"Tidak.. Tidak.. Ja.. Jangan lakukan itu.. TIDAK IBUUUU... AAAHHKK..... "
Teriakan Edrea terhenti saat benda keras tersebut menghantam kepalanya yang langsung membuat darah kental mengucur deras memenuhi wajahnya. Tubuh Edrea bergetar, dan langsung tersungkur ke jalan bersamaan dengan darah kental yang ia muntahkan. Tatapan matanya berubah kabur dan menghitam, tubuhnya terasa ringan, pendengarannya mendengung dan seketika hening dengan nafasnya yang semakin melemah.
Ibuu.. Ibuu.. Sa.. Sakiit.
Air mata Edrea menetes sebelum matanya perlahan terpejam.
"Aku rasa Ini cukup. Ayo kita pergi, jangan lupa hilangkan semua bukti, jangan ada satupun yang tersisa,apa kalian mengerti?" Perintah Xuan pada kedua anak buahnya sambil mengusap darah gadis itu yang terpercik dan mengotori wajahnya.
"Apa dia mati?" Tanya seorang di antara mereka.
"Mungkin, dia hidup pun akan membuatnya amnesia."
"Apakah kita perlu membuang tubuhnya ke dalam jurang?"
"Aku rasa tidak perlu, bukankah sudah aku katakan, jika dia hidup pun, dia akan mengalami amnesia dan melupakan kejadian malam ini. atau bahkan dia akan langsung mati jika dalam waktu 8 jam tubuhnya masih di sini."
"Kau yakin akan hal itu?"
"Hmm.. lagi pula Tuan Daniel tidak memberikan kita perintah untuk melenyapkankan gadis ini kan? dan jika kau sampai melanggarnya, kau tau konsekuensinya, kau akan berhadapan langsung dengan Tuan Besar."
"Kau benar,"
"Baguslah jika kau sudah mengerti," Jawab Xuan seraya melangkahkan kakinya dan masuk kedalam mobil yang langsung melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tubuh Edrea yang sudah terbujur kaku berlumuran darah di tengah jalan.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.