
"Oh iya.. Bagaimana dengan Bibi, apa ia akan ikut ke Korea?" Tanya Leon melanjutkan obrolan malam mereka.
"Entahlah.. Aku masih memikirkannya, aku hanya takut Ibu kembali mengingat kenangan buruk di sana, kau tahu sendiri terlalu banyak kenangan-kenangan buruk yang pernah Ibu alami di sana." Balas Alpha terlihat bimbang.
"Tapi jika Bibi tetap di sini, apa kau yakin Bibi bisa jauh darimu?"
"Aku tidak yakin, aku sendiri saja tidak bisa kalau harus jauh dari Ibu lagi."
"Sepertinya kau harus mempertimbangkannya lagi All." Balas Leon seneguk Bier kaleng di tangannya.
"Hmm.. Aku akan melakukannya. Tapi Yoon.."
"Ada apa?" Tanya Leon saat mendengar kalimat yang menggantung dari Alpha.
"Apa kau benar-benar tidak keberatan untuk berangkat ke Korea bersamaku?" Tanya Alpha merasa ragu.
"Tidak sama sekali, aku malah senang sebab bisa mengunjungi makam Ibu, kau kan tahu sendiri, selama Ibu meninggal dunia aku tidak pernah mengunjungi makam Ibu sekalipun." Balas Leon dengan ekspresi yang nampak terlihat murung.
"Makam Bibi baik-baik saja, ada Dareen yang selalu mengunjunginya dan selalu mengadakan upacara Do'a bersama untuk Bibi, kau tidak perlu khawatir Yoon."
"Hmm, aku tahu, kau pasti akan melakukannya untukku, aku sungguh berterimakasih padamu All." Balas Leon tersenyum lebar.
"Yaakk.. Sejak kapan kau jadi sangat sopan seperti itu?" Protes Alpha saat melihat tingkah yang tidak biasa dari Leon.
"Aiisshh hentikan, kali ini aku sangat serius."
"Yah aku tahu, bahkan wajahmu menunjukkan itu." Balas Alpha mengangguk pelan.
"Tsk, memang ada apa dengan wajah tampanku?" Tanya Leon seraya menyibakkan rambutnya keatas sambil menikmati wajahnya sendiri dari pantulan kaca jendela yang berada di sampingnya.
"Yoon.. "
"Hm,"
"Apakah selama ini Starla baik-baik saja?" Tanya Alpha perlahan yang langsung mengubah topik pembicaraan mereka.
"Yah, selama dia menjadi penganggum rahasiamu, aku rasa dia baik-baik saja. Memangnya ada apa? apa kau mulai tertarik dengan kehidupan Starla?"
"Tidak, maksud aku, sebelum dia mengenalku, apa dia baik-baik saja?"
Tanya Alpha dengan ekspresi seriusnya yang membuat Leon menarik nafas dalam sebelum menceritakan semua kisah tentang Starla yang ia ketahui.
"Tidak sama sekali All,"
"Maksudnya?"
"Apa kau tahu, saat pertama kali bertemu dengan Starla, dia tengah menangis di pinggiran trotoar jalan."
"Apa?"
"Hmm.. Bahkan selama dua jam aku ikut duduk di sana untuk menemaninya menangis." Jawab Leon saat kembali mengingat pertemuan pertamanya bersama Starla.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Tanya Alpha sedikit penasaran.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin mengetahui masa lalu Starla?" Tanya Leon dengan tatapan curiga.
"Entahlah.. Aku hanya ingin tahu, kenapa dia menangis." Jawab Alpha mengabaikan tatapan dari Leon.
"Alpha, jika kau tidak memiliki perasaan apa-apa padanya, sebaiknya kau juga tidak perlu mengetahui masa lalunya." Ucap Leon memperingatkan.
"Tapi aku sangat ingin mengetahuinya Yoon."
Balas Alpha seraya menatap Leon, mungkin apa yang di katakan Leon benar, masa lalu Starla tidaklah penting. Namun entah mengapa, saat mendengar Starla menangis cukup membuat Alpha sakit. Dan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul membuatnya semakin bingung.
"Dia di khianati oleh tunangannya sendiri, pria yang dulu pernah ia cintai, tidak hanya itu, Starla juga di asingkan, di jauhkan dari keluarganya sendiri." Ucap Leon, "Dan yang melakukan itu semua itu tidak lain adalah keluarga pria tersebut."
Ucap Leon yang membuat Alpha bungkam untuk sesaat, jantungnya berdebar akibat rasa amarah yang entah datang dari mana, ia hanya bisa tertunduk sambil mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.
"Mungkin aku tidak bisa menceritakan semuanya, kau bisa menanyakan langsung kepada Starla, jika kau masih ingin mengetahui semuanya,"
"Apa kau gila? apa yang akan Starla pikirkan nanti,"
"Memang apa lagi yang akan dia pikirkan?"
"Aku lelah.."
"Apa kau akan tidur sekarang?"
"Memang kau ingin aku melakukan apa?"
"Temani aku menghabiskan ini." Jawab Leon sambil mengangkat segelas Champagne.
"Mungkin lain waktu, aku benar-benar lelah malam ini." Balas Alpha yang langsung beranjak dari duduknya.
"Sebaiknya kau merubah kebiasaanmu yang suka mengkonsumsi alkohol Yoon," Ucap Alpha.
"Hm, terimakasih atas perhatianmu, aku pasti...."
"Apa kau pikir aku sedang memperhatikanmu? aku hanya terlalu lelah malam ini, dan tidak sedang ingin meladeni racauanmu," Balas Alpha yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Leon jika sedang mabuk.
Leon akan terus berbicara sepanjang malam sambil memeluk tubuh Alpha, bahkan Leon akan menangis jika Alpha menolak di peluk olehnya, sungguh kebiasaan buruk yang kadang membuat Alpha prustasi.
* * * * *
* CAFE ALPHA KHANDRA.
"Kau di sini?"
"Maaf.. Apa aku mengejutkanmu? Aku hanya belum terbiasa," Jawab Starla.
"Aku mengerti, masuklah, di luar sangat dingin."
Ucap Alpha saat ia mendapati Starla yang tengah berdiri di tempat biasa. Sungguh kebiasaan yang sangat sulit untuk ia hilangkan, meskipun ia sudah berusaha untuk tidak melakukannya lagi, dengan berdiri di depan Cafe Alpha sambil menunggu, namun tetap saja, saat ia melintasi Cafe tersebut, kakinya akan berhenti sejenak untuk menunggu, dan hal itu sudah menjadi kebiasaan dan kebahagiaan buat Starla.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tidak melakukannya lagi." Ucap Alpha perlahan.
"Maaf, tapi aku belum terbiasa." Balas Starla.
"Aku tahu, lagi pula sebentar lagi aku akan pergi. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk mengubah kebiasaanmu itu." Ucap Alpha, sungguh kalimat yang membuat Starla terluka.
"Iya, aku bahkan sampai melupakan hal itu." Balas Starla yang sebenarnya tidak pernah lupa jika sebentar lagi ia akan kehilangan Alpha, bahkan sejak satu hari lalu ia tidak bisa tidur karena memikirkan Alpha, dan itu sangat terlihat jelas dari lingkaran matanya yang nampak berwarna hitam.
"Kapan kau akan pergi?" Tanya Starla perlahan.
"Besok."
Seon Heejin kembali terdiam sambil meremat jari-jarinya, mencoba menahan air matanya yang sebentar lagi akan menetes.
"Starla.."
"Ha?"
"Kenapa kau diam saja?"
"Ah itu.. Aku sedang memikirkan hadiah apa yang harus aku berikan untukmu sebagai kenang-kenangan."
"Kau tidak perlu melakukan itu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak akan menerimanya."
"Ha? Tapi.."
Aku tidak mau menerimanya jika hadiah itu adalah tanda ucapan selamat tinggal, sebab aku masih ingin bertemu denganmu lagi.
Batin Alpha seraya menatap dalam wajah Starla yang terlihat nampak kecewa.
"Baiklah.. Aku tidak akan memaksa, sebaiknya aku kembali, sudah waktunya membuka Toko bunga." Ucap Starla yang tengah memaksakan dirinya agar tetap tersenyum.
"Selamat tinggal Alpha,"
Dengan perlahan Starla beranjak dari duduknya yang hanya di balas anggukkan oleh Alpha, hingga sedetik kemudian Starla merasakan telapak tangannya menghangat, hingga ia menyadari jika saat ini telapak tangannya tengah berada di dalam genggaman Alpha.
Cup..
Satu kecupan hangat mendarat di pipi Starla yang sontak membuatnya terdiam dengan tubuh yang tiba-tiba membeku. Wajahnya seketika memerah saat senyum Alpha terpampang jelas di hadapannya.
"Sampai jumpa lagi Starla." Ucap Alpha seraya melambaikan tangannya yang langsung membuat Starla tersadar dari diamnya.
"Sa.. Sampai jumpa lagi Alpha." Balas Starla yang langsung melangkah pelan dengan tatapan yang masih mengarah kepada Alpha.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu, maaf jika aku menyakitimu."
Gumam Alpha yang terus menatap punggung Starla hingga tubuh ramping itu menghilang dari pandangannya.
Suara ponsel Alpha seketika membuyarkan lamunannya, ia menatap layar ponsel yang di sana tertera nama Dareen Asistennya.
"Ya, ada apa?"
"Presdir dari perusahaan EFR GROUP memaksa untuk bertemu anda."
"Tsk, atur pertemuanku dengannya, dan sebaiknya dia tidak bertingkah di depanku."
"Baik Tuan, saya akan mengatur schedule anda."
"Tunggu.. siapa nama presdir EFR GROUP itu?"
"Lucas Alfredo."
"Jadi dia yang menggantikan Fredell Alfredo?
"Iya Tuan, sebagai seorang ahli waris tunggal, Lucas Alfredo yang menggantikan posisi Ayahnya saat ini."
"Baiklah.. Sampai bertemu besok di Korea Dareen."
"Baik Tuan,"
Jawab Dareen, dan mereka pun mengakhiri panggilan singkat tersebut. Dan tinggal Alpha dengan gurat wajah yang di penuhi rasa bingung.
Sedang di sebrang sana, tepatnya di sebuah Toko bunga, nampak Starla yang tengah duduk terdiam dengan perasaan kalut.
"Haruskah aku kembali."
Gumam Starla sambil memejam, merasakan hatinya yang tiba-tiba saja merasa sakit. Tidak banyak yang mengetahui jika dia sangatlah membenci tempat tersebut, sebab terlalu banyak hal yang menyakitkan disana, bahkan ia sendiri tidak di perbolehkan lagi untuk menginjak Negara tersebut, apapun alasannya. Meskipun itu sudah sangat lama berlalu, tapi tetap saja sebuah kisah masa lalu yang buruk masih sangat membekas di hatinya.
"Pergilah dari Negara ini, jangan pernah kembali lagi."
"Tapi Tuan, saya tidak punya alasan untuk pergi dari sini."
"Mungkin Ibumu yang sedang terbaring di rumah sakit saat ini akan menjadi alasanmu untuk menuruti perintahku."
"Tidak.. Jangan ganggu Ibu saya Tuan, saya mohon, Ibu saya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini."
"Tentu saja ada, sebab Ibumu dengan lancang memberikanmu izin untuk bertunangan dengan anak Saya. Bahkan itu adalah kesalahan yang sangat fatal."
"Maafkan saya Tuan, saya mohon.. Jangan ganggu Ibu saya."
"Maka jadilah gadis yang berguna bagi Ibumu dan turuti perintahku, jika tidak saya pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan Ibumu lagi."
"Apa yang akan anda lakukan?"
"Tsk, aku bisa saja menyuruh semua pihak rumah sakit untuk tidak melakukan operasi jantung untuk Ibu mu, apa kau lupa sedang berurusan dengan siapa? Dan orang miskin seperti kalian tidak akan pernah bisa melawan kekuasaan Alfredo."
"Jangan Tuan, saya mohon, Ibu saya harus segera di operasi,"
"Pilihan ada di tanganmu."
"Tuan Fredell.. Tuan.. Saya mohon.. Tuan Fredell... "
"ARRGGHH... "
Jerit Starla dengan sangat keras saat ia terbangun dari lamunan panjangnya, lamunan yang kembali membawanya pada kenangan 10 tahun silam yang membuatnya kehilangan segalanya. Starla menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya bersamaan dengan air mata yang sejak tadi mengalir dari sudut matanya.
"Ibu.." Lirih Starla sambil terus menatap foto almarhumah Ibunya.
"Ibu.. Maafkan Star yang sudah meninggalkan Ibu, maaf... Maaf.."
Lirih Starla yang selalu ia gumamkan selama 10 tahun ini, penyesalan yang seolah tidak bisa hilang dari pikirannya membuatnya selalu menagis merutuki kebodohannya tiap saat. Mungkin ia sudah melupakan semuanya, namun ia tidak bisa melupakan betapa tersiksa sang Ibu yang saat itu sedang berjuang melawan rasa sakit tampa ada dirinya di samping sang Ibu. Bahkan Starla sempat berfikir, seandainya ia tidak selemah itu, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi, meskipun ia harus kehilangan Ibunya, setidaknya tidak dengan cara seperti ini, dan tidak membuatnya menyesal seumur hidup dan menghabiskan waktu untuk membenci dirinya sendiri.
* * * * *
* PANTHOUSE ALPHA KHANDRA.
"Ibu,"
Panggil Alpha yang langsung menghampiri Nyonya Aleen yang sedang duduk di sebuah kursi samping rumahnya sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapa wajah anggunnya, menikmati langit kuning keemasan yang sebentar lagi akan berubah menjadi hitam pekat seiring datangnya malam.
"Apa yang sedang Ibu pikirkan?" Tanya Alpha sambil mendudukkan tubuhnya di samping sang Ibu dan ikut menikmati suasana hangat di sore hari.
"Ibu hanya sedang merindukan Ayahmu, ini adalah tempat favorit Ayahmu untuk menghabiskan waktu membaca buku di sore hari." balas Nyonya Aleen tersenyum.
"Apa Ibu sangat merindukan Ayah?" Tanya Alpha yang terus memandang wajah sang Ibu yang tengah tersenyum, namun sorot mata kesedihan yang penuh dengan kerinduan tidak mampu di sembunyikan oleh Ibunya.
"Iya, bahkan sangat merindukannya. Maaf.. Ibu tidak bisa menemanimu ke Korea, tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja Ibu,"
"Ibu sudah merasa sangat nyaman di sini. Dan berada di sini seolah membuat Ibu merasa dekat dengan Ayahmu."
"Aku mengerti Ibu, apapun keputusan Ibu, aku akan menurutinya, meskipun nanti aku pasti akan sangat merindukan Ibu." Ucap Alpha seraya menggenggam telapak tangan hangat sangat Ibu.
"All sayang, ini tidak akan lama nak, Ibu pasti secepatnya menyusulmu di sana. Ibu juga tidak bisa jika harus terpisah jauh darimu."
"Hmm.. Aku mengerti ibu."
"Dan bisakah kau menjaga dirimu dengan baik saat di sana?" Tanya Nyonya Aleen dengan nada penuh kekhawatiran.
"Iya Ibu, aku akan menjaga diriku sendiri. Apa Ibu lupa jika aku adalah putra Ibu yang tangguh." Goda Alpha dengan nada candaan yang membuat Nyonya Aleen tersenyum lega sambil meraih tubuh tinggi putranya untuk di peluknya.
"Ibu mohon, jangan sampe terluka lagi." Ucap Nyonya Aleen seraya mengusap wajah Alpha.
"Iya Ibu, itu tidak akan pernah terjadi, Ibu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"Ibu percaya padamu Nak, dan satu lagi,"
"Apa itu?" Tanya Alpha.
"Ibu ingin kau secepatnya memiliki seorang kekasih All."
"Ibu.."
"Untuk kali ini saja All, turuti permintaan Ibu."
"Apa Ibu tidak punya permintaan lain selain menyuruhku untuk mencari seorang kekasih?"
"Tidak, Ibu tidak punya keinginan lain lagi,"
"Tapi kenapa harus..."
"All.. Ibu ingin kau bahagia dengan seseorang yang bisa menemanimu,"
"Tapi aku punya Ibu, aku punya Leon, Dareen.... "
"All, mereka tidak selamanya akan bersamamu, apa kau lupa, mereka juga pria dewasa yang sama sepertimu, pria yang pasti akan memiliki sebuah keluarga. Dan Ibu juga tidak akan selamanya bisa berada di sisimu,"
"Ibu.. Aku mohon.. jangan pernah mengatakan hal itu, sebab Ibu akan membuatku sakit."
"Maafkan Ibu sayang, Ibu hanya ingin kau bisa memiliki seseorang yang kau cintai, begitupun sebaliknya, tempat untuk berbagi suka duka, apa kau mengerti?"
"Ibu, Aku sungguh tidak menginginkan itu,"
"Tapi kau membutuhkan itu All.." Ucap Nyonya Aleen, yang membuat Alpha menyerah dan langsung mengangguk, dengan senyuman yang membuat Nyonya Aleen merasa lega.
"Berjanjilah pada Ibu," Pinta Nyonya Aleen memohon.
"Baiklah.. Aku akan memikirkannya."
"Dan jaga Yoon." Pinta Nyonya Aleen sekali lagi yang membuat Alpha langsung menghirup udara, dan kembali melepaskannya.
"Jika ibu mengkhawatirkan bocah itu, Ibu tidak perlu repot-repot, bahkan Yoon yang akan menjagaku, apa Ibu lupa dia bocah seperti apa? Bahkan dia pernah membuat seorang preman tidak sadarkan diri selama satu minggu." Ucap Alpha.
"Ibu tahu, meskipun demimian, Ibu tetap saja mengkhawatirkan kalian berdua."
"Terimakasih Bibi Len, sebab sudah mengkhawatirkanku."
Ucap Leon yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk di samping Nyonya Aleen yang langsung mengusap rambut Leon lembut.
"Yoon.. Ingat untuk selalu menjaga kesehatanmu, dan jangan lupa satu hal, bantu All agar cepat memiliki seorang kekasih." Bisik Nyonya Aleen yang langsung di balas anggukkan oleh Leon.
Sedang Alpha yang tidak mengerti dengan pembicaraan di antara Nyonya Aleen dan Leon hanya bisa menggeleng sambil menyesap secangkir cappucino.
"Tentu saja Bi, saya akan pastikan itu, meskipun saya harus menjomblo karena sibuk mencari pendamping hidup buat putra kesayangan Bibi yang payah itu."
Balas Leon yang harus menerima beberapa lemparan kripik dari Alpha yang sedang menikmati cemilannya dan tidak sengaja mendengar perkataannya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.